
Aurora yang sedang duduk melamun di depan kebun sayur di dalam lingkungan penjara terkejut mendapat senggolan dari salah satu napi perempuan.
Tangan napi itu dengan cepat menggenggamkan ponsel ke genggaman Aurora.
Napi perempuan itu langsung pergi tanpa berkata atau memberikan isyarat apa pun.
Aurora melirik ponsel yang sama persis dengan miliknya.
Teringat yang mamanya sampaikan tadi malam, kalo mereka berdua sedang di awasi. Mungkin juga telpon mereka akan disadap.
Ngga lama kemudian ponsel di tangan Aurora bergetar.
"Ada apa?" tanya Aurora tenang. Dia melihat nomer yang ngga dikenal di layar ponsel.
"Aku bisa membantumu," ucap suara bariton dengan tegas.
"Hemm... Apa yang kamu inginkan?" Aurora sudah ngga ingin berbasa basi.
"Dirimu. Kamu akan mendapatkan semua yang kamu mau asal mau menjadi selirku."
Jantung Aurora berdetak keras. Siapa orang yang kurang ajar, beraninya ngga menjadikannya ratu.
"Aku sedang hamil," kata Aurora terus terang.
"Kita bisa membuang anak itu dan membuat anak yang baru."
Jujur Aurora merasa jijik mendengarnya. Tapi dia pun ngga menginginkan anak Aiden yang berada dalam perutnya.
"Jangan mencampuri urusanku," tolak Aurora ngga suka. Dia ngga suka menjadi pion.
Terdengar tawa memuakkan lagi.
"Aku suka penolakan," kekehnya lagi ngga tersinggung.
"Kamu pasti akan jadi milikku," kata laki laki itu sambil menutup telponnya.
Aurora muak mendengarnya. Padahal dia belum melihat siapa laki laki dengan suara bariton yang sedang menelponnya.
Dia ngga peduli apa laki laki itu akan melakukan apa pun pada Rihana. Tapi dia ngga akan mau jadi selirnya. Lagi pula dia sudah menolak kesepakatan.
Sebenarnya Aurora sudah banyak mendapat tawaran di dm IG nya. Tapi ngga dia tanggapi, karena ngga ingin menambah lama masa tahanannya. Tentu saja Aurora takut ada yang bisa menjebol akunnya. Dan menjadikan chat dan percakapannya sebagai bukti.
Tawaran laki laki tadi cukup menjanjikan, karena lebih aman. Ngga di sangkanya laki laki itu punya perantara di dalam penjara.
Tapi Aurora ngga bisa terima dengan imbalan yang laki laki itu minta. Sangat merendahkan harga dirinya.
Hampir saja dia membanting ponsel tersebut jika mendadak teringat kata kata mamanya kalo ponsel mereka sedang di lacak.
Mungkin nanti dia akan membutuhkan ponsel ini. Karenanya Aurora menyimpan ponsel itu di saku pakaiannnya.
"Nona Aurora, Oma anda ingin bertemu," ucap seorang penjaga penjara wanita berusia empat puluhan penuh hormat.
Aurora hanya menggelengkan kepalanya tanda dia ngga mau.
"Baiklah," kata penjaga penjara itu maklum.
Beberapa jam sebelumnya.
Rihana terpaku melihat Oma Mora yang duduk sendirian. Sesekali tangannya mengusap air mata di pipinya.
Hati Rihana terasa perih. Pasti Omanya sedang memikirkan Aurora. Cucu yang sudah menemaninya selama ini. Pasti Oma sangat kehilangan karena ketiadaan Aurora saat ini.
"Oma," panggil Rihana pelan.
Oma Mora mengusap air matanya sebelum beralih pada Rihana yang menegurnya.
Dengan lembut Oma Mora menarik tangan Rihana agar duduk di sampingnya.
"Dua hari lagi kamu akan menikah," ucapnya lembut sambil membelai puncak kepala Rihana penuh sayang.
"Dua hari lagi kamu akan menikah, sayang."
Rihana mengangguk.
"Oma marah?" tanya Rihana pelan.
Alis Oma keangkat ke atas.
"Kenapa kamu pikir Oma marah?"Tatap mata Oma tampak sangat heran mendengar pertanyaan Rihana yang menurutnya aneh.
