
"Dia menderita kanker otak stadium tiga. Kami semua terlambat mengetahuinya,' cerita Nadira sambil meletakkan sebuket bunga lili warna putih.
Daniel masih menatap makam itu dengan tatapan ngga percaya.
Ini bohong, kan?
Matanya menatap nanar pada nama yang tertulis di sana.
Memang nama Nadine.
Tapi bisa saja gadis itu mempermainkannya.
Daniel masih menganggap gadis di sebelahnya menipunya. Pura pura cosplay jadi Nadira, padahal dia aslinya Nadine.
"Kalo kamu ngga mau ngaku kamu Nadine, terserah. Kamu juga sudah ngga penting lagi," ucap Daniel sambil memutar badannya hendak pergi.
Lelucon ini sungguh keterlaluan. Sampai dia pun dibawa ke kuburan. Segitunya gadis ini ingin dia melupakannya.
Padahal dia ngga perlu susah susah melakukan ini. Selama sepuluh tahun menghilang pun Daniel sudah ngga menganggap.gadis itu ada.
Dia pun sudah menikmati hidupnya. Banyak perempuan yang mau jadi pacarnya. Ngga perlu sok sokan setia seperti dulu.
"Apa kamu beneran bodoh!" umpat gadis itu sudah di ambang batas kesabarannya.
Daniel membalikkan tubuhnya dan menatap gadis di depannya dengan tatapan marah yang berkobar kobar di sepasang mata tajamnya.
Nadine. Walau sepuluh tahun gadis itu ngga pernah berubah. Daniel bisa gila kalo harus nganggap dia Nadira, seperti yang dia akui sekarang.
Gadis itu mengeluarkan beberapa lembar foto.
"Ini foto saat kami bayi. Dan ini foto saat Nadine koma di rumah sakit. Ini juga foto saat Nadine meninggal," ucapnya serak
Daniel sama sekali ngga terpengaruh. Dia pun ngga mengambil foto foto yang cukup mengusik hatinya. Daniel tetap mempertahankan ketakpeduliannya.
"Malam itu, kamu ngantar Nadine pulang saat ujan ujan, kan. Nadine langsung demam tinggi dan pingsan." Gadis itu memulai ceritanya.
Daniel tentu masih ingat kejadian malam itu. Tapi minus Nadine demam dan pingsan.
"Rencananya besok kami akan membawa Nadine ke Jerman untuk melanjutkan pengobatannya. Tapi karena melihat keadaannya yang kritis, kami membawanya ke Singapura, karena lebih dekat. Dia koma satu bulan."
Dada Daniel dipenuhi debaran keras.
"Sebelum pingsan dia nyebutin nama kamu. Sebentar, ini buku catatan Nadine. Terserah kamu mau percaya atau engga sama kata kataku."
Gadis itu memaksanya menggenggam apa yang dipegangnya tadi.
Kemudian meraih sesuatu di tasnya, sebuah buku notes kecil yang sangat Daniel kenal, karena itu pemberiannya.
"Terserah kamu percaya atau tidak. Tapi kamu bisa cari nama keluarga Abimanyu di internet,' ucap gadis itu lagi sambil memaksakan Daniel menggenggam notesnya.
Kemudian dia menatap mata yang masih menyorotkan amarah itu dan tubuh yang masih membeku.
"Harusnya kamu mencari identitas Nadine dengan benar sebelum mengiranya yang bukan bukan," sinis Nadira saat melewatinya. Pergi meninggalkan sosok Daniel yang seolah jadi patung batu.
Daniel mematung sangat lama. Sampai kakinya terasa lemas dan dia pun jatuh berlutut.
Matanya masih nanar melihat foto foto yang diberikan Nadira.
Dia pun sakit cukup lama di Inggris. Orang tuanya sengaja ngga mengijinkannya pulang bertahun tahun, karena ngga ingin Daniel mengalami kehancuran lagi.
Baru setahun ini dia pulang. Hal pertama yang dilakukannya adalah melihat rumah itu lagi.
Rumah itu masih sama seperti dulu. Tapi sudah ngga ada niat lagi di hati Daniel untuk sekedar bertanya pada salah satu penghuninya yang membuat hatinya hancur sehancur hancurnya.
Daniel membuka halaman pertama notes yang ternyata jadi halaman terakhir.
Hanya ada satu kalimat yang berhasil membuka luka lamanya lagi
Nadine love Daniel.
Daniel ingat, notes itu dibelinya satu hari sebelum hari penembakan cintanya.
Daniel memejamkan mata. Hatinya sakit melihat foto Nadine yang dipenuhi dengan selang.
Dan ada yang lebih menusuknya dengan sangat kuat saat menatap foto Nadine yang diselimuti kain panjang batik hingga ke lehernya. Wajah cantiknya nampak seperti sedang tertidur.
Ini benaran kamu?
End Flashback
Daniel mengusap nama di nisan itu. Ya, dia sudah mencari nama Nadine Risyana Abimanyu.
Ada beberapa artikel yang menceritakan tentang keluarga yang sekarang malah menjadi rekan bisnis mereka.
Kenyataan pahit menamparnya. Padahal Daniel setengah berharap kalo Nadira berpura pura menjadi Nadine.
