
BRAK!
"Kalandra! Ini becanda, kan!" seru Nidya sambil membanting keras pintu ruangannya.
"Copot jantung gue," latah Ansel tersentak. Emir terkekeh mendengarnya. Dia pun sama terkejutnya seperti Ansel.
Pasti ada yang membuat sepupunya ini naek darah.
"Nidya! Kalo opa tau kelakuan kamu, bisa diceramahin loh," sergah Emra sambil mengurut dada. Dia yang tadinya dalam posisi berdiri hampir terjatuh karena bantingan pintu yang dilakukan dengan sangat keras itu. Mendadak lagi dan posisinya lagi ngga siap mendapat serangan panik.
"Biarin," kilah Nidya sambil melangkahkan kakinya lebar lebar ke arah meja kerja kakak laki lakinya.
Dia gemas, kenapa kakaknya seperti ngga laku aja.
"Kenapa kalian ini. Terutana kamu," tukas Kalandra lembut sambil menutup laptopnya dengan sangat tenang. Mengabaikan wajah marah adik perempuannya dan keterkejutan ketiga adik sepupu laki lakinya atas kerasnya suara bantingan pintu.
"Kenapa kamu terima perjodohan dari opa?" suara Nidya tetap keras saking kesalnya.
Oooh, topik yang sama ternyata, batin Emir nyengir.
"Sama, Nid. Aku ke sini juga mau nanya hal itu," sambung Emra yang merasa nyanbung topiknya dengan kedatangannya dan kedua sepupunya ke ruangan Kalandra.
Mereka bertiga pun belum mendapatkan jawaban.
Kalandra hanya mengulum bibirnya.
"Aku udah bilang, sesekali ngga apa kamu ikut mereka maen gila. Jangan kerja melulu. Opa gerah, kan, ngelihat kamu ngga nikah nikah," amuk Nidya masih dengan suara tingginya.
"Maen gila?" tawa Emir pecah. Begitu juga Emra dan Ansel.
"Kan, aku udah bilang. Aku bakal nikah setelah kamu," jawab Kalandra membuat Nidya menjebikkan bibirnya.
"Bohong! Buktinya kamu tetap akan mendahui aku," ketus Nidya sambil bertolak pinggang. Wajahnya masih menggambarkan kemarahannya.
Kalandra tersenyum sambil mendekati adik perempuannya yang masih memerah wajahnya karena marah.
Dia pun mengusap rambut adiknya lembut.
"Belum tentu aku cocok," jawabnya santai.
"Emang siapa yang akan dia temui?" tanya Ansel kepo.
"Putri dari Perusahaan tambang Nikel Pratama. Kata Opa, dulu pernah jadi temannya waktu SD," jelas Nidya.
"Cantik?" tanya Ansel kepo.
"Kata opa, sih, cantik. Pernah jadi model waktu tinggal di Paris."
"O-O-O.... Apa ada fotonya?" tanya Emra tertarik.
Teringat kata kata Ansel kalo opanya pasti akan nyari yang berkualitas buat cucu cucunya.
"Bentar," ucap Nidya menjeda. Kemudian mengetikkan beberapa kata di form pencarian pada ponselnya.
"Cantik banget ternyata," puji Nidya surprise. Ternyata dia baru juga melihatnya.
"Mana, mana?" Emra penasaran dan mendekatkan wajahnya ke layar ponsel Nidya.
Dan matanya agak membesar.
Memang benar kata Nidya.
Cantik banget, batinnya.
Apa dia minta opanya mencarikan saja jodoh buatnya? Dari pada di dan Emir luntang lantung ngga jelas.
"Kalo kamu ngga mau, buatku juga boleh," cetus Emra dengan cengiran lebar di bibirnya.
Emir dan Ansel jadi penasaran dan juga ikut melihatnya.
W-O-W.... Memang cantik, batin Ansel.
Strategi Opanya, nih, batin Emir yakin. Mengira kalo spesifikasi Kalandra bukan kaleng kaleng.
"Malah bisa dilangkahin kamu, Nid, kalo calonnya kayak gini," kekeh Emir menggoda membuat sepupu cantiknya merengut.
Ansel juga tergelak. Dalam hati penasaran melihat reaksi datar Kalandra.
Secantik ini ngga tergugah? Lo normal, kan? batinnya mencela.
"Aku cuma mau bahas kerja sama aja sama dia. Tenanglah, aku akan menunggumu mendapatkan pangeran," bujuk Kalandra serius. Dia harus segera pergi. Jangan sampai terlambat.
Selain memintanya berkenalan, opanya memintanya membicarakan rencana kerja sama antara dua perusahaan.
"Itu taktik opa, biar kalian akrab dan saling mengenal satu sama lain," sungut Nidya makin kesal.
