
Air mata Dewan mengalir lagi. Dia merasa tercekik dengan kata kata putrinya.
Ternyata mereka lihat....
Dada Dewan sangat sesak. Andai saja Rihana dan Dilara tau. Saat itu istrinya membawa Aurora menyusulnya pulang. Karena setiap tahunnya Dewan pasti pulang untuk mencari Dilara dan anaknya.
Kini Dewan mengerti arti tatapan benci Rihana padanya waktu itu. Dia yang menyebabkan luka yang sangat dalam.
Mungkin dia jugalah yang menyebabkan Dilara meninggal.
Dewan merasa sangat sesak. Udara seakan menghilang.
Harusnya kalian temui papa, batinnya pedih.
"Maaf," katanya dengan bibir bergetar, kemudian mendekap wajah putrinya di dadanya
Tangis Rihana pun semakin pecah. Pelukan hangat ini sudah ingin dirasakannya sejak dulu.
Alexander memejamkan matanya, seolah merasakan betapa sakitnya hati Rihana.
Oma Mora semakin dalam isaknya. Opa Iskandardinata pun menghapus air matanya.
Cakra menatap sendu pada mama dan papanya yang ternyata sudah berada di dekatnya.
Mereka juga ikut menangis melihat Dewan yang memeluk putrinya.
*
*
*
Malam terus beranjak naik. Kini Rihana menyandarkan kepalanya pada dada Alexander. Dia duduk di samping Zira di atas bed tempat tidur kekasihnya.
Sementara yang lainnya sudah beristirahat di hotel. Tapi Alexander tau, Om Cakra sedang menemani papa Zira dan ternyata papanya juga sudah datang menjenguk.
Alexander hanya mengabarkan di rumah sakit mana Zira di rawat. Dia ngga menceritakan selain dari itu. Pastilah saat ini Papanya sedang terkejut mengetahui kenyataan yang ada di depannya.
Alexander sengaja ngga menemui papanya. Fokusnya hanya pada Zira yang sedang terguncang perasaannya.
Setelah Om Dewan meninggalkan kamar perawatannya, Alexander langsung masuk menemui kekasihnya yang sepasang matanya masih sembab.
Dia akan menggantikan bahu Om Dewan dengan bahunya. Untuk selamanya. Dan Rihana pun tanpa sungkan menyandarkan kepalanya di sana.
"Lex," panggilnya lirih.
"Iya." Sebelah tangan Alexander memainkan rambut panjang Zira.
Kembali air mata Rihana menetes pelan. Bibirnya belum sanggup untuk berkata sepatah katapun.
Alexander membiarkannya. Saat ini Zira pasti hanya ingin menangis setelah semua hal buruk yang menimpanya dan mamanya. Tangan Alexander pun membelai rambut Zira lagi dengan lembut.
"Aku harusnya bahagia, ya, Lex," katanya dengan susah payah. Suaranya terdengar bergetar.
"Iya, sayang," balas Alexander lembut.
"Aku merindukan mama, Lex."
Alexander tambah erat memeluknya. Air mata Rihana kembali menetes, walau ngga sederas tadi.
Alexander meletakkan dagunya di atas kepala Rihana. Dia tau, ngga akan ada kata kata yang bisa dia ucapkan untuk menghibur kekasihnya. Saat ini Zira pasti hanya butuh dia untuk menemaninya, melewati malam berat ini.
Oma Mora memasuki ruangan cucunya bersama Oma Mien. Kedua nenek cantik itu tersenyum melihat Zira dan Alexander yang tertidur dalam posisi duduk dan berpelukan.
"Harusnya dari dulu kita terikat, ya," sesal Oma Mien yang ngga kunjung bisa menghilangkan kekecewaannya.
"Tapi takdir tetap membawa kita terikat," balas Oma Mora berusaha bijak.
Pertemuan dengan cucu yang ngga pernah dia duga membuat hatinya sangat bahagia, walau tetap saja ada luka yang menggores dalam di sana.
"Aku akan memberikan yang seharusnya dia terima. Kasian sekali. Juga putrimu, Dilara. Maafkan, anakku," agak terbata Oma Mora berucap. Air mata kembali jatuh di pipinya.
Oma Mien hanya mengangguk.
Dilara, anakmu aman bersama kami, batinnya perih. Seakan membayangkan anak gadisnya berada di depannya. Anak gadisnya yang cantik, lembut dan pendiam.
"Aku ingin berterimakasih pada pemilik panti yang merawat putrimu dan cucu kita," kata Oma Mora beberapa saat kemudian.
"Kita bisa pergi bersama sama."
Oma Mora pun tersenyum tipis pada sahabatnya seraya menganggukkan kepalanya.
*
*
*
Cakra sedang membelikan kopi buat keduanya, sekaligus membiarkan mereka untuk berbicara.
"Aku memang pantas untuk dihina," jawab Dewan sadar diri. Dia menghela nafas panjang.
"Awalnya aku mengira Alexander memberikan informasi yang salah," ucap Afif dengan perasaan ngga enak hati.
