
Dokter Misel menatap Alexander yang terlihat sangat khawatir pada ponakannya. Bibirnya melukiskan senyum tipis.
Setaunya Alexander belum punya kekasih. Apa dia berpacaran dengan ponakannya?
Adik suaminya-Wingky meminta mereka nantinya mengawasi hubungan Alexander dengan Rihana. Jangan sampai kejadian mamanya terulang lagi.
Rihana malah lebih mudah, karena ketahuan siapa kekaksihnya.
Tapi Dilara berbeda. Karena sampai sekarang belum ada laki laki yang mengaku bertanggung jawab atas kehilangan dirinya.
Dokter Misel menghela nafas panjang panjang dan itu dilihat Rihana hingga dia salah paham.
Rihana berpikir dia dan Alexander sudah mengganggu kinerja dokter di rumah sakit.
"Saya baik baik saja, kok, tante. Ngga perlu segala macam tesr," bantah Rihana cepat.
"Zira, kita harus pastikan kalo kamu baik baik saja," ngeyel Alexander ngga mau dibantah.
Sebelah alis Dokter Misel terangkat mendengar panggilan Alexander untuk ponakannya.
Zira? Panggilan yang manis, bibir dokter Misel berkedut. Alexander yang ada di hadapannya sangat diluar dugaan. Begitu perhatian dan manis.
"Alex, aku mohon," pinta Rihana seperti lelah.
Alexander terdiam. Dia tau Rihana merasa ngga enak hati.
Alexander menghembuskan nafas panjang. Kesal karena Rihana ngga mau menurut. Padahal hasil test gadis itu sangat dia tunggu, untuk mengetahui kalo mimisan tadi hanya hal biasa saja. Bukan gejala penyakit bahaya lainnya
Rihana diam tanpa suara. Merasakan ekspresi kesal Alexander.
"Baiklah. Tapi janji, kalo kamu mimisan lagi, kamu harus mau dicek kesehatannya," kata Alexander mengalah.
"Hemmm....," senyum Rihana terukir senang. Tapi dalam hati ngga mau berjanji. Rihana ngga ingin menyusahkan Alexander.
Manis sekali, batin dokter Misel terharu. Ngga nyangka Alexander yang kaku dan dingin bisa sehangat dan se low profile begini dengan ponakannya. Padahal rahasia keluarga Rihana belum terbuka. Rihana yang di depannya hanya pegawai kantoran biasa yang hidup mandiri tanpa punya nama besar keluarga.
Kapan mereka saling mengenal?
Seingatnya Alexander kuliah di luar negeri.
Waktu SMA?
DEG
Mungkin selama ini ponakannya tinggal di Bandung?
Dokter Misel pun segera mengetikkan pesan pada suaminya agar menyelidiki Alexander selama SMA di Badung. Karena Rihana mungkin pernah satu sekolah dengannya.
Ngga lupa, secara diam diam dia mengambil foto keduanya dan mengirimkannya ke suaminya.
"Dokter, saya udah boleh pulang?" tanya Rihana sambil melihat dokter muda dan tante Puspa bergantian.
"Bo--," jawaban dokter muda itu dipotong cepat oleh Alexander
"Kamu harus istirahat dulu. Besok saja pulangnya."
"Alex, ngga bisa gitu," protes Rihana jadi kesal. Dia harus balik ke perusahaannya. Menjelaskan kenapa tadi dia bisa cepat pulang meninggalkan pekerjaannya.
"Zira, ingat Bu Saras. Ingat tekat kamu. Gimana kamu bisa membantunya kalo kamu sakit sakitan."
Rihana terdiam. Hatinya nyeri mengingat kesulitan Bu Saras.
Dokter Misel memasang kupingnya tajam.
Siapa Bu Saras?
"Kecuali kamu pindah kerja ke perusahaanku," canda Alexander serius. Dia tertawa kecil melihat gelengan kepala Rihana.
Dasar keras kepala.
Sementara dokter Misel terkejut mendengar penawaran enteng Alexamder pada Rihana. Dia semakin yakin kalo hubungan keduanya cukup serius.
"Baiklah, kami akan tinggal dulu," pamit dokter muda itu merasa ngga enak terlibat dalam perdebatan sepasang kekasih yang sangat manis dan menimbulkan rasa iri. Ngga lebay.
"Istirahatlah dulu Rihana. Satu jam lagi kamu bisa pulang," kata Tante Misel lembut membuat Rihana tersenyum lega.
"Saya permisi," pamitnya yang diangguki keduanya.
Dokter muda segera berlalu, tapi dokter Miisel bersandar di balik tembok ruangan Rihana yang pintunya ngga tertutup rapat.
