NOT Second Lead

NOT Second Lead
Gagal Move on.



Meeting pun berakhir. Alexander dan Herdin tersenyum puas. Hasil meeting sudah seperti harapan mereka.


Herdin menatap ponselnya lagi. Pesan yang dikirimkannya ternyata masih belum juga dibaca Puspa.


"Ada apa?" tanya Alexander sambil menatap Herdin heran. Baru saja mereka tertawa senang setelah para klien meninggalkan ruang meeting. Ngga butuh waktu lama, wajah riang itu sedikit memudar.


"Puspa, dia belum membaca pesanku," ucapnya sambil menatap lagi ponselnya. Ingin menelpon tapi ragu. Herdin merasa ada sesuatu yang salah. Tapi dia ngga tau dimana letak salah itu.


"Mungkin juga lagi sibuk," jawab Alexander menghibur.


"Kamu lagi pedekate sama Puspa?" lanjutnya lagi penuh selidik. Kini keduamya berjalan beriringan meninggalkan ruang meeting.


"Ya begitulah," jawab Herdin ragu. Dia bingung dengan hatinya. kemarin kemarin dia gencar mendekati gadis itu. Tapi kemarin malam hingga sekarang rasanya mulai datar lagi.


Terutama setelah tau apa yang terjadi pada Aurora. Sisi hatinya yang pernah memujanya bangkit lagi tanpa bisa dia cegah.


Herdin benci dengan sikapnya yang plin plan.


Kenapa hatinya selalu ingin kembali pada Aurora?


Alexander menatapnya tajam.


"Kenapa kamu berubah?"


Herdin terdiam. Dia tau ngga akan bisa menyembunyikan apa pun dari Alexander. Mereka bersahabat sejak SMA.


Herdin menghela nafas berat. Saat ini mereka sudah masuk ke ruang kerja Alexander.


"Saat melihatnya ditipu Aiden, hatiku marah. Perasaan yang ingin ku kubur mendadak bangkit lagi. Terserahlah kalo kamu mau memakiku bodoh atau apa," jelas Herdin pasrah atas respon Alexander.


Hatinya memang terlalu lemah sebagai laki laki.


Tapi sekian lama ditunggu, ngga ada kalimat judge yang diucapkan Alexander.


"Aku juga merasa kasian padanya. Aku ngga bisa melindunginya di saat dia sangat membutuhkannya. Aku merasa sudah gagal sebagai kakak yang selalu menjaganya," kata Alexander akhirnya.


Keduanya kini sama menyandarkan bokong mereka pada pinggiran meja kerja Alexander.


"Dia kecewa padaku sampai melampiaskannya pada Zira dan Aiden. Untungnya Zira berhasil selamat, tapi malang untuk Aiden," sambungnya lagi.


Herdin ngga menyahut. Dalam hati mengiyakan semua perkataan Alexander.


"Dia terlalu mencintai lo," getir Herdin berucap.


"Aku minta maaf," sahut Alexander.merasa ngga enak dengan Herdin.


Herdin tertawa hambar.


"Bukan salahmu. Dia yang ngga bisa membuka.hatinya untukku."


Keduanya saling menghela nafas panjang.


"Mungkin awalnya dia ditipu. Tapi makin ke sini, dia malah memanfaatkan Aiden dan menikmati perannya. Coba pikirkan kembali. Jangan sampai kamu menyesal kehilangan Puspa," ucap Alexander seolah memberikan nasihat padanya.


"Aku masih butuh waktu. Ngga adil juga jika Puspa menerima hatiku yang ngga utuh," jawab Herdin dengan nada berat.


"Terserah lo aja," balas Alexander ngga mau ikut campur. Yang penting dia sudah memberikan sarannya. Masalah hati memang rumit. Seperti dia sendiri yang ngga bisa melupakan Zira walaupun udah bertahun tahun ngga bertemu.


Syukurlah sekarang mereka bisa bersama. Sebentar lagi dia akan menikahi Zira. Dia sudah ngga sabar menjadikan gadis itu miliknya seutuhnya.


"Berita di sosmed makin menjadi. Sepertinya kita harus menangkap tukang kompornya," kata Herdin membuka topik pembicaraan yang lain. Dia belum mau membahas tentang hati bodohnya.


"Agak sulit juga. Aku mikirnya nanti kalo ada yang kita tangkap, akan semakin meledak beritanya. Malah memperburuk keadaan," sahut Alexander. Saat ini dia lebih memfokuskan pada persiapan pernikahannya. Yang lain lain akan ditanganinya setelah pesta pernikahannya. Atau mungkin setelah dia berbulan madu.


