
Emra sangat menikmati berdansa dengan para perempuan yang datang dan memohon padanya dengan malu malu.
Setelah menyelesaikan dansanya dengan satu perempuan, ada perempuan lain juga yang meminta hal yang sama hingga membuatnya ngga bisa menolak.
Apalagi saat dia melihat para perempuan cantik dan seksi itu membuat diri mereka seolah mengantri, menunggu giliran mendapatkan kehangatannya.
Dia mengedipkan sebelah matanya pada Emir yang hanya menyeringai melihatnya. Kembarannya lebih memilih menikmati makanan dan minuman nusantara yang dihidangkan dari pada ditempeli para perempuan cantik dan seksi ini.
Para perempuan ini ngga ada lelahnya menunggunya. Karena nya Emra memilih untuk.berdansa ngga terlalu lama, agar mereka semua berkesempatan berdansa dengannya
Tapi wajah senangnya berubah keruh saat melihat perempuan yang sudah mengobrak abrik hatinya kini sedang berdansa dengan laki laki yang sedang berulang tahun saat ini.
Mereka saling kenal? Kening Emra mengernyit. Ngga nyangka pergaulan gadis itu cukup luas juga. Dia yang malah sepertinya kalah tenar dari temannya Hazka. Karena setelah dijodohkan dengan Kalandra, baru Emra mengenalnya.
"Maaf, aku ingin bertemu temanku," ucap Emra saat menghentikan dansanya yang baru sangat sebentar.
"Ya, ngga apa apa," balas gadis itu sedikit kecewa tapi jantungnya menggelepar ketika merasa sentuhan lembut bibir Emra di pipinya.
Rasa kecewanya menguap begitu saja berganti dengan raut tersipunya.
Para perempuan yang masih antri menatap adegan romantis yang bikin iri itu dengan tangan menutup mulut yang terbuka.
Merasa kagum sekaligus iri akan keberuntungan gadis itu.
Emra pun tersenyum hangat sambil melambaikan tangannya dengan menampakkan wajah penyesalannya saat pergi meninggalkan gadis itu.dan para gadis yang sedang mengantre dirinya.
Langkahnya sudah mantap menuju ke arah Hazka dan Kiara yang sedang berdansa dengan cukup mesra.
Mereka.punya hubungan? batinnya panas karena cemburu melihat tangan Hazka.yang melingkari pinggang Kiara.
Keduanya nampak akrab dan sesekali tertawa.
"Ehem," batuk Emra membuat pasangan dansa itu berhenti dan menoleh padanya.
Hazka terkekeh melihat isyarat di mata Emra. Dia pun melepaskan rangkulannya.
"Kalian kenal?" kekehnya lagi. Merasa aneh dengan sikap Emra. Dalam hatinya menduga kalo ada sesuatu di antara keduanya.
"Aku akan menunggumu. Ngga perlu buru buru," tukas Emra tenang tanpa menjawab pertanyaan Hazka.
"Oke oke. Aku sudah selesai. Kia, hati hati dengan dia," ucap Hazka memberi ingat dalam tawanya.
Kia? Apa mereka seakrab itu? batin Emra ngga suka.
Laki laki mana lagi yang dia kenal akrab, haah, batinnya lagi dengan hati tetap panas.
Kiara tersenyum menanggapinya. Kemenangan taruhan dengan dua temannya sudah sangat jelas di depan mata.
Alih alih mendekati Emra yang sedang dikerubungi banyak perempuan cantik dan seksi, seperti yang dilakukan kedua temannya, Kiara lebih memilih berpikir mencari cara agar Emra yang mendekatinya.
Selagi dia sedang mengolah otaknya, Hazka teman kuliahnya menghampirinya dan mengajaknya berdansa
Got it!
Kiara yakin Emra akan menyadarinya nanti dan pasti akan meradang melihatnya dipeluk laki laki lain.
Dan ngga perlu waktu lama, sekarang laki laki itu sudah mendekat dengan wajah ngga ramahnya.
Tapi sepertinya dia cukup dekat dengan Hazka. Hazka seperti memaklumi tindakannya. Malah dia tertawa sambil pergi meninggalkan mereka berdua.
Kini keduanya saling tatap. Jantung Kiara berdegup keras. Dia merasa aneh dan tersudut dengan tatapan marah Emra padamya.
Tanpa kata laki laki itu menarik Kiara dalam pelukannya. Kiara sama sekali ngga menyangka hingga tubuhnya membentur keras dada bidang Emra.
Para perempuan yang mengawasi keduanya terperangah. Lagi lagi mereka menutup mulut mereka saking terkejutnya melihat sikap posesif Emra. Dari tadi saja saat Emra menghampiri pemilik pesta ini sudah membuat hati dan jantung mereka tegang dan dag dig dug ngga karuan.
Apalagi melihat gadis yang dipeluk Emra. Sangat membuat hati mereka panas dan mendidih. Ya, cemburu. Tadi saja jantung mereka hampir copot melihat ciuman pipi Emra pada perempuan yang berdansa terakhir dengannya. Sekarang ini nyawa dan harapan mereka yang mau lepas melihat keintiman di depan mata.
