
Akhirnya selesai juga kerjaan lemburannya.
Zerina menatap mereka semua dengan tatapan penuh terima kasih.
"Jangan khawatir. Kalian akan dapat bonus," ucap Zerina yang disambut dengan seruan meriah.
"Gede, ya, bu," cetus Narita lega, lelahnya akan dibayar lunas.
"Seperti biasa," jawab Zerina dengan senyum menisnya. Senang melihat anak buahnya bahagia karena akan mendapat uang tambahan yang jumlahnya ngga kira kira.
"Bisa shopping yang bermerk asli, nih," sambung Aya girang. Karena sudah ada dompet incarannya selama beberapa hari ini. Sayang mau dibeli dengan sisa uang gaji. Lebih suka dengan uang ekstra begini.
"Shopping melulu. Nabung buat umrah," nasihat Hamka yang kadang di panggil Pak Haji, karena belum juga kelar antriannya.
"Siap, Pak Haji," balas Kara dengan senyum lebar.
Aya dan Narita juga tersenyum lebar. Tau kalo Hamka sudah umrah dua kali. Kalo haji belum lagi karena antriannya masih sangat panjang. Soalnya ikut yang biasa saja.
Mereka lebih mementingkan duniawi saja. Tapi tetap udah nyicil tabungan buat naik haji juga. Hanya itu tadi, antriannya masih panjang banget. Apalagi mereka belum lunas, beda dengan Hamka yang udah lunas tiga tahun yang lalu.
Winta tersenyum penuh makna. Ya, kalo bertahan di sini, dia mau umrah juga pake uang sendiri. Pasti lebih berkesan. Dulu sudah pernah sama keluarga pergi umrah. Cuma ketagihan pengen ke sana lagi. Kalo unrah bisa lebih cepat, ngga pake antrian.
"Puspa, aku nebeng, ya. Bagas udah pulang duluan," tukas Winta dengan mata penuh harap saat acara udah ditutup Bu Zerina.
"Oke, siap," jawab Puspa ringan. Rihana tersenyum.
Sepupunya memang baik.
"Ayo, sekalian kamu juga," sambung Winta sambil menggandeng tangan Rihana.
Reflek Puspa dan Rihana saling tatap penuh arti.
"Ya," sahut Rihana dengan senyum manisnya. Dia beruntung punya teman yang baik, padahal mereka belum lama kenal.
Maaf, Win. Belum cerita, batinnya.
Mereka pun beriringan keluar dari ruangan, menuju lift yang membawa mereka ke basemen.
Ternyata supir Puspa sudah sampai di basemen.
"Ri, kamu hebat. Putri bos kalah sama kamu," puji Winta saat mobil Puspa sudah berjalan meninggalkan area perusahaan.
Sebenarnya dari tadi mau ngomong, tapi ngga enak sama bu bos dan seniornya. Apalagi isu ini cukup sensitif.
Rihana pun sampai dibuang ke lapangan walaupun cuma satu hari.
Sangat besar bahayanya mengganggu si bidadari.
"Rihana juga ngga kalah cantik. Di make over dikit, pasti tambah kalah tuh dia," cinir Puspa ikut memuji sepupunya.
Puspa juga masih ngga terima karena sepupunya sempat di taruh di lapangan.
Tapi sepertinya papa dan om omnya sudah bertindak. Untunglah dia sudah melapor dengan cukup akurat.
"Iya, ngga nyangka Alexander lebih berat ke kamu cintamya," puji Winta lagi dengan senyum lebarnya.
Dia salut sama teman barunya. Ikut bahagia dan bangga.
Rihana dan Puspa tersenyum lebar.
Tapi hati Rihana masih tetap takut kalo Alexander suatu saat akan berpaling pada Aurora, anak papanya. Mengingat kedekatan yang pernah terjalin di antara mereka.
*
*
*
"Minggu besok kita ke Bandung, lanjut ke Jogja," kata Oma Mien ketika makan malam.
Puspa sudah pulang ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa rumah saja dari rumah omanya.
Saat ini ketiga Omnya pun ikut makan malam bersama di rumah oma opanya.
Ada yang mengalir dingin dalam dada Rihana. Perasaan senang dan sedih diaduk jadi satu.
