NOT Second Lead

NOT Second Lead
Mulai tampak jelas



Xavi sudah berada di perusahaan Om Dewan. Alexander sudah memberitaukannya, siapa perempuan yang menangis itu.


Begitu sampai di ruangan perempuan itu berada, tatapan terkejut dilayangkan padanya oleh beberapa pegawai yang ada di sana. Hal itu menguatkan keyakinan Xavi kalo mereka tau tentang hubungan bosnya dengan adik kembarnya.


Tanpa mengetuk pintu, Xavi segera membuka pintunya dan menutupnya begitu dia masuk ke dalam ruangan perenpuan itu.


Mata perempuan itu terbelalak melihatnya. Tapi ngga lama kemudian wajahnya tampak sedih.


"Kamu kembaran Aiden?" tanya Zerina sambil terus menatap wajah laki laki ini. Dia sangat merindukannya. Walaupun sudah dicampakkan tapi dia tetap saja ngga bisa membencinya.


Apalagi Aiden sudah meninggal. Kebenciannya menguap begitu saja, yang ada hanya rasa rindunya saja.


"Aiden pernah cerita?" tanya Xavi sambil berjalan mendekati Zerina.


Cantik juga. Memang Aurora jauh lebih cantik. Tapi perempuan ini juga menarik, nilainya dalam hati.


Jika saja Aiden masih bersama perempuan ini dan mengabaikan Aurora, mungkin dia masih hidup.


"Xavi," katanya mengenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


"Zerina," sambutnya ramah.


"Kudengar kamu memiliki hubungan yang serius dengan Aiden, kembaranku," ucap.Xavi to the point.


"Kami sudah putus," jawab Zerina terus terang.


Xavi mengangguk mengerti.


"Apa kamu masih berhubungan dengan Aiden sebelum dia meninggal?" tanya Xavi langsung, tanpa basa basi.


"Aku menelponnya," jawab Zerina jujur. Dadanya masih sesak jika mengingat jeda waktu telponnya terputus dan Aiden yang dihabisi pembunuh itu sangat dekat sekali.


"Apa yang kalian bicarakan kalo aku boleh tau," tanya Xavi datar tapi netranya menatap Zerina tajam.


"Itu sangat privasi," tolak Zerina memberitau. Dia ngga mempercayai kembaran Aiden yang baru saja dikenalnya.


"Aku mengerti. Cuma satu yang ingin aku pastikan," ucap Xavi tegas.


"Apa?" tanya Zerina heran.


Xavi menarik nafas panjamg dan menghembuskannya pelan pelan.


"Kamu memyuruh orang untuk membunuh Aiden?" tudingnya cepat.


"Tentu saja tidak," jawab Zerina marah, ngga terima akan tuduhan itu. Sebenci bencinya dia pada Aiden, ngga ada sedikitpun niat untuk menyuruh orang untuk mencelakakan Aiden.


Apalagi sekarang dia sedang hamil. Anak Aiden. Tapi laki laki itu ngga mau bertanggung jawab. Teganya. Tapi ngga masalah buat Zerina menjadi orang tua tunggal untuk anaknya nanti.


Xavi mengamati wajah Zerina dengan seksama. Secara psikologis, Xavi yakin perempuan di depannya berkata yang sebenarnya.


"Aku hanya bertanya," tukas Xavi santai.


Zerina mencebikkan bibirnya kesal.


Hening.


"Apakah pembunuhnya sudah ketahuan?" tanya Zerina yang merasa ngga nyaman dengan kesunyian yang melingkupi mereka.


"Mungkin sebentar lagi," jawab Xavi tenang. Dia pun bangkit dari duduknya. Sudah ngga ada lagi yang perlu dia bicarakan.


"Senang bertemu denganmu," ucap Xavi sebelum berbalik pergi.


Zerina ngga menjawab. Dia hanya terus menatap datar hingga sosok itu meninggalkan ruangannya.


Setelahnya air matanya menetes. Dia belum bisa melupakan Aiden.


*


*


*


Alexander terdiam setelah menutup telponnya.


Tadi polisi baru saja mengabarkan padanya kalo mobil putih yang dicurigai itu pernah memasuki sebuah agensi milik Aurora. Tapi saat dicek pagi ini, mobil itu sudah ngga ada.


Karena mobil itu keluaran terbaru dan belum.ada nomer platnya, polisi sedang mencari informasi di setiap dealer resmi, untuk mengetahui siapa saja yang sudah membeli mobil merek tersebut beberapa hari ini.


Padahal malam ini keluarga mereka akan berkumpul di rumah Oma Mien dan Opa Airlangga untuk membicarakan pertunangannya. Alexander mau ngga mau akan merahasiakan berita ini dulu pada Om Dewan dan keluarganya.


Tapi dia berinisiatif menelpon Herdin.


"Ada apa?"


"Kita harus ngecek cctv di sepanjang rumah Om Dewan."


Hening.


"Herdin," panggil Alexander karena suara sahabatnya ngga terdengar.


"Aurora terlibat?"


"Mungkin. Aku hanya ingin memastikan."


"Oke. Kapan?"


"Siang ini."


"Oke, aku ke sana."


"Oke."


Alexander menghembuskan nafasnya dengan banyak pikiran buruk bersarang di otaknya.


*


*


*


Malam ini Dewan bersama orang tuanya sedang bersiap siap untuk pergi ke rumah Oma Mien dan Opa Airlangga.


"Papa mau kemana?" tanya Aurora heran melihat papanya yang sudah sangat rapi. Irena pun ikut memperhatikan. Saat ini Dewan sedang menunggu mama dan papanya di ruang keluarga.


Dewan berdehem sebentar, kemudiam mengusap puncak kepala putri kesayangannya. Rasanya kurang etis, di satu sisi putrinya yang lain akan dilamar, sementara putri yang satu ini sedang berduka karena calon suaminya baru saja tiada.


"Papa mau ke rumah Oma Mien."


Perasaan ngga suka langsung terlukis di wajah Aurora.


"Kenapa papa sering ke sana? Padahal papa sudah lama ngga bersamaku," rajuknya kesal.


Dewan terkekeh kecil.


"Setelah ini papa akan selalu bersama kamu," kata Dewan berjanji.


"Janji, ya, Pa," ucap Aurora minta penegasan.


"Janji," sahut Dewan sangat antusias.


"Kenapa kamu juga mama dan papa akan pergj ke sana?" cetus Irena penasaran melihat sikap Dewan yang seakan merahasiakan sesuatu dari putrinya.


Bibir Dewan bedecak kesal karena kini putrinya kembali menatapnya penuh tuntutan agar menjawab pertanyaan istrinya.


"Keluarga Alexamder akan datang melamar Rihana. Jadi kami harus ada di sana, kan," jelas Oma Mora lembut.


Leher Aurora seakan tercekik. Dia sulit bernafas hingga susah mengeluarkan suaranya. Matanya memanas.


Dia akan kehilangan Kak Alex.


"Sayang, maafkan kami, ya," ucap Oma Mora sambil memeluk Aurora erat.


"Iya, Oma. Ngga apa," sahutnya getir.


"Nanti Opa akan carikan jodoh yang sangat berkualitas buat kamu, sayang," hibur Opa Iskandardinata yang sudah berada di dekatnya.


Aurora hanya bisa mengangguklan kepalanya dalam sedih. Dia ngga minat dengan pilihan opanya. Di matanya Kak Alexandernya yang paling berkualitas.


Hati Irena sakit melihat senyum yang dipaksakan oleh putrinya.


Mengapa mereka ngga nunggu beberapa hari saja untuk melamar Rihana, batinnya berteriak.