NOT Second Lead

NOT Second Lead
Rakyat jelata



"Hathsiiiyy..... Hathsiiiyy.....!"


"Emra! Kamu flu," seru Ansel kaget melihat Emra beberapa kali bersin. Hidungnya pun sampai memerah.


"Kamu kenapa?" heran Kalandra. Tadi sepupunya baik baik saja. Tapi sekarang malah mendadak flu.


Bersin berulang ulang tanpa henti. Kelihatannya Emra cukup tersiksa.


"Apa mantanmu sedang mengumpatmu," kekeh Daniel mengejek.


"Mungkin juga," timpal Ansel terkekeh.


Kali ini yang lain pun ngga dapat menahan tawanya. Mereka semua setuju dengan pendapat Daniel. Ngga mempedulikan Emra yang masih bersin bersin.


"Sebentar," pamit Kiara yang kasian melihat keadaan kekasihnya, Emra. Meninggalkan mejanya yang diisi kaum hawa : Puspa, Adriana, Nayara, dan Nidya.


"Iya, kak, liatin Kak Emra, ya," pinta Puspa terlihat khawatir.


Kiara menganggukkan kepalanya dan tersenyum lembut.


Dia pun mengambil inhaller yang selalu dibawanya di dalam tas.


"Coba hirup ini," ujar Kiara sambil menyodorkan inhaller nya yang langsung diterima Emra. Dia pun langsung menghirupnya.


Ada kelegaan sedikit mulai sedikit memasuki indra penciumannya.


"Aku kembali ke tempatku, ya," ucap Kiara dengan senyum manisnya. Hatinya lega karena sekarang bersin Emra sudah berhenti.


"Oke. Thank's, ay," ucap Emra sebelum Kiara pergi ke meja tempat berkumpulnya pendamping para laki laki berkualitas itu


"Ehem ehem.....,," batuk Ansel mengganggu.


"Ay, ay. Ayang, nih," ejek Daniel yang membuat senyum Emra melebar.


Setelah kejadian di aparteman yang membuatnya kesal tapi kemudian berbalik menjadi penuh cinta, Emra memanggil Kiara dengan sebutan Ay.


Awalnya Kiara memprotes tiap dia memperdengarkan panggilan mesra itu, tapi lama kelamaan terpaksa membiarkannya. Karena Emra mgga pernah bosan dan lelah tetap memanggil Kiara dengan sebutan itu di mana pun mereka berada.


Hatinya akan menyanyikan lagu cinta tiap kali lidahnya menyebut nama panggilan kesayangannya itu.


Sementara itu, dalam tertawanya Alexander sedang berpikir keras


Kenapa dia ngga kepikiran hal yang Emra pikirkan.


Selama ini dia hanya memanggil Rihana dengan panggilan lain dari namanya, Zira. Memang sudah spesial karena hanya dia yang memanggil istrinya dengan nama itu.


Boleh juga nanti dipanggil, Ay, senyumnya dalam hati.


"Apa adikku sudah jinak denganmu?" tanya Kalandra ingin tau. Saat ini dia duduk di dekat Fathan.


"Apa dia memang selalunya segalak itu?" gelak Fathan.


"Begitulah," sela Kalandra juga ikut tergelak.


"Pacar Emir .... dokter?" Alexander menatap Emra dan sepupunya ragu.


"Tau dari mana?" tanya Emra dengan mimik heran.


"Siapa yang dokter?" tanya Daniel tertarik.


"Pacar Emir. Katanya dia ngga jadi datang karena pacarnya ada operasi. Dokter, kan, biasa yang melakukan operasi," ujar Alexander sambil menunjukkan pesannya pada para sepupunya yang mendekat. Ingin melihat lebih jelas layar ponsel Alexander.


"Bisa saja polwan. Mungkin maksudnya operasi zebra," kata Kalandra memberikan pendapatnya.


"Mungkin juga. Tapi kapan Emir ketemu polwan? Apa dia pernah kena razia," kekeh Ansel ngga percaya.


Mereka pun kembali tertawa.


"Padahal aku sudah meminjamkannya heli agar dia bisa cepat datang dan cepat pulang," seloroh Fathan tergelak.


"Aku pun heran waktu dia meminjam heli. Aku merasa, kekasihnya kali ini cukup spesial," kekeh Kalandra lagi menimpali.


Kata kata Fathan dan Kalandra menarik perhatian Selina yang barusan sampai di root top restoran itu dengan teman temannya.


Dia pun sempat kaget melihat Emir. Dan lebih kaget lagi melihat seorang gadis cantik yang modis terlihat mengobrol intim dengan kekasih temannya itu.


