
Xavi menahan marahnya saat dia sedang berjalan keluar dari bandara internasional bersama mama, papa, dan Zerina di hadang para pencari berita
Dia menatap wajah Zerina dan papanya yang juga nampak terkejut dan beralih pada mamanya yang lebih tenang.
Kini sudah hampir sembilan bulan Xavi menikahi Zerina. Dan sudah mengultimatun mamanya akan keinginannya untuk berpisah dan menikahi Daiva setelah Zerina melahirkan.
Dia tau ini pasti murni rencana mamanya tanpa melibatkan Zerina.
Dia yang tanpa curiga mengiyakan saja saat mamanya memutuskan untuk pulang kampung.
Tapi apa yang dia dapat?
Mereka pun dicecar banyak pertanyaan.
Mamanya dengan entengnya mengatakan kalo dirinya sudah menikah dengan Zerina.
"Menantu saya sedang hamil." Dan bla bla bla.
Para pewarta pun semakin intensif bertanya dan mamanya dengan senang hati menjawabnya.
"Sabar. Nanti papa akan bicara pada mamamu," bisik Papanya saat melihat aura ngga nyaman Xavi.
Bagi dirinya sebagai seorang papa, sekarang sudah mulai mengerti dan memaklumi. Dan sudah cukuplah pengorbanan Xavi. Lagi pula Xavi ngga akan berlepas tangan untuk anak Aiden. Hanya rasanya mungkin sekarang putranya sudah sangat lelah.
Xavi ngg menjawab. Dia pun ngga meladeni pertanyaan para pewarta.
Zerina yang selalu digamit lengannya oleh mamanya, nampak sering tersenyum dan mengangguk. Sesekali dia memberikan jawaban singkat akan kehamilannya.
Xavi sudah muak melihatnya. Tapi usapan lembut papanya di lengannya membuatnya mencoba untuk tetap bersabar.
Papanya mengerling ke arah istrinya yang ngga henti hentinya mengumbar senyum dan tawanya.
Melihat keceriaannya membuat hatinya juga ikut senang. Tapi terselip juga perasaan sedih melihat kekecewaan di raut wajah Xavi.
Dari kecil Xavi selalu berkorban untuk Aiden. Tapi tidak sekali pun Xavi merasa kesal dan marah. Dia sangat menyayangi adik kembarnya yang memang selalu dimanjanya. Karenanya Xavi sangat terpukul begitu Aiden meninggal. Apalagi kematiannya ngga wajar.
Tapi kini pengorbanan Xavi bukan dari lubuk hatinya lagi. Tapi karena tuntutan mamanya membuatnya harus patah hati untuk satu satunya perempuan yang sudah membuatnya jatuh cinta setengah mati.
Padahal Xavi sudah menawarkan pada mamanya untuk kehidupan yang layak bagi Zerina dan anak Aiden.
Tapi mamanya memaksanya dengan pernikahan yang ngga dia inginkan.
Xavi hanya ingin menikah dengan Daiva, tapi dirinya dan istrinya yang saat itu masih dirundung duka atas kepergian Aiden yang begitu tiba tiba menolak mentah mentah keinginan itu.
Tapi sekarang papa Xavi akan melepaskan tanggung jawab Xavi atas apa pun perbuatan Aiden.
Mulai sekarang dirinya akan mendukung keinginan Xavi, putanya yang selama ini selalu menjadi anak yang baik, pekerja keras, rela berkorban dan bertanggung jawab.
Tapi kini atmosfirnya mendadak berubah aneh dan mencekam karena salah satu perempuan pencari berita menyampaikan kabar tentang Aurora yang sudah melahirkan.
Wajah mamanya mengeras karenanya.
"Dia bukan cucu saya!" Wajah Mama Xavi yang tadi ceria berubah mengeras.
Sunyi.
"Katanya nona Aurora akan dibebaskan dalam waktu dekat," usik pencari berita itu.
"Itu ngga akan terjadi," tukas Mama Xavi geram.
Zerina mengusap lembut lengan mama mertuanya untuk menyabarkannya. Walau dalam hati dia senang karena mama mertuanya ngga melepaskan Aurora.
Gadis itu kalo bisa selamanya di dalam penjara. Hanya itu hukuman yang tepat untuknya selain hukuman mati, batinnya dalam hati dengan perasaan dendam yang amat sangat.
Papanya yang melihat situasi mulai memanas dan ngga ingin istrinya tambah melantur lagi, memberi isyarat pada para pengawalnya agar merapatkan barisannya.
Dirinya pun langsung menggandeng tangan istri untuk segera pergi ke mobil mereka yang sudah menunggu.
