NOT Second Lead

NOT Second Lead
Membantu Aurora



Irena menatap putrinya yang baru saja keluar dari mobilnya menjelang sore. Setelah pergi sejak siang tadi, sore begini baru Aurora kembali.


Beliau kepikiran dengan nobil putih yang ada di rekaman cctv pembunuhan Aiden. Hatinya pun ngga tenang. Dia sangat takut kalo putrinya sudah melakukan kejahatan besar.


"Ikut mama," ucapnya sambil menarik tangan putrinya.


"Ada apa, Ma?" tanya Aurora bingung, tapi tetap mengikuti langkah kaki mamanya. Sebenarnya dia lelah. Fisik dan hati.


Tapi Irena ngga menjawab. Jantungnya sudah berdetak sangat kencang. Berkali kali dia menafikan prasangka buruk yang bermain main di kepalanya. Dia sudah ngga sabar untuk memastikannya pada Aurora.


Begitu mereka berdua masuk ke dalam kamarnya, Irena mengunci pintunya


"Ada apa, Ma?" tanya Aurora heran melihat sikap aneh mamanya. Terlihat sangat ngga tenang dan gelisah.


"Katakan sejujurnya pada Mama. Apa kamu yang membunuh Aiden?!" tanya mamanya menuduh dengan sangat tajam dan suara yang bergetar.


"Ma...." kaget Aurora dengan tubuh bergetar dan hampir jatuh, tapi tertahan oleh pintu.


Wajahnya langsung pucat, dan keringat dingin membasahi punggungnya. Jantungnya pun seakan mau lepas.


Ini kejahatan pertamanya yang dia pikir ngga akan ketahuan secepat ini, karena dia sudah menyembunyikannya cukup rapi.


"Benar, Aurora?" Kali ini suara maminya mengandung tangis. Melihat ekspresi Aurora, hatinya semakin yakin dengan praduga buruknya.


Tubuhnya langsung lemas. Irena pun terduduk di atas tenpat tidur putrinya sambil menutup mata dengan kedua telapak tangannya. Tangisannya pecah dengan suara tertahan. Hatinya hancur membayangkan gelapnya masa depan putrinya nanti. Selain karir modelnya yang tamat, Aurora juga bisa masuk penjara.


Aurora sudah ngga bisa mengelak lagi. Tuduhan mamanya bersarang tepat di ulu hatinya. Tubuhnya melosoh. Terduduk di lantai. Sama seperti mamanya, Aurora pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis.


Cukup lama mereka menangis.


"Kenapa kamu bisa melakukannya, Nak. Jika kamu berterus terang, mama akan batalkan pernikahan kalian. Tanpa kamu harus membunuhnya," sesal Irena-mama Aurora beberapa menit kemudian. Dia kecewa karena Aurora bisa sampai melakukan hal sekejam ini.


Ini terlalu mengerikan. Irena semakin takut kalo Aurora akan tertangkap dalam waktu dekat.


Aurora menangis lagi. Dia oun ngga ingin membunuh Aiden. Tapi laki laki itu terlalu banyak mengeruk keuntungan darinya. Bahkan selalu saja mengancamnya demi kepuasannya. Itu yang membuat daya pikir Aurora menjadi sangat pendek. Dia sangat dirugikan karena mengenal laki laki brengsek itu.


"Aku terpaksa, Ma." Sambil terisak Aurora menceritakan semuanya pada mamanya yang berkali kali menutup mulutnya yang terbuka dengan jari jarinya. Ngga menyangka Aurora sudah menahannya cukup lama. Harusnya putrinya menceritakannya pada dirinya. Di saat inilah Irena merasa dirinya telah menjadi ibu yang buruk. Yang samgat egois karena sering menelantarkan Aurora.


"Kak Alex dan Kak Herdin pernah memergokiku di hotel saat bersama Aiden, Ma," lanjutnua putus asa.


Kembali Irena terpengarah. Pantasan Alexander sekarang sangat dingin pada putrinya, Aurora. AIden sudah kehilangan respeknya atas Aurora


"Mobil Itu sekarang dimana?" tanya Irena ingin tau. Mobil itu yang bisa dijadikan barang bukti harus dilenyapkan.


"Besok aku akan membawanya ke kost yang baru aku sewa setahun, Ma."


"Buat apa kamu ngekost," tanya mamanya heran.


"Buat nyimpan jaket aku yang terkena cipratan darah Aiden, Ma."


