NOT Second Lead

NOT Second Lead
Zerina yang egois



Zerina tau kalo Xavi menikahinya hanya untuk melindungi nama baiknya dan juga agar anak ini memiliki nama ayahnya di akte kelahirannya.


Zerina pun ngga tau gimana nasibnya dan anaknya jika tidak dinikahi Xavi.


Zerina juga ngga mau anaknya akan dihina seumur hidupnya sebagai anak yang lahir di luar nikah tanpa adanya suami.


Berharap waktu bisa membuat Xavi menerimanya dan putranya dalam hidupnya. Seperti dalam cerita cerita novel tentang suami pengganti. Mereka bisa bahagia di akhir setelah melewati proses menyakitkan di awal awalnya. Tapi sepertinya dia salah. Terlalu berharap tinggi.


Tapi makin ke sini, makin perutnya membesar, Xavi malah semakin dingin membeku.


Memang dia selalu mengantarkannya memeriksakan kandungannya ke rumah sakit tiap bulan. Tapi laki laki ini menjaga jarak dengannya. Tidak menyentuhnya, walaupun sekedar mencium keningnya. Padahal rasanya dirinya sudah memberikan semua perhatiannya agar Xavi luluh. Tapi dia gagal.


Malah Xavi berubah semakin dingin.


Apa karena Daiva?


Tapi temannya itu sepertinya sudah merelakan Xavi untuknya


Rasanya ngga mungkin Xavi menyukai Daiva, walau dulunya dia pernah berharap begitu.


Tapi setelah mendengar pernintaan kedua orang tua Xavi agar menikah dengannya, Zerina berubah pikiran.


Dia pun ingin memiliki Xavi. Laki laki yang sangat baik dan beetanggung jawab. Jalan untuknya terbuka lebar. Orang tua Xavi mendukungnya.


Walau Daiva ngga mengatakan apa apa, tapi Zerina tau kalo sahabatnya tertarik dengan Xavi. Tapi saat dia mengatakan akan menikah dengan Xavi, sepertinya temannya itu ngga keberatan.


Tapi Xavi sangat susah untuk ditaklukkan. Bahkan di tengah kondisinya yang lemah begini, Xavi sedikitpun ngga tersentuh.


Ngga tau kalo Daiva.


Apa Xavi menyukainya?


Zerina menggelengkan kepalanya kuat kuat.


Rasanya tidak. Mana mungkin Xavi menyukai sepupu pembunuh kembarannya.


Lagi pula ledua orang Xavi ngga mungkin akan memberi ijin. Zerina yakin tentang itu.


Sampai sekarang aja mereka lebih peduli pada kandungannya dari pada kandungan Aurora.


Eeeuugghh......! Mengingat nama itu selalu membuat hatinya panas.


Kalo saja Aiden memilih bersamanya, dia pasti masih hidup. Tidak membuat sedih orang tuanya, kembaranya dan anak yang sedang dia kandung.


Zerina merasa aneh. Awalnya dia sedih setengah mati. Tapi setelah mengenal Xavi, dia merasa begiti cepat bisa move on. Kesedihan ditinggal Aiden menguap begitu saja.


Tapi sekarang, haruskah dia merasa kehilangan lagi?


Zerina mengerjapkan matanya yang mulai basah.


*


*


*


Beberapa bulan berlalu dengan cepat Daiva baru saja akan memasuki mobilnya, tapi ponsel yang berada dalam genggamannya bergetar.


"Ada apa?" Irena


Ngga lama kemudian wajah Daiva pucat pasi.


"Kami akan segera ke sana, tante."


Kali ini sambil berlari Daiva memasuki rumah oma opanya lagi.


Saking buru buru dia hampir menabrak omnya yang berjalan berlawanan arah dengannya.


Om Dewan sekarang memilih tinggal bersama oma dan opa di rumahnya.


Mungkin dia kesepian di mansion mewahnya. Tante Irena sudah lama memilih keluar dari sana. Aurora juga ngga ada.


"Daiva, kenapa kamu buru buru begini? Ada yang ketinggalan?" tanya Om Dewan heran. Hampir saja mereka bertabrakan.


"Ada apa?" tanya Om Dewan dengan nada suaranya berubah khawatir.


