NOT Second Lead

NOT Second Lead
Amcaman Aurora



Siang ini Puspa sengaja menemani Rihana bersama Kirania. Oma opa mereka baru saja pulang. Mungkin akan mampir di suatu tempat untuk acara minun teh. Karena oma dan opa Aurora yang ternyata oma dan opa Rihana juga ikut bersama mereka.


"Ngga nyangka, ya, kamu sodaraan dengan si Aurora," senyum Puspa berupa ringisan terkembamg di bibirnya.


"Kita kebawa, dong, sodaraan sama dia juga," tawa Kirania membuat ringisan Puspa semakin dalam.


Rihana pun tersenyum tipis. Dia biasa saja karena sudah tau sejak lama.


"Orang itu memang menyebalkan, ya?" tanya Kirania setelah tawanya reda.


Rihana belum menjawab karena kini ketiganya menoleh pada pintu yang terbuka.


Sosok yang mereka bicarakan sedang berjalan masuk, mendekati mereka dengan wajah datar. Tapi sikapnya nampak anggun.


Baru kali in Kirania langsung menatap Aurora secara langsung. Kapan itu waktu terjadi kehebohan dengan kedatangan Aurora, dia ngga ada. Kali ini Kirania bersyukur ngga melewatkannya


Kenapa, ya, dia di sini? batinnya cemas.


"Bisa tinggalkan kami sebentar," kata Aurora langsung.


"Tidak," jawab Puspa. Dia ngga mungkin akan meninggalkan Rihana yang masih lemah dengan Aurora. Apa pun bisa saja terjadi. Apalagi gadis ini sedang ngga stabil perasaannya. Cemburu, juga kehilangan Alexander dan harus berbagi papa dengan saingan cintanya.


Gadis frustasi ini bisa mencelakakan Rihana.


"Kenapa? Kamu ingin mendengar obrolan kami?" sindir Aurora sinis


'Kalo iya, kenapa?" tanya Puspa sedikit menantang.


Aurora tampak betah dengan senyum sinisnya.


Kirania melihat perdebatan keduanya dengan serius. Apalagi melihat wajah sinis Aurora.


Apa.dia punya dua wajah? batin Kirania. Seingatnya wajah gadis itu sangat hangat dan lembut.


Baru kali ini dia melihat ekspresi sinis yang selama jni selalu teduh. Kirania melihatnya secara live.


"Oke, kalian boleh dengar," katanya amgkuh.


Aurora kemudian melipat tangannya di dadanya. Kemudian menatap Rihana tajam. Rihana balas menatapnya dengan tenang.


"Aku ngga akan melepaskan Alexander untukmu. Ngga akan pernah," kata Aurora sangat jelas terdengar oleh Rihana dan dua sepupunya.


Rihana tersenyum, bahkan Kirania dan Puspa tertawa tergelak gelak.


"Lo tuh udah ditolak. Ngapain ngemis ngemis?" ejek Puspa di sela tawanya.


Aurora ngga terpengaruh dengan ejekan Puspa. Tapu dalam hati dia akan meminta papanya memecat gadia kuramg ajar ini dari perusahaan papanya.


Mata tajamnya terus menatap Rihana.


Dia kini tau kenapa Rihana ngga merasa terintimidasi dengannya.


Karena dia tau alasannya rupanya, batin Aurora kesal.


Sampai kapan pun Aurora ngga akan mengaku Rihana sebagai kakaknya. Dia sangat membenci gadis itu. Bahkan dalam aliran darahnya.


"Alexander hanya mencintaiku sejak dulu. Kamu hanya dianggapnya sebagai adik," ucap Rihana tenang.


Aurora tambah sinis menatap Rihama.


"Kamu lupa kejadian kmren ya,' ejek Aurora dengan santainya.


"Tidak.Tentu aja aku ingat," bantah Rihana tetap tenang. Dia ngga mungkin peristiwa yang sempat melukai kepercayaannya pada Alexander.


"Oke, oke. Syukurlah kalo gitu," ucap Aurora dengan seringai tipisnya. Dia melirik tenang pada Puspa yang menatapnya garang.


"Suatu saat kamu akan tau, Alexander pasti akan kembali padaku. Kamu hanya obsesinya yang sudah tenggelam. Hanya masa lalunya. Sedangkan aku, adalah yang selalu menemaninya sekarang," kecam Aurora panjang lebar.


Kirania menahan tangan sepupunya yang sudah ngga sabar untuk menampar mulut Aurora.


Walau perasaan Rihana ngga enak mendengarnya, tapi dia tetap mempertahamkan ketenangannya.


"Sudah?" tanya Rihana ringan menahan perasaan jengkelnya.


