NOT Second Lead

NOT Second Lead
Terpukul



Rihana menahan tangis di pelukan Alexander melihat papanya, Oma Mien dan Oma Mora menangis di pusara mamanya.


Alexander memeluknya erat seolah memberinya kekuatan. Dia melirik papanya yang tampak terpukul.


Kenapa?


Alexander merasa papanya juga punya ikatan khusus dalam hubungan Om Dewan dan Tante Dilara.


Opa Airlangga di pegang erat bahunya oleh Cakra. Opa Iskandardinata tampak memejamkan matanya, menahan bulir air matanya yang siap turun. Sedangkan Oma Mien dan Oma Mora saling berangkulan dalam tangis.


Walaupun sudah menguatkan hati, tapi saat sampai di makam sebagai tempat terakhir Dilara, tetap saja batin keduanya terguncang hebat


Oma Mora yang pernah bertemu Dilara dulu beberapa kali ngga menyangka kalo gadis inilah yang dicari cari Dewan-putranya. Sekaramg gadis itu sudah lebih dulu pergi, padahal usianya masih sangat muda. Penderitaan batinnya yang membuat dia pergi secepat ini.


Apalagi Oma Mien sebagai mama Dilara. Perasaan bersalah karena ngga bertemu saat putrimya mencarinya sangat mengganggu jiwanya


Kini hanya kuburan yang bisa beliau tatap untuk melepaskan rindunya pada putri bungsu tercintanya.


Pagi ini begitu menjejakkan kaki di kota Bandung, mereka pun takziah di pemakaman umum tempat peristirahatan terakhir Dilara.


Cakra dan kedua adiknya juga istri istri mereka tampak begitu terpukul. Dilara yang dicari selama ini ternyata sudah lama terbaring di sini. Dan Mereka baru bisa mengunjunginya, karena baru saja tau kalo Dilara sudah tiada.


Adik perempuan satu satunya yang ngga bisa mereka lindungi. Rasa penyesalan begitu hebat menghantam dada mereka.


Di mata mereka terbayang gadis cantik yang pendiam, tapi memiliki senyum yang sangat manis.


Semua pun tampak melihat ke arah Dewan yang mengusap nisan Dilara dengan tangan bergetar. Tubuhnya pun tampak gemetaran. Kenyataan yang ngga ada sama sekali di pikirannyab dan orang orangbyang datang bersamanya, kalo bakal menemui makam Dilara.


Salahnya. Semua salahnya.


Dewan terus meratapi nasib malangnya. Gadis yang dicintainya sudah lama pergi. Lagi lagi dia merutuki kebodohannya yang ngga pernah bisa menemukan Dilara dan putrinya.


Jantungnya diremas sangat kuat oleh tangan tangan ngga terlihat.


"Kamu kenapa?" tanya Afif panik melihat Dewan memegang dadanya.


Dewan menggelengkan kepalanya. Agar Afif ngga terlalu khawatir.


Tapi rasa sakit di dadanya masih belum reda. Dukanya sudah sangat berat.


Maafkan aku.... Kamu pasti menghadapi hidup yang sangat berat. Harusnya aku berada di sisimu.


Mengingat lagi kalimat marah Rihana yang menyebutkan kalo dia dan mamanya melihatnya bersama istri dan putri mereka. Tambah sangat bahagia. Seolah mereka ngga pernah ada dalam hidup dirinya. Seperti tombak yang menghunjam kuat dadanya sampai robek dan membuat berserakan daging dan darahnya. Hancur sehancur hancurnya.


Air matanya pun tanpa bisa dia hentikan. Turun dengan deras menyapu pipinya. Dia menangis tanpa suara. Bibirnya bergetar mengeja ulang nama di batu nisan.


Nama kekasihnya yang belum sempat dia nikahi. Dan dia telantarkan sangat lama.


Ingatannya melayang saat gadis itu malu malu menatapnya. Wajah merona yang sangat lembut itu.


Afif yang berada di sampingnya juga ikut meneteskan air mata. Mengingat kesalahan besarnya yang sudah menghancurkan hidup Dilara dan Dewan. Dialah dalang penderitaan keduanya.


Saat itu yang dipikirkannya hanyalah untuk bersenang senang saja tanpa pernah memikirkan akibatnya.


