
"Aku gagal, ya, ma?" tanya Aurora pelan ketika mamanya Irena menjenguknya.
Irena ngga menjawab. Ngga ada tanggapan apa pun dari suami dan mama Alexander akan permintaannya untuk menunda pernikahan menyebalkan ini.
Mereka sepertinya ngga terpengaruh dengan pendapat penggemar garis keras Aurora yang meminta dilakukan tes dna sebelum terjadi pernikahan itu.
Aurora menghembuskan nafas panjang.
"Aku kira bisa menunda pernikahan mereka. Padahal dukungan penggemar sangat mendominasi," ucap Aurora getir sambil memandang langit langit kamar. Dia sudah sangat putus asa. Ini adalah usaha terakhirnya.
Dia memaki kebodohannya yang teledor lupa menelan pil anti hamilnya.
Kini dia hamil anak laki laki bajingan itu. Entah apa yang akan dikatakannya pada anaknya nanti tentang papanya.
Apa dia sanggup mengandung anak itu sampai sembilan bulan di penjara yang kotor itu.
Walaupun mungkin dia akan mendapatkan fasilitas yang berbeda, tapi tetap saja bukan standardnya.
"Mama akan berusaha mengeluarkanmu secepatnya dari sini," janji Irena sambil memegang lengan anaknya yang ngga diinfus. Aurora masih dirawat di rumah sakit dalam beberapa hari ke depan.
Aurora ngga menjwab. Dia merasa mamanya akan sulit melakukannya. Walaupun tekanan penggemar setianya sangat besar, tapi tetap dia ngga yakin bisa cepqt menghirup udara bebas.
Lagi pula dia ngga mau hamil anak Aiden. Kalo anak Alexander, dia akan merasa sangat bahagia
Tapi Aiden? Laki laki yang sudah merusaknya sampai parah, dia ngga akan sudi.
"Ma, bisakah aku melakukan aborsi? Aku ngga ingin anak ini," ucapnya datar, matanya masih terus menatap langit langit kamar perawatannya dengan tatapan kosong.
Irena memejamkan mata kembali, seolah bisa merasakan sakit yang ada di hati putrinya.
"Nyawamu juga bisa dalam keadaan bahaya jika kau melakukannya, sayang. Mama ngga bisa mengambil resiko kehilanganmu," ucapnya pelan dengan nada sedih
"Aku sudah ngga peduli lagi dengan hidupku, Ma," jawab Aurora dingin.
Buat apa terus hidup jika harus mendekan di balik jeruji.
Irena mentap putrinya dengan tatapan penuh rasa bersalah. Penderitaan ini harusnya miliknya.
*
*
*
"Apa keputusanku sudah benar mengabaikan permintaan Irena?" tanya Dewan setelah menghembuskan nafas panjang. Perasaan sesak menghimpit dadanya.
Papanya dan mamanya ngga menjawab. Rihana dan Aurora sama sama cucu mereka. Saat ini kedua orang tua Dewan sudah kembali ke rumah dan menghampiri putranya yang sedang merokok di teras.
Melihat banyaknya puntung rokok di asbak, mereka yakin putra mereka sudah cukup lama melakukannya.
"Jangan terlalu banyak merokok. Ingat jantungmu," kata papanya mengingatkan.
Beliau pun mengambil rokok di tangan putranya dan mematikannya.
"Bisakah kita melepaskan Aurora. Biarkan Irena membawanya pergi," kata mamanya terisak.
Itu yang ingin dia lakukan, tapi sepertinya sulit, batin Dewan sedih.
Saat ini putrinya sudah ngga mau melihatnya dan orang tuanya. Hanya Irena yang masih bisa mendekatinya.
"Kalo Aurora ngga menginginkan anak itu, biar aku yang merawatnya. Mama ingin melihat Aurora bisa tersenyum lagi," isak mamanya lagi. Suaminya memeluknya membuat tangis istrinya pecah.
Dewan menganggukkan kepalanya. Suatu hari nanti Aurora pasti menginginkan anaknya juga. Ini hanya masalah waktu. Keadaan sekarang begitu semrawut.
Dewan ngga peduli walaupun Hendy ngga menginginkannya. Anak itu masih punya kakek dan buyut. Juga tante dan om dari pihak mamanya. Dia ngga akan kesepian.
