
Kirania merasa heran melihat kerumunan orang orang di tengah jalan yang menyebabkan jalan macet total. Kemudian dia melihat ambulance datang.
Hatinya tergerak untuk mencari tau apa yang terjadi.
Dia pun keluar dari dalam mobilnya.
"Ada apa, pak?" tanyanya pada seorang bapak bapak yang sedang berjalan ke arahnya setelah melihat apa yang terjadi.
"Ada yang kecelakaan tunggal. Laki laki muda yang hampir menabrak ibu ibu yang nyebrang sembarangan, sampai akhirnya jatuh dan pingsan," jelas bapak bapak itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Kasian laki laki itu. Sepertinya kakinya patah," sambungnya lagi.
"Ooo.... Apa dia ngga pake helm?" tanya Kirani ikut bersimpati kemudian sedikit melangkahkan kakinya kearah brankar yang sudah menggotong laki laki itu akan dibawa ke dalam ambulance.
"Pake mba, tapi benturannya sangat keras. Padahal helmya mahal banget kayaknya mba, sayang sampai retak. Apalagi motornya juga sayang banget sampe rusak gitu di bagian yang kena aspal," cerita bapak itu lagi sambil menjejeri langkah Kirania.
Pasti lagi ngebut terus kaget. Dasar bodoh, jalan rame gini buat kebut kebutan, ejeknya dalam hati akan nasib malang laki laki itu.
Matanya agak membesar. Kirania sepertinya kenal dengan laki laki yang tampak pingsan itu.
Kirania dengan cepat mendekat untuk memastikan.
"HAZKA!" serunya kaget ngga percaya.
Tapi laki laki tengil itu ngga mendengar suara teriakannnya yang cukup memggelegar. Bahkan tenaga medis pun sempat menghentikan gerakan mereka membawa brankar tepat di depan Kirania.
"Anda mengenalnya, nona?" tanya salah satu tenaga medis laki laki.
"Dia kenalanku," ucapnya masih ngga percaya. Matanya masih melotot menatap laki laki tengil yang sekarang nampak lemah ngga berdaya itu.
"Baiklah. Nona bisa mengikuti ambulance ini. Kami akan memberikannya pelayanan yang terbaik," jelas tenaga medis tadi kemudian memberi kode pada teman temannya untuk melanjutkan lagi membawa brankar laki laki muda itu masuk ke dalam ambulance.
"Oke, terima kasih.' ucapnya yang diangguki tenaga medis itu sebelum ikut nasuk ke dalam ambulance.
"Mba, ini motornya mas mas itu," seru seorang ibu ibu menghentikan langkah terburu buru Kirania.
Oiya, Kirania baru tersadar. Dan dia menatap kasian pada motor balap keluaran terbaru itu yang sudah retak retak parah di bagian sampingnya.
Beberapa orang bapak bapak sedang membantu mendirikannya.
"Pak, Bu, saya nitip motor ini dulu, ya. Nanti akan ada yang ngambil," katanya sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.
Bapak bapak dan ibu ibu itu nampak senang dengan pemberian Kirania.
"Makasih, mba."
"Siap mba," jawab mereka berbarengan silih berganti.
Kirania pun menelpon pengawalnya untuk mengurus motor itu
Dia harus cepat menyusul ambulance tadi ke rumah sakit terdekat katanya. Untungnya Kirania sempat membaca nama rumah sakit yang tertera di badan ambulance.
Setelah pengawalnya mengatakan akan otewe, Kirania segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, merambah jalan yang untungnya ngga terlalu macet oleh lalu lalang kendaraan.
Mobil Kirania sampai bersamaan dengan mobil ambulance di parkiran rumah sakit swasta yang cukup besar juga dan Kirania berharap cukup komplit peralatan medisnya.
Laki laki songong bin tengil itu masih belum juga sadar. Kirania pun segera menuju bagian administrasi untuk mengurus biaya administrasi dan kamar rawat inap terbaik untuknya.
Sambil menunggu Hazka dioperasi, Kirania menelpon Ansel yang sudah tentu mengenal keluarga Hazka. Dia ingin menyudahi kegiatan relawannya mengurus laki laki tengil ini.
"Kamu serius?" suara Ansel terdengar kaget. Ngga percaya. Saat ini Ansel sedang memimpin meeting di cabang perusahaan grup mereka yang berada di Makasar.
Dia harus cepat menyelesaikan proyek poyeknya jika ingin cepat menikahi Nayara.
"Iyalah. Ngapain juga bohong. Aku sekarang lagi nunggu dia operasi pemasangan pen di kakinya," jelas Kirania kesal.
Ngga percaya amat, sih. Emang kapan dia pernah bohong. Kalo kakaknya itu sudah ngga terhitung suka bohongnya. Kalo dia orangnya terlalu jujur. Senua juga tau, batinnya lagi mendumel.
Hening.
"Aduh, aku ngga bisa pulang, nih. Jadwalku padat banget," keluh Ansel sambil melirik ruang meeting yang dia tinggalkan demi menjawab telpon adiknya.
"Tolong hubungi orang tuanyalah. Aku, kan, ngga kenal," perintah Kirania cepat. Dia ingin buru buru pergi dari sini.
Hening lagi.
"Adikku sayang. Sepertnya kamu harus menolongnya dulu. Papi maminya seminggu lagi kayaknya baru bisa balik.'
"Loh, kok, bisa gitu. Masa ngga khawatir sama anaknya," decak Kirania ngga percaya. Kalo dia atau Ansel yang mengalami hal itu, pasti papi dan maminya akan segera menemui anak anaknya.
