
"Kalian ngga ada kerjaan," sarkas Alexander kesal melihat kedua kakak laki lakinya yang terlihat menggoda Zira.
Apa mereka membiarkan papa sendirian menghandle perusahaan? geram Alexander dalam hati.
Dia juga heran. Tumben Bang Fathan sejalan dengan Bang Daniel buat ngeganggu dia.
Keduanya tergelak menanggapi kekesalan adik bungsu mereka.
Ternyata inilah perempuan yang membuat adiknya sangat setia.Bahkan sudah sampai hilang kontak.
Daniel agak iri juga. Berganti ganti pasangan belum juga mendapatkan yang benar benar klik di hatinya. Tapi adiknya hanya sekali jatuh cinta bisa begitu setia. Secantik Aurora ngga bisa merubah hatinya.
"Kami mampir sebentar melihat calon istrimu," tukas Fathan ringan. Dia dapat melihat wajah Rihana merona.
"Rihana atau Zira?" candanya sambil melirik Alexander yang tetap menampilkan wajah masamnya.
"Boleh kami juga memanggil kamu Zira?" goda Daniel sambil mengedipkan sebelah matanya pada Rihana membuat Rihana tersenyum simpul.
"Ngga boleh. Kalian hanya bisa memanggilnya Rihana," tegas Alexander keras kepala.
Kembali keduanya tertawa ngakak melihat keposesivan Alexander.
"Kapan siap dilamar?" cetus Kalandra yang sudah memasuki ruangan bersama Emir dan Emra.
Ketiganya sudah cukup lama berada di luar, mendengarkan obrolan kakak adik yang terdengar cukup akrab.
Mereka juga sudah ngga sabar untuk kepoin rencana pernikahan sepupu mereka.
"Secepatnya," jawab Fathan yang seusia dengan Kalandra cepat.
"Oke oke, kita bisa mulai persiapan, nih," cetus Emir dengan raut bahagia. Mengingat di keluarga mereka belum ada acara pernikahan. Ini akan jadi pesta pernikahan pembuka yang spektakuler.
"Rihana, kamu ngelangkahin banyak sepupumu loh," gelak Emra disambut Emir yang sebaya dengan Daniel.
Wajah Rihana merona.
Iya, sih, batinnya malu. Tapi, kan, dia ngga tau kalo ternyata memiliki banyak sepupu yang masih jomblo dan gila kerja.
"Wow, Alex harus banyak menyiapkan hadiah, nih, biar kita mudahkan jalannya," goda Fathan dengan senyum lebarnya.
Alexander meliriknya kesal. Kakak tertuanya yang biasanya irit ngomong sepertinya sudah tertular virus bawel Daniel.
"Harus segera buat list hadiahnya," timpal Kalandra terkekeh.
"Mantap. Kuras tabungan Alex," sarkas Daniel tergelak membuat Alex tersenyum miring.
Tentu dia sudah memperhitungkannya jika ingin melangkahi kedua kakak laki lakinya.
"Kita harus cepat cepat cari pendamping, nih," sambut Emra juga dengan kekehannya. Tapi dalam hati lagi mikir, siapa yang akan dia bawa nantinya di pesta nikah sepupunya.
"Yang serius woiii, jangan dibuang terus benih unggul lo," tambah Emir mengejek dengan makin tergelak gelak. Mereka pun tertawa lepas tanpa sungkan. Melupakan Rihana yang tambah merah pipinya karena sangat malu mendengar candaan vulg@r itu
"Jangan kamu pikirkan. Mereka udah biasa gila kayak gitu," kekeh Alexander sambil mendekatkan kepala Rihana du perutnya, karena kini posisinya berdiri di samping kekasihnya. Alexandee tau Rihana pasti merasa malu. Tangannya pun mengelus lembut puncak kepala kekasihnya.
Dia juga berharap bisa segera menikah dengan Zira.
Kalandra dan yang lainnya tambah ngga bisa menghentikan tawanya mendengar kata kata yang cukup frontal dari mulut Alexander.
Nidya menyandarkan tubuhnya di balik dinding kamar Rihana. Dia sudah semakin jelas melihat betapa perhatiannya Alexander pada sepupunya Rihana.
Bahkan mereka membicarakan rencana pernikahan Alexander dan Rihana. Pasangan ini pun terlihat samgat bahagia.
Ngga nyangka Alexander akan serius menyukai Rihana.
Dada Nidya terasa sesak. Susah sekali buat merelakan Alexander buat Rihana. Perlahan dia pun melangkah pergi.
