
"Aurora."
Aurora dan semua orang yang ada di situ membalikkan tubuh, menatap sosok yang baru saja memanggil Aurora.
Seorang wanita seusia mama Alexander. Sangat cantik dan anggun. Mirip sekali dengan Aurora.
"Mama!" seru Aurora sambil melepaskan pelukan omanya dan berlari ke arah wanita cantik yang dipanggilnya mama.
"Irena," ucap mama Alexander menyebut nama wanita itu. Lega akhirnya wanita ini segera pulang menemui Aurora.
Irena ngga mempedulikan semua tatapan terkejut akan kaehadirannya. Dia merentangkan tangan dan mendekap erat putrinya.
Tangis Aurora pecah. Dibandingkan dengan orang orang yang ada di dekatnya, hanya mamanya lah yang memberikan rasa nyaman itu. Dan yang paling Aurora inginkan.
Mamanya pun menitikkan air mata. Dia menyalahkan dirinya yang egois. Harusnya dia tetap berada di samping mamanya.
Untung tadi malam Mama Alexander mengabarinya. Dia pun langsung terbang dengan jet pribadinya. Perasaaannya canpur aduk. Ngga tenang, marah, benci, dan juga rindu.
Suami yang selalu ngga menganggap dirinya ada tapi tetap selalu dia cintai. Ratusan kali Irena bertanya pada dirinya sendiri. Apa salah dirinya sebagai istri. Tapi Dewan hanya diam ngga pernah mau menjawab.
Aurora adalah keajaiban, karena malam itu Dewan pulang dalam keadaan mabok minuman keras hingga menidurinya. Hanya sekali, pada malam itu saja.
Selama bercint@ Dewan selalu mengucapkan kata minta maaf, bahkan sampai menitikkan air mata. Irena berpikir, kata maaf itu untuknya, dia pun sangat bahagia.
Tapi alangkah sakit hatinya ketika saat dia terbangun di pagi harinya, Dewan sudah ngga ada di sampingnya. Bahkan ngga pulang berminggu minggu ke rumah.
Setelahnya pulang, ngga ada perubahan. Sampai dia.di diagnosa hamil pun Dewan ngga peduli.
Tapi setelah Aurora lahir, sikap.Dewan melunak Tapi hanya pada putrinya saja, tidak dengan dirinya.
Karena itu Irena memilih menyibukkan diri dengan aktivitas bisnis dan arisan sosialitanya yang selalu mengharuskannya pergi ke luar negeri.
Hatinya sakit karena diacuhkan. Kehadirannya dianggap ngga ada tanpa alasan yang jelas.
Baru malam tadi dia.tau alasan yang sebenarnya dari Mama Alexander.
Ternyata hati Dewan sudah dibawa pergi oleh seseorang yang sudah tiada.
"Aku mau ikut mama," bisik Aurora pelan, tapi mampu di dengar orang orang terdekatnya yang masih bergeming menatapnya dan mamanya
Ini senjata ampuhnya!
"Jangan, sayang. Kamu bisa tinggal bersama Oma dulu," kata Oma Mora membujuk. Mulai panik, ngga rela ditinggal pergi cucu kesayangannya.
Beliau pun menatap mantunya dengan sorot mata tajam penuh peringatan.
"Maaf, Oma," tolak Aurora membuat Omanya ganti menatap kesal pada putranya yang masih diam saja.
Seolah mengatakan ini salahmu. Aku ngga akan memaafkanmu kalo cucu sampai pergi!
"Aurora, kita bicarakan semua ini dengan tenang dan kepala dingin, ya, sayang," bujuk Dewan lembut.
Hati Irena semakin sakit. Suaminya sama sekali ngga mempedulikan kehadirannya.
Aurora menatap mata sedih mamanya. Dia pun menggeleng.
"Aku akan bersama mama."
"Kita tetap bersama, sayang," kata Dewan lembut.
"Maaf, Papa. Aku akan tetap pergi bersama mama," kembali Aurora menolak dengan tegasm
Dewan menghembuskan nafas dengan perasaan lelahnya.
Sunyi.
"Aku akan membawa Aurora sejauh mungkin jika anak harammu akan tinggal denganmu," kata Irena datar.
Kata kata Irena bagai palu godam menghantam hati Dewan dan Oma Mora.
Yess! sorak Aurora senang dalam hati. Mamanya sudah melakukan langkah yang tepat, sesuai koridor.rencananya.
"Jangan pernah menyebutnya begitu," bentak Opa Iskandardinata yang kini sudah berada di dekat mereka. Hatinya sesak mendengarnya.
"Dia anak di luar pernikahan. Aurora lebih berharga. Maaf, Pa," bantah Irena berusaha tetap sopan.
Kata kata ini lebih ditujukan pada orang tua Alexander.
"Aurora sempurna. Dia tidak pumya cacat yang dapat memalukan kalian jika nantinya menjadi menantu," sambungnya lagi dengan berani.
