
"Hai," sapa Alexander dengan senyum menawannya. Tubuh jangkungnya cukup melindungi Rihana dari paparan sinar matahari.
Keduanya saling bertatapan dengan penuh makna.
Bibir Rihana menerbitkan senyumnya. Ada rasa lega karena Alexander muncul. Perasaannya susah untuk berpaling.
"Ditunggu di ruangan malah ada di sini," lembut suara Alexander menegur.
"Susah sinyal," aku Rihana sedikit menyangkal kelupaannya. Harusnya dia mengabari Alexander saat masih belum berangkat ke site.
"Kan, bisa ngasih tau sejak kamu dapat pemberitahuan," tuntut Alexander agak ngga terima. Seakan dia ngga penting di hati gadis itu.
"Aku sibuk membereskan barang barang di meja lama," jelas Rihana tetap ngga mau disalahkan
Alexander tertawa kecil.
Si ratu debat, memang sudah disalahkan, batinnya mengalah.
"Wajahmu pucat," ucap Alexander berubah cemas.
"Aku ngga apa apa," bohong Rihana, padahal kepalanya sudah terasa pusing.
Alexander menghela nafas.
"Pindah ke perusahaanku aja, ya," bujuk Alexander lembut. Ngga tega dia melihat Rihana harus berpanas panas, sedangkan kondisinya ngga pernah fit untuk itu.
"Nggak mau," tolak Rihana dengan suara pelan.
Harga dirinya mau dibawa kemana? Ke laut?
Selagi masih bisa dia akan berusaha sekuatnya.
"Kamu ngga apa apa kerja di bawah terik matahari begini?" ngeyel Alexander sabar sambil merapikan rambut Rihana membuat para pekerja tersentak. Pak Zuher pun semakin memfokuskan tatapannya.
Apa Pak Dewan tau? benaknya diliputi banyak tanda tanya.
Sepenglihatannya, Alexander yang sangat perhatian pada pegawai barunya ini. Bahkan mencarinya sampai ke sini.
Apa gadis itu menghubunginya?
Tanpa sadar Pak Zuher mengggelengkan kepala. Apalagi tadi dia melihat reaksi keterkejutan anak baru itu saat Rihana datang.
Kembali beliau menatap interaksi keduanya. Sangat manis. Alexander begitu melindunginya.
Nggak mungkin ini penyebab gadis itu dipindahkan.
Kepalanya kembali digelengkan akan pemikiran negatif pada Dewan akan pemindahan bagian kerja pegawai barunya. Membantah kata hatinya. Karena setaunya Bos besarnya sangat profesional. Hanya kali ini baru terlihat ketimpangannya.
Tapi kenyataan yang tersuguh di depannya seperti memastikan kalo bos besarnya sengaja melakukan itu.
Pak Zuher membuang nafasnya panjang panjang.
Ternyata Alexander ke sini demi gadis itu, batinnya tanpa sadar tersenyum.
Cerita cerita fiksi tentang laki laki tampan yang kaya raya menyukai gadis dari kalangan biasa ternyata memang ada di dunia nyata.
Alexander Monoarfa yang jarang berekspresi saking datarnya, musnah sudah
Kini senyum yang biasa pelit, terumbar dengan ringannya.
Begitu juga Dino, Yadi dan Agus saling pandang. Mereka sangat tau laki laki yang sedang bersama Rihana. Sangat di luar dugaan.
Apalagi mengingat reaksi yang diperlihatkan Rihana saat mereka membicarakan tentang Alexander. Ngga seperti teman teman perempuan mereka yang lainnya. Sangar reaktif dan agresif. Menunjukkan ketertarikan dengan mutlak.
Rihana bahkan ngga terlihat sama sekali kalo dia tertarik dengan Alexander. Mereka bahkan ngga terpikir kalo Rihanalah pemenangnya. Putri bos mereka yang seperti bidadari pun kalah telak.
Rihana juga cantik, tapi kesederhanaannya membuatnya ngga nampak.
Kini di depan mata mereka sudah sangat jelas terlihat, kalo antara tuan muda Merapi Steels itu memiliki hubungan spesial dengan Rihana, teman baru mereka.
Mira dan Anggi yang berada ngga jauh dari situ pun sama terpakunya.
Baru kali ini mereka melihat Alexander Monoarfa yang ramah dan murah senyum.
Sangat tampan mempesona. Mereka sampai terhipnotis dan menghentikan kerja mereka.
Dada Rihana berdebar halus mendapat sentuhan lembut Alexander di rambutnya.
"Alex, kenapa kamu adav di sini? Kamu ngga ada kerja?". Rihana berusaha mengusir laki laki ini agar cepat pergi. Lagian bukannya dia minta break dulu. Gimana bisa break kalo Alexander malah menemuinya di sini. Bahkan Alexander terang terangan menunjukkan perhatiannya di tengah tengah tatapan pekerja dan teman teman satu divisinya.
