NOT Second Lead

NOT Second Lead
Pernyataan Cinta Emir



"Tante, Om," sapa Emir begitu sudah membuka pintu.


Perhatian ketiga orang di dalam teralihkan pada ketiga orang yang baru masuk.


"Emir," sapa mami Hazka dengan senyum lebar. Dia melirik jenaka pada Kamila.


"Kamu di sini?" sapa Papi Hazka heran tapu dengan bibir tetap mengembangkan senyum.


"Maaf, Om, tante, aku baru tau," sapa Emir sambil menjabat tangan sahabat orang tuanya.


"Ngga apa. Om dan tante sudah terlalu merepotkan Kiran. Masa harus merepotkan kamu juga," tawa Mami Hazka membuat senyum di bibir Kirania terbit.


Hazka hanya mencebikkan bibirnya. Ngga disangkanya Emir ada di sini. Dia melirik perempuan cantik yang berada di samping Emir, yang tangannya digenggam oleh Emir.


Pacarnya? decihnya dalam hati .


"Siapa gadis cantik ini, Emir? Sepertinya dekat dengan kamu, ya," goda Mami Hazka yang diiringi senyum Papi Hazka juga.


"Calon istri," sahut Emir dengan senyum penuh makna.


Wajah Kamila makin merona mendengarnya.


Laki laki ini padahal belum mengatakan perasaannya padanya. Tapi dia sudah mengumumkan kemana mana, kalo dia kekasihnya lah, calon istrinya lah, omel Kamila dalam hati antara malu dan senang.


"Cihuuuiii, kalo yang laennya dengar pasti senang, nih," seru Kirania senang sambil bergayut manja di lengan Emir yang terkekeh. Papi dan mami Hazka pun tergelak.


"Berarti tinggal kamu satu satunya dong, yang jomblo," kekeh Hazka membuat tawa dan wajah senang Kirania menyurut.


"Aku memang ngga buru buru," kelitnya dengan pelototan matanya.


Hazka tergelak. Rasanya sudah sangat terbiasa mendapat pelototan gadis itu.


Tanpa keduanya sadari mami dan papi Hazka saling pandang penuh arti.


'Gimana kalo kalian papi jodohkan saja. Sepertinya cocok."


"Ngga pi," tolak Hazka cepat. Dia seperti mendengar suara petir yang menggelegar di dekat telinganya.


Ngga mungkin dia bisa hidup satu rumah dengan gadis galak ini, batinnya menyangkal.


"Aku juga ngga mau, Om. Hazka tuh manja. Sama jarum aja takut," tolak Kirania seraya mengungkit kelemahan Hazka.


Hazka tentu kesal mendengar kata kata setelah penolakan Kamila tadi.


Bertambah lagi yang tau, kan..... Emir dan pacarnya, dengus Zoya kesal membathin.


"Kamu.....," sungut Hazka kesal.


"Aku setuju, Om," sahut Emir sambil mengedipkan sebelah matanya pada adik sepupunya yang langsung manyun.


Kamila tertawa melihatnya. Dia jadi iri melihat betapa manjanya Kirania pada Emir. Padahal hanya sepupu.


Dia dengan kakak laki lakinya saja agak kaku karena jarang ketemu.


Kakak laki lakinya memang sudah dipersiapkan jadi tentara sejak kecil. Bahkan sejak SMP pun dia sudah masuk asrama, hingga kuliah.


Sekarang pun kakak laki lakinya sedang ditugaskan PBB untuk misi perdamaian. Semakin sedikit quality time mereka berdua.


"Tante juga setuju. Rasanya tante perlu nemuin mami Kiran, nih," canda Mami Hazka tapi kedengaran cukup serius.


"No, mami," tolak Hazka cepat. Firasatnya mengatakan kalo maminya serius, bukan sekedar omongan biasa.


"Kiran sangat telaten merawat kamu, sayang," bujuk Mami Hazka membuat mereka semua tergelak minus Kirania dan Hazka yang nampaknya sudah mati kutu, ngga tau lagi caranya bilang tidak mau.


Setelah cukup lama berbasa basi, Emir pun pamit bersama Kamila dan Kirania.


"Kak Emir, aku ngga bisa. Hazka terlalu manja," rengek Kirania setelah agak jauh meninggalkan ruangan Hazka.


Emir tersenyum penuh arti.


"Tante hanya bercanda. Kalo pun serius ngga akan dalan waktu dekat."


"Kak Emiiir....!" rengek Kirania tambah menjadi membuat Emir tergelak. Kamila menahan tawanya karena ngga tega melihat wajah Kirania yang penuh derita.


Tapi dia setuju dengan orang tua Emir, kalo Hazka dan Kirania pasangan yang cocok. Bahkan tenaga medis yang mengetahui mereka dengan baik pun sudah menganggap mereka pasangan yang menggemaskan.


"Iya.... Tenanglah. Nggak ada yang bisa memaksa kamu," senyum Emir membuat Kirania lega.


Kalo saja itu Ansel, pasti kakaknya itu akan mendukung perjodohan ini tanpa memikirkan penolakannya.


*


*


*


Emir mengajak Kamila ke root top rumah sakit.


Kamila semakin deg degan karena genggaman erat Emir.


Mereka pun sampai di depan helikopter yang berbeda dari kemarin.


Kali ini yang membuat jantung Kamila tambah berpacu kencang, karena Emir bertindak sebagai pilot.


"Kamu bisa?" Kamila menatap Emir yang sedang memakaikannya seatbelt ngga percaya dan kagum.


"Tenanglah aku punya serifikat terbang," senyum Emir sambil mulai mengemudikan helinya.


Kamila tersenyum dengan mata berbinar ketika melihat laki laki itu begitu ahli menerbangkannya.


Matanya juga berpendar indah saat melihat ke sekitarnya.


"Ada yang mau aku katakan, Kamila," ucap Emir begitu helikopter sudah terbang dengan stabil.


Kamila ngga menjawab, tapi jantungnya berdetak keras. Dia hanya bisa menatap Emir yang fokus dan sesekali menoleh padanya.


"Jadi istriku, ya," senyum Emir sambil menatap Kamila yang masih terpana dengan wajah yang sangat merona.


"Aku janji akan sering bawa kamu terbang."


Kamila tersenyum mendengarnya.


"Tapi..... kamu baru mengenalku," ucap Kamila grogi dengan jantung yang berdetak.sangat kencang.


"Setelah menikah kita akan lebih saling mengenal"


Kamila ngga menjawab. Dia terlalu gugup. Tapi jantungnya berdebar semakin ngga menentu. Ada senyum yang berusaha keras dia sembunyikan.


"Aku anggap diammu artinya mau jadi calon istriku," goda Emir membuat Kamila makin ngga mau menatap Emir.


Pipi Kamila memanas tapi senyumnya ngga pernah hilang dari bibirnya.