
Xavi membantu Daiva menyimpan semua belanjaannya di bagasi dan jok belakang mobil.
"Mana?" tanya Xavi sambil mengulurkan tangannya setelah semua barang barang belanjaan Daiva tersimpan.
"Apa?" tanya Daiva ngga ngerti.
"Kunci mobilmu," senyum Xavi terlihat sangat memikat di mata Daiva.
"Daiva.... Kunci mobilnya," senyum Xavi tambah melebar dengan tangan masih tetap terulur.
"K Kunci?" gugup Daiva menjawab. Tapi tangannya menyerahkannya juga walau bingung. Tapi wajahnya merona karena ketahuan menatap laki laki penuh pesona ini.
"Buat ngantar kamu pulang," ucap Xavi sambil membukakan pintu mobil buat Daiva.
Daiva menatap Xavi lagi dan menurut ketika melihat laki laki ini menganggukkan kepalanya.
Xavi menutupnya dengan hati hati. Kemudian dia berjalan cepat memutari bagian depan mobil.
"Langsung pulang nona muda?" tanya Xavi seolah bertingkah seperti supir membuat senyum Daiva merekah.
Rasanya sangat sulit untuk bersikap ngga ada apa apa di antara mereka. Tapi Xavi tampaknya sedang berusaha keras untuk mengusir kecanggungan itu.
Saat mobil melaju, Xabi meraih tangan Daiva, menggenggamnya erat.
Aliran hangat memenuhi setiap arterinya hingga ke jantung dengan pompaan yang bertambah kencang.
Daiva menatap Xavi yang fokus ke depan dengan satu tangan saja untuk mengendalikan stirnya.
"Aku tampan, ya," ucapnya tanpa menghilangkan fokusnya ke depan jalannya.
Daiva mengulum bibirnya dengan wajah kembali merona. Hanya menjawab di dalam hati.
Ya. Sangat tampan.
Kembali remasn lembut terasa di tangan Daiva membuatnya semakin ngga tenang. Rasa rindunya yang kian menggebu serasa ingin meledak di dalan rongga dadanya.
"Kabar Zerina gimana?" Daiva mencoba mengalihkan topik pembicaraan ke arah yang akan membuatnya melihat kenyataan pahit, terbentang di depan mereka.
"Baik," jawab Xavi datar. Tapi remasan tangannya tetap ngga berhenti dilakukannya.
"Kamu ngga ada kabarnya," ucap Daiva pelan. Seperti protes. Tapi kemudian mengalihkan wajahnya ke arah lain ketika melihat laki laki itu mendadak menoleh menatapnya dengan tatapan dan senyum lembutnya.
"Merindukanku?" kerling Xavi menggoda.
"Ge er," elak Daiva dengan wajah kian panas.
Salahnya mengatakan hal tadi. Laki laki ini bisa salah paham, celanya dalam hati akan kebodohannya.
Xavi malah memperdengarkan tawa renyahnya.
Daiva merasa dirinya semakin terpuruk karena dia merindukan suara tawa itu.
"Aku sibuk," jawabnya setelah tawanya reda.
Ya, sibuklah. Udah punya istri, batin Daiva menjawab lugas.
Tinggal dirinya yang kesepian dan merindukan suami orang tiada henti. Ngga tau kapan perasaan ini akan hilang.
Daiva tersiksa. Dia bukan perempuan perebut suami orang. Dia juga sudah berusaha membuangnya. Tapi sangat sulit. Apalagi mereka bertemu lagi di saat dia belum mempersiapkan dirinya untuk bisa move on. Daiva masih terpenjara dalam perasaan yang ngga mungkin dia ungkapkan.
Zerina pasti akan membencinya jika tau kalo suami dan temannya sedang bertemu saat ini
Tapi dia bisa apa untuk mencegah perasaabln liar ini. Hanya bisa meredamnya saja agar ngga sampai mencuat ke permukaan.
Tanpa Daiva sadari, Xavi mengawasi ekspresi sendu wajahnya.
Xavi ingin mendekap wajah itu ke dadanya. Menghadiahinya kecupan kecupan lembut dan mengatakan kalo dia beneran sibuk demi menahan rindu padanya.
Xavi menghembuskan nafas kasar.
Dua bulan lagi. Tunggulah. Setelah itu kita akan bersama, tekatnya dalam hati.
Zerina sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik sebagai seorang istri. Tapi hatinya ngga bisa terus terusan berbohong. Xavi sudah ngga bisa menahannya lagi. Perasaan ini seakan menunggu di sulut saja untuk bisa meledak.
"Bagaimana kabar kamu?" Sedari tadi mereka bertemu, Xavi lupa menanyakan kabar gadis itu.
"Aku baik." Ada niat untuk bertanya balik, tapi Daiva sungguh sungkan.
"Aku senang mendengarnya. Kamu ngga bertanya kabarku?"
Hening.
"Gimana kabar kamu?" tanya Daiva lembut setelah terdiam tadi.
"Buruk."
Keduanya saling tatap karena kebetulan mereka terjebak di lampu merah.
