
"Hai," sapa Alexander saat sudah berada di belakang Rihana.
Rihana sedang mengobrol dengan Puspa menoleh, agak kaget. Ngga nyangka Alexander menghampirinya.
Rihana memgira Alexander ngga menyadari kehadirannya. Tapi ternyata dia tau. Wajah Rihana merona.
Winta dan Puspa saling menatap penuh arti. Sudah jelas di mata mereka kalo Alexander yang naksir berat dengan Rihana.
"Nanti ada lembur?" Alexander berdiri tenang dengan senyum tersungging di bibirnya. Penampilannya membuat silau para pengunjung resto, terutama para gadis muda. Ngga jauh di dekatnya juga ada Herdin yang tampak menunggunya juga ngga kalah berkharismanya.
"Ngga ada."
"Oke, deal, ya," senyum nakal Alexander tersungging membuat rona di wajah Rihana tampak lebih memerah.
Rihana hanya mengangguk, terlihat malu malu membuat Alexander gemas.
"Aku duluan, ya. Mau ninjau lokasi proyek," senyum Alexander sambil mengusap lembut bahu Rihana.
Dia pun menganggukkan kepakanya pada Winta dan Puspa sebelum pergi bersama Herdin.
"Ciieeee.... yang janjian," ledek Winta dengan tawa berderai sambil menatap Rihana yang masih melihat punggung Alexander yang menjauh.
"Mau kemana, nih?" Puspa juga ikut menggodanya. Tawanya pun juga berderai
"Alexander Monoarfa beneran jatuh cinta sama kamu, Rihana." Winta masih menggoda Rihana di sela tawanya yang masih berderai. Bukan Rihana yang agresif, tapi malah Alexandernya.
Manisnya, batinnya haru.
Rihana hanya tersenyum dengan hati yang terasa mengembang.
Usapan Alexander pada bahunya masih terasa hangat hingga sekarang.
Perasaan cintanya pada Alexander belum berubah, bahkan sejak dulu hingga sekarang masih sama.
"Alexander lembut dan perhatian sekali sama kamu," ucap Puspa setelah tawanya reda.
"Dia itu terkenal dingin dan datar. Bahkan tadi temannya juga tersenyun," tambah Winta bersemangat.
"Waktu SMA mereka gimana, ya? Pasti banyak yang suka, kan. Tampan banget, juga gayanya pasti keren," sambung Winta ngga bosan bosannya memuji dua mahluk tampan itu.
"Juga kaya raya," tambah Puspa mengingatkan kemudian tertawa lagi.
Rihana tersenyum tipis. Mereka berdua jadi idola waktu SMA. Tapi yang disuka Rihana sejak dulu hanya Alexander.
"Herdin jomblo, ya?" tanya Winta kepo
"Ngga tau," geleng Rihana saat menjawab.
"Kenapa kalo jomblo? Lo mau jadiin Herdin pacar kedua?" ejek Puspa.
"Nggaklah. Prasangka aja. Maksudnya kalo jomblo, biar sama kamu, Puspa. Kan, kamu juga jomblo," balas Winta meledek ngga terima.
Kali ini Rihana turut tertawa bersama Puspa.
"Sudahlah, ayo, kita balik ke kantor," ajak Puspa sambil bangkit berdiri.
"Iya," sahut Winta juga ikut berdiri bersama Rihana. Bertiga mereka beriringan berjalan keluar meninggalkan restoran.
Ngga jauh dari situ. Ada tiga oma yang menatap interaksi Alexansder ngga berkedip.
"Itu Alexander, kan?"
"Iya."
"Dia akrab sekali dengan gadis yang menolongmu."
"Dia seolah pamit sebelum pergi."
Oma yang tadi di tolong Rihana hanya menggelengkan kepalanya. Beliau masih kaget melihat keramahan Alexander pada gadis itu, yang entah kenapa ngga membuatnya marah.
Gadis itu sedikit mengganggu pikirannya. Kemiripan wajahnya dengan Dewina, kakak Dewan, membuatnya ngga abis pikir. Kenapa bisa?
Padahal dia sudah berjanji pada Oma Alexander akan menjodohkan cucu cucu mereka.
Tapi kalo Alexander menyukai gadis lain yang mirip Dewina, gimana?
Beliau pun masih terus menatap kepergian gadis itu tanpa mempedulikan celotehan kedua teman tuanya.
*
*
*
Alexander
Nanti malam, jam tujuh di Restoran tadi, Zira sayang.
Rihana masih terus membaca pesan yang sudah sejak tadi dikirimkan Alexander.
Gimana ini? Siapa yang akan dikenalkannya dengan Alexander?
Jantungnya pun sedari tadi berdebaran ngga menentu. Antara senang, takut dan gugup.
Rupanya Puspa yang sejak tadi memperhatikannya di depan kubikelnya menyadari kegelisahannya. Dia pun masuk ke dalam kubikel Rihana.
"Ada apa?" tanya Puspa membuat Rihana menoleh, agak kaget.
"Alexander ingin bertemu dengan keluargaku," kata Rihana pelan.
"Malah bagus, kan. Undang dia ke rumah Oma," kata Puspa bersemangat.
"Ngga apa?"
"Ya, ngga apalah. Kamu, kan, cucu Oma juga," kata Puspa tambah bersemangat.
Rihana terlihat ragu.
"Sudah, kasih tau alamat rumahnya. Atau kamu belum hapal, ya?" tebak Puspa.
"Alexander sudah reservasi restoran tempat kita makan tadi. Katanya dia mau bawa orang tuanya," jelas Rihana.
Puspa menatap Rihana dalam.
"Kamu belum cerita kalo kamu cucu opa Airlangga Wisesa?" tanya Puspa memastikan isi pikirannya.
"Iya. Belum sempat."
"Kamu harus cerita, Ri. Apa kita ngabarin Oma dulu, ya, biar Oma siap siap," tukas Puspa dengan serangkaian rencananya.
"Ngga apa dadakan?"
"Ngga apa. Santai saja. Oke, aku yang akan ngurus Oma dan persiapan acara makan malam nanti. Kamu yang hubungi Alexander," titah Puspa sambil berjalan keluar dari kubikel Rihana.
Rihana sempat bengong melihat betapa antusiasnya Puspa.
Ngga lama kemudian ada pesan dari Puspa yang berisi alamat rumah Oma mereka.
Rihana termangu sesaat. Tapi kemudian dia segera menelpon Alexander. Ngga tersambung. Di coba lagi, masih ngga tersambung juga.
Rihana menepuk keningnya. Dia baru ingat kalo Alexander sedang meninjau lokasi proyek. Mungkin susah sinyal, atau ponselnya di off kan.
Rihana akhirnya menuruti saran Puspa. Dia pun menuliskan alamat rumah Oma sesuai dengan pesan yang dikirimkan Puspa.