"Aku setuju sama Nidya. Opa kita, kan, licik. Auw," teriak Emra kesal sambil melototi kembarannya.
"Mau disumpah jadi batu sama opa," sentak Emir sebal pada mulut kurang ajar kembarannya.
"Batu permata," kekeh Emra setelah rasa sakitnya hilang. Lagi pula Emir hanya setengah hati memukul kepalanya tadi.
Emir hanya mendengus kesal.
'Aku tinggal, ya. Kasian calon istriku nunggu," pamit Kalandra penuh makna sambil melirik Adriana yang berdiri mematung di depan pintu.
Saatnya pembalasan, batinnya senang.
"Kak Kalandra. Apaan, sih," sentak Nidya ngga terima.
Kalandra hanya tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya.
"Kamu ada perlu apa?" datar Kalandra bertanya sambil melihat jam tangannya. Seakan dia sudah ngga punya waktu lagi.
"Eh... em.... mau minta tanda tangan tuan muda. Tapi nanti juga ngga apa apa," sahut Adriana agak gugup. Perasaannya jadi aneh saat mendengar kalo bosnya akan menemui calon istrinya.
Dia pun langsung berbalik dengan jantung yang berdebar keras dan melangkah pergi.
Kalandra tersenyum miring melihat wajah gadis itu yang agak pucat. Ada rasa senang dalam hatinya karena sekretarisnya terlihat agak terguncang. Dia yakin Adriana mendengar apa yang di ucapkannya tadi.
Dia pun melangkahkan kakinya dengan lebar. Sampai melewati Adriana.
Adriana hanya memandang dengan perasaan ngga tenang. Campur aduk.
Tapi ngga lama kemudian suara suara langkah di belakangnya membuatnya menoleh.
Sebelumnya di dalam ruangan menyisakan keempat orang yang saling adu pendapat.
"Kamu yakin kita akan melakukannya?" tanya Emir ragu. Kalo ketahuan Kalandara, kakak sepupunya itu bisa marah.
"Aku penasaran," sahut Emra bersikeras.
"Tenang, kalo ada apa apa, aku yang tanggung," tanggap Nidya cepat. Dia harus pastikan kalo Kalandra ngga tertarik dengan gadis itu. Dia belum siap dilangkahi. Mana dia masih butuh waktu untuk menata hati.
"Yes. Aku ikut kalo gitu," celutuk Ansel girang sambil berdiiri. Bahkan kini dia berjalan lebih dulu, diikuti Emra dan Emir. Nidya pun mengikuti di belakangnya.
Begitu mereka melewati Adriana, Nidya menarik tangannya.
"Ayo ikut."
'Eh, tapi nona," walau sungkan, tapi Adriana terpaksa mengeluarkan kalimat penolakan.
Dia ini pegawai, ngga bisa pergi seenaknya saja.
"Sudah, ikut aja. Kamu harus tau siapa nanti yang bakal jadi istri bosmu," paksa Nidya sambil menarik tangan Adriana.
Istri Pak Kalandra? Hatinya berdesir ngga rela. Pikirannya tambah kusut dan semakin ngga menentu.
Ini terlalu cepat. Bosnya bahkan ngga ada tanda tanda punya pacar.
"Dia dijodohkan," kata Nidya lagi seakan paham apa yang sedang dipikirkan Adriana.
Jantung Adriana pun berdebar keras. Ada pertentangan dalam pikirannya. Ingin melihat calon istri yang dijodohkan dengan tuan mudanya, tapi juga takut untuk tau dan berharap ini semua ngga nyata.
Masih terbayang di kepalanya bagaimana tuan mudanya membelanjakannya banyak gaun, sepatu dan tas. Juga sikap tak peduli tapi juga manis. Rasanya saat ini Adriana sudah patah hati karena terlalu berharap tinggi.
"Nona, saya ngga bisa meninggalkan perusahaan. Ada yang harus saya kerjakan," tolaknya sambil menghentikan langkahnya. Sungguh saat ini dia harus menata hatinya yabg sudah terkoyak sampai menjadi bagian bagian kecil.
"Ngga usah kerjain dulu. Tugasmu sekarang menemaniku," tegas Nidya ngga mau
dibantah. Matanya menyorot tajam.
"Ba baiklah, nona muda," jawab Adriana gugup. Ngga berani membantah.
Dia pun terpaksa mengikuti langkah Nidya.
Dalam hati tetap merasa penasaran gimana si dingin itu berkencan. Tapi sisi hatinya yang lainnya terasa hampa.
"Kamu juga penasaran, ya, Adriana?" cetus Ansel saat melihatnya di parkiran. Mereka semua akan menumpang mobil Emra.
"Aku yang ajak," jawab Nidya sambil memberikan isyarat dengan matanya agar Adriana segera masuk ke dalam mobil.
"Ready semua?" tanya Emra yang bertindak sebagai supir.