Suara klakson mobil dan motor memutus tatapan keduanya. Xavi kembali fokus ke depan.
Hening.
Sunyi.
Ngga ada pembicaraan lagi sampai akhirnya mobil yang dikendarai Xavi berhenti di dekat pintu gerbang rumahnya.
"Oke, aku sudah tenang karena kamu sudah berada di depan rumah kamu. Aku pergi," ucap Xavi lembut.
Kemudian mengangkat jemari Daiva yang sejak tadi ngga pernah dia lepas. Di kecupnya dengan sangat lembut. Penuh perasaan rindu yang seakan hendak Xavi salurkan.
Mata Daiva memanas menatap kepergian laki laki itu. Rupanya mobilnya mengikuti mobil Daiva dan kini sudah melajukannya. Benar benar meninggalkannya.
Air mata Daiva tumpah seketika. Pertahananbya runtuh. Dia menangis sejadi jadinya sambil menutup wajahnya dengan dua tangannya.
Sementara Xavi yang merasa perasaannya ngga enak, meminta asistennya memutar balik mobilnya ke arah dia meninggalkan Daiva tadi.
Dan benar saja mobil itu masih berada di sana.
Dengan perasaan ngga menentu, Xavi keluar dari mobilnya dan mengetuk kaca mobil Daiva.
Daiva terkejut melihat sosok Xavi yang berada dibalik kaca mobilnya. Seakan meminta masuk.
Dia langsung gugup luar biasa. Mana pipinya sudah sangat basah dengan air mata yang masih terus mengalir.
Tapi ketukan Xavi semakin keras membuat Daiva ngga ada pilihan selain mengijinkan laki laki yang sudah membuatnya menangis seperti anak kecil ini, membiarkannya masuk.
Tanpa membuang waktu Xavi membuka pintu mobil Daiva yang sudah ngga kekunci lagi, menutup pintunya.
Matanya menatap lekat pada wajah yang masih saja meneteskan air mata di depannya.
Tanpa kata Xavi meraihnya, dan seperti khayalnya tadi, mengecup keningnya perlahan dan mendekap erat di dadanya.
Sama seperti Daiva yang kembali menangis, Xavi juga mengusap bulir air matanya yang mengalir perlahan melewati pipinya.
Dia merasa sangat nyaman saat Daiva ada di dekatnya. Membiarkan waktu berlalu demi menuntaskan rindunya yang ngga pernah usai.
*
*
*
Fathan menatap prosposal dan gadis yang sedang berada di depannya. Akhirnya mereka bertemu lagi.
Fathan sangat sibuk menghandle pekerjaan Alexander selama adiknya berbulan madu, hingga belum ada waktu untuk mengevaluasi perasaannya yang sempat tercipta saat bersama Nidya saat itu.
Nidya juga bingung dengan dirinya. Kenapa dia merasa canggung saat berada di depan Fathan. Padahal saat bersama Daniel dia bisa bersikap judes seperti biasanya.
Tiba tiba dia ingat kembali kejadian yang sempat memberikan warna lain di hatinya dengan Fathan. Sudah cukup lama berlalu.
Tapi kenapa sekarang dia bisa merasakannya lagi?
"Ku kira sepupu atau kakakmu yang akan datang," ucap Fathan berusaha mengurai kecanggungan di antara mereka.
"Mereka lagi sibuk," jujurnya menahan kesal. Seenaknya saja menyuruhnya menemui Fathan demi mereka bisa makan siang bersama kekasih kekasihnya.
Kalandra akan makan siang dengan Adriana. Begitu juga Emra, akan mengunjungi mantan tunangan Kalandra yang sudah jadi kekasihnya baru baru ini.
Emir dan sepupunya yang lain sedang meninjau proyek. Jadi dia lah yang dianggap ngga punya pekerjaan hingga dihibahkan tugas ini.
Fathan menatap jam yang melingkar di tangannya
"Ku traktir makan siang?" tawarnya agar suasana mereka bisa kembali ringan seperti dulu.
"Boleh," sahut Nidya cepat. Dia cukup merasa sesak karena berdua saja dengan Fathan di ruangan laki laki ini.
"Oke," senyum Fathan lega kemudian mengambil tas kecilnya dan berjalan ke arah Nidya.
Nidya juga balas tersenyum dan ikut melangkah di samping Fathan.
Mereka berjalan dalam diam. Apalagi saat ini hanya berdua saja di dalam lift. Semesta sepertinya sengaja memberikan mereka kesempatan untuk terus saja berdua tanpa gangguan. Tumben saja Daniel ngga muncul, yang selalu membuat darah tinggi Nidya naik.
Fathan melirik sosok ramping yang pernah atau masih mencintai(?) adiknya Alexander dengan dada tiba tiba berdebar.
Sangat cantik, batinnya memuji. Hebat sekali adiknya ngga goyah. Tapi mengingat dengan Aurora yang kecantikannya ngga jauh beda pun, Fathan jadi kagum pada kesetiaan adiknya yang sangat besar pada Rihana.
■
■
NT lg err kynya. Antagonis girl udh dikirim sejak tadi malam, jam 8 an.... Tp masih belum lolos review🙏