
"Adriana, masih banyak kerjaan dari kakakku?" tanya Nidya yang melihat prihatin ke arah setumpuk berkas di atas meja Adriana.
Pantasan tadi Emra nyambi bantuin.
Kakaknya profesional, ngga, sih?
Dia ngasih Adriana kerjaan sebanyak ini, apa otaknya sudah dipenuhi rasa cemburu? batin Nidya sebal.
"Lumayan, nona," jawab Adriana dengan senyum manis di bibirnya. Tadi tuan muda Emra sudah cukup banyak membantunya.
"Huh.... Apa semua ini berdekatan deadlinemya?" dengusnya sebal sambil memeriksa isi salah satu map.
"Iya nona," senyumnya lagi.
"Tapi ini masih untuk bulan depan," serunya dengan membelalakkan matanya.
Laporan ini masih bisa dipending hingga dua minggu ke depan! Kenapa harus buru buru dikerjakan?
Adriana mengulaskan senyum manisnya.
"Kata tuan muda, buat jaga jaga kalo waktunya dipercepat."
Tidak. Itu alasan Adriana saja saat sepupu bosnya Emra juga protes tadi mengenai hal yang sama.
Kalandra ngga mengatakan apa apa saat memberikannya pekerjaan ini. Hanya wajah dinginnya saja yang terlihat.
Adriana berusaha sabar. Di depan mata bosnya seakan dia punya kesalahan besar. Padahal Adriana yakin, dia melakukan tugasnya dengan sangat baik.
Harusnya dia yang marah. Karena bosnya sudah seenaknya saja menciumnya. Bukan cuma sekali. Itu pelecehan terhadap bawahan, kan.
Adriana hanya bisa bersungut dalam hati.
Apalagi tiap melihat dia bersama tuan muda Emra, wajah dinginnya semakin membekukan dirinya.
Harusnya bosnya itu bersyukur karena sepupunya selalu membantunya. Ngga seperti dia yang bisanya hanya memberikan bertumpuk tumpuk kerjaan. Adriana terus mengomel dalam hati.
Kalo tentang skandal sepupu bosnya dengan calon istrinya, itu bukan urusannya, kan, belanya dalam hati.
Siapa juga tahan memiliki kekasih sedingin itu. Bisa menggigil setiap hari pastinya. Sayangnya dirinya sudah telanjur naksir pada bos dinginnya itu.
Perempuan mana, sih, yang ngga suka melihat laki laki sukses, tampan, kaya raya, royal dan setia lagi.
Tapi bukan itu poinnya membuat Adriana merasa dia lebih dari sekadar suka pada bosnya.
Sikap melindunginya, juga mata elangnya yang kadang teduh dan lembut membuat jantungnya sering berdebar debar aneh ngga menentu jika dekat dengannya.
Mengingat lagi saat dia membalut lengan kokoh itu membuat dadanya berdesir lagi
Apalagi setelah kejadian di lift. Dia
semakin susah lepas dari pesona makhluk dingin yang suka berbuat seenaknya itu.
Adriana bingung, sebenarnya dia dianggap apa oleh bosnya.
Bosnya itu sudah dijodohkan. Calonnya juga cantik banget. Lagi pula Adriana, ingat statusmu. Kamu hanya sekretaris dari pewaris tahta konglomerat. Hatinya mencoba memberi ingat agar dia ngga terlalu berharap lebih pada Kalandra.
"Adriana! Adriana.....! Wooiii, malah bengong," seru Nidya sambil melambaikan tangannya di wajah sekretaris kakaknya yang no respon atas omelan panjangnya barusan.
"Eh.... I iya nona," kata Adriana tergagap
Apa yang dia pikirkan, omelnya dalam hati. Nona mudanya saat ini menatapnya kesal.
"Kamu ini, mikirin apa. Gara gara kerjaan segunung ini, ya, kamu jadi ngga fokus," decak Nidya sebal.
Sudah panjang lebar mengomel, malah dicuekin gitu aja, umpat Nidya dalam hati.
"Maaf, nona," sahutnya sangat merasa mgga enak hati dan juga bersalah. Ngga sengaja mengabaikan nona mudanya yang agak jutek.
"Hemm.... Laki laki yang rambutnya cepak itu siapa?" tanya Nodya setelah merasa cukup dengan basa basinya.
"Om saya, nona," jawabnya cepat.
"Om kamu?" mata Nidya sedikit berbinar.
"Iya, nona. Adik mama saya yang paling kecil," jelas Adriana lagi.