Sementara itu di dalam, kembali terdengar perdebatan keduanya.
"Alex, kamu ngga balik ke kantor?"
"Ngapain? Aku akan nungguin sampai kamu dibolehin pulang."
"Ada Herdin yang akan menyelesaikannya."
Rihana menghembuskan nafas panjang melihat kekeras kepalaan laki laki di depannya.
"Kenapa? Kamu ngga suka aku di sini?" tanya Alexander dengan mimik kesal.
Tuh, kan, selalu berpikir negatif, sungut Rihana dalam hati.
"Bukan. Kamu, kan, CEO. Kerjaan kamu pasti banyak banget," jelas Rihana berusaha sabar.
Sebenarnya jauh di lubuk hatinya Rihana senang karena Alexander ada di sisinya di saat ini. Tapi dia merasa takut. Takut efek buruknya nanti yang menimpanya.
"Memang, bahkan aku merasa bosan," kata Alexamder sambil menggusar rambutnya.
Rihana tertawa kecil. Sekarang mereka sudah bisa lebih lepas. Dia pun bisa lebih santai mengeluarkan unek uneknya. Begitu juga Alexander.
Sekarang laki laki itu mendekat, duduk di kursi yang ada di sampingnya.
Tangannya menggenggam lembut jemari Rihana membuat jantung Rihana ngga henti hentinya berdebar kencang.
"Sudah mendingan?"
Rihana mengangguk. Kedua mata mereka saling beradu lembut.
"Tidurlah. Aku akan menjagamu," ucap Alexander sambil tangannya bergerak menutup mata Rihana perlahan. Dia melakukannya berulang kali. Hingga nafas Rihana terdengar teratur dan Alexander pun menjatuhkan kepala di samping lengan Rihana, setelah memastikan gadis itu tertidur. Dia pun memejamkan matanya. Rasanya damai dan tenang berada di dekat orang yang disukainya sejak dulu.
Dokter Misel pun menjepretnya tanpa bliz. Bibirnya mengukir senyum. Ada kebahagiaan mengalir di hatinya.
Kedua pasangan itu kini sudah tertidur.
*
*
*
"Aku sudah menyuruh orang mencari informasi SMA Alexander di Bandung," ucap Akbar memberitau kakaknya Cakra, dengan mendatangi ruangannya.
"Ternyata mereka di Bandung?"
"Kemungkinan besar, iya."
Cakra menghembuskan nafas kesal.
Mereka lebih memfokuskan pencarian Rihana di Jakarta saja. Karena pencopet Rihana ditemukan di Jakarta.
Ngga lama kemudian ada notifikasi pesan yang masuk. Akbar memperlihatkannya pada Cakra.
"Alexander Monoarfa?" Kening Cakra berkerut.
Akbar menganggukkan kepalanya.
Teringat cerita Wingky setelah selesai menelpon putrinya.
"Alexander membawanya ke rumah sakit," jelas Akbar.
"Dia sama seperti Dilara. Ngga kuat sama panas matahari," kata Cakra lirih.
"Ya. Untung Alexander datang sebelum Rihana pingsan di lokasi," balas Akbar juga lirih sambil menahan perasaan sedih dan marahnya.
Kalo saja ada Dewan di depannya, pasti sudah ditonjoknya abis abisan. Sampai babak belur saking geramnya.
Sementara kedua tangan Cakra mengepal erat. Mengapa si Dewan bisa bisanya bertindak sampai hampir mencelakakan ponakannya. Dia pun punya keinginan yang sama dengan adiknya, Akbar.
"Batalkan lanjutan kerja sama kita dengan Dewan Iskandardinata. Kita akhiri!" tegas Cakra.
"Siap, kak," sahut Akbar langsung setuju.
Mereka harus menyentil Dewan. Sembarangan memperlakukan Rihana. Kalo saja dia tau siapa Rihana, pasti dia akan menyesal.
Bukan salahnya kalo Alexander lebih memilih ponakannya ketimbang putrinya.
"Awasi keluarga Alexander. Kita harus tau, apa mereka setuju dengan hubungan timpang putra bungsu mereka," titah Cakra lagi.
Dia harus bergerak cepat. Jangan sampai ponakan malangnya disakiti keluarga Alexander. Bahkan kalo perlu Puspa dan Rihana keluar dari perusahaan Dewan.
Sudah cukup buat ponakannya mencari ilmu di perusahaan saingan mereka. Saatnya mereka harus bekerja sama di perusahaan keluarga.
"Siap, kak." Akbar pun penasaran, bagaimana tanggapan keluarga Alexander pada ponakannya yang hanya dia ketahui dari kalangan biasa.
Padahal saingannya jelas. Putri Dewan yang sangat cantik.