NOT Second Lead

NOT Second Lead
Kenyataan yang baru Dewan ketahui



"Alexander!" seru Herdin kaget ketika melihat Alexander hampir terjatuh karena tersandung salah satu sisa potongan pipa.


"Lo kenapa? Kayak ngga fokus gitu," tukas Herdin sambil mendekat.


"Hape gue lowbat, gue juga ngga bawa power bank," kata Alexander sambil menghembuskan nafas kesal. Jantungnya gedebak gedebuk membuat dadanya terasa sakit.


Seperti sudah terjadi sesuatu pada Zira. Alexander benar benar ngga tenang. Tadi pun dia hanya fokus dengan ponsel, sampai ngga melihat potongan pipa yang melintang di depannya. Terlalu memikirkan bagaimana keadaan Zira-nya sekarang.


Ngga seharusnya dia begini. Siang ini fokus kerjanya sudah hilang, kepikiran terus dengan Zira. Apalagi tadi Zira seperti mengirimkan pesan untuknya di nafas terakhir batrenya.


Kembali Alexander menghembuskan nafas kesal campur khawatir.


"Nih, telpon Rihana pake ponsel gue. Ponsel lo di charge dulu," kata Herdin sambil mengulurkan ponselnya.


"Makasih," sahut Alexander sambil menyimpan ponselnya dulu di saku dan menerima ponsel Herdin.


Tapi Herdin kembali menangkap wajah gusar di wajah Alexander.


"Kenapa?"


"Ngga diangkat. Apa lowbat juga?" tanya Alexander frustasi sambil melihat wajah sahabatnya dengan aura kusut.


"Lo punya nomer telpon temannya ngga?" tanya Herdin memberikan alternatif.


"Nggak!" sergah Alexander gusar. Marah pada dirinya sendiri kenapa ngga menyimpan nomer temannya Zira. Dia pun menggusar rambutnya kesal.


Jantungnya seakan direm@s dengan sangat kuat. Rasanya benar benar ngga nyaman.


Alexander pun menepi. Berjalan pelan ke arah kantor sementara yang tersusun dari beberapa kontainer. Batre ponsel ini harus segera terisi. Dia harus segera mendapat kabar dari Rihana. Atau dia bisa celaka karena ngga akan pernah bisa berkonsentrasi di lapangan saat ini.


Herdin terdiam, memahami kegusaran Alexander.


*


*


*


Dewan dan Cakra bertemu dengan Alena yang bersama Emir dan Kalandra yang baru saja keluar dari ruang transfusi.


"Mau kemana?" tanya Alena pada suaminya heran


"Rihana butuh darah lagi."


"Masih kurang, Om?" tanya Emir kaget.


"Iya."


"Trus bagaimana?" tanya Alena panik dengan mata berkaca kaca.


"Darahku lagi aja, Om. Aku masih kuat," kata Kalandra cepat tanpa pikir panjang.


"Aku juga masih kuat," tambah Emir menyambung.


DEG DEG DEG


Kenapa mereka begitu rela berkorban untuk Rihana? Gadis itu punya hubungan apa dengan keluarga Om Airlangga?


Dewan menatap penuh tanya pada Cakra


"Ngawur. Sudah sana ke kantin. Makan yang banyak. Om Dewan yang akan membantu," kata Cakra dengan senyum tenang.


"Golongan darah, Om, A?" tanya Emir kaget campur lega.


"Iya."


"Syukurlah," respon Kalandar juga lega.


Sesak di dada ketiganya seakan lenyap, seolah raib di bawa angin.


"Dewan, terimakasih," kata Alena penuh syukur.


"Iya, Om. Makasih,'" tukas Emir dan Kalandra berbarengan.


"Sama sama."


"Alena, kamu temanin anak anak, ya," titah Cakra.


"Ya, Bang."


Cakra dan Dewan pun masuk ke ruang transfusi darah.


"Apa hubungan Rihana dengan kalian? Ohya, aku baru tau kalo Puspa cucu Om Airlangga. Dia anakmu?" tanya Dewan saat suster sedang mempersiapkan perlengkapan.


"Puspa anak Wingky."


"Ooo. Kalo Rihana?"


Cakra menghela nafas panjang.


"Kami baru tau beberapa hari ini kalo dia anak adikku, Dilara."


"Anak Dilara?" kaget Dewan. Dia pernah dengar kalo adik bungsu mereka menghilang dari papanya. Tapi Dewan belum pernah bertemu. Dewan satu angkatan dengan Akbar. Kalo kakaknya dengan Cakra.


Walaupun papa dan mama mereka ternyata sudah kenal lama, Dewan baru mengenal mereka di saat akhir kuliahnya di Jerman. Apa lagi hubungan Papa papa mereka cukup aneh.


"Tenang, Pak," kata perawat juga kaget saat Dewan agak menyentak tangannya tanpa dia sengaja.


Tentu saja pengakuan Cakra menimbulkan kekagetan hebat dalam dirinya.


Hilangnya Dilara sudah sangat lama. Tapi mengapa Dilara ngga ada di sini?


Karena tadi yang diliharnya hanya istri istri anak Om Airlangga saja.


Ngga mungkin sebagai mamanya, Dilara ngga datang.


Dewan jadi ingat istrinya yang juga suka menelantarkan putri mereka karena kegiatan sosialitanya dengan selalu piknik ke luar negeri.