Xavi juga mengikuti tanpa bicara sepatah kata pun. Ekspresi ya masih terlihat kaku dan ngga bersahabat.
*
*
*
TOK TOK TOK
Tanpa menunggu jawaban Xavi langsung memutar handle pintu kamar mama dan papanya.
"Apa pun yang mama lakukan, aku tetap akan menceraikan Zerina setelah dia melahirkan," tegas Xavi sambil duduk di pinggiran ranjang mamanya.
Wanita yang melahirkannya itu sekarang sedang duduk di meja riasnya, dengan aktivitas membersihkan wajahnya.
Xavi juga mendengar suara kran dari kamar mandi.
"Dan menikahi Daiva," sambungnya lagi.
"Terserah kamu saja. Pasti kalian akan langsung dihujat. Terutama Daiva." Sengaja mamanya menekankan suaranya pada nama Daiva.
"Ma.....," erangnya frustasi. Ngga mungkin dia membiarkan Daiva menjadi bulan bulanan netijen yang sangat mengerikan kalo sudah mencela.
Xavi menghela nafas kesal. Dia berusaha sabar dan memahami perasaan mamanya yang masih belum bisa melupakan kesalahan fatal Aurora.
Tapi apa hubungannya dengan Daiva. Gadis kecintaannya itu malah ngga tau apa apa.
Karena hubungan darah mereka hanya sebagai sepupu saja yang membuat langkahnya menjadikan Daiva istrinya terganjal.
Tapi Xavi merasa yakin Daiva tetap jodohnya walau harus melalui jalan berliku.
Dia pun berterima kasih pada adik kembarnya yang sudah tiada, karena bisa mengenal Daiva akibat perbuatannya bastardnya.
"Ingat Xavi, mama ngga akan pernah memberi restu jika kamu nantinya tetap menikahi Daiva," tegas mama Xavi menohok.
Ngga akan pernah, batinnya lagi.
"Aku mencintai, Daiva, Ma. Aku minta maaf karena sudah menyakiti hati mama," ucap Xavi perlahan.
Sudah habis rasanya kosa katanya saat ini untuk mendebat lagi perkataan mamanya.
Selama ini dia sudah menjadi anak penurut. Ngga pernah sekali pun membantah keinginan mamanya.
Karena itu Xavi sangat berharap untuk kali ini saja agar mamanya mau mendengarnya. Baru kali ini dia menyuarakan keinginannya.
Tapi rasanya harapannya memang ngga mungkin akan dikabulkan mamanya. Karenanya Xavi memilih keluar dari kamar mamanya.
Langkahnya terasa gontai diiringi tatapan mata sedih mamanya pada punggungnya.
Maafkan, mama. Mama ngga bisa membiarkan kamu bersama Daiva.
Dia sangat berharap dengan adanya pernyataannya pada media bisa menghambat langkah Xavi.
Karena dirinya sangat mengerti hati Xavi-putranya itu terlalu baik dan lembut. Ngga mungkin dia akan membiarkan Daiva dicela habis habisan. Pasti Xavi akan mundur dari keinginannya akan Daiva.
*
*
*
Zerina mendengar dengan cukup jelas pembicaraan suaminya dengan mertuanya.
Tapi begitu mendengar langkah Xavi, Zerina juga beringsut pergi.
Jantungnya masih berdebar ngga beraturan. Hatinya sangat sakit mendengar suaminya masih menyebut nama temannya dulu-Daiva.
Dia akan menikahi Daiva? batinnya ngga terima.
Kenapa ngga ada laki laki yang tulus mencintainya?
Dulu Aiden meninggalkannya. Kini Xavi.
Apa yang salah dengan dirinya.....
Kapan dia bisa mendapatkan cinta sejatinya.
Bahu Zerina terguncamg karena isakannya yang terdengar sangat menyedihkan.
*
*
*
Hendy menatap datar pada sahabatnya-Dewan, yang mengunjunginya tanpa pemberitahuan.
Dia yang sedang memeriksa segala laporan, terkejut melihat kehadirannya.
Dari wajahnya yang mengetat, Hendy tau kalo Dewan sedang menahan marahnya.
Pasti sahabatnya sudah mengetahui livemya kemarin.
"Hendy, aku berharap kamu masih menganggapku sebagai temanmu," sentaknya dingin.
Hendy-Papa Xavi menghela nafas panjang.
Dia tau arti dari ucapan sahabatnya yang mengandung ancaman.
"Tentu," sahutnya dengan tatapan penuh makna.
Dewan-Papa Rihana dan Aurora hanya mendengus mendengar jawaban Hendy.
Di rongga dadanya masih bergelayut perasaan mangkel dan geram kemarahan yang sangat luar biasa.