
"Kamu sudah lelah?" tanya Alexander ketika melihat Rihana meletakkan kepala di bahunya.
Mata Rihana tampak sayu karena sudah ngantuk berat. Beberapa malam dia sulit tidur karena memikirkan pesta hari ini. Karenanya matanya ngga bisa terjaga cukup lama
"Lebih baik kamu antarkan Rihana ke kamar kalian," ucap Mama Alexander.
"Ngga apa ma?" tanya Rihana merasa ngga enak hati karena melihat tamu tamu yang masih rame. Dia juga merasa sangat malu kenapa ngga bisa menahan rasa kantuknya.
"Ngga apa sayang," senyum Mama Alexander lembut.
"Ya, istirahatlah," ucap Dewan lagi juga dengan wajah lembunya.
Putrinya sudah menjadi milik orang lain. Padahal belum lama menemukannya dan memanjakannya, monolog Dewan dalam hati
Tapi melihat Alexander yang sangat perhatian pada Rihana membuat hati Dewan tenang dan yakin kalo kebahagiaan Rihana adalah disamping anak sahabatnya itu.
"Kamu, sih, susah disuruh tidur beberapa malam ini," kekeh Oma Mien sedikit mengomel. Opa Airlangga juga ikut tertawa kecil.
"Apa, sih, yang kamu pikirkan?" tanya Alexander berbisik dengan nada menggoda.
"Ngga ada," ketus Rihana juga berbisik membuat Alexander tergelak perlahan.
"Sana Alex, bawa Rihana. Malah ketawa ketawa," tukas mama Alexander gemas. Hampir saja dia menjewer telinga anak bungsunya, untung suaminya menahan tangannya dengan senyum gelinya.
"Iya, ma," balas Alexander masih betah dengan kekehannya.
"Istirahat, ya, sayang," lembut dan penuh perhatian Mama Alexander berucap
"Ya, sayang. Istirahatlah," lanjut Oma Mien juga ngga kalah lembutnya.
Rihana hanya bisa mengangguk. Salahnya sendiri ngga bisa menahan kantuknya.
"Waduh yang udah ngga tahan," goda Daniel saat keduanya melewatinya.
"Masih belum malam banget," sambung Emra ikut menggoda. Bersama Emir, ketiga laki laki tampan ini sedang ngobrol bareng.
"Kalian apaan, sih," ketus Puspa membuat para pengganggu itu tergelak.
Herdin yang berada di samping Puspa pun sedikit melebarkan senyumnya.
Puspa meliriknya sebal. Dia tau pasti saat ini Rihana merasa sangat malu dan canggung mendapat godaan seperti itu.
Dasar jomblo akut. Ngga bisa lihat orang bahagia, celanya dalam hati.
Laki laki yang malang, hinanya lagi dalam hati.
Alexander ngga mempedulikannya. Dia tau Rihana malu karena gadis yang sudah resmi jadi istrinya semakin menundukkan kepalanya dan menempel jadi dadanya.
"Lex, jangan main kasar sama sepupu gue, ya," celutuk Ansel jahil.
Alexander mengirimkan delikan kesalnya sebelum pergi. Ansel tertawa kecil.
Nayara memalingkan wajahnya jengah.
Bosnya ini kalo ngomong suka ngga dipikirkan, omelnya membatin kesal.
"Kamu kenapa?" tanya Ansel heran melihat reaksi aneh Nayara, seperti salah tingkah
Senyum jahil kembali terbit di wajahnya.
"Tenanglah. Aku akan main halus kalo itu yang kamu mau," bisiknya kemudian tergelak melihat mata indah itu melototinya.
Kenapa dia selalu berpikir ke arah sana, sih, omel Nayara gemas.
"Jangan pikirin kata kata mereka," pelan Alexander berucap setelah menjauhi Ansel.
Rihana hanya mengangguk kecil dengan wajah memanas. Dia ngga terlalu memikirkannya karena rasa kantuknya kian berat. Tapi tetap saja rasa malu menyusup dalam hatinya karena candaan mereka.
Saat berada di dalam lift, karena sudah ngga tahan lagi dengan kantuknya, Rihana menjatuhkan kepalanya di lengan Alexander. Kelopak matanya pun sudah menutup.
"Oke, yang, kamu selamat malam ini," senyum Alexander sambil membopong tubuh istrinya saat melangkah ke luar daru lift.
Tanpa sadar, Rihana mengalungkan kedua tangannya di leher Alexander saat dirinya sudah berada dalam gendongan suaminya itu.
Alexander tersenyum saat melihat wajah yang terlihat nyaman dalam tidurnya.
Alexander mengecup pipi Rihana sekilas.
"Akhirnya kita jadi suami istri," gumamnya secerah tatapan matanya yang penuh binar.
*
*
*
"Apa ini?"
Xavi terkejut melihat apa yang sudah disodorkan papanya saat ini.
Itu adalah foto foto saat dia sedang berdansa dengan Daiva.
"Apa maksud foto foto ini?" tanya Hendy kemudian menghela nafas panjang. Beliau pun duduk di kursi yang dipisahlan oleh meja kerja putranya.
Xavi pun menghela nafas panjang. Setelah acara pesta itu mereka berdua ngga pernah bertemu dan berkomunikasi lagi.
Bukanbya Xavi ngga mau menghubungi Daiva, tapi dia sengaja menahan keinginannya setengah mati untuk menghentikan kegilaan hatinya.
