NOT Second Lead

NOT Second Lead
Fathan ngga bisa jujur



Fathan ngga kaget melihat kedatangan Kalandra di ruangannya. Dia sudah menduga cepat atau lambat Kalandra akan datang ke ruangannya buat mengajaknya bicara tentang hubungannya dengan Nidya.


GREEETTT


Kalandra menarik agak kasar kursi di depan meja Fathan dan menghempaskan bokongnya di sana.


"Jelaskan," ucapnya tanpa basa basi.


Fathan mengangkat sedikit sudut bibirnya saat menatap wajah Kalandra yang nampak kaku.


"Jelaskan apa?" pancingnya pura pura bodoh.


Kalandra mendengus kesal.


"Kamu ngga punya hubungan spesial dengan Nidya, kan?" todong Kalandra dengan sorot mata tajamnya.


Dia takut kalo Fathan akan mempermainkan perasaan adiknya yang belum membaik.


Sebenarnya dalam hatinya ingin sekali Kalandra menonjok laki laki di depannya ini.


Apa dia pura pura bego kalo adiknya pernah disukai Nidya?


Apa dia juga ngga merasa diintimidasi karenanya?


Kalandra benar benar ingin mengetok dan mengacak acak isi kepala Fathan karena sudah menjadi stupid.


Apa dia pikir akan mendapat restu darinya?! decih Kalandra dalam hati.


"Baru mau mulai," ucap Fathan santai, seakan ingin menggali sesabar apa Kalandra menghadapinya.


"Sialan Lo," maki Kalandra terang terangan.


Fathan terkekeh karenanya.


Akhirnya marah juga, gelaknya dalam hati.


"Jangan maenin perasaan adik gue, sialan!" maki Kalandra sebal melihat teman yang biasa curhat dengannya malah tertawa santai menantangnya.


Fathan sampai terbatuk batuk karenanya.


Mati aja lo, sumpah Kalandra dalam hati. Ketenangan yang biasa dimilikinya gagal total di depan Fathan kali ini.


Dia sebagai kakak tentu sangat mengkhawatirkan Nidya. Kenapa dia mau saja menerima Fathan yang notabene kakaknya Alexander.


"Tenanglah. Aku serius dengan adikmu."


Kalandra tersenyum mengejek. Dia mana mungkin bisa percaya begitu saja.


"Adikku itu patah hati karena adikmu," kecam Kalandra sinis.


"Then why?"


Kembali Kalandra mendengus. Dia harus bisa menahan keinginannya untuk ngga mengetok keras kepala Fathan.


"Yakin kamu beneran suka sama Nidya?"


"Aku juga masih meraba perasaanku."


"Sialan!" maki Kalandra ngga terima.


Fathab hanya nyengir.


"Tapi di beberapa pertemuan kami, aku rasa Nidya sudah berpaling padaku."


"Ge er," cemooh Kalandra meremehkan.


"Aku ngga bohong. Dan aku rasa kalo aku pun sudah menyukainya. Ngalir gitu aja. Awalmya aku juga ragu," jelas Fathan sungguh sungguh.


Kalandra kini menyorotkan matanya sangat tajam, seolah ingin menembus jantung Fathan.


"Karena kamu lagi butuh pendamping buat Nidya, ya, udah aku aja. Track record aku bersih, kan," kekeh Fathan menawarkan.


Kalandra kembali mendengus. Memang bersih sahabatnya ini. Dia juga sudah tau. Beda dengan Daniel, adiknya yang satu lagi.


Masalahnya Kalandra ngga mau Fathan memanfaatkan adiknya yang gagal move on itu. Apalagi sampai mempermainkannya.


"Jangan khawatir. Aku ini laki laki baik. Aku ngga akan membuatnya sedih lagi," kata Fathan seakan tau apa yang sedang dipikir Kalandra.


Kalandra masih terdiam. Seakan mau melihat seberapa seriusnya Fathan pada adiknya


"Baiklah, aku beri kamu kesempatan. Tapi aku ngga akan segan segan menggebukmu jika menyakiti Nidya."


"Deal," angguk Fathan dengan cengirannya.


Kalandra menghembuskan nafas panjang panjang.


*


*


*


Malam ini Fathan nekad mengunjungi Nidya.di rumahnya.


Om Cakra dan istrinya menyambut baik kedatangannya. Apalagi setelah mendengar niat serius Fathan pada putrinya.


"Kalo om dan tante setuju, orang tua saya akan datang besok malam," ucap Fathan tenang.


Om Cakra saling bertatapan dengan istrinya penuh arti.


"Baiklah. Pintu rumah Om, akan selalu terbuka menunggu kedatangan kamu dan orang tua kamu," sahut Cakra bijak. Istrinya pun mengulaskan senyum bersahajanya.


"Makasih, Om, tante. Secepatnya saya akan memberi kabar."