"Kenapa ngga ke Jogja dulu, Ma?" tanya Wingky heran. Dia agak penasaran dengan panti asuhan yang ditinggali ponakaannya sekarang.
"Mama udah rindu sekali dengan Dilara," aku Oma Mien membuat keadaan hening.
Kata kata itu sangat memukul hati yang lain. Mereka memang terlalu merindukan adiknya. Opa menarik nafas perlahan untuk mengurangi sesaknya.
"Nanti Oma juga mau lihat panti tempat kamu sama mamamu tinggal dulu," sambung Oma Mien lagi memecah kesunyian.
Rihana hanya mengangguk.
"Oma penasaran tempat kamu dilahirkan," sambung Oma sambil mengusap puncak kepala cucunya.
Rihana kembali menipiskan bibirnya dengan hati ngga menentu.
Rumah panti di Bandung yang sudah menghabiskan masa remajanya di sana, juga kebersamaannya dengan mamanya. Dia juga rindu.
Mendadak Rihana jadi teringat pesan Alexander yang ingin bertemu keluarganya.
"Kalian jadi menghentikan kerja sama dengan perusahaannya Dewan?" tanya Opa Airlangga mengalihkan topik
"Iya, Pa," sahut Cakra ketika kedua saudaranya menatap ke arahnya. Agar dia saja yang menjawab.
"Memang sesekali ngga apa disentil," kekeh Opa Airlangga pelan.
Sembarangan melempar cucunya, batinnya puas.
Cakra tersenyum. Kedua adiknya menghembuskan nafas laga. Karena papa mereka fine fine aja dengan tindakan yang mereka ambil.
"Iskan mengabariku kenapa kerja sama kita ngga berlanjur," sambung Opa tanpa beban.
"Oooh, Om Iskan nanya ya, Pa." Cakra ikut terkekeh.
Pasti Dewan sudah mengabarinya.
"Om Iskan masih di Inggris, Pa?" tanya Akbar.
"Dia sudah kembali. Tadi dia nemuin papa."
Rihana menyimak.
Apa itu opanya dari papa, ya? batinnya bergetar. Rasa ingin taunya semakin besar, seperti apa wajah opa dan oma dari papanya.
"Apa alasan papa waktu Om Iskan bertanya?" kekeh Cakra, menyadari kedua orang tua itu sahabat sekaligus musuh.
Saling menolong dan juga saling mengerjai. Persahabatan aneh itu bertahan bertahun tahun lamanya.
"Papa bilang bosan. Mau nyari suasana baru."
"Papa ngomong gitu?" kaget Cakra sambil menggelengkan kepalanya. Selalu gampang nyari alasan. Pastinya membuat darah tinggi Om Iskan bakalan kumat.
"Apa, Pa, tanggapan Om Iskan, Pa?" kepo Akbar jadi penasaran.
"Iya, aku juga mau tau," sela Wingky ngga sabar.
Baginya kelakuan papa dan Om Iskan sangat menghibur. Mereka suka ngga nyadar kalo sudah tua. Kalo berdebat sudah seperti anak kecil saja.
"Biasa, dia mengomeli papa selama dua jam," sahut Opa Airlangga kalrem. Teringat sahabatnya yang katanya pesawatnya barusan landing dan masih mengalami jetflag saat menemuinya.
Ketiga putranya pun tergelak. Bisa membayangkan seperti apa debat kusir mereka.
Rihana juga ikut tersenyum mendengarnya.
Jika mereka tau, kalo itu opa ku juga, batinnya haru. Ada hawa hangat menyusup dalam dadanya. Dia jadi penasaran ingin cepat melihat wajah opa omanya yang lain.
Ngga disangkanya kedua keluarga mereka saling mengenal.
Oma Mien yang tadinya hampir menangis jadi sedikit melengkungkan bibirnya ke atas. Perasaannya mulai membaik.
Kalo obrolan menyangkat sahabat suaminya itu pasti akan sangat membuat emosi campur tawa. Pasti nantinya istrinya akan datang dan ikut curhat kecewa karena pemutusan hubungan kerja ini.
Tapi ini buntut dari tindakan semena mena putranya pada karyawan baru, yang kebetulan cucunya yang hilang sejak lama. Jadi bisa langsung dibalas. Jika hanya orang biasa, putra sahabatnya-Dewan, akan semakin meraja lela karena merasa punya kekuasaan.