
Daiva sebenarnya malas memenuhi undangan Zerina. Dia sudah memutuskan akan melupakan Xavi dan ngga berurusan dengan keluarganya.
Apalagi setelah jawaban jawaban yang diberikan oleh mamanya di depan awak media. Daiva sudah ngga ingin berurusan lagi dengan mereka.
Sekarang fokusnya hanya merawat bayi Aurora, bayi El.
Baby El tumbuh sehat walau dia ngga pernah mendapatkan asi dari Aurora.
Aurora menghentikan interaksi antara dirinya dan bayi El yang sudah dengan selamat dia lahirkan.
Itu juga dilakukan Aurora untuk memudahkan Daiva, Oma dan sepupunya untuk merawatnya.
Ada kesibukan yang Daiva lakukan saat dia sudah pulang kerja. Bermain dengan bayi itu. Wajahnya sedikit mengingatkannya pada Xavi. Karena Daiva ngga pernah bertemu dengan Aiden.
Saat bayi El tersenyum bahkan tertawa, yang terbayang di mata Daiva adalah Xavi. Rindunya pada Xavi terobati sedikit demi sedikit terobati
Ternyata Zerina sudah menunggunya di ruangan privat ini. Ibu hamil ini terus menelponnya walaupun sudah dia reject. Tapi begitulah Daiva, dia ngga tega berbuat jahat dengan orang lain. Walaupun orang itu sudah sengaja menyakitinya.
Temannnya itu melambaikan tangannya pada Daiva saat melihatnya.
Dengan senyum enggan Daiva membalasnya dan melangkah mendekati ibu hamil besar itu.
"Apa kabar?" sapa Zerina berbasa basi.
"Aku baik." Daiva pun duduk di depan Zerina yang sudah memesan jus alpukat.
"Aku sudah memesankanmu jus apel," ucapnya saat seorang pelayan perempuan mendekat dengan segelas besar jus apel dan meletakkannya di depan Daiva.
"Terima kasih," ucap Daiva sambil menatap pelayan itu yang dibalas dengan anggukan dan senyum manis.
"Sama sama, nona."
Selanjutnya beberapa cake manis pun dihidangkan.
"Kamu mau pesan makanan berat?" tanya Zerina menawarkan dengan ramah.
"Ini sudah cukup," tolak Daiva masih dengan senyum tipisnya.
Hening.
Keduanya sibuk dengan ponsel masing masing.
Daiva mengecek apakah Omanya mengirim pesan kalo membutuhkan sesuatu untuk cicitnya, bayi El.
Sedangkan Zerina membalas pesan mertuanya dengan sedikit berdusta, kalo dia sedang sendirian minum jus di restoran yang ngga jauh dari mansion mertuanya.
Setelah tinggal bersama Mama Aiden yang tau dia hamil anak putra brengseknya yang udah tiada, hidupnya naik tujuh kasta.
Kemana mana ditemani pengawal. Pelayan bertebaran di sampingnya. Bahkan untuk mengambil ponsel atau remote tv pun para pelayan dengan senang hati melakukannya.
Dia pun ngga perlu waktu lama lagi untuk mengumpulkan uang gajinya demi membeli tas, sepatu atau gaun gaun branded.
Sama seperti waktu menjadi kekasih Aiden, saat dinikahi Xavi, laki laki itu pun memberikannya beberapa buah kartu kredit. Dia dibebaskan membeli apa saja.
Mama mertuanya pun sangat memanjakannnya. Dirinya sudah bisa menikmati hidup.yang dia angan angankan.
"Sepertinya kamu sebentar lagi akan melahirkan," ucap Daiva setelah menyesap sedikit jus apelnya.
Dia ingin cepat pulang. Waktu sangat berharga buatnya demi bisa menemani bayi El.
"Iya. Kami sedang menunggunya," sahutnya dengan mata penuh binar.
Kata Kami membuat Daiva sedikit sesak.
Maksudnya dia dan Xavi?
Daiva ngga menyahut, hanya tersenyum tipis.
Hening.
"Sebenarnya apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Daiva gerah karena melihat bumil di depannya malah sedang menikmati cake cake di depannya.
