
Kalandra nembawa Adriana ke bandara.
"Kita mau kemana, pak?" tanya Adriana heran saat mobil yang ditumpanginya berhenti di bandara.
"Perjalanan bisnis," jawab Kalandra tenang.
Kenapa mendadak? batinnya heran.
"Tapi saya belum mengatakan pada orang tua saya, pak," tolak Adriana mencoba menolak.
"Kita ngga akan nginap," ucap Kalandra sambil menatap dalam wajah kebingungan di depannya.
"Atau kamu mau kita nginap?" canda Kalandra. Dia tertawa dalam hati melihat wajah panik Adriana.
"Kenapa kamu kelihatan takut? Bukannya kita sering melakukan perjalanan bisnis sampai beberapa hari?" kejar Kalandra semakin ingin menggoda sekretarisnya yang cantik sekali hari ini.
Tenang, Adri. Tenang, batin Adriana berusaha ngga berpikir macam macam.
Tapi setelah ciuman yang Kalandra lakukan, dirinya susah untuk berpikir positif sekarang. Dia jadi selalu berprasangka buruk tentang apa yang akan dilakukan Kalandra padanya. Pakaian yang dikenakan juga terasa aneh, menurutnya agak seksi. Biasanya jika melakukan kunjungan bisnis, pakaiannya akan lebih tertutup.
Mereka masih saling bersitatap dan Adriana hanya bisa diam terpaku ketika Kalandra semakin mendekatkan wajahnya dan kembali merasakan kecupan lembut Kalandra.
Kali ini laki laki itu menghisap bibirnya hanya sebentar. Kemudian menjauhkannya
"Pak, jangan lakukan lagi," ucap Adriana dengan hati terluka.
Tuan mudanya ini sudah punya calon istri. Tapi kenapa dia selalu melecehkannya.
"Kenapa? Takut kekasih kamu marah?" dengus Kalandra jadi kesal karena diingatkan kembali kalo dia hanyalah yang kedua.
"Anggap saja begitu. Anda sudah punya calon istri, saya ngga mau jadi perusak hubungan anda berdua," lirih Adriana smabil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kalo kamu mau memutuskan pacarmu, aku akan serius hanya padamu saja," ucap Kalandra dengan mata fokus menatap wajah yang tampak murung itu
"Pacar? Saya ngga punya," bantah Adriana dengan pupil mata membesar.
Mengapa bosnya sampai mengira kalo dia sudah punya pacar?
Apa tadi katanya, dia akan serius dengannya kalo dirinya ngga punya pacar?
Terus tunangannya gimana?
"Jadi laki laki itu bukan pacarmu?"
Adriana merasa reaksi Kalandra terlalu berlebihan. Laki laki itu menatapnya dengan mata penuh binar. Lengkung di bibirnya semakin ketarik jauh.
Dada Adriana seperti mau meledak melihat ketampanan bosnya menjadi berkali kali lipat.
Kenapa laki laki ini semakin memikat hatinya saja? keluh Adriana sedih dalam hati.
"Ayo, kita keluar sekarang. Jetku sudah menunggu," jawab Kalandra dengan wajah sumringah.
"Tunggu sebentar. Biar aku keluar dulu," cegahnya ketika melihat tangan Adriana akan membuka pintu.
Setengah berlari Kalandra memutari kap depan mobilnya dan membukakan pintu mobil buat Adriana. Hatinya sangat girang mengetahui Adriana ngga berpacaran dengan si cepak itu.
Bahkan tangannya memegang bagian atas mobil untuk melindungi kepala Adriana saat gadis itu akan keluar.
Adriana merasa tersanjung dan berbunga bunga mendaparkan perlakuan spesial itu.
Tapi dia menahannya agar bosnya ngga tau apa yang dirasakannya sekarang.
Padahal dulu dulu Adriana selalu keluar sendiri dari mobilnya dan bosnya sudah berjalan meninggalkannya.
Adriana semakin heran. Apalagi bosnya seperti sengaja mengakhiri pembicaraan mereka yang belum selesai.