Herdin yang mengerti menganggukkan kepalanya. Lagi pula ngapain melayani mereka. Tidak penting juga.


Hanya masalahnya mereka semakin berani dan terang terangan. Seperti tadi, kata Alexander, aliansi pembela Aurora malah menghadang mereka. Sekarang para pengawal tiap keluarga itu sudah mensterilkan sepanjamg lokasi tadi.


"Kamu harus lebih hati hati, Lex," kata Herdin mengingatkan.


"Ya, tentu."


"Kamu mau pulang?" tanya Herdin ketika melihat Alexander mengambil kunci mobilnya di laci mejanya.


"Ya. Aku dan Rihana akan fitting gaun pengantin. Aku sudah janji akan menjemputnya," sahut Alexander dengan wajah cerah.


Keduanya beriringan berjalan ke arah pintu lift. Herdin juga harus kembali ke perusahaannya


Begitu lift terbuka di basemen, keadaan terasa cukup hening. Juga sepi.


"Orang orang pada kemana?" tanya Alexander sambil celingukan menatap ke arah parkiran yang berjejer mobil mereka berdua dan mobil mobil mobil karyawannya.


"Tumben sepi," ucap Herdin. Tapu keduanya dengan santai terus melangkah, sampai akhirnya sebuah motor melaju kencang ke arah keduanya.


Herdin segera mendorong Alexander bersamanya hingga mereka berdua selamat dari tabrakan motor tersebut.


Tapi motor itu segera berbalik. Herdin dan Alexander sudah bersiap.


Bahkan Alexander menodongkan pistol yang akhir akhir ini selalu dibawanya ke arah ban depan motor tersebut.


Pengendara motor terkesiap, ngga menyangka Alexander punya pistol. Dia berusaha berkelit, tapi tembakan Alexander yang sudah terlalu sering berlatih membuatnya ngga bisa menghindar.


DOR!


BRUG BRUG PRAK


Suara tembakan dan jatuhnya motor mengagetkan sekuriti dan para pengawal yang berjaga di ujung pintu keluar basemen.


Ngga lama kemudian, tempat itu sudah dikerubungi oleh para pengawal dan sekuriti.


Mereka pun berhasil menangkap pemotor yang jatuh itu yang ternyata laki laki yang masih lebih muda darinya. Kakinya pun terpincang pincang saat diamankan.


"Maafkam kami, tuan muda. Tuan muda ngga apa apa?" tanya kepala pengawal yang segera mendekat


"Aku ngga apa apa. Herdin, kamu terluka?"


Herdin menggelengkan kepalanya.


"Tenanglah. Aku baik baik saja," sahut Herdin sambil menepuk debu di celananya.


"Terima kasih, Herdin," ucap Alexander tulus. Jika bukan karena gerak reflek Herdin, mungkin dia sudah ditabrak motor yang melaju kencang.


"Kenapa.kalian semua berjaga di luar?" Alexander menatap heran kepala pengawal dan sekuritinya.


"Katanya ada perbaikan lift tuan muda. Para pegawai juga ngga ada yang turun karena sudah dipasang pengumuman. Tapi mengapa tuan muda berdua bisa turun?" tanya kepala.pengawal itu heran.


"Tidak.ada pengumuman apa pun," gertak Alexander menahan kesal.


Kepala pengawal.dan sekuriti saling pandang.


"Kami mendapat pengumuman dari grup perusahaan tuan muda. Katany lift karyawan rusak," lapor sekuriti itu sambil menunjukkan ponselnya.


"Apa mungkin mereka sudah meretas jaringan di perusahaanmu?" tanya Hersin curiga.


Alexander terdiam.


"Suruh Staf IT memperbaikinya," sentak Alexander geram.


Sehebat apa cyber mereka sampai bisa meretas grup karyawan perusahaannya, batinnya kesal.


"Siap tuan muda."


"Interogasi siapa pemotor itu," titahnya lagi.


"Siap tuan muda."


Alexander melihat jam tangannya. Dia bisa terlambat menemui Zira.


Alexander pun mengirim pesan pada kekasihnya, kalo dia ngga bisa datang tepat waktu karena ada tamu penting dari Singapura. Terpaksa Alexander berbohong agar Zira ngga khawatir memikirkannya.


"Tenanglah. Kita akan menyelidikinya bersama sama," kata Herdin memberi dukungan.


"Thank's."


Ngga lama kemudian terungkap kalo pemotor yang hampir menabraknya adalah anggota aliansi pembela Aurora.


Alexander memaki berulang kali.


Ada sedikit kebocoran data karyawan tapi sekarang sudah diperbaiki. Bahkan tim IT sudah menambah pengaman lagi agar sistem ngga bisa dijebol.