Sayangnya dia ngga sempat memfoto atau memvideokannya. Kejadian tadi berlangsung cukup cepat.


Emir player, kah?


Tapi perkataan heli yang di dengarnya lebih dari sekali itu cukup mengganggu pikirannya.


Memang dua orang yang mengaku meminjamkan heli itu juga sangat tampan dan kelihatannya masih single.


Apa Kamila membohonginya dengan mengatakan mereka sudah menikah?


Kamila ngga mau dia jadi pemilik heli heli itu? dengusnya dalam hati.


Kasian kamu Kamila. Di saat kamu sedang serius melakukan operasi, laki laki yang kamu pikir mencintai kamu itu ternyata sedang bersenang senang dengan teman temannya dan perempuan lain, decihnya dalam hati.


Kalo laki laki itu mau bekerja sama, dia akan merahasiakan pengkhianatannya, asalkan Emir mau mengenalkannya dengan temannya yang punya heli, angan Selina mulai mengatur rencana.


"Lihat apa Sel?"


"Itu?" tunjuk Selina memberitau.


Nino menatap rombomgan yang ditunjukkan Selina.


Bibirnya tersenyum, dan melambaikan tangannya pada salah seorang laki laki tampan yang berada dalam rombongan itu. Laki laki dalam rombongan itu pun balas melambaikan tangannya.


"Kamu kenal?" Selina merasa surprise. Ngga nyangka Nino kenal dengan orang orang yang menjadi targetnya.


"Papaku dokter pribadi keluarga mereka," jawab Nino tenang.


"Keren banget. Mereka konglomerat, kan," tukas Tanto kagum. Beruntung banget jika bisa menjadi dokter pribadi keluarga konglomerat. Bayarannya pasti sangat spesial. Apartemen dan mobil mewah pasti akan cepat mereka dapatkan.


Pantasan saja Nino bisa hidup dengan sangat mewah. Pasien orang tuanya tajir melintir begitu.


"Mereka semua sudah menikah?" tanya Selina antusias. Ini kesempatannya menggali informasi dari orang yang cukup dekat dengan targetnya.


Nino pasti pernah berbaur dengan mereka. Dan cukup mengenal mereka satu per satu.


"Sebagian sudah menikah. Sebagian masih pacaran. Itu di sana pacar dan istri istri mereka," jelas Nino sambil menunjuk dengan dagunya.


"Cantik cantik, ya," puji Nadim kagum saat tau mereka lah pendamping para konglomerat itu.


"Iya, aku yang perempuan aja suka lihatnya," kata Ifa ikut memuji.


"Apalagi laki, ya," kekeh Nur menimpali sambil melihat teman teman prianya yang cengengesan.


"Kalo kita punya uang, kita pasti juga bisa secantik dan sebening itu," decih Selina meremehkan. Dia merasa kecantikannya pun bisa di sejajarkan dengan para perempuan milik konglomerat tampan tampan itu.


"Iya, sih," kata Ifa menyahuti.


"Cantik saja ngga cukup. Nasib juga menentukan," kekeh Tanto, juga diikuti yang lain.


"Betul itu," sela Ifa lagi sambil terkekeh.


Mungkin juga, batin Selina. Teringat saat Kamila yang cerita menjumpai Emir dalam momen ketaksengajaan.


Tapi dia akan membuatnya secara sengaja demi masa depannya yang cerah.


"Nino, bisa ngga kamu kenalin kita dengan mereka?" tanya Selina tanpa malu malu. Sangat to the point.


Nur yang sedang meneguk minumannya sampai batuk batuk karena tersedak.


"Kamu ngga apa apa?' Ifa menepuk nepuk punggung Nur lembut.


Nur memggelengkan kepalanya walau masih terbatuk.


Keduanya yang sudah tau selera Selina terlalu tinggi hanya saling lirik.


"Harusnya tadi Kamila ikut, ya," kata Nadim mengalihkan topik.


"Betul. Mungkin dia juga kenal," tambah Tanto juga.


Mereka pun tau tentang Selina. Sangat berbeda dengan Kamila yang memang lkeluarganya kaya raya tapi ngga sombong dan malah rendah hati.


Sayangnya saja kakeknya galak. Kalo ngga, mungkin banyak yang bakal ngantri mau jadi kekasih bahkan suami Kamila.


Hati Selina langsung panas melihat reaksi teman temannya yang seakan meremehkannya. Mereka terlalu menganggap Kamila terlalu suci. Bahkan Nino pun ngga menanggapi permintaannya.


"Laki laki yang baru didatangi cewe itu aja selingkuh dengan Kamila," kata Selina sambil mengambil ponselnya. Rencananya ingin menunjukkan foto Kamila yang sedang bersama Emir di dalam heli.