"Aku... aku merebut Alex dari Aurora?" tanya Rihana perlahan, nyaris merupakan bisikan.
Hati Rihana merasa belum plong. Karena di balik kebahagiaannya, Rihana dapat melihat kesedihan di mata papa, Oma Mora dan Opa Iskan yang berusaha mereka tutupi.
"Hush, kamu ngomong apa, sih," senyum Oma sambil mencubit gemas pipi Rihana.
"Nanti Aurora akan ketemu, kok, dengan laki laki yang dia sukai dan juga menyukainya. Hanya masalah waktu saja," sambung Omanya dengan tatapan lembutnya. Ucapan Omanya terdengar tulus.
"Oma pasti kangen banget sama Aurora, kan?" ucap Rihana seakan mengerti apa yang dirasakan Omanya dari tatapan sedih dalam matanya.
"Iya, Oma kangen banget. Tapi Aurora ngga mau ketemu," ucap Oma dengan perasaan sakit.
"Oma mau ngunjungi Aurora?" tanya Rihana pelan.
"Tapi Aurora ngga mau ketemu Oma."
"Coba lagi Oma. Mungkin kali ini Aurora tersentuh," bujuk Rihana membuat semangat Oma yang mengendur kini bangkit lagi.
"Ya, oma akan ajak opa," kata omanya penuh semangat.
Rihana tersenyum lega melihat wajah cerah Oma Mora.
Oma pun meraih ponselnya dan menelpon suaminya. Tapi melihat aura wajahnya setelah menutup telpon, Rihana tau kalo Opa Iskan ngga bisa menemani.
"Opa lagi sibuk sama Opa Airlangga dan Opanya Alex," kata Oma kecewa.
"Aku aja yang nemenin Oma," kata Rihana menawarkan dirinya.
Oma tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan sayang. Dua hari lagi kamu akan nikah. Kamu jangan pergi pergi dulu, ya," tolak Omanya dengan senyum manisnya. Walaupun dia sangat ingin bertemu Aurora, tapi Oma Mora ngga mau membahayakan cucunya yang bentar lagi akan menikah.
Sejak kejadian Rihana pernah kecelakaan di perusahaannya yang dulu, keluarga mereka lebih berhati hati akan keselamatan Rihana. Bahkan Alexander ngga pernah absen menemani Rihana, termasuk antar jemput.
"Ngga apa Oma. Nanti bisa diantar pengawal papa," sahut Rihana kekeh ingin menemani omanya. Rihana hanya ingin melihat wajah bahagia Omanya. Apalagi sebentar lagi dia akan menikah.
Ada perasaan bersalah di hati Rihana akan nasib Aurora. Biar bagaimana pun mereka masih saudara, karena ada darah papa dalam tubuh mereka.
Rihana saat ini sudah bahagia bersama keluarga mama dan papanya. Juga ada Alexander di sampingnya. Sedangkan Aurora malah terpuruk di penjara.
"Tapi aku ngga bisa membiarkan Oma pergi sendiri," kekeh Rihana khawatir.
"Rihana, ngga pa pa sayang."
Rihana terdiam. Dia masih bimbang membiarkan omanya pergi sendiri. Walaupun supir keluarga menemani.
"Ada apa?" tanya Daiva yang muncul tiba tiba dan merasa bingung melihat wajah Oma dan Rihana.
"Oma mau menjenguk Aurora. Tapi aku ngga tega karena Oma pergi hanya ditemani Pak Wondo," jelas Rihana.
"Kamu mau nemenin Oma?" tanya Daiva mulai mengerti.
"Iya."
Daiva menghela nafas panjang.
"Aku aja yang nemenin Oma. Kamu di rumah aja," putus Daiva menegaskan.
"Iya, sayang. Ada Daiva," sambung Oma lagi.
Rihana terdiam. Sebenarnya masalahnya sudah selesai. Tapi Rihana tetap merasa ada ganjalan. Ada satu keinginannya, ingin mengobrol dari hati ke hati dengan Aurora. Selama ini mereka belum ada kesempatan
"Kamu juga ingin bertemu dengan Aurora?" tanya Daiva mulai mengerti dengan kengeyelan Rihana.