Ternyata hatinya belum sepenuhnya melupakan Nadine.
Harusnya dia menuruti kata kata Tom agar membawa Nadine untuk diperiksa lebih detil waktu itu.
"Saat kamu koma, aku pun sedang sakit karena merindukanmu," bisiknya masih mengusap nama di nisan itu.
*
*
*
"Kamu kelihatan aneh akhir akhir ini," tegur Fathan saat mereka berdua sedang melihat lokasi proyek yang akan mereka kerjakan nanti.
"Iya kah?" tanya Daniel cuek.
"Kamu ada hubungan dengan Nadira?" tebak Fathan tenang.
Melihat reaksi kaget Daniel yang menoleh padanya membuat Fathan tersenyum samar karena yakin tebakannya sangat tepat.
"Aku melihatmu memaksa menciumnya," kekeh Fathan tanp suara.
"Kamu mengintip?" kesal Daniel karena tumben Fathan jadi kepo.
"Kamu sangat aneh hari itu, aku jadi penasaran," kilah Fathan tanpa rasa bersalah.
Daniel menghela nafas panjang.
"Kamu ingat saat aku akhirnya dipaksa mami tinggal di Inggris?"
"Tentu." Fathan ngga mungkin melupakannya.
Adiknya yang players tiba tiba mengatakan akan mengenalkan kekasihnya pada mami.
Mami, papi, dirinya dan Alexander sulit untuk percaya kalo players ini sudah tobat dari kegemarannya memiliki banyak kekasih.
Ngga lebih dua hari dari pernyataan Daniel, mereka mendengar kabar para mengejutkan dari pembantu dan pengawal yang menemani Daniel.
Putranya jarang pulang ke mansion dan para pembantu dan pengawal mengirimkan makanan dan pakaian buat tuan mudanya, yang mobilnya selalu diparkir di depan sebuah rumah besar.
Hingga saat maminya akan menjenguknya karena ngga dapat membendung kekhawatirannya, dan sudah sampai di bandara Soekarno Hatta, terkejut mendapat kabar kalo putranya mengalami kecelakaan dan sekarang sudah berada di rumah sakit.
Mami yang panik meminta Papi, dirinya dan Alexander pulang untuk melihat keadaan Daniel. Selanjutnya Daniel pun dibawa ke Inggris.
Adiknya sungguh menyedihkan. Sekalinya jatuh cinta langsung mengalami patah hati yang sangat parah.
"Apa perempuan itu yang akan kamu bawa ke Inggris untuk dikenalkan sama mami?" todong Fathan sambil menatap lurus ke arah Daniel.
Tapi Daniel hanya menatap jauh ke langit.
"Rupanya itu kembarannya," sahutnya getir.
"Apa?" Fathan menggelengkan kepalanya ngga percaya.
Jadi kamu sudah salah mencium kembarannya? batinnya geli.
"Ternyata dia sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu."
Senyum miring Fathan yang akan terbit langsung lenyap.
Tatapan cemasnya kini mengarah pada wajah yang tampak muram. Wajah kehilangan yang sangat besar.
"Jangan khawatir. Aku sudah bisa menerima kenyataannya," ucapnya sambil menatap Fathan.
Tapi Fathan tau mata itu penuh dengan bongkahan luka.
Satu bulan ini Fathan sengaja membiarkan Daniel yang terlihat gundah. Dia hanya lebih mengawasinya saja. Seperti dulu.
"Kamu baru tau?"
Daniel mengalihkan tatapannya. Dia menengadah menatap langit, menahan buliran air mata yang akan menetes.
Tapi akhirnya turun juga. Bergulir perlahan
Fathan shock melihatnya. Dia jadi takut adiknya jadi seperti dulu. Setelah sembuh dari kecelakaannya, selama hampir tiga bulan, Daniel hanya diam saja. Ngga berekspresi apa pun. Susah payah mereka mengembalikan semangat hidup Daniel. Dan kewarasannya.
Sekarang ini adalah hal yang paling dia takutkan jika Daniel jadi depresi lagi seperti dulu.
Sebesar itukah cintanya pada gadis itu?
Fathan salut. Dia pikir, Daniel ngga akan memiliki cinta sebesar itu untu satu perempuan saja, jika dilihat dari kebiasaannya mengganti perempuan seperti berganti baju.
Ternyata adiknya punya. Bahkan sampai membuat dia hampir kehilangan akal sehatnya.
"Aku memalukan, ya. Sekarang baru aku tau kenapa dia pergi meninggalkan aku. Bukan untuk menikah dengan pria lain. Tapi karena sakit parah," ungkap Daniel pedih.
Fathan menepuk nepuk pelan pundak Daniel seolah memberinya kekuatan.
"Aku mengira dia meninggalkanku begitu saja. Tapi ternyata dia terpaksa pergi dariku." Daniel ngga bisa lagi menahan isakannya.
Fathan ngga mengatakan apa apa. Saat ini dia akan menjadi pendengar yang baik. Akan dia berikan waktunya saat ini untuk mendengarkan segala curahan hati Daniel. Mungkin dengan begini beban berat Daniel bisa terangkat dan hilang.