"Ehem," batuk Zerina setelah menelan potongan terakhir cakenya.
"Apa kamu masih berhubungan dengan Xavi?" tanyanya tanpa rikuh. Sekarang kedudukan mereka sejajar. Kalo dulu Daiva adalah ponakan bos besarnya saat mereka bekerja di perusahaan yang sama, wajar dia menaruh rasa hormat dan segan.
Tapi sekarang ini berbeda. Dia ngga bekerja di perusahaan itu lagi. Dia sekarang menjadi menantu sahabat bosnya dulu. Zerina juga sekarang sedang berusaha mempertahankan kepemilikannya atas Xavi.
"Tidak," jawab Daiva datar, ternyata tebakannya benar. Gadis di depannya bukan temannya yang dulu lagi. Melainkan saingannya yang sudah merasa menang karena berhasil memiliki laki laki yang dia cintai.
"Syukurlah. Aku percaya padamu."
Daiva ngga menyahut, dia menatap datar Zerina yang sedang menyesap jus alpukatnya.
"Setelah melahirkan Xavi akan menceraikan aku."
"Kamu takut dia mencariku?" sindir Daiva cepat.
Mimik wajah Zerina terlihat meringis, ngga nyangka Daiva akan mengatakannya dengan sangat jelas. Ngga memikirkaj kondisinya.
Zerina berpikir kalo Daiva akan mengalah lagi untuknya.
"Kamu akan menerimanya?" sorot mata Zerina terlihat jengkel, ngga rela.
"Kalo dia sudah resmi berpisah, ngga ada yang salah, kan," tantang Daiva dengan senyum miringnya.
Aura kekayaan dan kekuasaan yang sudah sejak lahir dimiliki Daiva pasti lebih kuat, dari pada yang dimiliki Zerina yang barusan naik kasta.
Zerina yang awalnya ingin mengintimidasi Daiva, jadi kena mental. Beradu tatap saja dia sudah kalah.
"Aku mohon, jangan ambil Xavi," mohonnya kembali ke watak aslinya yang ngga punya apa apa.
Daiva ngga menjawab. Juga ngga ada keinginan untuk merespon.
Setelah menyesap lagi jus apelnya, Daiva kemudian berdiri.
"Aku pulang dulu. Tiba tiba saja aku merindukan ponakan kecilku," ucapnya sambil mengambil tasnya.
Pembicaraan ini sudah ngga menarik lagi bagi Daiva.
Zerina menatap kepergian temannya dengan kesal.
*
*
*
Begitu juga papanya. Keduanya sibuk dengan pikiran dan kopi masing masing.
Mamanya berjalan mondar mandir ngga tenang. Wajahnya terlihat sangat gelisah.
"Ma, istirahatlah," tegur papanya yang akhirnya cukup terganggu juga melihat gerak bolak balik istrinya yang tiada henti.
"Bagaimana aku bisa istirahat. Menantu dan cucu kita sedang berada di ruang operasi," keluhnya dengan nada sangat khawatir.
Tadi sore Zerina mengeluh sakit di perutnya, dan sepertinya dia mengalami kontraksi yang sebenarnya.
Sudah sejak beberapa hari yang lalu Zerina seperti membuat prank karena kontraksi palsunya.
Sampai Xavi dan papanya harus beberapa kali menggagalkan pertemuan dengan klien kliennya.
Tapi kata dokter sudah biasa kalo ibu ibu hamil memasuki bulan melahirkan mengalami kontraksi palsu.
Masalahnya mamanya terlalu heboh dan khawatir membuat Xavi dan Papanya menjadi sedikit kewalahan karenanya.
Dan saat kontraksi sore tadi ngga membuat Xavi dan papanya langsung percaya. Mereka masih meyakini kalo itu masih kontraksi palsu.
Mereka sampai di rumah sakit satu jam kemudian setelah mamanya histeris kalo Zerina akan dioperasi caesar.
Ternyata ini bukan kontraksi palsu.
"Lebih baik kita berdo'a dan menyerahkan semuanya pada yang di atas. Percayakan pada tim dokter, ma," ucap suaminya sambil merengkuh bahu istrinya dan mengajaknya duduk.