"Oooh..."
Adriana merasa heran melihat senyum hangat nona mudanya. Mata gadis itu pun berbinar seakan sudah menemukan tas branded yang dia inginkan.q
Baru dia teringat beberapa hari yang lalu para tuan mudanya membahas laki laki berambut cepak yang menjemputnya.
Teringat mereka mengira kalo laki laki itu adalah kekasihnya.
Tapi ini akan jadi rahasianya. Dia akan sedikit mengerjai kakaknya dan juga para sepupunya. Biar saja mereka bertanya padanya, dan dia ngga akan menjawab dengan benar. Memikir sampai ke sana membuat lengkungan bibirnya semakin lebar.
"Saya udah diajak tuan muda Emra, nona," tolaknya merasa ngga enak.
"Emra?" mata Nidya menyipit.
Oh, ternyata laki laki itu mulai menjalankan aksinya memanas manasi hati Kalandra, batin Nidya gemas.
"Tolak aja," ucapnya sambil menggoyangkan telapak tangannya beberapa kali di depan wajah Adriana.
"Tap.... tapi...."
Kalo sekadar makan siang, sih, ngga apa. Tapi, kalo ke salon?
Adriana menghela nafas panjang. Nonanya sepertinya melupakan pekerjaannya
"Saya sekretaris, nona. Kalo Tuan muda mencari saya, gimana nanti, nona?" tanya Adriana hati hati. Jangan sampai menyinggung perasaan nona mudanya. Bisa panjang urusannya.
"Tenang saja. Aku yang akan mengatakan pada kakakku," jawab Nidya santai. Dia punya misi kini. Ingin lebih mengenal calon kakak iparnya.
Menurutnya Adriana cukup masuk dalam kriterianya. Penampilannya sopan dan juga ngga genit.
"Terserah nona saja," ucap Adriana menyerah.
Mereka bosnya, dia bisa apa.
*
*
*
"Kamu ijin mau keluar sama Adriana?" tanya Kalandra mengulang permintaan adiknya. Sebentar lagi jam makan siang. Dia masih emosi mengingat Adriana akan makan siang dengan playboy sialan itu yang merupakan sepupunya.
"Iya."
Mata Kalandra menyorot penuh selidik.
Apa adiknya tau kalo dia sedang mengincar sekretarisnya?
Terlalu aneh Nidya bisa sebaik itu pada Adriana. Tapi hatinya lega, karena Adriana akan pergi dengan adiknya, bukan dengan Emra.
"Gimana? Jam tiga aku balik ke sini. Eh, ngga, ding. Kami ngga akan kembali ke kantor," putus Nidya cepat.
Mereka akan ke salon, pasti ngga akan sebentar, kan?
Kalandra agak melengak kaget mendengarnya.
"Trus, siapa yang membantuku menyelesaikan kerjaanku, adikku sayang," protesnya dengan senyum smirkmya.
"Sesekali jangan manja, kak," ejek Nidya sambil berkacak pinggang.
Kalandra melebarkan senyum miringnya.
"Dia mengatur jadwal jadwal kakak," jelas Kalandra tenang.
"Di cancel semuanya aja," ucap Nidya santai.
"Oke, aku pergi, ya," ucapnya tanpa butuh jawaban dari kakaknya. Dia pun berbalik pergi diiringi helaan nafas Kalandra.
Apa rencana kamu, hemm... batinnya tersenyum.
Adriana menatap Nidya yang baru saja keluar dari ruang bosnya.
"Ayo, kita pergi," ajak Nidya saat sampai di depan mejanya.
Tanpa sadar Adriana memijat kepalanya.
"Baiklah," katanya akhirnya sambil mengambil tasnya dan dengan berat hati mengikuti langkah nona mudanya.
Adriana menoleh sebentar pada pintu yang tertutup itu. Pikirannya tertuju pada laki laki dingin dan datar yang berada di balik pintu itu.
Besok besok kamu harus jelaskan kenapa nyium aku, batinnya.
Kemudian dia pun berbalik lagi dan menyusul dengan terburu buru Nidya yang sudah menjauh.
Kalandra membuka pintunya perlahan, dan dia masih sempat melihat punggung sekretarisnya itu sebelum berbelok.
"Aku memberimu libur agar kamu tambah cantik," gumam Kalandra lirih dengan lengkungan tipis di bibirnya.
"Tapi bukan untuk dia. Hanya untuk aku," lanjutnya lagi.