Baru dua hari, tapi papinya sudah mendapatkan bukti otentik kedekatannya.
Mamanya sudah tau? batinnya agak ketar ketir. Karena maminya belum begitu sehat, Xavi mengkhawatirkan kesehatannya
"Kamu menyukai Daiva?" todong Hendy langsung.
Semua orang pasti akan langsung tau kalo melihat foto yang ada di depannya.
Xavi berbeda dengan Aiden. Dia jarang menunjukkan reaksinya. Tapi di foto itu Xavi tampak total. Terlihat sekali dia sangat memuja Daiva.
Itu yang membuat hati Hendy nelangsa. Tadi pun sebelum dia menemui Xavi, istrinya sudah menyatakan ketaksetujuannya.
Wanita yang sudah melahirkan Aiden dan Xavi itu lebih memilih Zerina sebagai calon istri Xavi. Apalagi Zerina sedang hamil anak Aiden. Zarina lebih membutuhkan Xavi sebagai suami dan papa untuk anaknya.
Di satu sisi dia ingin putranya mendapatkan kebahagiaannya. Tapi di sisi lain, Hendy ngga ingin membuat istrinya terluka.
Menerima Daiva sama saja dengan mengorek luka lama lagi.
Walaupun Daiva berbeda, tapi tetap saja membuka luka berdarah yang ngga tau kapan bisa sembuhnya.
Anehnya Xavi dengan mudahnya jatuh cinta pada Daiva. Tanpa memikirkan kalo Daiva dan pembunuh kembarannya memiliki darah yang sama.
"Kalo aku bilang iya, papi pasti kecewa, kan," jawab Xavi pelan.
'Kamu berhak bahagia Tapi anak dalam kandungan Zerina juga membutuhkan uluran tanganmu," balas Hendy frustasi.
Dirinya tau, akan sangat sulit membujuk Xavi. Demikian juga istrinya. Mereka berdua sama keras kepalanya.
"Aku akan mengurus anak Aiden sebaik baiknya, Pi. Tapi aku ngga bisa menikahi Zerina," kata Xavi mencoba bernegosiasi.
"Zerina juga cantik, kan."
"Hanya Daiva yang membuatku tertarik, Pi," jujur Xavi kemudian dia menghela nafas panjang.
"Papi tau ini akan sulit. Tapi lama lama pasti kamu bisa mencintai Zerina," bujuk papinya lembut.
Xavi ngga menjawab Mengalihkan tatapannya pada beberapa foto yang ada di atas meja.
Siapa orang iseng yang mengirimkan foto foto itu, decihnya membatin sebal.
Tapi dia suka melihat hasil jepretan candid itu. Sangat natural sekali menggambarkan isi hati mereka berdua saat itu.
Tatapan dan senyum hangat mereka terlihat jelas di sana.
Daiva, sekarang kamu sedang apa ya? Ada rindu yang memberontak di sudut hatinya yang terdalam.
Apa ini namanya saling mencintai tapi ngga bisa memiliki?
Kembali Xavi menghela nafas panjang.
Hendy menatap putranya dengan seksama.
*
*
*
Daiva memutar cangkir tehnya resah. Di depannya, istri Om Hendy, mamanya Xavi menatapnya tajam.
Wanita yang baru keluar dari ruang ICU dan sudah tampak bugar itu sudah mengutarakan keinginannya. Agar dia menjauhi Xavi-putranya.
"Jika saja Aurora ngga kesetanan membuat tante kehilangan Aiden, pasti tante akan merestui kalian," sambungnya lagi. Seakan akan kalimat kalimat pembukanya di awal tadi belumlah cukup untuk dia menggapai keinginannya.
"Saya mengerti, tante."
Apalagi yang bisa Daiva katakan. Semuanya sudah sangat jelas. Mama Xavi ngga menginginkan dirinya bersama putranya.
Xavi juga ngga memberinya kabar setelah kebersamaan mereka malam itu. Xavi hamya menggantungkan harapannya tanpa melakukan apa pun untuk kedepannya.
Daiva pun hopeless dengan sikap Xavi. Kalo Xavi menginginkannya, pasti laki laki itu akan memperjuangkannya.
Jangankan berjuang, laki laki itu pun ngga pernah menghubunginya sama sekali. Sekedar say halo juga engga. Apa yang bisa dia harapkan lagi.
"Tante akan menikahkan Xavi dengan Zerina. Dia hami anak Aiden. Zerina dan anaknya sangat membutuhkan Xavi," tuntas Mama Xavi lagi.
Daiva sampai mendongakkan kepalanya. Tersenyum lagi menyembunyikan kesakitan hatinya.
"Iya, tante."
"Seandainya waktu bisa diputar lagi....." Sepasang mata itu dipenuhi kabut. Teringat bagaimana putranya meregang nyawa. Hatinya sampai kapan pun ngga mungkin bisa memaafkan Aurora.
Daiva tau, harapannya bersama Xavi sudah hilang. Nanti di rumah dia akan menangis sepuasnya. Meratapi nasib cinta pertamanya yang gagal. Tapi di depan Mama laki laki yang da cintai, Daiva tetap mengukirkan senyum bersahajanya.
Tapi yang melegakan hatinya karena tau kalo Zerina sudah berads di tangan yang tepat.