NOT Second Lead

NOT Second Lead
Ngga Tenang



"Ehem."


Daiva dan Zerina menoleh ketika mendengar suara deheman yang sudah mereka kenal. Xavi.


"Aku membawa martabak," katanya sambil meletakkan dua dus martabak di atas meja.


"Kelihatannya kamu sudah makan," ucap Xavi sambil melirik mangkok yang sudah hampir tandas isinya


"Iya. Daiva membawakan aku sop iga," jelas Zerina.


"Oh syukurlah. Kalian terlihat akrab," ujar Xavi sambil melirik Daiva yang hanya diam sambil melihat ponselnya. Ngga meliriknya juga.


"iya. Kami satu angkatan," senyum Zerina yang dibalas Daiva.


"Oooh."


Maksudnya apa ya? Bukannya dia keponakan Om Dewan? batin Xavi heran.


"Dulu kami sama sama mulai menjadi pegawai magang. Kemudian karir kami sama meningkatnya. Aku jadi menejer desain teknik, Daiva jadi menejer keuangan," jelas Zerina menimbulkan ras kagum di hati Xavi.


Kenapa dia mau merintis dari bawah? Padahal dia bisa langsung jadi menejer saat masuk. Bahkan direktur.


Zerina berharap umpannya kena. Karena dia perhatikan Xavi lebih baik dari pada Aiden. Cocok untuk Daiva.


Daiva hanya tersenyum sekilas karena paham maksud Zerina. Tapi menurutnya, lebih baik Xavi menikahi Zerina demi anak adik kembarannya.


Daiva ngga mau berurusan dengan keluarga Xavi yang pasti membenci keluarganya gara gara Aurora. Miris sekali, padahal setaunya dulu Om Dewan bersahabat dengan Papa Aiden dan Xavi. Juga Papa Alexander. Persahabatan mereka rusak karena perbuatan kejam sepupunya.


"Dimakan martabaknya," ucap Xavi sambil membuka kotak martabak dan menyodorkannya pada Daiva.


Daiva agak terkejut karena mengira Zerina yang akan ditawari duluan.


"Kamu bukan perempuan yang suka diet di malam hari, kan?" sindir Xavi ketika Daiba masih belum merespon martabaknya.


"Aku ngga pernah diet." Daiva mengambil selembar tisu dan mengambil sepotong martabak manis dengan isian coklat keju.


"Syukurlah."


Zerima tersenyum melihat interaksi keduanya. Kemudian dia pun mengambil martabak yang diberikan Xavi.


Xavi juga memakan martabak yang dibawanya. Matanya melirik Daiva sesekali sambil menilai.


Dia memang cantik sekali. Jika saja bukan sepupu Auora...., batin Xavi agak menyesalkan.


"Kapan aku bisa pulang? Aku sudah ngga betah," ucap Zerina setelah martabaknya sidah ditelan semua.


"Lusa. Aku ingin kamu dan ponakanku baik baik saja," sahut Xavi.


"Setelah itu apa aku bisa bekerja lagi?"


"Kamu bisa bekerja di perusahaanku. Ngga akan ada pressure. Yang penting kamu ngga bosan di apartemen."


"Jadi aku tetap resign?" walau memang sudah berniat mengundurlan diri, tetap saja Zerina merasa sedih meninggalkan teman temannya di sana.


"Kalo Xavi mau menerimamudi perusahaannya, itu lebih baik, Zerin. Kamu ngga perlu terlalu bekerja keras," hibur Daiva. Jujur saja dia pasti akan merasa sangat kehilangan temannya itu. Tapi ini juga untuk kebaikan Zerina dan janinnya.


Xavi menatap lekat Daiva.


Gadis ini terlalu perhatian pada temannya, pujinya dalam hati.


"Ya, Dai." jawab Zerina pelan. Seenggaknya dia tetap bisa menghasilkan uang untuk dirimya dan anaknya. Dia ngga mau dianggap benalu dianggap mengambil kesempatan hanya karena mengandung anak Aiden.


Daiva tersenyum. Dalam hati bersyukur Xavi memperhatikan Zerina. Berat pastinya bagi Zerina menjadi orang tua tinggal. Mungkin itu juga yang dirasakan Mama Rihana.


*


*


*


"Kasian juga Alex dan Rihana," komen Herdin. Malam ini dia melakukan kencan keduanya dengan Puspa


"Ya. Gosip tanpa henti," sambung Puspa setelah menyuap steak ayamnya.


Mungkin pertamanya, Aurira merasa dijebak. Tapi selanjutnya dia malah menikmati. Herdin menghembuskan nafas kesal.