"Alex, kita skejul ulang proyek Om Dewan yang sudah kami batalkan," kata Kalandra setelah tawa mereka reda.
Alexander mendengus meremehkan.
"Kenapa kalian ingin kerja sama itu kembali lagi? Bukannya kalian dengan sombong sudah memutuskannya," sindirnya tajam.
Kalandra tersenyum lebar.
"Salahnya Om Dewan mempekerjakan Rihana.di lapangan," seru Emra.
"Jadi karena itu. Aku kira karena apaan," sambar Daniel sambil menggelengkan kepalanya.Dia cukup terkejut dengan kontrak kerja sama sahabat papanya diputuskan mendadak.
*Tapi wajar, sih, mereka marah karena Rihana punya ikatan.darah dengan keluarga Om A*irlangga.
Fathan hanya manggut manggut. Tapi dalam hati sangat mengerti.
"Oke, nanti biar aku sampaikan pada Om Dewan," kata Alexander sambil melirik Rihana yang menengadah menatapnya. Kembali Alexander mengusap lembut puncak kepalanya.
*
*
*
Aurora terkejut dengan kiriman beberapa foto polos dirinya dari dari Aiden.
Saat ini papa menemuinya dan mama di rumah orang tua mamanya.
Kembali mereka bertengkar.
"Ngga bisa. Kamu ngga bisa sembarangan menjodohkan putriku."
" Kenapa? Aiden baik dan bertanggungjawab."
Perut Aurora merasa mual karenanya.
Papanya belum tau siapa Aiden, kecamnya marah dalam hati.
Kembali dia merutuki kebodohannya. Mahkotanya sudah hilang. Bahkan dia kepergok Kak Alex dan Kak Herdin di hotel bersama Aiden.
Dia tau kini maksud kiriman pesan berupa foto tanpa satu pun kalimat ancaman. Foto itulah ancamannya.
"Tapi Aurora mencintai Alexander," tegas Mama Aurora ngga mau dibantah.
"Ya. Tapi Alexander ngga mencintainya," balas Dewan tajam membuat Mama Aurora terdiam seakan kehilangan kata untuk membantah
Itu karena anak harammu, maki Mama Aurora dalam hati.
Aurora pun terdiam dengan menahan rasa sakit di hatinya. Hatinya terluka. Papanya yang selalu mendukungnya, kini sudah mengabaikannya. Pasti semua demi pegawai kontrak yang ternyata anaknya. Aurora sama sekali ngga menduganya.
Aurora menghembuskan nafas kesal. Kenapa hidupnya penuh drama. Dan dia sekarang merasa kalo dia menjadi second leadnya. Bukan main leadnya. Sangat menyakitkan. Gadis itu dengan mudahnya merampas segalanya darinya.
"Aku lebih suka Herdin," kata Mama Aurora memberikan alternatif
Kepala papanya menggeleng. Aurora pun tau kalo sekarang juga sudah ngga ada harapan dengan Kak Herdin.
Padahal lebih baik bersama Kak Herdin sebelum boroknya ketahuan.
"Kamu tau? Aurora menyuruh Aiden melukai Rihana. Dan Aiden melakukan permintaannya," kata Dewan sambil menatap tajam putrinya yang tampak sangat terkejut dengan wajah pias.
Papa sudah tau? batin Aurora tercekat. Aurora dapat melihat kekecewaan dalam mata papanya. Aurora merasa sangat bersalah. Selama ini dia bidadari tanpa cela. Tapi kini lenyap sudah.
"Bohong!" sangkal Mama Aurora marah. Dia merasa suaminya mengada ada dalam mencari alasan agar perjodohan ini terjadi.
"Bener, kan, Aurora?"
Badan Aurora menggigil. Suara papanya terdengar datar. Dia merasa sudah dilempar jauh ke luar ruang angkasa. Hampa. Itulah yang dia rasakan
Melihat reaksi Aurora yang terlihat ngga membantah, Mama Aurora pun terkejut.
"Putriku pasti punya alasan," belanya.
"Tentu, begitu juga aku!" tandas Papa Aurora tajam.
Aurora memejamkan matanta. Dia harus melakukan sesuatu agar bisa terlepas dari Aiden.
Ngga disangkanya kalo Aiden ingin menikahinya. Laki laki itu pencuri kesempatan yang sangat profesional. Aurora membencinya. Dia benci selalu takluk dengan rayuan panas laki laki itu. Dia benci sekali.
Sekarang Aurora sudah berdiri di pinggir jurang yang sangat
dalam. Bentar lagi dia akan jatuh dan terhempas ke dalamnya.