
"Bagaimana hubunganmu dengan Adriana?" tanya Papa Kalandra-Cakra Wisesa ketika putra tertuanya mengantarkan beberapa map tender yang sudah fix milik perusahaan.
"Baik," jawab Kalandra tenang. Kalandra tau papanya pasti curiga melihatnya membawa Adriana di resepsi pernikahan Rihana-sepupunya.
Cakra melirik map map yang kini sudah ada di atas mejanya. Membukanya satu demi satu.
Tidak masalah baginya kalo putranya lebih memilih sekretarisnya dari pada calon istri yang dipilih papanya.
Putranya yang kaku itu ternyata bisa jatuh hati juga pada sekretarisnya yang sudah dua tahun membantunya bekerja.
Malah terjadi hal yang menggelikan hatinya. Keponakannya Emra yang terpincut dengan calon istri Kalandra. Berusaha menikung sepupunya dengan berbagai cara. Yang untungnya Kalandra ngga tertarik pada perjodohannya karena sudah memiliki idaman lain.
Emra yang players sepertinya sudah bertekuk lutut dengan Kiara. Mungkin harus gadis secuek itu yang bisa membuat keponakannya itu sedikit serius untuk memikirkan pernikahan.
Adiknya Wingky pun sudah memberikan lampu hijau walau belum ada langkah lanjut yang jelas.
Cakra juga ngga tau kenapa. Apa karena watak Emra yang players yang gampang bosan dengan perempuan hingga adiknya belum juga meresmikan hubungan keduanya. Atau karena alasan lain.
"Mau papa dan mama lamarkan?" tanya Cakra to the point, tapi tetap dengan gayanya yang ngga acuh. Matanya tetap fokus pada salah satu map yang dibawa Kalandra.
"Nanti saja, Pa."
"Kenapa?" Alis Cakra-Papa Kalandra terangkat ke atas. Kini netranya pun menyorot tajam.
Padahal Kalandra bukan tipe laki laki yang suka bermain main dengan perempuan
"Kalo Nidya sudah menemukan pasangannya, aku baru akan memikirkan jalan buat ke sana," jawabnya lugas.
Cakra menatap putranya dalam.
"Nidya ngga akan marah kamu mau duluan nikah."
"Enggaklah, Pa. Nidya dan Kirania harus punya pasangan dulu, baru aku akan serius memikirkan hubunganku," alasan Kalandra tersenyum.
"Asal mereka sabar aja nunggu kamu. Tau sendiri Nidya sulit move on. Dan Kirania terlalu sibuk mengawasi Ansel," Senyum miring tersungging di bibir Cakra
Dalam hati mengeluh, kapan bisa punya cucu kalo gini. Mana istrinya susah excited banget ketika mendengar Kalandra sudah memiliki hubungan khusus dengan Adriana.
Kalo nunggu Nidya ngga tau sampai kapan, batinnya hopeless.
Nidya bersandar di balik dinding ruangan papanya dan Kalandra berada. Dia mendengar cukup jelas pembicaraan keduanya karena Kalandra ngga menutup rapat pintu ruangannya.
Dia pun menhembuskan nafas keras. Kemudian setelah bisa menenangkan diri, Nidya pun melangkahkan kakinya ke ruangan Kirania. Ternyata kosong.
Gadis itu seperti biasa pasti sedang berada di ruangan Ansel atau bersama Nayara.
Dan ternyata benar, Kirania sedang berdebat dengan Ansel dengan topik yang hampir sama.
"Aku akan menikah dengan Naya. Kamu jangan khawatir soal itu. Tapi tentu saja setelah kamu punya pacar. Jadi aku ngga akan diekori terus," dengus Ansel agak kesal. Adiknya terlalu dalam mengusik privasinya.
Padahal Ansel hanya melakukan hubungan kerja saja dengan gadis gadis cantik.dan seksi itu. Bukan salahnya kalo para gadis cantik dan seksi itu gemas dengannya sampai mencium pipinya segala.
Dulu Ansel ngga pernah membuang kesempatan itu, dia membalas hingga membuat mereka kesulitan untuk bernafas. Bibirnya memang ahli melakukannya.