Biar mereka tau, Kamila yang mereka kirain sebaik malaikat itu adalah pelakor. Pasti mereka akan terkejut dengan kenyataan yang akan mereka lihat sebentar lagi.


"Kamu bicara apa, sih, Selin," bela Nur kesal. Apalagi setaunya, Kamila dan Selina cukup dekat.


Biarpun Kamila salah, ngga sewajarnya Selina membuka rahasia temannya di depan banyak orang begini, kan, batin Nur ngga abis pikir dengan watak Selina. Padahal menurutnya Selina beruntung menjadi teman baik gadis kaya raya itu.


Bahkan Selina ngga malu malu memamerkan statusnya saat berada di mobil mewah Kamila di semua akun medsosnya. Malah terlihat bangga. Tapi sekarang dengan mudahnya menjelekkan gadis kaya raya yang sudah baik hati memungutnya itu.


"Sudah, lebih baik kita habiskan makan ini dulu. Ini mahal loh, aku udah bayar," lerai Nino yang kurang suka dengan berita sumir begini.


Menurutnya itu urusan pribadi Kamila. Lagi pula ngga merugikan mereka juga.


"Setuju," sambar Tanto dan Nadim gerah.


Mereka kembali menikmati makanan mahal gratis, yang jika dirogoh saku sendiri pasti akan sangat dalam.


Selina tambah panas karena dicuekin.


Dasar miskin, umpatnya dalam hati.


Tapi dia tetap bersikeras untuk menunjukkan foto yang membuatnya iri setengah mati dengan keberuntungan Kamila.


Huh, ternyata pelakor, decihnya sinis dalam hati.


Apalagi kalo bukan pelakor, ditambah Nino mengatakan jika para perempuan cantik di sana adalah istri atau kekasih mereka, para konglo tampan tampan itu. Pasti hubungan mereka sudah berlangsung lama. Sedangkan dengan Kamila baru beberapa hari ini.


Atau bisa juga Kamila hanya menjadi selingan.


Kasian sekali nasibmu, Kamila, cela Selina dalam hati. Dia pun mentertawakan nasib apes temannya.


Lepas dari Deco, temannya itu malah jadi pelakor miris.


"Nih, aku ngga bohong," sentak Selina sambil menunjukkan foto Kamila dan Emir yang tampak bahagia di atas langit.


"Sama, kan, dengan laki laki itu," kata Selina lagi karena keempat rekannya sama sekali ngga mengatakan apa apa.


"Mungkin temannya? Kita, kan, tau keluarga Kamila konglo juga," bela Nadim. Menurutnya foto itu biasa saja. Menggambarkan kebahagiaan saat keduanya naek helikopter.


Tapi dalam hatinya semakin insecure melihat pergaulan tingkat tinggi Kamila.


"Itu kan pergaulan antara kaun jet set. Beda sama kita," kata Ifa ikut membela sekaligus menyindir.


Nino ngga berkomentar apa pun. Dia merasa ngga ada gunanya juga mengatakannya pada Selina kalo laki laki yang bersama Kamila adalah kembarannya laki laki yang ada di sini.


Nino ngga mau memperpanjangnya. Lagi pula orang tuanya memintanya jangan mengumbar apa pun tentang mereka. Ini juga menyangkut karir dokter papanya. Nino juga ngga mau kemewahan yang dimilikinya berakhir.


"Betul. Lagi pula kita ngga usah ikut campur. Belum tentu benar, nanti kita akan dituduh memfitnah," tandas Tanto sambil melirik tajam pada Selina yang nampak semakin kesal dengan respon rekan rekannya sesama dokter.


"Urusannya akan mengerikan Mereka terlalu kaya dibandingkan dengan kita yang rakyat jelata," skak Nur langsung, juga menatap Selina kesal, agar dia menutup topik ini.


Selina langsung kena mental dikatai rakyat jelata begitu oleh Nur


Dengan wajah memerah dia menyimpan ponselnya. Suasana membeku sesaat.


Menit selanjutnya, seolah merasa ngga ada topik yang mengenakkan dari Selina tadi, keempatnya kembali membuka topik baru. Membicarakan seorang pasein tampan yang sudah dua hari nginap di ruang super vvip yang sangat rewel.


Selina yang sedang memendam geram atas kata kata rekan rekannya sesama dokter tadi ngga terlalu memperhatikan.


Dia merasa saat ini keberadaannya sama sekali ngga dianggap. Walaupun berita yang dibawanya cukup akurat karena disertai foto pun, tetap ngga ada yang mau percaya.