"Yang harus kita pikirkan selain mengamankan pernikahan Rihana dan Alexander, kita harus mencari cara agar Aurora bisa cepat bebas," ujar papanya.
"Aku dan Afif sudah memberikan banyak pengawal bayangan untuk mereka berdua," sahut Dewan. Dia dan sahabatnya sudah memikirkan keselamatan keduanya. Ngga lama lagi pesta pernikahan akan digelar. Dewan pun ingin memberikan yang terbaik bagi putrinya.
"Syukurlah," tukas papanya lega.
"Hendy dan keluarganya pasti ngga mau melepaskan Aurora. Putra mereka meninggal, itu sangat menyakitkan," ujar papanya dengan nada berat.
Oma Mora makin terisak. Jalan kebebasan Aurora sepertinya akan sangat sulit.
*
*
*
Malam ini Daiva kembali mengunjungi Zerina di rumah sakit. Wajah temannya itu sudah terihat segar.
"Aku ingin pulang," ucapnya ngga betah. Dia seorang pekerja keras, kini hanya tiduran saja membuat tubuhnya sangat pegal.
"Kandunganmu harus kuat dulu baru bisa pulang," sergah Daiva kalem.
"Aurora bagaimana? Bukannya dia juga hamil anak Aiden?" tanya Zerina ingin tau.
"Dia juga sekarang berada di rumah sakit kepolisian."
"Dia keguguran?" tebak Zerina dengan mata mengerjap.
"Pikiranmu jelek sekali," sindir Daiva mengejek.
"Maaf, aku rasa sepupumu itu ngga menyukai kehamilannya. Karena bukan anak Alexanser," decih Zerina sinis.
Daiva menghela nafas.
"Kamu benar. Aurora ngga menginginkan anak itu. Tapi kami bisa merawatnya dan memberikannya kasih sayang," jawab Daiva bijak.
"Kamu memang tante yang baik," senyum Zerina tulus. Dia percaya seratus persen dengan jawaban Zerina.
"Aku heran, orang sebaik kamu, kenapa belum punya pacar," ucap Zerina lagi.
"Aku ngga memberikan mereka kesempatan saja," kekeh Daiva dan Zerina juga ikut tertawa.
"Dasar," sela Zerina. Di saat sulit begini Daiva sangat menghiburnya dan selalu ada di sampingnya. Pantas saja banyak yang menyukai dan menaruh hormat padanya. Dia baik.
"Bagaimana kalo kamu sama Xavi saja?" tanya Zerina mengusulkan setelah tawa mereka usai.
"Xavi siapa?" Kening Daiva berkerut.
"Kembarannya Aiden."
"Oooh."
"Kenapa oh?" salah satu alis Zerina terangkat.
"Bukannya kamu yang lebih baik menikah dengannya?"
Zerina tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku ngga mau bermimpi lagi. Kalo pun akann menikah, aku akan mencari yang setara denganku saja. Aku ngga akan melihat yang di atasku lagi," aku Zerina pahit. Setelah Aiden mencampakkannya, dia sudah kehilangan kepercayaan dirinya.
"Ngga semua laki laki seperti Aiden. Pasti nanti kamu akan ketemu jodoh yang akan menyayangimu dan anakmu," ucap Daiva berusaha meyakinkan Zerina.
"Semoga." Zerina menatap perutnya yang masih datar.
Hening.
"Kamu mau ngga sama Xavi? Kalo mau aku akan bantu," ujar Zerina memecah kesunyian yang melingkupi keduanya.
"Mana mungkinlah. Aku ini sepupunya Aurora. Gila aja dia dan keluarganya mau besanan dengan keluargaku," kekeh Daiva ringan.
"Iyq juga, sih. Tapi kamu beda dari Aurora. Kamu tulus," kata Zerina jujur, dari hatinya yang paling dalam.
Daiva ngga menanggapi. Dia masih saja tertawa diiringi senyum lebar Zerina.
Sementara itu di luar, Xavi yang ngga sengaja menguping mengepalkan kedua tangannya erat erat. Ada kemarahan yang menggelegak dalam dadanya karena baru tau siapa gadis itu.
Sepupunya, hemm, batinnya dengan seringai sinis di wajahnya. Dikiranya hanya pegawai seperti Zerina. Ternyata sepupu pembunuh itu. Pantasan mobilnya lambo.
Xavi mengatur nafasnya agar normal kembali. Dia harus bisa bersikap biasa saat menemui keduanya nanti.