"Go!" seru Ansel dan Nidya ngga sabar. Emir hanya tersenyum. Mereka tinggal mengikuti pedoman gps Kalandra.
Jantung Adriana berdebar ngga menentu. Dia semakin ngga tenang.
"Kamu kenapa? Ngga bakal dipecat Kakakku, kok," kata Nidya yang salah paham saat melihat kegelisahan Adriana.
"Tenang, kalo dipecat, bisa jadi asisitenku," tawa Emra disambut kekehan yang lain.
Adriana berusaha tersenyum walau dirasanya agak kecut.
*
*
*
Kalandra menatap ngga enak pada seorang gadis cantik yang sudah duduk anggun di meja reservasi opanya. Padahal masih lima menit sebelum pertemuan.
Ngga disangka lebih ontime dari pada dirinya.
"Aku terlambat?" ucap Kalandra sambil memundurkan kursinya. Sekedar basa basi.
Gadis itu yang awalnya menunduk, kini mengangkat wajahnya dan tatapan mereka beradu lekat.
Kalandra tersenyum tipis sambil mengulurkan tangannya.
"Kalandra."
Gadis itu menyambut tangan yang terulur itu sambil terus menatap Kalandra.
"Kiara."
Kalandra merasa gadis itu agak erat menggenggam tangannya. Sebelum melepaskannya saat Kalandra terbatuk kecil.
Nampak gadis itu tersipu di tengah senyum menawan Kalandra.
Sementara para pengintip yang berada ngga jauh dari tempat Kalandra berada saling berkomentar.
"Ngga nyangka bisa luluh juga," kekeh Emir. Biasanya Kalandra sangat dingin dan kaku di hadapan para perempuan yang memujanya.
"Cantik banget," puji Nidya cukup kagum dengan wajah aslinya yang tanpa tambahan gen Eropa atau Asia.
"Aku juga mau kalo opa nyariin calon kayak begini," lanjut Emra yang tetap fokus pada keduanya. Terutama si gadis.
"Kan, udah aku bilamg. Pasti Opa akan nyari yang high buat kita," pungkas Ansel dengan cengiran mengejeknya.
Hati Adriana rasanya berdenyut mendengarnya. Dia pasti ngga akan masuk kualifikasi. Keluarganya hanya orang biasa. Dan bosnya terlihat pantas sekali dengan gadis di depannya. Cantik dan elegan. Kepintaran pun terpancar di wajahnya. Dan pasti dari keluarga konglo juga.
Ngga jauh dari sana, ternyata Puspa juga sedang nakan siang dengan Herdin.
"Itu Kak Kalandra?" tunjuknya dengan menggunakan sumpitnya sambil melihat ke arah Herdin yang sedang bersamanya.
Mata elang Herdin bukan hanya menemukan Kalandra dan pasangannya. Tapi juga melihat beberapa orang yang sangat dikenalnya yang sedang memperhatikan ke arah Kalandra.
"Sepupu kamu yang lain ngapain, tuh," senyum Herdin melebar.
Puspa mendengus kesal melihat kehadiran sepupunya yang hobinya jadi pengintai itu.
"Kelakuan mereka kekanakan sekali," decihnya kesal. Kalo Kakak sepupunya tau, pasti dia akan marah.
Herdin tertawa kecil. Tapi memang harus diintai kalo tentang Kalandra. Dia pun penasaran. Bisa bisanya Kalandra yang gila kerja berkencan.
"Pacarnya?"
Satu alis Puspa terangkat.
"Dijodohkan sama Opa. Setelah Rihana menikah, opa sibuk menawarkan cucu teman temannya pada kami," kekeh Puspa kemudian.
"Kamu ngga, kan?" canda Herdin.
"Tergantung," jawab Puspa cuek kemudian menancapkan garpunya pada irisan daging.
"Tergantung....?" tanya Herdian dengan mimik heran.
"Ya kamunya. Kalo masih gagal move on, aku bakal minta opa nyariin jodoh juga."
Skak Mat.
Herdin meringis.
"Masa masih juga ngga percaya kalo aku hanya cinta sama kamu?" rayu Herdin dengan mata pupiesnya.
"Gombal."
Herdian terkekeh pelan melihat cebikan merajuk itu.
Puspa melengos, ganti menatap pada Kalandra dengan jantung berdeburan seperti ombak di pantai selatan.
Tatapan Herdin begitu lekat dan dalam. Laki laki itu pun makin hari makin perhatian dan makin sabar padanya.
Rihana, apa perasaan ini yang kamu rasakan pada Alexander, batinnya dengan perut terasa mulas dan belasan kupu kupu seperti sedang berebutan keluar dari dalam sana.
●
●
Beberapa part ke depan kisah Kalandra dulu ya...
Rihana sama Alexander masih bulan madu....♡♡