"Oke, oke," senyum Cakra mengembang ketika melihat putri bungsunya mendekat.


"Om sama tante tinggal dulu, ya," senyum Cakra penuh makna bersama istrinya.


Tadi asisten rumah tangganya mengatakan kalo ada tamu yang menunggunya.


Ngga disangka, ternyata Fathan.


Walau jantungnya jadi deg degan, Nidya berusaha tampak tenang.


"Mau ke kamar," senyum Cakra-papanya sambil menggandeng mesra lengan mamanya yang juga sedang mengembangkan senyumnya.


Nidya merasa aneh dengan reaksi orang tuanya yang tampak senang setelah bertemu Fathan.


Dia menatap orang tuanya yang sudah beranjak pergi dengan perasaan bingung.


Ada apa sebenarnya?


Kini dia mengalihkan tatapannya pada Fathan yang sedang tersenyum juga padanya.


Nidya terpaku. Senyum Fathan sangat memikat. Alexander ngga pernah tersenyum seperti ini padanya.


Kakak adik ini sudah membuat hatinya terpikat.


"Are you oke?" Telapak tangan Fathan kini sudah berada di depan wajahnya. Digoyang goyangkannya.


Blushing.


Nidya tergagap. Laki laki keren di depannya ini malah kini sudah berdiri santai sambil tertawa dengan dua tangan berada di saku celananya.


Mengetawai kebodohannya.


Sialan, maki Nidya dalam hati.


Tapi memang salahnya terlalu terpesona dengan senyum di depannya tadi.


Nidya berdehem untuk mengusir rasa malunya.


"Kamu bilang apa sama mama papa? Jangan ngadi ngadi ya. Kita hanya---"


Ucapan galak Nidya terpotong dengan kalimat yang menhentakkan jantungnya.


"Besok mami papi aku akan melamar kamu."


Haaah.


Laki laki ini sudah gila


Mereka sudah sepakat, kan, kalo hanya pura pura!


Nidya berteriak teriak histeris dalam hatinya memprotes ucapan sakral itu.


"Aku ngga bisa jujur sama Kalandra. Apa kamu mau aku masuk rumah sakit karena membiarkan dia mukulin aku?" ungkap Fathan santai.


Tidak!


Ngga bisa begini!


Nidya jadi panik sendiri.


"Tadi mama sama papa kamu juga nanya tentang hubungan kita. Aku ngga mungkin, kan, membuat kerja sama perusahaan orang tua kita hancur hanya karena aku berkata jujur," sambung Fathan lagi. Masih santai. Wajahnya malah menampilkan ekspresi menahan tawa melihat kepanikan Nidya.


Alasan!


Laki laki ini berbahaya!


Anehnya walaupun hati Nidya terus memaki, mengumpat dan mengecam, tapi dia merasa ada sesuatu yang sangat banyak yang memaksa keluar dari dalam perutnya hingga dia merasa sangat mulas. Mungkin puluhan kupu kupu.


Jantung oh jantung. Mengapa malah sangat heboh berdetak.


"Mungkin kita duluan yang akan menikah sebelum Kalandra dan Emra," lanjut Fathan lagi, saat enteng tanpa beban sama sekali sambil mendekat.


Jauh. Jauh sana. Jangan ke sini, usir hati Nidya panik


Tangannya terasa dingin. Tidak, tapi jadi hangat karena sentuhan Fathan.


Laki laki ini sudah berdiri di dekatnya .


Nidya sampai takut suara gemuruh jantungnya terdengar jelas di telinga Fathan karena jarak mereka yang cukup dekat.


Senyum memikat Fathan ngga lekang dari bibirnya.


Fathan beneran gemas melihat kegugupan gadis di depannya.


Jika saja mereka ngga berada di mansionnya, Fathan pasti akan sulit menahan keinginannya untuk mencium bibir merah yang bergerak gerak tanpa mengeluarkan suara itu.


Tapi dia ngga mungkin gegabah. Sahabatnya itu pasti saat ini sedang mengawasinya di satu tempat.


Jangan lupakan kamera cctv tersembunyi yang pasti berada di ruangan ini.


Dan memang benar dugaan Fathan. Kalandra sedang mengawasi gerak gerik keduanya ngga jauh dari tempatnya berada bersama Nidya.


Dia ngga bisa mendengar apa yang sudah diucapkan Fathan pada adiknya. Tapi dia masih belum bisa mencerna dengan baik ucapan mama dan papanya barusan.


Besok malam adikmu mau dilamar Fathan!


Ini sudah di luar kewarasannya. Memangnya sejak kapan mereka sudah berhubungan?


Perasaannya baru baru ini saja!


Fathan juga sudah mengakui kalo belum terlalu yakin dengan perasaannya.


Apalagi Nidya.


They are kidding to marry?


Crazy!


Crazy! umpat Kalandra jengkel dalam hati.