Mamanya menurut, kemudian menerima uluran teh panas dari pengawalnya.
Ngga lama kemudian lampu operasi padam. Operasi sudah selesai.
Seorang dokter berjalan keluar bersama beberapa orang perawat yang menggendong bayi.
Mama langsung bangkit dan bergegas mendekat setelah memberikan teh yang baru diminumnya sedikit pada pengawalnya.
Papa dan Xavi berjalan pelan di belakang mamanya.
"Itu... Bayinya dokter?" tanya Mama Xavi dengan suara bergetar.
"Benar, nyonya," ucap sang dokter sambil memberikan isyarat agar perawat yang menggendong bayi itu mendekat.
Aiden, ini anakmu, batin mama Xavi ngga sabar.
"Laki laki atau perempuan?" tanya Papa Xavi ketika melihat istrinya menggendong cucunya.
"Laki laki," ucap dokter dengan senyum agak resah.
"Menantu saya bagaimana, dokter?" tanya Papa Xavi menyadarkan euforia istrinya.
"Sedang ditangani, tuan. Tapi nyonya muda ingin berbicara dengan tuan muda," ucap dokter sambil menatap Xavi.
"Maksud kamu apa? Sebaiknya tangani dulu menantu saya," kaget mami membuat bayi yang awalnya tenang jadi menangis.
"Tenang, ma," bujuk papanya mulai diliputi perasaan ngga enak.
Memang kehamilan Zerina membuatnya sering bolak balik ke rumah sakit. Tubuhnya agak rentan dengan debu dan udara dingin.
Mama Xavi pun mulai sibuk menenangkan bayinya.
"Nyonya muda tetap bersikeras ingin berbicara dengan tuan muda," jawab dokter merasa serba salah. Tapi tim medis yang lain sedang menangani Zerina, walau nyonya muda itu terus menolak.
Tanpa kata Xavi segera masuk ke dalam. Dokter itu pun bersama para perawatnya juga ikut masuk.
Xavi dapat melihat berbagai alat medis sudah terpasang di tubuh Zerina.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Xavi heran.
"Apa nyonya besar ngga mengatakannya?" dokter kandungan itu menatap Xavi heran.
Reflek Xavi menggeleng karena mamanya memang ngga mengatakan apa pun sejak kedatangannya dan papanya tadi.
Saat itu Zerina sudah masuk ke dalam ruangan operasi. Mereka memang cukup terlambat.
"Kondisi Zerina cukup kritis. Nyonya besar sudah menandatangani pernyataan kalo beliau memilih keselamatan cucunya jika keduanya tidak bisa diselamatkan."
Tubuh Xavi bergetar. Sekarang dia baru mengerti kenapa tadi sepanjang jalannya operasi, mamanya tampak begitu khawatir dan gelisah.
Perlahan Xavi pun mendekat.
Dia mengambil tempat duduk di samping Zerina. Meraih tangannya dan menggenggamnya lembut.
"Zerina," panggil Xavi lirih.
Perlahan Zerina membuka matanya yang tertutup. Terlihat sayu.
"Xa....vi...."
"Ya."
Zerina merasa dadanya semakin berat.
"To.... long.... jaga putra.... kita......"
"Aku pasti akan menjaganya. Sekarang lebih baik kamu ditangani dokter, biar cepat sembuh."
Ketika Xavi akan melepaskan genggamannya, tapi Zerina malah balik menggenggamnya
"Te.... mani.... aku.... aku.... mo.... hon....," pintanya dengan air mata yang sudah menetes perlahan.
Harapannya bisa hidup lebih lama dengan anaknya dan Xavi, pudar sudah.
Tubuhnya rasanya sakit semua.
Xavi menghapus air mata yang mengalir itu.
Zerina memejamkan matanya bersamaan dengan bunyi panjang alat pendeteksi detak jantung. Ada garis lurus terlihat di monitor.
Xavi menyingkir saat tim medis masih berusaha membangkitkan detak jantung ibu muda yang baru saja melahirkan itu.