"Kamu sakit?" tanya Om Dewan lagi sambil memegang kedua bahunya dan menatap wajah Daiva penuh selidik.


"Aku.... aku sehat, Om. Om... sekarang kita ... kita harus ke rumah sakit," sahut Daiva dengan terbata bata.


Mata Dewan memicing.


"Siapa yang sakit?"


"Aurora sedang diopersi caesar, Om. Katanya tadi dia kepleset dan pendarahan." Air mata Daiva yang menggenang kini mengalir turun dengan deras


Tubuh Dewan terasa kaku mendengarnya.


Ini baru tujuh bulan, kan? batinnya bergetar.


"Apa? Daiva, kamu serius?" seru Oma Mora sangat terkejut.


"I iya oma," isak Daiva. Dia takut terjadi sesuatu pada sepupunya. Juga bayinya.


"Kita segera berangkat," seru Opa merespon cepat.


"Iya, Pa. Ayo, Daiva, naek mobil, Om," agak panik Dewan berseru. Jantungnya berdebar keras.


Dalam hati dia berdo'a tiada henti agar putri dan cucunya bisa diselamatkan.


"Iya, Om," ucap Daiva sambil membantu Opa Iskan memapah Oma Mora yang hanpir jatih karena sendi sendi kakinya menjadi lemas.


*


*


*


"Apa yang terjadi?" tabya Dewan ngga sabar begiti berada di dekat Irena. Istri yang melarikan diri dan belum dia jatuhkan talak.


Irena yang tadinya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menurunkannya. Mata dan pipinya sudah basah oleh air mata.


"Aku juga ngga tau. Kata petugas lapas, Aurora terpleset di lorong. Untung ada yang membantunya. Tapi dia berdarah banyak sekali," jelas Irena dengan suara bergetar dan menahan isaknya.


"Petugas membawamya ke sini?" tanya Opa Iskan yang dijawab dengan anggukan Irena.


"Aku sudah tanda tangan. Aku memulih Aurora, jika hanya salah satu yang bisa diselamatkan," sambungnya lagi.


Ngga ada bantahan. Mereka masih sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar.


Oma merasa dadanya sesak. Membayangkan keadaan cucu cicitnya yang sedang berjuang untuk hidup di meja operasi. Untung suaminya makin mendekapnya erat.


Air mata Oma juga pecah. Dirinya takut dengan hasil operasi nanti. Sangat takut jika nantinya harus kehilangan salah satu di antara mereka.


"Tenanglah," bujuk Opa lembut walaupun perasaannya ngga tenang. Menkhawatirkan keadaan Aurora dan kandungannya. Berharap dalam hati kalo keduany bisa diselamatkan. Bukan hanya salah satu.


Daiva menatap Irena dengan tatapan ngga terbaca. Dia tau tantenya memang ingin menyingkirkan bayi itu dari dulu lagi. Walau memang harus terjadi pilihan yang mengerikan itu, tapi tetap saja terdengar sangat kejam saat mendengar ucapan langsung tantenya tadi akan pilihannya.


Dewa memejamkan matanya. Hatinya pun gerudak geruduk mendengar penjelasan Irena. Berharap ketiga cucunya selamat.


"Aku ngga mau kehilangan Aurora. Aku hanya punya dia." Tangis Irena pecah.


Memang awalnya dia ingin Aurora keguguran. Tapi selama di penjara. Aurora dan kandungannya malah baik baik saja.


Dan yang membuat hatinya sakit saat ini, karena dia sudah merasakan gerakan gerakan bayi itu dalam rahim Aurora.


Rasa sayangnya sudah muncul, padahal dia belum nelihat cucunya. Hanya dari tangkapan kamera usg saja.


Tapi dia terpaksa. Tim medis memintanya memilih. Sebagai ibu, tentu saja Irena akan memilih putrinya. Walaupun dia harus mengorbankan cucunya.


Mereka sama terdiam, menunggu dengan perasaan ngga tenang terbukanya pintu operasi.


Dua jam kemudian setelah mereka menunggu dengan sabar, lampu operask padam dan pintu operasi terbuka.


Dewan bersama Irena dan Daiva bergegas menghampiri sang dokter.