Kenapa isi otaknya selalu memikirkan gadis itu. Padahal ada Puspa di depannya, umpat Herdin dalam hati.


"Tapi kamu percaya kalo anak yang dikandung Aurora, anaknya Alexander?" tanya Puspa sambil menatap lekat wajah tampan Herdin.


Herdian menaikkan wajahnya, balas menatap Alexander. Kemudian dia menggeleng sambil tersenyum.


"Tentu saja tidak." Herdin selalu percaya kalo Alexander ngga akan mengkhianatinya. Lagi pula cinta sahabatnya itu sangat besar pada Rihana


"Aku juga begitu."


Herdin kembali tersenyum dan meneruskan makannya. Topik ini ngga menyenangkan buatnya.


Melihat Herdin yang slow respon membuat Puspa ngga bertanya lagi. Dia pun melanjutkan makannya seperti Herdin.


Melihat postingan IG Aurora, Herdin merasa sangat marah. Segitu besarnya Aurora mencintai Alexander tanpa mempedulikan image positif yang selama ini dibangunnya. Dia rela menjadi bahan gosip dan semakin direndahkan.


Tanpa sadar Herdin menghela nafas panjang.


Kenapa juga dia masih memikirkannya! umpatnya lagi dalam hatii


Gara gara melihat video penjebakan Aiden terhadap Aurora membuat hatinya panas lagi. Timbul rasa ibanya. Padahal dia sudah memutuskan untuk mendekati Puspa.


Tanpa dia sadari Puspa memperhatikan raut kesal di wajah Herdin dengan perasaan heran.


Kenapa Herdin berubah jadi datar? batin Puspa penuh tanya. Karena pada kencan pertama mereka, Herdin sangat hangat. Bahkan mengirimkan sinyal sinyal tertarik padanya. Tapi sekarang sikap Herdin berbeda jauh sekali.


Apa dia salah menduga?


*


*


*


"Oma, apa aku mengganggu?" tanya Rihana pelan saat menghampiri Oma Mien yang sedang berbaring di kamarnya. Sementara Opa masih mengobrol dengan om omnya.


"Ngga sayang. Ayo, sini," ucap Oma Mien lembut sambil duduk di atas tempat tidurnya. Rihana pun duduk di sampingnya.


"Ada apa?" tanya Oma Mien lembut sambil mengusap rambut cucunya.


"Oma, apa aku egois karena ngga mau menunggu hasil tes dna Aurora?"


Oma tersenyum lembut padanya. Mendengar ucapannya, Oma Mien jadi teringat putrinya Dilara. Dilara juga selalu merasa ngga enak hati jika merasa orang lain menderita karena andilnya.


"Tentu saja tidak."


Rihana menyandarkan kepalanya di bahu Omanya yang langsung merangkul bahunya. Mengusapnya lembut.


"Aurora sekarang sedang berusaha mempertahankan miliknya dengan cara yang salah. Oma yakin, nant dia akan sadar. Dia hanya butuh waktu dan perhatian," ucap Oma Mien lembut


"Aku merasa ngga enak hati dengan Opa Iskan dan Oma Mora. Tapi aku juga ngga mau menyakiti Alexander, Oma. Jika aku setuju menunggu tes dna, Alex pasti kecewa karena mengira aku ngga percaya dengannya," ungkap Rihana jujur.


Apalagi melihat wajah Oma Mora yang sangat sedih dan Opa Iskan yang terlihat frustasi. Dia merasa amat bersalah sudah menyakiti kedua kakek neneknya.


Oma Mien tersenyum lembut


"Ngga usah kamu pikirkan. Mereka tadi hanya kaget. Akhir akhir ini segala yang terjadi membuat jantung tua kami harus bekerja keras," tawanya pelan.


Rihana melebarkan senyumnya.


Dia akui kebenaran ucapan Omanya. Untung Rihana mgga memiliki akun sosial media. Mungkin kalo ada, habislah dia akan dihujat oleh penggemar fanatik Aurora.


"Yang harus kamu pikirkan tentang pernikahan kalian saja. Lupakan yang lainnya. Pasti akan ada yang ngga suka melihat kita bahagia. Itu lumrah, sayang," hibur oma lagi yang diangguki Rihana.


"Ya, Oma."


Oma pun mendekap erat cucunya. Hatinya berdenyut. Dia merasa saat ini sudah mendekap Dilara-Mama Rihana yang sudah lama tiada.


Putriku, mama akan selalu menjaga anak kamu.