
"Masih mau lagi, hemm?" tantang Aiden saat Aurora sudah melemah di sofa.
Gadis itu sudah ngga karuan sekali keadaannya.
Aurora ngga menjawab. Aiden baru saja menuntaskan g@irah di dalam tubuhnya.
Aiden tersenyum smirk. Gadis ini selalu mudah takluk tanpa dia harus beraksi dengan juniornya.
Tapi memang itu perjanjiannya.
Aiden seperti mendapat durian runtuh ketika model yang sangat terkenal cantik dan bersih ini jatuh ke tangannya.
Dia menuruti permintaan gila Aurora dalam mabuknya. Asal dia boleh mencecep seluruh tubuh gadis ini ngga apa asalkan Aurora masih tetap perawan.
Dia tau obsesi gadis itu hanyalah menikah dengan Alexander dalam keadaan virgin. Aiden ngga akan merusaknya.
Aiden sudah sangat puas jika membuat gadis itu tel&ent@ng p@sr@h ngga berdaya karenanya.
Aiden hanya menunggu gadis itu memintanya saja. Dan dengan senang hati Aiden akan mengabulkannya.
Aiden pun menaikkan rok dan underwear yang sudah dia turunkan hingga mata kaki. Ngga lupa dia mengusap nakal bagian sensitif yang membuat pemiliknya mele>ng*uh.
Aiden pun mengambil penutup dada yang dilemparnya tadi di atas meja. Mengenakannya dna mengancingkan kemejanya. Sementara Aurora hanya diam saja karena dia masih menikmati sisa g@ir@h yang diberikan Aiden padanya.
"Cepat buka kunci pintunya. Apa kamu ingin papamu menikahi kita."
Kata kata Aiden membuat Aurora tersadar.
Dia lalu bangkit dari duduknya. Menyandar manja pada Aiden. Dia butuh bantuan.
"Tolong aku?" pintanya manja.
"Hem....?" tanya Aiden ngga acuh. Dia ingin gadis ini memohon.
"Singkirkan kekasih Alexander."
Aiden tersenyum smirk.
"Apa imbalannya?"
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Aurora sambil menatap laki laki angkuh di depannya dengan bibir basahnya. Berusaha menggoda mimpi buruknya lagi.
"Keperawananmu?"
"Itu di luar perjanjian," manyun Aurora jadi kesal. Mimpi burukmya mulai ngelunjak.
Aiden tergelak.
"Aiden."
"Nanti malam ganti kau yang memu@sk@nku. Sampai pagi," jawabnya setelah tawanya reda.
"Baiklah. Asal kau tetap memegang janjimu," kata Aurora mengingatkan.
"Asal kau ngga meminta, sayang," gelak Aiden mengetawakan wajah cantik yang berubah masam itu.
"Cepat, bukalah kunci pintu itu. Sebentar lagi papamu pasti datang," kata Aiden memerintah.
"Hemh," dengus Aurora kesal. Dia pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan untuk membuka kunci pimtu ruangan papanya.
Dan benar saja, baru beberapa menit Aurora mendudukkan dirimya di samping Aiden, papanya memasuki ruangannya.
Papanya tampak surprise bertemu Aiden. Salah satu anak sahabatnya waktu di inggris.
"Apa kabar?" tanyanya sambil memeluk Aiden hangat. Aiden membalasnya dengan tawa ngga kalah hangatnya.
"Baik, Om."
Dewan menepuk.nepuk pundak Aiden kemudian menatap putrinya yang memandangnya dengan senyum bidadarinya.
"Aurora menemanimu mengobrol?" kekehnya sambil berjalan ke kursi kerjanya.
"Begitulah, Om," katanya sambil melirik nakal pada Aurora yan tetap menampilkan senyum palsunya.
Teruslah berakting, manis.
*
*
*
Aiden mengamati gadis yang bernama Rihana di kubikelnya. Dia sengaja ke ruangan ini karena ingin menemui kekasihnya yang lain, Zerina.
Bibirnya tersenyum smirk.
Pantas saja Aurora tersingkirkan. Gadis yang disukai Alexander memang sangat cantik.
Zerina yang baru saja membuka pintu terkejut melihat kedatangan kekasihnya.
"Aiden," serunya penuh rindu, dan tanpa malu menbawa laki laki blasteran Eropa itu untuk masuk ke ruangannya.
Para pegawainya saling menggumam. Ternyara Bu Zerina sudah punya kekasih yang sangat tampan dan setengah bule.
Winta dan Puspa langsung keluar dari kubikel mereka menuju ke tempat kubikel Rihana untuk bergosip bentar.
Sementara para seniornya tampak ngga peduli karena sudah beberapa kali melihat laki laki setengah bule itu menemui Bu Zerina. Dan hasilnya beberapa jam kemudian adalah syal yang menutupi leher Bu Bos.