Beberapa kamera mengabadikannya. Seakan berita ini penting untuk di upload.
Emra Airlangga dan Hazka si penyelenggaa pesta sedang berebut berdansa dengan seorang dara yang sangat jelita.
Kepalanya terdongak dengan tatapan protes. Tapi laki laki yang lebih tinggi darinya itu merunduk dan balas menatapnya dengan sangat tajam. Seolah dia adalah kekasih yang ketahuan berselingkuh.
"Ka kamu ke kenapa?"
Sial, mengapa dia jadi gugup begini, omel Kiara dalam hati.
"Mau ngajak kamu dansa," ucap Emra tenang. Nafasnya agak memburu dan terasa panas di wajah Kiara.
"Ehem."
Tapi.... wait.....
Kiara juga dapat merasakan detak jantung laki laki yang secara kurang ajar memeluknya ini ngga kalah kencangnya.
Kenapa? tanya Kiara dalan sorot matanya.
Emra masih terus menatap gadis yang masih banyak tanya dalam diamnya.
Emra pun bisa merasakan kegugupan dan detak jantung Kiara yang sama kencangnya seperti dirinya.
Setelah menenangkan hatinya, Emra melonggarkan pelukannya dan memberi Kiara sedikit jarak. Tangannya menarik kedua tangan Kiara dan mengalungkannya ke lehernya. Sementara tangannya sendiri tetap melingkar di pinggang ramping Kiara.
Kini keduanya sudah menggoyangkan tubuh mengikuti alunan musik namun dalam diam dan saling menatap.
Debaran jantung Kiara makin menjadi.
Dia kenapa? Kenapa rasanya sangat aneh, batin Kiara.
Rasanya ngga sesantai saat dirinya berdansa dengan Hazka. Perasaan ini sangat berbeda. Apalagi mata super tajam yang menatapnya seakan sedang memberinya peringatan keras jangan selingkuh.
Bah, gimana Kiara ngga kesal. Kenapa dia ngga berkaca, bukannya laki laki ini dengan seenaknya menggilir para perempuan untuk berdansa dengannya....
Kiara terus mengomel dalam hati dan mengirimkan sinyal kekesalannya lewat tatapannya pada Emra.
Sementarara itu Mela dan Shiza tertawa dengan nada kecewa.
"Kita harus segera mencari apartemen mewah buat nona pemenang itu," kata Mela sedikit ngga rela.
Kenapa harus kalah dari Kiara, sih, omelnya dalam hati.
Padahal saat berdansa tadi dengan Emra, dia sudah melakukan dengan sebaik baiknya.
Kenapa laki laki itu ngga bisa melihat kelebihannya, batinnya lagi masih tetap kesal.
"Kamu ngga rela, ya?" pancing Shiza seolah dapat merasakan perasaan ngga terima Mela.
"Sedikit," akunya jujur.
Shiza tersenyum kecut
"Mereka sudah hampir tiga puluh menit," ucapnya mengalihkan topik.
Dalam hati berpikir, kalo misalnya dia yang berdansa dengan Hazka, apakah Emra juga akan melakukan hal seperti itu?
Rasanya enggak.
Kepalanya reflek menggeleng.
"Aku curiga kalo Kiara sebenarnya sudah mengenal Emra. Ngga mungkin kalo ngga kenal bisa bereaksi seekstrim itu si Emra," komen Mela masih ngga bisa terima.
"Bukannya kamu juga sudah mengenal Emra?" bela Shiza.
"Kamu ditolak dia, kan?" sindir Shiza lagi mengingatkan. Dia kurang suka dengan sifat Mela yang suka berprasangka buruk.
"Aku yang menolaknya karena dia ngajak aku kencan semalam aja," bantah Mela agak kesal.
"Oke oke. By the way, ngga peduli siapa yang menolak dan di tolak saat itu. Tapi sekarang sudah jelas dia menolak kamu," sarkas Shiza mengingatkan.
"Hemm....," dengus Mela kesal. Ngga nyangka Shiza ngga berpihak padanya.
"Harusnya aku tadi mengatakan mau saja tidur dengannya malam ini," sesalnya. Kalo tau bakal sesakit ini, lebih baik dia mencoba cara ekstrim itu.
Siapa tau Emra puas dengan layanannya dan ngga ingin melepasnya.
Penyesalan selalu datang terlambat.
Shiza hanya diam saja. Ngga menanggapi lagi. Bisa dia lihat kalo temannya ini sedang terpukul dan merasa sakit hati.
"Jangan jangan Kiara sudah pernah tidur dengan Emra," dengus Mela menuduh.
"Jangan asal ngomong. Kamu ngga punya bukti," sanggah Shiza mulai kesal mendengar tuduhan tuduhan Mela.
"Memang ngga punya. Tapi aneh, kan, melihat Emra langsung memeluk Kia kalo mereka ngga pernah kenal sama sekali atau tidur bareng," kata Mela ngotot dan agak emosi.
Shiza menghela nafas kasar.
"Nanti kita bisa tanya sejelas jelasnya dengan Kia," ucap Shiza pelan, mencoba mengalah, memutus perdebatan ngga penting ini.