"Mau bantu kamu," ucapnya sambil melirik tablet di tangan Rihana.
Tangannya meraih help gadis itu dan memakaikannya dengan hati hati di kepala Rihana. Setidaknya ngga akan kepanasan sampai di dekat mobilnya.
Kembali Rihana terkejut, dan tablet terlepas begitu dalam pegangan tanganya. Beralih ke tangan Alexander.
Kemudian Alexander memberi kode pada dua pengawal yang mengikutinya agar mendekat.
"Kerjakan sesuai isi tablet ini," perintah Alexander membuat Rihana melongo, lagi lagi kaget.
"Alex, kamu apa apaan?" tanya Rihana tambah pusing melihat yang Alexander lakukan.
"Tenanglah. Kamu juga sedang ngga baik baik saja, kan?"
Rihana terdiam.
"Kita berobat dulu ke rumah sakit terdekat. Ayo," gandeng Alexander sambil menariknya pergi.
Alexander melihat ada yang basah di masker Rihana barusan. Hatinya semakin cemas.
Saat melewati Pak Zuher, langkah keduanya terhenti
"Pak, saya harus bawa dia berobat," kata Alexander ngga mau dibantah.
"Ya tuan muda. Rihana, kamu boleh pulang," sahut Pak Zuher tanpa berniat membantah. Beliau pun mengembangakan senyum tipis sambil menatap Rihana yang terlihat sungkan
"Ya, pak," sahut Rihana pelan dan kemudian mengjkuti langkah kaki Alexander yang terlihat ngga sabar.
Bahkan dia ngga sempat pamit dengan para seniornya.
Begitu sampai di mobil Alexander berusaha menarik masker Rihana, tapi gadis itu menahannya.
"Aku bisa sendiri," katanya sambil melepas dan melipat. Tubuhnya berbalik menghindari pandangan tajam Alexander.
"Kamu mimisan," kata Alexander sambil membalikkan tubuhnya. Ada noda darah di antara hidung dan bibirnya.
"Mungkin karena kepanasan," balas Rihana tanpa mau melihat wajah Alexander. Dia membuka saku tasnya dan menyimpan masker itu dalam kumpulan masker penuh darah dan juga sapu tangannya yang tersimpan pada plastik.
Alexander membesarkan pupil matanya saat melihat banyaknya noda merah darah di sapu tangan itu.
Dalam hati bersyukur karena ngga ada lagi darah yang mengalir di hidung Rihana.
"Kita ke rumah sakit," putus Alexander.
Rihana menggelengkan kepalanya.
"Istirahat bentar sembuh," tolak Rihana.
'Mau aku gendong? Atau masuk sendiri dalam mobil?" ancam Alexander sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
Rihana agak terhenyak melihat keseriusan Alexander. Dia pun terpaksa menurut.
Begitu Rihana sudah duduk di dalam mobilnya, Alexander sedikit memundurkan joknya agar Rihana bisa santai.
"Jangan buat aku cemas, Zira," ucap Alexander lembut sebelum kembali ke kursi kemudinya.
Rihana hanya bisa mengangguk sambil menahan nafas karena kedekatan mereka.
Alexander pun melajukan mobilnya ke arah rumah sakit besar.
Keduanya pun berada di IGD.
Rihana diminta berbaring sebelum dokter datang.
"Ngga pa pa, kan, dok? Kalo perlu dicek semua," tukas Alexander begitu dokter perempuan yang masih muda itu sedang memeriksa keadaan Rihana.
"Aku ngga apa apa. Hanya kepanasan saja," tolak.Rihana kesal campur malu atas ketaksabaran Alexander.
Dokter muda itu tersenyum. Seolah paham dengan siapa dia berhadapan. Sikapnya sangat sopan.
"Ini pertama kalinya?" tanya dokter itu sambil menatap Rihana serius.
"Iya."
"Makanya jangan sok kuat, Zira. Sesekali dibantah saja. Itu, kan, bukan divisi saat kamu diterima," omel Alexander membuat bibir Rihana mengerucut kesal.
Dia terlalu ikut campur.
Dokter muda itu menatap keduanya tersenyum.
Ini pacar Alexander? Cantik.
"Rihana? Kamu kenapa?" tanya Misel sambil melangkah cepat masuk mendekati Rihana yang sedang berdebat dengan seorang laki laki yang tadi sempat di dengarnya.
"Dokter Misel," panggil dokter muda tadi mempersilakan Misel mendekat.
"Tante," sapa Rihana ngga nyangka bertemu tante Puspa. Juga tantenya.
Alexander ikut menoleh.
Misel teringat percapakan adik suami dan putrinya saat melihat Alexander. Dia cukup tau tentang laki laki yang membuat Wingky cemas.
"Dokter, tolong periksa kekasih saya lebih teliti. Kenapa dia sampai mimisan," titah Alexander pada Misel yang awalnya kaget kemudian tersenyum.
Wajah Rihana merona akibat perkataan Alexander.
Kekasihnya? Ngaco.