Tapi sekarang, dia sudah berubah. Ansel bosan juga dengan tanggapan dingin dan ngga acuh Nayara. Terutama sikap protektif Kirania. Rasanya Kirania lebih memihak Nayara dari pada dirinya. Padahal sudah jelas dia adalah saudaranya. Jadi sekarang dia hanya tertawa saja jika para relasi cantiknya itu mencium pipinya. Tanpa membalas perlakuan mereka lagi.
"Emang model aku gimana?" Alis Ansel terangkat lagi ke atas. Sudah bosan sebenarnya berdebat dengan topik yang itu itu aja.
Tapi ngga tau kenapa dia selalu betah menanggapinya.
"Ngga bisa lihat perempuan cantik. Cium sana cium sini," cela Kirania sambil berkacak pinggang.
Dia ngga mungkin bisa sesabar Nayara jika punya kekasih seperti kakaknya Ansel.
Makanya dia sangat selektif. Apalagi saat ini juga belum ada laki laki yang bisa memenuhi standarnya. Dari dulu dia ingin punya kekasih seperti Kak Kalandra atau Kak Emir. Rihana dan Puspa beruntung bisa mendapatkan laki laki seperti itu. Laki laki yang salah satunya membuat kakak sepupunya Nidya patah hati.
Ansel tertawa mendengarnya. Itu selalu yang diungkapkan adiknya. Ngga ada bosan bosannya.
Sampai kapan adiknya itu melihat kejelekan sifatnya di masa lalu. Tidakkah dia melihat kalo Ansel sudah berubah?
"Kamu mau aku kenalkan dengan temanku? Kita bisa nge date bareng. Couple date?" tawar Ansel agar adiknya ngga mengganggunya saat ngedate dengan Naya.
Selama ini dia rela menjadi obat nyamuk jika Ansel mengajak Naya nge date. Bisa pecah kepala Ansel melihat kelakukan adiknya itu.
"Yang satu circle dengan kamu? Ogah," tolak Kirania dengan posisi tangan bersidekap di dada. Menatap Ansel dengan tatapan malas.
"Enggak. Kali ini aku akan ngenalin kamu sama anak pondok pesantren," ucap Ansel sungguh sungguh.
"Emang kamu punya kenalan anak alim gitu?" tantang Kirania ngga percaya.
"Punya," jawab Ansel sangat yakin. Ada satu. Walau sempat keluar. Paling enggak pernah mondok setahun.
"Siapa?" tantang Kirania lagi. Ngga percaya sama sekali. Kapan kakaknya ini ikut kuliah subuh di masjid? Ngorok udah jelas.
"Hazka. Dia masih single," sahut Ansel cepat tapi malah dibalas tawa terkekeh adik tersayangnya.
"Dia itu produk gagal. Memalukan pondoknya saja bisanya dia itu," cibir Kirania dalam tawanya.
Hazka sama aja seperti Ansel. Memang sempat tinggal di pondok waktu SMA. Hanya setahun doang, setelahnya kabur.
Anak manja dan pecicilan begitu mana kuat dengan hidup disiplin di pondok. Dia pasti merengek setiap hari, hina Kirania dalam hati. Meremehkannya pasti.
Kebetulan keluarga mereka cukup dekat. Jadi Kirania cukup tau dengan sosok tengil itu.
"Tapi dia sudah punya dasar dasar buat jadi imam kamu," rayu Ansel walau dalam hati mau muntah. Laki laki itu hanya pengalihannya saja agar adiknya ngga mengganggu kencannya.
Hazka orang yang tepat, karena bersama Kirania, keduanya ngga pernah akur. Selalu saja berdebat bahkan sampai gontok gontokan. Adiknya itu ngga akan segan segan memukul kepala Hazka kalo lagi kesal.
Ansel akan merayu Hazka agar sabar menghadapi Kirania sambil dia mencari laki laki yang cocok untuk adiknya itu.
Mungkin liburan beberapa hari ke Eropa bisa membuat temannya itu mau membantunya.
"Imam apaan. Dajjal iya," maki Kirania kemudian tergelak
Nidya yang mendengarnya di dekat pintu yang terbuka langsung melangkah pergi karena sudah ngga bisa lagi menahan tawanya
Ternyata Ansel juga sama seperti Kalandra padanya. Akan mencarikan laki laki untuk Kirania sebelum menikahi Nayara.
Mereka memang laki laki yang manis, batin Nidya memuji.