
Tangan Dewan rasanya gemetar saat membopong tubuh Rihana saat keluar dari mobil yang sudah diparkir dengan tepat oleh Puspa.
Dia pun membuka sendiri pintu mobilnya dengan ngga sabar dan setengah berlari menggerakkan kakinya yang jangkung ke arah pintu masuk rumah sakit.
Dia merasa seakan sebagian nyawanya akan terbang, menjauh. Ngga tau kenapa dia merasa begitu. Dia merasa ngga rela kalo gadis ini kenapa napa. Ada perasaan takut kehilangan yang amat sangat menghantui dirinya.
Langkahnya pun terasa ringan. Tapi punggung bajunya basah oleh keringat yang terasa dingin. Dia ngga merasa membawa beban.
Menatap sekali lagi wajah pucat dan darah yang masih mengalir membasahi sapu tangan miliknya.
Puspa sudah menelpon papanya agar menyiapkan semuanya di rumah sakit. Dia bahkan meminta papanya mengutus orang untuk melihat keadaan omanya yang sangat dikhawatirkan mungkin sudah pingsan.
Puspa bersyukur sudah melihat tantenya yang dokter, sudah menunggu di depan dengan beberapa tim medis dan sebuah brankar.
"Tante," seru Puspa sambil melambaikan tangan padanya.
"Pak Dewan, itu tante saya udah nunggu," kata Puspa memberi tau saat ada brankar dan tim medis yang datang menyongsong.
"Misel?" panggil Dewan kaget sambil membaringkan Rihana dengan sangat hati hati. Dia bahkan mengusap pipi gadis itu. Perasaan sayang muncul begitu saja.
Dalam hati terkejut kenapa Puspa memanggil Misel tantenya. Karena suami Misel memiliki perusahaan multinasional seperti dirinya. Tapi kenapa gadis ini bekerja di perusahaannya.
"Dewan, terimakasih sekali. Kamu sangat menolong," balas Misel sambil melihat wajah pucat ponakannya dengan hati sedih
Kuat, ya, nak, batinnya nyeri.
"Hati hati, belakang kepalanya masih mengeluarkan darah," kata Dewan sambil memiringkan kepala Rihana dibantu para tenaga medis.
Bahkan saputangannya masih berada di sana.
"Iya. Kita akan lakukan yang terbaik," kata Misel.dan mengomando para tim media untuk segera membawa brankar Rihana pergi.
"Puspa," teriak Om Cakra yang baru saja turun dari mobil bersama istri dan oma.opanya.
Bahkan di belakangnya mobil papanya baru diparkir.
Langkah Puspa dan Winta terhenti. Tap engga dengan Dewan. Dia terus melangkah mengikuti brankar yang membawa Rihana, pegawai kontraknya.
"Itu Rihana?" tanya Om Cakra sambil menunjuk brankar yang sedang dibawa pergi.
Oma dan opanya berjalan di belakangnya bersama Tante Alena.
"Ya, Om."
"Itu Dewan?" tanya Om Akbar yang mobilnya terakhir datang.
"Iya, Om. Kami datang ke sini dengan Pak Dewan," jelas Puspa sambil berjalan menuju ke arah papa dan memeluk mamanya.
"Kepala Rihana masih mengeluarkan darah," katanya terisak.
"Sebenarnya apa.yang terjadi?" tanya Opa Airlangga gusar.
Mengapa perusahaan dengan level setinggi itu ngga memiliki standar keselamatan yang baik untuk karyawannya.
"Ngga tau Opa. Untung Oma menelpon aku. Jadi aku sama Winta segera pergi ke sana. Rihana sudah pingsan. Terus Pak Dewan datang. Dia yang bantu angkat karena suasana lagi sepi," jelas Puspa panjang lebar.
"Lebih baik kita segera ke sana. Siapa tau ada yang dibutuhkan Misel," kata Alena sambil menuntun mama mertuanya yang nampak shock, sudah ngga bisa berkata apa apa lagi.
Untung saja Omanya sedang menelpon Rihana, jadi ponakannya itu cepat ditemukan.
Tanpa kata mereka berjalan cepat, menuruti kata kata Alena.
"Cuma satu yang aku takutkan. Stok darah golongan Rihana kosong," lirih Wingky berkata dengan nada frustasi.
"Emir dan Kala sedang menuju ke sini. Jangan khawatir," kata Istrinya berusaha menenangkannya.
Hanya Emir, Kala dan papa mertuanya yang memiliki golongan darah yang sama dengan Rihana. Golongan darah yang cukup sulit dicari dalam keadaan mendadak.
"Ya," balas Wingky berusaha tenang.
Semoga cukup, batinnya ngga tenang.
Saat rombongan itu datang, Rihana sudah masuk ke dalam ruang operasi.
Dewan langsung menghampiri Opa Airlangga dan Oma Mien yang nampak.terguncang. Menyalami keduanya dengan sopan.