"Ganteng, ya, pacar Bu Zerina," kata Winta memulai jajak pendapat.
"Setengah bule," kekeh Puspa.
"Pantasan Bu Zerina kalem aja kalo melihat Alexander dan Herdin," kekeh Winta salut.
Standar bu bos mereka tinggi sekali ternyata. Bagi Winta mendapatkan bule walau pun ngga utuh merupakan prestasi tersendiri.
Pupsa makin tergelak sedangkan Rihana tersenyum lebih lebar.
*
*
*
Aiden pun menuntaskan h@sratnya dengan Zerina. Berbagai gaya sudah mereka lakukan. Dan Zerina merupakan wanita yang ngga membutuhkan waktu pemanasan cukup lama
Aiden hanya cukup menghisap lehernya seperti vampire dan Zerina akan segera takluk padanya.
"Malam ini ke apartemenku?" undang Zerina setelah permainan cinta mereka berakhir.
"Besok saja."
Malam ini dia akan mengekskplor si bidadari itu sampai ngga bersisa. Kekasihnya bisa menunggu giliran.
"Ya," jawan Zerina kecewa. Dia masih memeluk tubuh Aiden.
Aiden tampak memikirkan rencana untuk menyenangkan bidadarinya. Ngga terlalu menanggapi kekecewaan kekasihnya.
"Sebentar Aiden. Aku harus meminta Rihana mengambil berkas ke ruang Pak Zuher," kata Zerina sambil duduk dengan tubuh polosnya di pangkuan Aiden.
"Zuher kepala staf lapangan?" tanya Aiden mendapatkan ide cemerlang
"Ya, harus segera diperiksa." Zerina pun mengetikkan pesan untuk Rihana.
Aiden mengangkat tubuh kekasihnya ke atas sofa.
"Aku harus pergi," katanya sambil merapikan bajunya. Dia harus mendahului Rihana.
"Sekarang?" tanya Zerina semakin kecewa.
"Iya." Setelah mengecup pipi Zerina, Aiden bergegas pergi.
*
*
*
"Iya, Oma. Maaf, ya, mendadak," ucap Rihana merasa ngga enak hati saat Omanya menelponnya.
Tapi suara omanya terdengar sangat bahagia. Omanya malah tertawa tawa.
"Oma malah senang mendengarnya. Anak kaku itu ternyata serius sama kamu."
"Oma kenal dengan Alexander?" Rihana mengerjapkan matanya.
"Oma sangat dekat dengan neneknya," kekeh oma lagi membuat Rihana tersenyum.
Tapi senyumnya memudar karena lift yang akan ditujunya ditempel kertas dengan tulisan *lift rusak.
Serius*? batinnya ngenes karena dia mau ngga mau harus melewati tangga darurat
"Kenapa sayang?" tanya Oma karena ngga mendengar suara Rihana.
"Ngga apa apa, Oma. Ini liftnya tumben rusak? Rihana terpaksa naik pake tangga darurat."
"Masa Rusak? Perusahaan apa itu. Sudah cepat resign. Kerja di perusahaan Opa," omelnya.
Rihana tersenyum sambil memeluk map yang sudah diambilnya dari Pak Zuher.
Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara kasar di belakangnya.
Matanya terkejut melihat lemari tinggi yang berisi helm helm proyek sedang jatuh ke arahnya.
BRAK BRUG BRAK BRUG
"Rihana, bunyi apa itu?" seru Oma panik karena mendengar bunyi sesuatu yang roboh. Sangat keras dan lebih dari sekali.
"Rihana!" serunya tambah panik karena ngga mendengar lagi suara cucunya.
Jantung Oma Mien Arthipura berdetak kencang.
Dengan panik beliau segera menelpon Puspa.
"Ada apa Oma? Sudah kasih tau Opa, kan? Nanti biar Papa mama serta om om dan tante, Puspa yang kasih tau," kicaunya tanpa henti ketika mengangkat telpon Oma tersayangnya.
"Puspa! Cari Rihana! Cepaaat!" seru Omanya panik campur kalut.
"Rihana?" Puspa langsung berdiri. Seingatnya tadi Rihana pergi ke bagian lapangan. Sepupunya sempat berpamitan padanya.
"Tadi Oma sempat dengar bunyi sesuatu yang jatuh saat menelponnya. Sekarang Rihana ngga bisa dihubungi lagj," seru Omanya histeris.
"Tenang, Oma. Puapa akan cari," katanya sambil.keluar dari kubikelnya.
"Mau kemana?" tanya Winta hwran melihat Puspa nampak tergesa gesa berjalam ke.luar dari kubikel. Bahkan dia sampai menyenggol tempat tisunya sampai jatuh.
Puspa ngga menjawab, dia terus saja pergi menyisakan tatapan penasaran Winta yang memutuskan untuk mengikutinya.