NOT Second Lead

NOT Second Lead
Kumpul calon ipar



"Hai, Adriama. Ternyata kakak sepupu ku yang tampan membawamu ke sini," sapa Kirania dengan wajah penuh senyum ketika melihat kehadiran Adriana dan Kalandra.


"Ya, nona muda."


"Panggil aku Kiran saja. Bentar lagi kamu juga bakal jadi kakak iparku." Sebelah matanya mengedip nakal membuat paras Adriana seperti udang yang dibakar kelamaan. Matang gosong.


Kalandra berdehem untuk menjaga wibawanya.


"Titip Adriana, ya," ucapnya sambil melangkah pergi begitu saja ke arah yang lain membuat Adriana bingung dan panik.


Selalu saja ngga tanggug jawab, decak Adriana kesal dalam hati.


"Beres, bos," sahut Kirania sambil menggandeng tangan Adriana yang ngga bisa menolak. Dia merasa malu dan salah tingkah karena meras ngga pantas ada di ruangan ini.


"Kamu tau, Adriana. Aku senang karena kamu nantinya akan jadi kakak iparku," celoteh Kirania senang.


"Kami belum sejauh itu, nona muda," sangkal Adriana agak melo. Setengah hati berharap tapi setengah hati lainnya menyangkal.


"Apa dia belum menyatakan perasaannya padamu?" decak Kirania sambil menggelengkan kepalanya prihatin.


Adriana ngga menjawab, hanya menatap dengan perasaan aneh dan penuh tanya. Jantungnya berdebar keras.


Kenapa nona muda Kirania bisa mengatakan hal itu?


Padahal bosnya Kalandra ngga pernah mengatakan apa apa.


"Kak Kalandra akan


melamar kamu setelah Kak Nidya nikah. Kamu tunggu aja yang sabar, ya," senyum Kirania nampak jahil. Lagi lagi dia mengedipkan sebelah matanya. Membuat Adriana semakin salah tingkah.


Adriana bingung harus bereaksi seperti apa dan bagaimana. Sementara dalam hatinya saat heboh berteriak saking senangnya.


Apa ini benar?


Ngga bohong, kan.....?


"Hai," sapa Kiara membuyarkan lamunan Adriana.


Adriana membalas kikuk pada mantan(?) jodoh bosnya. Ngga disankanya akan bertemu di sini.


Dia sedang duduk.di karpet bulu dengan tangan sibuk merangkai bunga bunga. Sendirian.


"Lho, Emra mana?" tanya Kirania heran. Tadi sebelum meninggalkan Kiara dan bertemu Kalandra-Adriana, ada Emra di sampimg gadis itu.


"Gabung sama Kalandra dan yang lainnya. Hazka juga datang loh," jelas Kiara penuh arti dengan kalimat terakhirnya. Senyum menggodanya tersungging manis.


"Hemmm," dengus Kirania ngga minat.


Kenapa juga laki laki itu datang. Dia bukan siapa siapa juga, Kirania membatin julid.


"Kamu belum ketemu dia?" pancing Kiara menggoda.


Dia yakin kalo Kirania-Hazka sulit berhasil, karena sesuai info Emra kalo Ansel hanya meminta tolong sebentar saja pada Hazka untuk menjaga adiknya agar ngga mengganggu kencan kencannya dengan Nayara.


Tapi bisa saja, dia dan yang lainnya salah. Bukannya panah cupid ngga mengenal siapa yang akan ditusuknya?


Akan sangat menyenangkan kalo itu beneran terjadi. Hazka yang kekanakan jadi bucin dengan Kirania yang galak.


"Jangan sampai, deh, ketemu," sungut Kirania kesal.


Kiara hampir saja tertawa melihat reaksi sebal Kirania, kalo saja dia ngga melihat Adriana.yang tampak berdiri bingung.


"Ayo, duduk di sini, Adriana. Kita merangkai bunga," ajak Kiara ramah.


"Ayo, Adriana. Santai saja. Jangan tegang," kekeh Kirania sambil menarik tangan Adriana agar ikut duduk di dekat Kiara.


Dengan sungkan Adriana pun duduk bergabung dengan mereka. Dua nona muda, sedangkan dia hanya sekretaris biasa. Adriana merasa sangat insecure.


"Nayara katanya akan datang telat," jelas Kirania tanpa diminta saat tangan tangan mereka sibuk menyusun buket dari bunga bunga yang segar itu.