"Tadi saat melihat seorang suster, aku langsung bertanya. Dan jawaban suster itu mengagetkan. Apalagi setelah Om Iskan tadi seperti sengaja menemuiku dan mengatakan kebenaran ini. Jantungku hampir copot," katanya tanpa jeda. Saat ini pun jantungnya berdebar keras dan masih kencang memukul dadanya hingga terasa sakit.
Flashback On
"Afif," panggil Om Iskan saat Papa Alexander mematung setelah menjawab jawaban ngga terduga dari suster yang dia tanyai.
"Om, kok, di sini? Tante sakit?" tanyanya agak terkejut karena tadi pikirannya senpat kosong.
Om Iskan menatapnya aneh kemudian menghela nafas panjang dan berat.
"Cucu, Om. Anak Dewan," kata Om Iskan penuh maksud
"Aurora? Sakit apa, Om?" respon Afif cepat dan diliputi perasaan khawatir yang aneh. Karena Dewan dan Alexander ngga mengatakan apa pun tentang Aurora. Yang Alexander katakan hanyalah tentang Rihana yang sedang dioperasi.
Karena suara Alexander terdengar panik, dia pun bergegas ke rumah sakit yang dikatakan Alexander.
Tapi yang membuat Afif ngga sabar dan tambah heran, wajah Opa Iskan tampak menahan kesal dan kembali dia menghela nafas kasar.
"Rihana. Dia anak Dewan yang baru saja aku tau."
Kaki Afif sampai mundur selangkah saking terkejutnya.
Afif terperangah. Dia bersyukur jantungnya masih kuat bertahan di tempatnya berada saat ini. Kenapa banyak sekali kejutan yang diterimanya dalam waktu yang berdekatan, batinnya sesak.
"Ri rihana, Om?" tanyanya dengan bibir bergetar. Tatap matanya mengisyaratkan ketakpercayaannya. Dia pun merasa telinganya sudah berubah tuli.
"Yah. Kamu bisa tanya Dewan. Om masih bingung menjelaskannya," katanya dengan menahan geramannya.
Kemudian dia melangkah pergi. Tapi saat sejajar dengan bahu Afif, beliau berhenti sejenak.
"Biarkan Alexander berhubungan dengan Rihana. Karena seperti Aurora, Rihana juga anak Dewan. Dia juga cucuku."
Suara itu seperti perintah yang ngga dibantah.
Tanpa menunggu jawaban Papa Alexander, Opa Iskandardinata pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan sahabat anaknya yang masih bengong.
end
"Sekarang bisa kamu jelaskan? Kepalaku mau pecah rasanya mendengar semuanya ini."
Dewan menghela nafas, mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ngga menghiraukan tatapan tajam penuh desakan sahabatnya. Menuntut jawabannya.
"Semuanya masih sangat membingungkan dan menyakitkan. Itu yang kurasakan sekarang." Akhirnya Dewan pun menceritakannya dengan singkat tapi masih bisa dipahami sahabatnya-Afif.
Afif Suhendrata terdiam. Ngga menduga sahabatnya menyimpan rahasia sebesar ini. Di kepalanya berkecamuk berbagai pikiran. Teringat dia pernah meremehkan Rihana demi Aurora. Nyatanya Rihana kakak dari Aurora. Anak sahabatnya juga.
Dia menghirup nafas banyak banyak. Seakan akan paru parunya sangat kurang mendapatkan oksigen saat ini.
Teringat istrinya lagi yang pasti akan sangat shock jika mengetahui apa yang baru dia dengar. Kenyataan yang sangat membingungkan dan mengagetkan. Juga membuat perasaan terasa aneh.
Menganggap Rihana sebagai kakak Aurora terasa kurang nyaman.
Gadis itu pasti juga belum tau, kan? batin Afif menebak.
"Aurora sudah tau?"
Dewan menggeleng lemah. Dia baru teringat akan putrinya Aurora. Bagaimana dia menyusun kata untuk mengatakan ini semua pada Aurora.
Afif kembali menghirup nafas sangat lama. Dan menghembuskannya perlahan.
"Kau berhak memukulku karena aku sempat berkara yang ngga baik tentang Rihana, yang adalah putrimu," kata Afif sambil menatap dalam mata sahabatnya.
Dia ngga apa apa jika.Dewan akan menonjoknya karena telah mengeluarkan perkataan perkataan sumbang tentanf Rihana dan mamanya.
Ucapannya keluar langsung dari dalam lubuk hatinya.
"Lupakan. Bahkan aku juga sempat berlaku sewenang wenang padanya."
"Kenapa bisa kamu ngga tau kalo mama Rihana itu Dilara?" tanya Afif ngga abis pikir.
Sahabatnya sangat pintar. Tapi mengapa dia ngga tau infotmasi sepenting ini.
Dewan menghembuskan nafas dengan kasar. Dia ngga menjawab. Afif kembali mengjngatkannya akan kebodohannya yang sangat fatal.