
Pagi ini Alexander sengaja mengunjungi Rihana sebelum berangkat ke perusahaannya. Di tangannya ada seikat bunga mawar merah darah dan tentunya sekotak coklat.
Alexander kadang geli sendiri kenapa dia bisa lebay begini
Itu pun ngga sengaja dia lakukan. Dia merasa perlu mampir di toko bunga saat melihat bunga bunga segar sedang diturunkan dari sebuah mobil bak.
Dia terpesona dengan kelopak kelopak mawar yang besar dan berwarna merah darah itu. Jantungnya berdegup kencang. Dia seakan bisa membaca perasaan cintanya ada di sana.
Di samping toko bunga itu berdiri sebuah toko coklat yang menjual aneka bentuk coklat yang berbentuk lucu dan manis. Alexander pun sekalian membelinya.
Bibirnya tersenyum sambil membayangkan wajah Zira yang pasti tampak aneh saat menerimanya nanti.
Bibirnya mengembangkan senyum saat ekspetasi yang dibayangkannya terpampang jelas di depannya saat Alexander sedang membuka pintu ruangannya.
Ternyata Zira sedang bersama.tantenya dan Oma Mora juga Oma Mien ada di sana.
"Ada anak muda yang kasmaran," kekeh Oma Mora sambil menghampiri Alexander yang juga sedang berjalan mendekat.
Oma Mien dan istri Om Akbar tersenyum lebar.
Dia kesambet apa, sih, batin Rihana malu sekaligus tersipu.
Oma Mora memeluk manja lengan Alexander sambil membawanya melangkah ke dekat Rihana.
"Ini," ulur Alexander yang diterima Rihana dengan malu malu.
"Makasih," jawab Rihana pelan.
"Alex ijin nyium Zira, ya, oma, tante," ucap Alexander yang tanpa menunggu persetujuan ketiganya, dia pun mendaratkan bibirnya sekilas di puncak kepala Rihana. Menuntaskan rindunya.
Pipi Rihana tambah merah dan terasa sangat panas. Jantungnya pun berdebar kencang dan kupu kupu beterbangan keluar dari dalam rongga dadanya.
Sulit melukiskan perasaannya selain sangat bahagia juga sungkan karena mereka ngga hanya berdua.
"Nakal kamu, ya," tawa Oma Mien bersama ketiga lainnya.
Alexander melebarkan senyumnya hingga dia semakin menawan
Dalam hati Rihana merutuk, kenapa laki laki ini sangat tampan dan selalu bisa membuyarkan ketenangannya.
Mata mereka pun bertemu seolah menyampaikan hasrat yang tersimpan sangat dalam.
"Oma, tante, aku pamit dulu, ya.Titip Zira."
Karena mereka sudah tau siapa yang dipanggil Zira, ketiganya pun mengangguk sambil menjawab bergantian.
"Oke."
"Siap Oma."
"Jangan khawatir."
"Kerja yang rajin biar cucuku ngga melarat," timpal Oma Mien masih tergelak. Oma Mora dan istri Om Akbar juga tertawa mendengarnya.
'Dimakan coklatnya," ucap Alexander sambil menyodorkan coklat bulat yang sudah dibuka kertas emas penutupnya ke arah bibir Rihana yang setengah terbuka.
"Emm...," protes Rihana yang ngga bisa menolak. Tadi dia terlalu senang melihat reaksi kedua oma dan tantenya sampai melupakan kalo Alexander belum pergi.
Alexander tertawa kecil melihar pipi Zira yang gembung karena penuh dengan coklat.
"Aku pergi," pamitnya setelah mengusap lembut pipi Rihana.
*
*
*
"Aiden, kenapa kamu menerima perjodohan ini," protes Aurora ketika keduanya janjian di kafe depan perusahaan papanya.
"Setidaknya aku harus bertanggungjawab," sahut Aiden ringan.
Aurora mendengus kesal.
"Aku ngga butuh tanggung jawabmu," kesal Aurora membuat Aiden tersenyum miring.
Dia semakin suka saja dengan gadis ini. Semakin ditolak Aurora, Aiden merasa kalo dia semakin penasaran dan menggebu gebu untuk menaklukkan Aurora.
Di atas tempat tidur tentu sudah. Aiden tertawa dalam hati.
Ingatan akan Aurora yang memohon saat dia pura pura ngga melanjutkan kegiatan panas mereka yang hampir mendekati puncak, membuat senjatanya menegang.
"Bukan aku saja, kan, yang hilang virginnya sama kamu," sarkas Aurora menyadarkan Aiden dari lamunan panasnya .