Apa Dilara juga seperti itu?


Kini mereka saling diam, sampai proses transfusi darah selesai.


"Dilara mana? Aku ngga melihat perempuan lain selain istri istri kalian," tanya Dewan sambil menekan kapas alkohol di bekas tusukan jarum suntiknya.


Cakra terdiam cukup lama sampai Alexander akhirnya bangkit berdiri.


Dia terkejut melihat wajah sedih Cakra yang sangat dalam


"Dilara sudah meninggal," katanya dengan suara bergetar. Ada kepedihan di sana.


Dewan ngga jadi melangkah. Dia mematung.


Meninggal? batinnya mendadak merasa hampa. Dia teringat dengan gadis itu dan putrinya.Harapannya mereka baik baik saja dimanapun mereka berada. Dia mungkin bisa gila kalo gadis itu dan putrinya juga meninggal.


"Tante ngga apa apa?" tanya Dewan hati hati.


"Mama sempat pingsan. Untunglah jantungnya masih kuat. Kami masih punya Rihana, itu yang masih kami syukuri. Walau dalam hatiku ngga bisa terima adikku meninggal dalam kepahitan dan disia siakan laki laki sialan itu," kata Cakra demgan suara berubah geram. Dia marah. Sangat marah.


DEG DEG DEG


Jantung Dewan berdetak kencang lagi saat mendengar nada kemarahan yang membara, tersimpan dalam suara Cakra yang masih tetap berusaha terdengar tenang.


Dia tau, sebagai kakak, Cakra dan dua adiknya pasti akan emosi jika adik bungsu perempuan mereka diperlakukan seperti itu. Dihamili, hilang dan setelah sekian lama baru diketahui sudah meninggal.


Dewan tau, nasibnya pasti sama dengan nasib papa Rihana. Dia akan dibenci keluarga gadis itu. Mungkin saja akan dibunuh, minimal dibuat babak belurlah.


"Ngga disangka, ya, golongan darahmu A rhsesus negatif. Kami sangat beruntung."


Dewan hanya menganggukkan kepalanya dengan pikiran mulai goyang lagi.


Ini terlalu kebetulan. Gimana kalo Rihana benar putrinya? batinnya resah.


"Ohya, maafkan soal kerjasama yang ngga berlanjut. Kami marah padamu karena menempatkan Rihana di lapangan," jujur Cakra kemudian tersenyum lebar.


"Jadi karena itu." Dewan pun juga tersenyum lebar. Memang waktunya pas banget. Dia bisa memahaminya


Lagi pula dia juga salah, telah sewenang wenang pada karyawan kontraknya hanya karena perasaan sentimentilnya saja.


"Aku juga minta maaf, ya. Aku ingin menjauhkan Rihana dari Alexander demi putriku," ganti Dewan yang mengaku secara jujur.


"Aku maafkan. Lagian pertolonganmu kali ini akan susah kami balas," senyum Cakra tulus.


Dewan pun tersenyum ngga kalah tulusnya.


"Kami baru tau juga hubungannya dengan Alexander. Rencananya Rihana mengundang Alexander dan keluarganya ke rumah mama. Tapi ngga disangka ada kejadian ini. Padahal mama sudah mempersiapkan semuanya dengan matang," cerita Cakra dengan nada sedih.


Dewan menyimpan keterkejutannya.


Apas sahabatnya itu belum tau keluarga mama Rihana ?


"Alexander sudah tau kalo Rihana cucu Om Airlangga?"


Cakra menggelengkan kepalanya.


"Belum. Rencananya kejutan Gitu kata Puspa. Rihana sebenarnya belum siap mengenalkan kami. Mungkin dia juga masih shock saat tau kebenarannya."


Pantas, batin Dewan. Sahabatnya masih mencari cara agar Alexander ngga datang dan tetap bertunangan dengan putrinya.


"Maaf, ya, kalo itu menyinggungmu dan putrimu," tukas Cakra agak sungkan melihat keterdiaman Dewan.


Dewan tersenyum lagj.


"Cinta ngga bisa dipaksa."


"Terimakasih."


Kembali keduanya melangkah dalam diam.


"Setelah ini apakah kalian akan menarik Puspa dan Rihana dari perusahaanku? Mereka berdua lolos berdasarkan kemampuan mereka sendiri," ujar Alexander memecah kesunyian.


"Beberapa hari yang lalu sudah ditawarkan Mama. Apalagi setelah kamu menempatkan Rihana di lapangan. Mama kembali meminta mereka pindah. Tapi Rihana menolak karena Puspa ingin bertahan sebulan lagi. Tapi mungkin setelah Rihana sembuh, mereka berdua akan segera keluar dari perusahaanmu," kata Cakra terus terang.


"Oke kalo begitu. Cuma yang agak aneh, kenapa Puspa mau bekerja di perusahaanku, ya. Padahal dia mengikuti serangkaian test."


Cakra tertawa kecil mendengarnya.


"Mungkin dia mau menunjukkan kemampuannya pada sepupumya yang laen."


Dewan pun ikut tertawa mendengarnya.


"Tapi itu mungkin sudah jalannya. Kalo Puspa ngga berada di perusahaanmu, ngga tau kapan lagi Rihana akan ditemukan," kata Cakra dengan nada getir setelah tawanya reda


Dan tau kalo adiknya sudah meninggal.