Mereka berjalan tanpa suara menuju privat jet milik Kalandra.
"Hari ini kamu sangat cantik. Bisakah aku menciummu lagi?" tanya Kalandra saat mereka sudah duduk berdua, bersisihan. Suaranya agak serak dan matanya berkabut menatap Adriana.
Ini awalnya agak membingungkan Adriana. Biasanya bosnya memilih duduk di depannya.
Sejak bosnya mengambil tempat di sisinya, Adriana sudah merasa ngga tenang. Nafasnya terasa sesak membaui harum bosnya yang khas dan membuatnya berpikir aneh. Sekarang ditambah bosnya itu duduk di sampingnya dan sangat dekat. Bahunya yang polos menempel kuat di lengan jas tuan mudanya itu.
Apalagi sambil berucap wajah Kalandra sangat dekat dengan pipinya. Adriana merasa dia sudah masuk dalam perangkap yang sangat kuat, kokoh dan sempit. Membatasi ruang geraknya.
Dan Kalandra pun ngga menunggu jawaban lagi, ciumannya singgah di bibir mungil Adriana. Lembut dan dalam. Membuat Adriana terlena. Bahkan tanpa disadarinya Kalandra sudah menyetel kursinya dan merebahkannya dalam ciumannya yang memabukkan.
*
*
*
"Kalandra pergi dengan jet pribadi bersama Adriana?" senyum Emra kini berubah jadi gelak kecil.
"Begitulah," ucap Emir setelah mendapat info dari pengawalnya yang dimintanya membuntuti Kalandra.
Emir tentu saja harus mencari tau kenapa.si gila kerja itu bisa meninggalkan meeting sebesar ini dengan mudahnya. Seakan ngga ada beban hingga melimpahkan wewenangnya pada sepupunya.
Dan benar saja, laki laki yang sudah kasmaran berat itu sudah menculik Adriana untuk bermesraan di udara.
"Ngga nyangka Kalandra bisa begitu," cela Emra lagi dalam kekehannya.
Sekalinya jatuh cinta, posesifnya sangat luar biasa.
"Kamu sendiri bagaimana? Apa Kiara benaran yang terakhir?" pancing Emir mengejek.
Emra ngga menjawab, tapi dia meresponnya dengan tawanya.
"Mungkin. Aku sedang mengevaluasi hatiku," ucapnya setelah tawanya reda.
"Hemm....," dengus Emir meremehkan.
"Lihat saja nanti. Kamu sendiri? Belum ada niat buat nikah?" tanya Emra kepo.
"Setelah Nidya dan Kiran mendapatkan laki laki yang benar, baru aku akan memikirkannya," jawab Emir santai.
"Huuuh. Keduanya masih sangat lama untuk menikah," sarkas Emra kemudian terkekeh. Yang satu susah move on, yang satu lagi manjanya ngag ketulungan. Ngga tau sampai kapan kedua sepupunya itu akan mendapat laki laki yang bisa memahami hati mereka.
*
*
*
Dalam minggu minggu ini Alexander sangat susah mengangkat telponnya
"Kenapa? Ada masalah?" sahut Alexander balik bertanya.
Herdin menghela nafas kesal.
"Puspa ngga mau saat kami bertunangan, kalian belum pulang," keluhnya. Kemudian menghembuskan nafas kesal kembali.
"Kenapa begitu? Kamu tinggal meyakinkannya saja, kan?" kilah Alexander ngga terima jika harus cepat cepat menyelesaikan bulan madunya.
"Sudah. Puspa bersikeras harus ada Rihana saat kami bertunangan."
"........"
"Gimana? Apa kalian bisa pulang bulan depan?"
"........"
"Alex."
"Tentu tidak. Dua bukan lagi aku janji akan pulang bersama Rihana."
"Kamu ingin aku mengundurkan hari pertunanganku? Ngga bisa begitu, Lex," sergah Herdin ganti ngga terima.
"Kenapa engga. Aku rasa saat kamu berbulan madu mungkin akan lebih lama dari aku," sarkas Alexander membuat Herdin terdiam.