"Kok, tau?" cetus Kiara tanpa mengalihkan tatapannya dari bunga bunga segar di depannya.


"Katanya diajak ke butik sama Ansel," sahut Kirania dengan tangan terampilnya menyusun bunga bunga itu menjadi buket yang indah.


Adriana menatap kagum. Dia sendiri masih kaku karena belum pernah mengerjakan hal ini.


"Hubungan kamu dengan Emra gimana, Kiara?" tanya Kirania kepo.


"Malah balik nanya," senyum Kirania semakin terkembang lebar.


"Kalian plot twist banget. Ngga nyangka kamu nolak Kak Kalandra demi Kak Emra." Kali ini senyum itu sudah berubah jadi tawa. Begitu juga Kiara. Adriana belum bereaksi apa pun. Dia hanya menyimak dengan jantung yang berdebar kencang.


"Kalandra, kan, udah naksir sekretarisnya," sela Kiara dalam derai tawanya.


Wajah Adriana langsung merah matang. Bahkan leher putihnya.


"Dan kamu naksirnya Emra?" todong Kirania tergelak.


"Saat itu belum," bantah Kiara masih tergelak.


"Serius? Terus sejak kapan?" tanya Kirania tertarik ingin menggali lebih dalam lagi.


"Kasih tau ngga ya?" Kiara malah meledek membuat Kirania manyun. Tawanya masih terdengar renyah.


"Kiaraaa..... Aku penasaraaan....," rengek Kirania.


Kiara ngga menjawab tapi sisa tawa masih menempel di wajahnya. Dia kini malah memfokuskan tatapannya pada Adriana.


"Yang jelas Kalandra memang naksir Adriana."


Hati Adriana berdesir karenanya.


"Kamu, kok, tau?" Kirania mengalihkan topik walau hatinya masih dongkol karena Kiara ngga mau menjawab pertanyaannya.


"Kalandra bilang sendiri di kencan pertama kami," tukas Kiara penuh makna dengan lirikan penuh makna pada Adriana yang diam terpaku.


"I see.....," kekeh Kirania merasa gentle banget kakak sepupunya. Mengakui kalo sudah tertarik dengan gadis lain pada teman kencannya yang sudah dijodohkan. Keren. Pujinya berkali kali dalam hati.


Sementara Adriana merasa saat ini kalo dirinya sudah terlempar sangat jauh ke langit mendengar penuturan Kiara dengan jantung yang juga sudah ngga karuan.


Hatinya riuh rendah bersorak kegirangan dalam kegamangannya.


*


*


*


"Kak Nidya.... Ini serius?" tanya Puspa yang sengaja masuk ke kamar kakak sepupunya yang akan dilamar malam ini.


Nidya menghela nafas berat. Dia pun masih merasa ini mimpi yang paling aneh dia alami.


Dan kenyataan sebenarnya malah lebih ngga masuk akal lagi.


Kenapa dia berani melangkah ke zona berbahaya ini?


Laki laki itu kenapa nekat sekali. Mereka belum lama saling mengenal lebih dalam. Malah terlalu singkat. Malah ingin melamarnya.


Menolak sekarang sudah terlambat. Dia ngga menyakiti dan memalukan orang tua mereka.


Ada Rihana juga di tengah tengahnya. Pasti sepupunya akan sangat sedih jika dia menyakiti hati mertuanya.


Tanpa sadar Nidya mengusap keningnya agak keras. Dia stres membayangkan apa yang akan dilakukannya nanti ke depannya.


"Kak?" panggil Puspa prihatin melihat kakak sepupunya yang nampak kebingungannya.


Seperti bukan Kak Nidya saja, batinnya.


Mana Kak Nidya yang tegas dan judesnya minta ampun. Kenapa dia tampak takluk dengan kakaknya Alexander.


Puspa terus saja bertanya tanya dalam hatinya.


"Aku bisa apa sekarang, Puspa," tanyanya mirip sebuah keluhan.


Puspa menarik nafasnya dan menghembuskannya berkali kali sebelum mengatakan apa pun.


"Sebenarnya Kak Fathan itu baik, Kak Nidya. Aku dukung kalo kakak suka sama dia," ujarnya hati hati.


Nidya terdiam. Dia juga sempat goyah karena senyum memikat laki laki itu.


Tapi dia takut kalo Fathan mengungkit soal perasaannya yang dulu terhadap Alexander. Seperti para sepupu laki lakinya yang cosplay jadi lambe murah.