"Tadi aku telanjur bilang ada adek aku yang jagain dia yang lagi operasi pasang pen. Orang tuanya langsung tenang, katanya titip Hazka sama adik kamu dulu, ya."
Haaahhh???!!
Ngga salah nih?
Emang anaknya itu boneka yang ngga ada jiwanya...??
Nggak bisa! Ansel ngga bisa seenaknya saja memanfaatkannya. Juga orang tuanya,
batin Kirania emosi.
"Aku juga sibuk wooiii," sergah Kirania sewot, ngga terima dengan azaz manfaat saudaranya itu, juga orang tua Hazka.....
Kirania penasaran ingin tau seperti apa orang tua Hazka, yang dengan mudahnya menitipkan anaknya pada orang ngga dikenal.
"Sabar, Kiran. Paling kalo patah tulang gitu, dua tiga hari udah sembuh. Tolong, ya. Aku juga ngga enak udah iya in aja permintaan papi mami Hazka," bujuk Ansel panik dengan penolakan frontal Kirania.
"Emang dia ngga punya pacar?" kesal Kirania makin menjadi. Enak aja maen setuju setuju tanpa minta ijin darinya, umpatnya dalam hati.
"Mami papinya ngga tau kalo Hazka udah punya pacar. Katanya lebih yakin ke adik aku aja nitip Hazkanya."
Ubun ubun Kirania sekarang rasanya udah mau keluar asap.
Nyesal tadi dia berempati sangat tinggi waktu melihat laki laki tengil itu terkapar.
"Tolong, ya, adikku sayang. Aku janji, apa pun yang kamu mau akan aku belikan. Kasian Hazka. Keluarganya di luar negeri semua. Dia anak tunggal, ngga punya saudara kayak kita. Lagian Dia juga pernah nolong kita, kan?" pinta Ansel memohon dengan kalimat super panjangnya.
Agak terketuk juga hatinya mendengar kakaknya memohon seperti ini. Ngga seperti kakaknya yang biasa. Dari suaranya saja, Kirania yakin kalo Ansel sedang dalam tekanan yang besar.
Memang kakak dan sepupu sepupunya lagi cepat cepatan siapa yang akan menikah setelah kak Nidya nanti.
Opanya meminta mereka menyelesaikan proyek proyek yang belum deal. Bahkan opanya secara jahat memanfaatkan momen ini, siapa yang berhasil mendapatkan nilai jumlah tender terbanyak, dialah yang berhak menikah lebih dahulu.
Karena itu kakak dan para sepupunya sedang berusaha mati matian agar bisa memperoleh target tertinggi agar lebih dulu menikah.
"Tapi dia itu sangat bertingkah," walau sudah melunak tapi tetap saja Kirania merasa ngga sanggup merawat Hazka. Secara anaknya begitu, siapa yang tahan.
"Nanti kalo dia sudah bisa diajak bicara, aku akan telpon dia agar ngga nyusahin kamu. Lagian kalo dia aneh aneh kamu ancam aja mau pergi, biar dia ngurus dirinya sendiri."
"Oh iya ya," senyum Kirania mulai terbit mendengar ide brilian kakaknya.
"Oke, Aku tutup ya. Ngga enak sama klien, sudah terlalu lama ditinggal meetingnya."
"Oke."
Selanjutnya selama dua hari ini, Kirania merasa kulitnya akan semakin cepat keriput dan tekanan darahnya terus saja naik ngga terkendali.
Mau ketawa tapi sudah telanjur kesal setengah mati. Sudah setua ini masih saja takut sama jarum infus dan jarum suntik.
Untunglah besok akan segera berakhir.
Hazka memiliki daya tahan tubuh yang sangat bagus. Dia cepat sekali pulihnya, walaupun kakinya yang untungnya hanya retak-ngga patah, akan butuh kruk sementara untuk berjalan.
Dan ini adalah jarum infus terakhir. Mulai besok laki laki ini hanya tinggal memulihkan kakinya saja.
Kepalanya pun sudah discan, dan syukurlah masih normal. Begiru juga bagian tubuhnya yang lain. Dia hanya mengalami shock dam trauma.
Kirania ngga perlu lagi melototkan matanya yang menyebabkan urat urat di sekitar matanya sudah sangat tegang beberapa hari ini, karena mulai besok sudah ngga ada infusan lagi.
"Makasih, ya, Kiran. Sorry banget aku ngerepotin kamu," kata Hazka setelah dia mendapat petuah dari Ansel yang barusan menelponnya. Memintanya jangan menyusahkan adiknya.
Orang tuanya juga sudah menelponnya dan berpesan yang sama dengan Ansel. Jangan menyusahkan adiknya Ansel.
"Gitu tau," jawab Kirania cuek, dia masih menyandar sambil menonton video video yang bisa melemaskan otot otot tegangnya.
Haka tersenyum. Ngga disangkanya adik Ansel yang jutek ini mau menemaninya di rumah sakit.
Walau dia jadi malu berat karena rahasia besarnya terbongkar, takut jarum.
Aaaah..... Hazka menghembuskan nafas kesalnya.
Kenapa juga ibu ibu itu nyebrang sembarangan, makinya dalam hati dengan jutaan rasa gedeg.
Sekarang dia ngga cukup punya muka melihat wajah Kirania.
Dasar laki laki bodoh. Dengan jarum kecil gitu aja takut. Gimana kalo nanti Kiran membuka rahasianya ke mana mana, decaknya kesal dalam hati.