"Kamu masih kuat?" tanya Alexander sambil mengusap punggung Rihana lembut. Alexander dapat rasakan punggung yang berguncang itu dalam pelukannya.


Rihana ngga menjawab. Saat ini pun kedua tangannya memeluk pinggang Alexander dengan erat. Kakinya terlalu lemas untuk menopang tubuhnya. Seakan tau, Alexander juga mengeratkan pelukannya.


Dulu Alexander awalnya tanpa sengaja mengikuti gadis itu dan berakhir di pemakaman umun.


Alexander melihatnya di balik pohon. Melihat heran Rihana yang menjadi banyak bicara di depan salah satu makam. Kemudian mengusap matanya sesekali. Tangannya mencabuti rumput liar di atas makam.


Setelah Rihana pergi, Alexander mendekati makam itu dan saat membaca nama, tahun kelahiran serta tahun kematiannya.yang tertera di batu nisan, hati Alexander sangat sedih. Dia baru tau itu makam mama Rihana. Dan wanita yang telah melahirkannya itu rupanya sudah meninggalkannya selama lamanya saat Rihana berumur lima tahun.


Tanpa setahu Rihana, Alexander sudah mencari identitasnya sejak mereka kelas satu SMA. Dia selalu tertarik dengan wajah yang selalu tersenyum dengan mata murungnya. Dia pintar dan ngga pernah memiliki banyak teman. Lebih suka menyendiri.


Dan Alexander selalu beradu tatap dengannya tapi kemudian gadis itu akan menundukkan kepalanya atau mengalihkan tatapannya ke arah lain. Jantung Alexander selalu berdebar ngga seirama karenanya.


Andai mamanya ada di sini. Pasti hatinya akan terketuk.


Mama Alexander menolak ikut karena ingin bersama Aurora dan Irena-mamanya.


Alexander dan papanya ngga memaksa. Tapi kakak laki lakinya-Fathan ikut bersama mereka. Merasakan kesedihan yang amat sangat di depan matanya.


Dalam hati menyalahi keteledoran Om Dewan yang sangat fatal.Terlalu fatal. Sampai hanya bisa menjumpai kekasihnya yang sudah bersatu dengan tanah makam. Pasti sangat menyakitkan dan menyesakkan.


Fathan pun dapat merasakan betapa terguncangnya perasaan Oma Mien dan Opa Airlangga yang kehilangan putrinya buat selama lamanya. Ini terlalu berat buat tubuh tua mereka.


Tapi sama seperti Alexander, Fathan juga merasa heran dengan reaksi penyesalan yang ditunjukkan oleh papanya. Terasa berlebihan.


Kenapa?


Benaknya pun diliputi banyak tanya. Nanti dia akan bertanya kenapa papanya bereaksi agak over begitu.


*


*


*


Rumah yang dulu dijadikan panti asuhan sudah dipugar menjadi bangunan yang sangat berbeda. Rihana pun sudah ngga bisa menemukan jejak mamanya di sana.


Begitu juga tempat usaha konveksi Bu Saras sudah berubah menjadi toko toko yang menyajikan berbagai macam menu makanan.


Syukurlah sekolah taman kanak kanaknya masih belum berubah.


Rihana pun langsung duduk.di ayunan. Matanya menatap sedih. Dulu setelah pulang Rihana akan bermain sebentar di ayunan ini saat menunggu jemputan mamanya.


Tanpa terasa air matanya menetes lagi.


Tapi tubuh Rihana tersentak karena ayunan itu ada yang mendorong pelan.


Rihana menoleh. Ternyata Alexander yang mendorongnya sambil menatapnya lembut.


Alexander kembali mendorong pelan ayunan itu membuat bibir Rihana mengukir senyum haru.


Rihana menikmatinya. Momen ini selalu diingatnya saat bersama mamanya. Dan sekarang momen ini akan menjadi hal yang sangat indah untuk dikenang karena Alexander.


Kembali Oma Mien dan yang lainnya mengusap mata mereka yang basah karena melihat pemandangan manis seperti ini.


Alexander seolah mengerti kalo Rihana ingin mengenang mamanya.


Dia pasti sangat merindukan mamanya, batin Alexander sedih.