"Terimakasih," kata Opa Airlamgga saat melihat bagian dada kemeja biru muda Dewan terdapat cukup banyak bercak darah.
Darah cucunya.
"Sama sama," katanya dengan tatapan penuh berbagai dugaan.
Mereka keluarga mama Rihana?
Tapi dia menafikan pikirannya, mungkin karena Rihana dekat dengan Puspa.
Pasti mereka keluarga salah satu dari mereka, duganya.
Bukan saat yang tepat untuk bertanya jawab. Suasana terasa hening sampai cucu cucu Om Airlangga pun datang. Mereka segera menyalim tangan Dewan sebagai relasi papa mereka.
Kembali Dewan dibuat bingung. Jika hanya teman kenapa mereka semuanya berkumpul dan mengkhawatirkan keadaan Riihana?
Banyak pertanyaan yang butuh jawaban, tapi situasinya sangat ngga mendukung untuk dia.mendapatkan jawabannya.
Bahkan Om Airlangga tampak berusaha menenangkan Oma Mien yang terus menangis.
Suasana terasa mencekam bakkan jantung Dewan serasa mau melompat karena terlalu kuatnya berdetak.
Sampai kemudian seorang perawat keluar dan mendekati anggota keluarga. Dewan secara reflek juga mendekat. Ingin tau apa yang akam disampaikan oleh perawat yang nampak ngga tenang.
"Kami butuh darah," katanya.
Emir dan Kala segera bangkit.
"Ayo suster," kata Kalandra cepat.
"Ayo, pak."
Ketiganya pun berlalu bersama perawat. Alena pun mengikuti mereka.
Dewan tiba tiba teringat Alexander.
Dia mengambil ponselnya bermaksud menelpon kekasih Rihana.
Biarpun itu akan melukai hati putrinya, tapi dia tetap harus melakukannya.
Alexander sudah menilih Rihana. Dia akan memilihkan jodoh buat anaknya nanti. Masih banyak laki laki yang berkualitas seperti Alexander. Misalnya Aiden atau cucu cucu dari Om Airlangga.
Keningnya berkerut.
Aneh, ngga tersambung? batinnya heran. Dia mencoba sampai tiga kali, tapi tetap.saja begitu.
Akhirnya Dewan menyerah dan duduk kembali menunggu bersama yang lain. Hatinya pun deg degan menunggu hasil operasi.
"Dewan, terimakasih, ya. Mungkin kamu mau balik ke kantor. Kita udah rame, kok, yang nungguin," kata Cakra saat menghampirinya. Merasa ngga enak karena melihat Dewan masih tetap diam di sana. Apalagi baru baru ini perusahaannya ngga melanjutkan lagi semua kerja sama dengan perusahaan Dewan.
'Sama sama. Ngga apa. Meetingku nanti sorean," sahut Dewan ramah.
Puspa dan Winta saling menepuk kening mereka
"Ada apa?" tanya Mama Puspa heran melihat putrinya dan temannya terlihat baru mengingat sesuatu yang sudah mereka lupakan.
"Belum ngabari Bu Zerina," tukas Puspa yang ternyata di dengar Dewan.
"Minta izin saja. Kasih tau kalian bersama saya membawa Rihana ke rumah sakit," sahut Dewan sambil menatap kedua pegawai kontraknya dengan senyum tipis di bibirnya.
"Ya, Pak," sahut Puspa kemudian mengetikkan pesan buat bu bosnya.
Seorang perawat keluar lagi dari dalam ruangan operasi.
"Maaf, kami butuh darah lagi. Persedian di PMI dan rumah sakit ini sedang kosong.
Semua anggota keluarga saling pandang. Padahal Emir dan Kala masih belum kembali.
Mereka sudah ngga menilikinya lagi. Hanya Emir dan Kalandra yang memiliki golongan darah yang sama.
Tangis Oma kembali terdengar.
"Cari darah di tempat lain," seru Wingky sambil berdiri. Dia akan menghubungi teman temannya di berbagai grup yang ada di telponnya. Akbar pun melakukan hal yang sama.
"Golongan darahnya apa?" tanya Dewan sambil melihat pada perawat itu.
"A dengan Rhesus negatif, Pak."
Dewan terkejut mendengarnya.
Kenapa bisa sama?
"Saya saja," kata Dewan membuat semua anggota keluarga berpaling padanya.
"Golongan darah kamu A?" tanya Cakra yang berada di dekatnya dengan menatapnya ngga percaya.
"Iya." Hati Dewan masih bergetar, ngga nyangka kalo Rihana memiliki golongan darah yang sama dengannya.
"ikut saya, Pak," kata suster itu sambil berjalan di depan Dewan.
"Ya," sahut Dewan sambil mengekori dengan perasan jedag jedug ngga menentu.
Aku bukan papanya, kan?
'Aku ikut," kata Cakra sambil menjejeri langkah Dewan. Ngga disangka Dewan memiliki golongan darah yang sama dengan adiknya. Juga putrinya. Kebetulan yang sangat menguntungkan.