"Iya. Aku kakaknya. Aku ingin minta maaf padanya karena sudah membuat Aurora jadi begini," jawab Rihana jujur.
Mata Oma pun berkabut.
"Kamu ngga salah apa pun sayang. Oma yakin, nanti Aurora akan menyadarinya," ucapnya sambil memeluk Rihana.
Cucu yang baru baru ini bisa dipeluknya. Aurora harusnya tau kalo nasibnya masih lebih beruntung dari pada Rihana. Kakak tirinya harus bekerja keras untuk bisa hidup dengan layak.
*
*
*
"Oma anda menitipkan surat untuk anda," ucap penjaga pemjara tadi sambil mengulurkan 3 buah amplop.
"Nona, anda sangat beruntung. Masih banyak anggota keluarga yang menyayangi anda," ucapnya saat Aurora menerima ketiga amplop yang dia ulurkan.
Aurora ngga menjawab. Hanya merasa heran.
Kenapa sampai tiga amplop?
"Terima kasih."
"Nona, percayalah, anda akan baik baik saja nantinya," sambung penjaga itu sebelum pergi.
Aurora ngga menjawab. Dia mengambil amplop yang pertama.
Aurora menikmati kesendiriannya di penjara ini. Banyak yang mendekatinya, tapi dia selalu menolaknya. Dia menilih sendiri.
Cucu kesayangan Oma.
Maafkan Oma yang ngga bisa banyak membantumu.
Oma sedih melihat keadaanmu. Oma ngga kuat melihat keadaanmu.
*Aurora sayang. Kembalilah seperti dulu. Kalo kamu mau, oma akan selalu bersamamu. Oma sangat mencintaimu. Begitu juga opa dan papamu. Kami semua sedih memikirkanmu. *
Di hari hari tua ini, yang oma inginkan hanya bersamamu, Rora sayang. Oma sangat menyayangimu.
Setetes air mata Aurora mengalir perlahan di pipinya. Matanya terpejam. Dia pun sangat merindukan omanya. Juga opa dan papanya. Surat Oma membuat dia merasa bersalah karena sudah menolak untuk bertemu hanya karena dia iri dan kecewa. Bukan hanya dengan omanya saja. Bahkan opa dan papanya.
Dia sudah berlaku jahat pada mereka. Padahal setiap hari mereka datang untuk menemuinya dan harus pulang dengan kehampaan karena keegoisannya.
Kembali air mata mengalir di pipinya.
Setelahnya Aurora membuka surat keduanya. Dia tersenyum getir. Sepupunya.
Apa dia juga datang?
Kata kata penjaga penjara wanita tadi memang benar kalo dia beruntung. Bahkan sepupunya yang selalu disinisin pun ngga melupakannya. Tetap menebalkan telinga dengan kata kata apatisnya.
Sepupuku yang bodoh.
Sampai kapan kamu akan menghindari keluargamu, hah! Oma dan Opa sudah tua. Papamu juga. Mereka merindukanmu, bodoh!
Memang dialah si bodoh itu. Menjadi buta hanya karena mereka berpaling sebentar pada pegawai kontrak itu.
Hari ini rasanya jiwanya menjadi melankolis.
Aurora pun beralih pada surat ketiga.
Keningnya mengernyit saat membacanya.
Adikku
Maaf, jika kehadiranku membuatmu kesal.
Maaf jika aku sudah menyakiti hatimu. Harusnya kita bisa menjadi kakak dan adik yang saling menyayangi.
Aku berharap momen itu akan datang. Aku menyayangimu, adikku.
Kali ini air mata Aurora mengalir deras.
Ada perasaan aneh menyelusup dalam hatinya mendengar pernyataan pegawai kontrak itu dalam suratnya.
Dia datang juga?
Aurora menengadahkan kepalanya ke atas. Matanya terpejam dengan pipi semakin basah.
Sebenarnya apa yang sudah dia lakukan?
Kenapa dia bisa sepicik ini?
Kak Alex memang ngga pernah menyatakan cinta padanya. Dialah yang jatuh cinta sedalam dalam padanya.
Dia yang selalu berharap akan cinta laki laki datar tapi penuh perhatian itu.
Kak Alex... Mengapa bukan aku yang kau cintai.
Air mata Aurora semakin deras mengalir. Berjatuhan tanpa henti.