Apa dia itu beneran adik satu papanya? batinnya selalu saja menyangsikannya.


Sama sekali ngga ada baik baiknya, sambung batin Rihana mengomel.


"Hem...." dengus Aurora kesal.


"Sebaiknya kamu pergi sekarang sebelum sepupuky menyeretmu," kata Kirania yang semakin mengetatkan cekalan tangannya.pada lengan Puspa.


Kembali Aurora tersenyum mengejek.


Tanpa sepatah kata pun Aurora membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi


Aurora membanting pintu dengan cukup keras.


Puspa langsung mengeluarkan seluruh koleksi makiannya.


"Sabar," kata Kirania sambil menipiskan bibirnya.


Rihana juga tersenyum dalam hati, lagi lagi membatin melihat kelakuan bidadari yang terkenal sangat lembut ini. Sangat di luar ekspetasi.


"Kita tertipu rupanya," kekeh Kirania.


Puspa mencibir.


"Harusnya direkam. Biar ketahuan aslinya gimana," dengusnya jengkel.


"Auto viral, tuh," sambar Kirania dalaam kekehannya.


Ya, pasti auto viral, batin Rihana setuju.


*


*


*


"Alex, kamu ngga mau perjuangin Aurora? Kasian, ya," bujuk mamanya tetap ngotot.


Saat ini mereka berkumpul sambil menonton acara tivi. Jarang sekali bisa berkumpul dengan formasi lengkap begini.


"Kenapa, sih, Ma. Rihana juga cantik bangert" lerai Daniel. Ngga disangka keduanya malah bersaudara. Sama sama cantiknya. Mungkin Rihana terlihat lebih sederhana di bandingkan Aurora yang mentereng dan berkelas.


Alexander nampak cuek, tapi dalam hati sedang menimbang nimbang. Apakah akan dikasih tau aja tentang kedekatan Aurora dengan Aiden?


Herdin sudah mengirimkannya beberapa foto. Hanya Alexander ngga tega membuka aib Aurora.


"Papa juga setuju kalo Alexander dengan Rihana," kata papanya ikut mendukung. Perasaan bersalah masih tergurat jelas dalam hatinya.


Dia kini mendukung putranya berhubungan dekat dengan putri pertama Dewan, sahabatnya.


"Papa, kok, gitu, sih," sungut istrinya kesal. Harusnya suaminya mendukungnya


"Kan, sama sama anak Om Dewan, pa," cetus Daniel tergelak. Fathan pun tersenyum lebar.


Mamanya menatap putra keduanya ngga senang


"Yesss!" balas papanya santai, tanpa takut akan intimidasi mamanya


Mamanya pun melayangkan beberapa pukulan keras di punggung suaminya. Antara gemas dan kesal karena suaminya ngga mendukungnya.


"Sudahlah, Ma. Aiden juga ngga terlalu jelek buat Aurora," sambung Fathan membuat mamanya menghembuskan nafas kesal.


"Kenapa Aiden ngga sama Rihana aja," sesal mama.


Alexander langsung menatap protes mamanya akan pernyataan mamanya barusan.


"Rihana pacarku, mam. Calon istriku," tegas Alexander.


"Hemm... maunya mama, kamu sama Aurora," bantah mami tetap keras kepala.


"Ya ngga bisa lah, Ma. Alex cintanya cuma sama Rihana," bela Daniel cepat.


"Kenapa semuanya jadi rumit begini, sih," keluh mama kemudian menghembuskan nafas panjang.


"Ngga ada yang rumit, sayang. Cobalah menerima Rihana," bujuk suaminya lagi.


"Rihana itu idamannya Alex, Ma," sambung Fathan terus membujuk dengan lembut.


Mamanya hanya diam saja. Dalam hati masih ngga rela kalo putranya bersanding dengan Rihana. Aurora terlalu dalam ada di hatinya.


"Besok kamu kunjungi Rihana. Kamu belum pernah menjenguknya, kan?" titah papa.


Mama pun mengangukkan kepalanya. Dia memang belum sekali pun melihat keadaan putri.


Hatinya sedikit kurang nyaman untuk menjenguk Rihana. Seakan ada sekat yang sangat tipis membuatnya kurang bisa menerima Aurora.


"Ma, Alex sangat mencintai Zira."


Mamanya menghela nafas berat.


"Kamu yakin dengan perasaan kamu? Mama takut kamu menyesal karena salah membaca perasaanmu," kata mamanya masih memcoba mempengaruhi putranya. Alexander.


"Aku ngga pernah salah, Ma. Aku hanya mencintai Rihana," tegas Alexander menentang tatapan mamanya.