"Tentu, tapi kamu yang paling panas," ucap Aiden dengan tatapan mesumnya.
Aurora gerah melihatnya
"Aku ngga mencintai kamu," marahnya lagi.
"Itu yang buat aku sangat suka," tawa Aiden perlahan.
Aurora memijat keningnya dengan frustasi.
"Aiden, kita bisa lakukan kapan pun kamu mau tanpa perlu ikatan pernikahan," kata Aurora bernegoisasi.
"Sekarang?" tantang Aiden
Aurora melirik sekitar mereka yang ternyata rame. Bisa viral nanti fotonya saat berjalan bersama Aiden ke hotel. Tadi mereka saja terpisah saat menuju tempat pertemuan.
Aurora sengaja mereservasi tempat biasa, bukan privat. Dia belum mau bersentuhan fisik lagi dengan Aiden.
"Kamu ngga lihat kafe ini rame," dengus Aurora menahan marah.
"Harusnya kita berada di ruang privat," balas Aiden datar.
"Apa yang aku harus lakukan agar perjodohan ini dibatalkan?" mohon Aurora benar benar frustasi.
Aiden tersenyum nakal.
"Sini, duduk di pangkuanku," kata Aiden sambil menepuk pahanya.
Mata Aurora melotot.
"Katamu ingin perjodohan ini dibatalkan. Makanya turuti keinginanku," kata Aiden dengan seringai mesum.
Aurora menggeram marah.
Tanpa menjawab, dia memilih pergi dari pada tampak seperti murahan.
Aiden tertawa melihat kepergian Aurora yang diselimuti kemarahan.
Sebentar lagi kamu akan takluk, batinnya yakin.
*
*
*
"Cieee yang dapat bunga dan coklat," goda Puspa saat mendatangi sepupunya di rumah sakit.
Dia dan mamanya sedang membantu Rihana beserta kedua omanya merapikan barang barang Rihana. Terlihat beberapa pengawal yang bolak balik membawa banyak hadiah dari beberapa relasi Opa Airlangga dan Opa Iskandardinata yang sudah mengetahui kalo Rihana adalah cucu mereka.
"Minta, dong," goda Ansel yang langsung dicubit Kirania.
"Kak Nay, Ansel selalu centil," lapor Kirania yang hanya ditanggapi senyum manis Nayara, yang dipaksa ikut oleh Kirania untuk mengenal Rihana.
Ansel belagak sok ngga peduli. Tangannya dengan lincah berhasil berkelit dari tangan Kirania yang berusaha menghalanginya mengambil satu buah coklat.
"Dasar maling coklat," kecam Puspa yang dibalas juluran lidah mengejek dari Ansel.
"Buat kamu," kata Ansel sambil menggenggamkan coklat itu ke tangan Nayara, gadis cantik yang merupakan staf di perusahaannya.
Nayara tentu saja canggung apalagi mendengar cibiran Kirania
"Ngga modal."
"Ngga pa pa," lerai Rihana menengahi.
"Yang punya udah ngga bilang apa apa. Ngga bakalan kembung perutnya," kekeh Puspa bersama Kirania. Ansel hanya tersenyum miring.
"Eh, aku mau ke kamar mandi bentar," pamit Puspa sambil berjalan keluar ruangan.
"Halo, udah siap siap pulang?"
Puspa mendongak saat ada yang menyapanya. Jantungnya berdebar kencang.
Herdin!
Gantengnya, pujinya dalam hati.
Tapi kenapa dia sendirian? Tanpa sadar Puspa celingukan mencari sosok Alexander.
"Alexander sedang ngobrol dengan Opa Iskan dan Opa Airlangga di bagian administrasi," jelas Herdin yang seolah mengerti jalannya pikiran Puspa.
'Eh."
Rona merah menghiasi pipi Puspa. Dia lupa sudah mengabaikan sosok Herdin yang ganteng mempesona.
Herdin tersenyum tipis melihat tingkah gadis itu yang sedang tersipu.
"Kamu mau kemana ?' tanya Herdin yang ngga tega melihat gadis itu lama lama salah tingkah.
"Ke... anu... em... administrasi. Opa Airlangga di cari Oma Mien," bohong Puspa terpaksa. Tambah malu dia bilang kalo mau ke toilet.
"Oooh... Oke. Silakan," ucap Herdin masih dengan wajah tersenyum mempesonanya.
Saat Puspa akan mengucapkan kata pergi dulu, Herdin mengangkat pomselnya yang sepertinya ada panggilan masuk.
Puspa pun hanya mengangguk sambil berjalan pergi. Dadanya bergemuruh.
Herdin menyapanya, sesuatu banget, batinnya sangat senang.