Irena menghela nafasnya berkali kali. Hatinya ngilu mengingat Aurora sudah berubah menjadi pembunuh yang sadis. Teringat lagi pukulan keras yang menggunakan kunci inggris, berkali kali Aurora berikan pada Aiden.


"Malam ini kita harus pindahkan mobil itu," putus Irena panik dan ngga tenang. Dia takut terjadi apa apa dengan putri semata wayangnya.


Dia pun ngga bisa memberitahukan pada mertuanya dan juga orang tuanya. Mereka bisa terkena serangan jantung atau stroke dikarenakan faktor usia.


Sekarang dia sendiri yang akan melindungi putrinya. Setelah mendengar cerita putrinya, Irena tau kalo Aurora sudah terdesak dan akhirnya terpaksa melakukan kejahatan sadis itu.


Tindakan Aurora ngga bisa dibenarkan. Tapi Irena ngga mungkin membiarkan polisi menangkapnya.


"Iya, Ma. Iya," sahut Aurora lega karena mamanya mau menolongnya. Dukungan mamanya membuat bebannya sedikit berkurang.


Malam ini saat yang tepat. Di saat semua orang-opa, oma dan papanya- pergi tanpa mengajaknya ke rumah Oma Mien untuk menemui gadis sialan itu, dia dan mamanya pun pergi ke perusahaan Aurora tanpa perlu mendapatkan pertanyaan. Misinya jelas, menyingkirkan semua bukti kejahatannya pada Aiden.


Begitu tiba di basemen hotel, Mama Aurora merinding saat harus berhenti di samping mobil putih putrinya.


"Mama akan mengikutimu dari belakang. Kita harus menghindari kamera cctv," perintahnya.


"Ya, Ma," jawab Aurora patuh.


"Aurora, apa kamu sudah merusak file rekaman cctv saat kamu membawa mobil kamu ke sini?" tanya Mama Irena sangat serius.


"Cctv di basemen sedang mengalami gangguan. Udah hampir seminggu ini, Ma."


"Syukurlah," jawab Irena lega.


"Aku ambil mobil dulu, Ma. Mama ikutin aku dari belakang, ya," ucap Aurora sebelum pamit pergi.


"Ya, sayang."


Aurora pun berjalan dengan cepat menuju mobilnya. Dia pun tanpa membuang waktu pergi meninggalkan basemen diikuti mamanya.


Pantasan Aurora tadi perginya lumayan lama. Ternyata jauh juga, batin Mamanya-Irena ketika mereka sudah sampai di kost yang Aurora sewa untuk menyembunyikan bukti bukti kejahatannya.


Kini mereka pun sudah dalam perjalanan pulang dengan saling diam.


"Gimana kalo kamu ikut mama aja?" tawar Irena memecah kesunyian. Irena sangat berharap putrinya setuju demi keselamatan dirinya. Jika keluarga Aiden tau, mereka pasti akan melakukan sesuatu untuk menyakiti putrinya.


"Iya, Ma," sahut Aurora setelah merenung cukup lama. Hanya mamanya saja saat ini yang mendukungnya. Papanya pastinya akan memintanya menyerahkan diri ke kantor polisi untuk mengakui kesalahanannya. Memang papanya pasti akan berusaha mencari pengacara hebat untuk membantu mengurangi masa hukumannya. Tapi keluarga Aiden pasti ngga akan tinggal diam.


Aurora masih ingat betapa baiknya Mama Aiden padanya. Padahal saat bertemu, dia baru saja menghabisi nyawa Aiden. Pasti Mama Aiden akan sangat membencinya jika kebenaran ini sudah terungkap.


Kak Alex dan Kak Herdin pun akan semakin jijik melihatnya. Opa dan Omanya pun akan samgat kecewa padanya. Dan lagi lagi anak sialan papanya akan menang banyak. Mendapatkan Kak Alex dan perhatian papa, oma dan opanya.


Sekarang saja terlihat jelas perhatian mereka padanya. Malam ini mereka sengaja pergi untuk menemuinya. Padahal baru saja mereka berpisah. Sekarang anak sialan papanya adalah tokoh utamanya. Bukan dirinya lagi.


"Kenapa kamu tampak sedih, sayang?" tanya Irena yang melihat wajah Aurora tersaput mendung.


Aurora menggeleng. Mungkin dia akan melakukan sesuatu sebelum pergi. Anak sialan papanya itu ngga bisa begitu saja menguasai semua miliknya.




Ini kejadiannya sehari sebelum Xavi bertemu Alexander dan Herdin di kantor polisi, ya...