Herdin sedang berpikir, apakah papa dan kakak laki laki dan adik perempuannya akan rela membiarkannya menikmati kebebasan lebih dari tiga bulan? Rasanya ngga mungkin.
"Oke. Aku tutup, ya. Zira baru keluar dari kamar mandi. Aku akan lanjut lagi. Kamu bersabarlah," tutup Alexander setelah menunggu cukup lama tapi masih ngga ada jawaban Herdin.
"Eh, Lex," seru Herdin tersadar.
Sial. Sial. Dia memaki dalam hati saat sambungan telpon sudah terputus.
Herdin menggusar rambutnya kasar.
Dua bulan lagi, Herdin. Ngga akan lama, batinnya mencoba menghibur.
Herdin kembali menghembuskan nafas panjang.
*
*
*
"Siapa?" tanya Rihana sambil duduk di depan meja riasnya.
Dia menghela nafas berkali kali menatap wajahnya yang nampak kuyu seperti orang yang selalu bekerja keras tanpa istirahat.
"Herdin," jawab Alexander sambil meraih handuk yang menutupi rambut panjang Rihana. Istrinya keramas lagi. Kemudian Alexander mengusap rambutnya dengan lembut, mengeringkannya.
"Kamu terlihat sangat lelah," senyum nakal Alexander terukir.
"Hemm.... gara gara siapa?" sindir Rihana sambil mengoleskan pelembab di wajahnya.
Alexander melebarkan senyumnya sambil terus mengeringkan rambut Rihana dengan lembut.
"Mereka ada masalah?" tanya Rihana agak khawatir.
"Siapa?" Alexander menatap bingung dengan arah pembicaraan Rihana yang acak.
"Herdin dengan Puspa," jelas Rihana sabar.
"Ooo," senyum Alexander lagi.
"Puspa ingin saat bertunangan, kita ada di sana."
"Ohya? Kapan itu?" tanya Rihana antusias. Lega bisa mengakhiri bulan madu yang melelahkan ini
"Katanya bulan depan. Tapi aku bilang ngga bisa. Dua bulan lagi baru kami kembali."
Harapan Rihana luruh seketika.
Kenapa? Kenapa kamu sekarang jadi egoisz Lex. Herdin sahabat kamu, kan? Puspa itu sepupuku, batin Rihana memprotes kesal.
"Kenapa? Kamu setuju, kan?" tanya Alexander heran melihat keterdiaman Rihana.
"Alex, apa ngga sebaiknya bulan depan kita pulang?" tanya Rihana hati hati.
Alexander merunduk dan mengecup tengkuk Rihana setelah menyampirkan rambut istrinya itu ke samping.
Jantung Rihana seakan berhenti berdetak dan bulu kuduknya meremang merasakan sensasi nikm@t yang diberikan Alexander.
"Aku ngga bisa. Aku sudah berjanji pada dua kakakku," ucap Alexander semakin gencar mengecup tengkuk dan kini berpindah ke telinga Rihana. Hampir saja Rihana mengeluarkan des@h@nnya.
"Janji apa?" tanya Rihana serak. Matanya kini sudah terpejam.
"Janji akan menghamilimu," sahut Alexander dengan terus melancarkan ciumannya. Kini dia sudah menurunkan kimono mandi Rihana hingga bahunya terbuka. Alexander pun menyerangnya di sana dengan kecupan basahnya.
"Lex...," panggil Rihana ngga tahan. Duduknya pun sudah ngga tenang.
"Aku janji, setelah kamu hamil, kita akan pulang."
Alexander pun melepas kimono mandi istriya dan menggendongnya untuk dibaringkan ke tempat tidur. Melanjutkan aktifitasnya di posisi yang lebih nyaman.
■
■
dua atau tiga part lagi ya, masuk sesi Xavi dan Daiva.
Sesi Emir sabar dulu, ya, hehehe...
Terimakasih sudah selau membaca♡♡♡
Sehat sehat selalu