"Diam Iren!" bentak Dewan kasar saking marahnya. Darahnya mendidih.
Tubuh Irena sampai bergetar dan Aurora juga dapat merasakannya.
"Setidaknya Aurora ngga akan hidup menderita karena Alexander mencintai perempuan lain," lanjutnya lagi dalalm marahnya, tanpa bisa mengontrol kata katanya.
Irena merasa tertampar oleh ucapan suaminya.
Ya, dia ternyata hidup dengan pria yang mencintai perempuan lain selama ini, tangisnya dalam hati.
Tubuh Aurora terasa kaku dalam dekapan mamanya.
Dia sakit hati karena papanya lebih membela Rihana, pegawai kontrak itu. Padahal dialah yang selalu bersama papanya. Tapi papanya tega mengucapkan kata kata semenyakitkan ini padanya.
Aurora menganggukkan kepalanya.
"Aurora," panggil Oma Mora dengan air mata yang bercucuran
Beliau barusan menemukan cucu yang ngga dia sangka. Tapi bersamaan dengan itu dia kehilangan cucunya yang lain. Semua ini sangat menyakitkan dan membuat dadanya terasa berat.
"Maaf, Oma," geleng Aurora yang juga penuh air mata sambil berbalik mengikuti langkah mamanya.
"Irena, tunggu!" seru Mama Alexander sambil menjejarinya.
Suaminya bergeming, menatap Dewan yang menatap nanar kepergian putri yang selalu ada buatnya.
"Sayang!" teriak Opa Iskandardinata sambil memeluk erat tubuh mamanya yang terkulai pingsan.
"Ma!'
"Tante!"
Dewan pun membantu papanya mengangkat tubuh mamanya.
Aurora menghentikan langkahnya bersama mamanya.
"Oma," ucapnya dengan bibir bergetar.
*
*
*
Kini mereka masih menunggu dengan cemas keadaan Oma Mora yang masih ditangani di ICU.
Aurora tetap berada di samping mamanya. Bahkan beberapa keluarga Airlangga juga ikut menunggu mereka. Tapi yang menyakitkan hati Aurora, Alexander ngga tampak. Katanya dia menemani Rihana yang masih dalam perawatan
Dasar cucu ngga tau diri. Oma kritis malah santai santai aja berpacaran, batin Auora mengumpat.
Sementara dia merasa cukup bersalah. Karena jalan cerita ngga sesuai dengan skenarionya. Aurora ngga ingin omanya celaka.
Papanya pun belum menghampirinya dan membujuknya. Malah sekarang pergi karena menemui seseorang yang barusan menelponnya.
Aurora marah, papanya mengabaikannya. Harusnya dia berhasil membuat papanya memilihmya dan menyingkirkan pegawai kontrak yang mengaku sebagai anak papanya.
Satu genggaman lembut menyentuhnnya.
Mama.
"Tenanglah," bisiknya berusaha mengendurkan saraf anaknya yang terasa tegang.
"Tante akan membujuk Alexander," kata Mama Alexander lembut.
Nyeess!
Rasanya ada guyuran es yang memadamkan bara di hatinya.
Aurora akan memohon maaf pada Kak Alex dan mengatakan dia terrpaksa karena Aiden mengancamnya. Pasti Kak Alex akan memaafkannya. Aurora yakin sekali.
*
*
*
Dewan yang mendapat telpon dari Gusti bergegas pergi menemui kepala sekuriti perusahaannya.
Cakra dan Afif yang ingin menemaninya ditolaknya.
Begitu sampai di samping mobilnya yang terparkir di basemen, Gusti langsung menemuinya.
"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Dewan ngga sabar.
"Maaf lama pak," katanya penuh hormat.
Dewan menatapnya tajam saat Gusti menoleh ke belakang memberi isyarat.
Tampak dua anak buahnya sedang menyeret seorang laki laki muda berbadan kekar yang sudah babak belur.
Dewan menatap Gusti seakan bertamya siapa dia?
"Dia supirnya tuan muda Aiden, Pak. Katanya tuan muda Aiden yang menyuruhnya untuk mencelakakan nona Rihana," jelas Gusti membuat kening Dewan berkerut dan jantung berdetak keras. Tangannya mengepal. Dia merasa sesuatu yang aneh.
Seharusnya Aiden ngga mengenal Rihana.
"Sekap dia, jangan sampai lolos."
"Siap, Pak."
Dewan langsung masuk ke dalam mobilnya, melaju kencang ke perusahaan Papa Aiden. Dia harus segera mendapat jawaban sebelum kepalanya pecah karena memikirkan kemungkinan yang di luar ekspetasinya.
"Ikuti Pak Bos," seru Gusti pada anak buahnya yang lain. Dia ngga ingin bosnya mengalami hal buruk di jalan.
"Ya, Pak." Anak buahnya yang sudah standby di mobil segera menyusul bosnya.