
"Maaf, opa menanyai kamu," ucap Rihana merasa ngga enak hati saat mengantar Alexander ke mobilnya.
Alexander tersenyum lembut sambil mengusap puncak kepala kekasihnya.
"Itu artinya mereka sangat sayang sama kamu."
Rihana balas tersenyum.
Tiba tiba Alexander menarik pinggangnya membuat Rihana panik.
"Nanti ada yang lihat," protesnya sambil kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.
Alexander melebarkan senyumnya.
"Terimakasih karena percaya sama aku," ucapnya lembut.
Rihana tersenyum manis sambil melihat ke wajah tampan Alexander. Dengan agak ragu dan malu, Rihana mengalungkan kedua tangannya di leher Alexander.
Alexander terkekeh pelan melihat raut malu malu di depannya.
"Kita sudah lama membuang waktu," ucapnya dalam sisa tawanya.
"Ya."
"Kamu tau, selama di Inggris aku selalu merindukan kamu. Setiap pulang ke Bandung, aku selalu melewati panti kamu. Aku lega, walaupun ngga melihat kamu. Bagiku melihat panti seperti aku melihat kamu," ucap Alexander jujur.
Rihana terpana mendengarnya. Tatapannya intens ke wajah Alexander. Jantungnya pun berdetak ngga normal.
Ternyata mereka sama.
Dia pun selalu mengunjungi SMA mereka untuk melepas rindunya pada Alexander. Melihat jejak mereka yang terukir di sana. Tempat rindunya berada.
"Syukurlah sekarang kamu sudah ada di dekatku."
Alexander mendekatkan wajahnya, Rihana memejamkan matanya. Dan sentuhan lembut mampir di bibirnya. Hanya sebentar. Tapi rasanya Rihana seperti diterbangkan jauh ke langit.
"Aku pulang dulu, ya. Besok aku jemput," kata Alexander sambil menatap Rihana dalam dan sayu. Dia sedang mengendalikan hasratnya yang selalu meninggi jika bersentuhan dengan Zira.
Rihana membuka kelopak matanya dengan wajah merona. Dia pun menurunkan kedua tangannya dari leher Alexander. Alexander pun melepaskan pelukannya.
"Hati hati," ucapnya lembut. Rasanya berat untuk berpisah.
"Selalu," jawab Alexander sambil membuka pintu mobil.
Saat mesin mobil sudah di on kan, Alexander menurunkan kaca jendelanya.
"Love you," senyum Alexander yang dibalas anggukan dan senyum manis yang merekah di bibir Rihana.
Rihana terus menatap sampai mobil Alexander keluar dari gerbang mansion mewah opanya.
"Love you always, Alex," gumamnya sepenuh hati. Senyumnya pun belum hilang.
Ngga jauh dari sana, Puspa merangkul kakak sepupunya Nidya.
"Mereka saling mencintai, kak," lirih Puspa berucap.
"Ya," jawab Nidya pahit. Dia iri melihat kelembutan dan kemesraan yang ditunjukkan Alexander pada Rihana. Rihana pun tampak bahagia bersama Alexander.
Dia harus bisa move on, tekat Nidya dalam hati.
*
*
*
Daiva mengikuti Xavi dalam diam. Laki laki itu sepertinya ngga suka bicara. Daiva juga ngga ingin memulainya.
Hanya sesekali dia melirik Xavi bergantian dengan ponselnya. Daiva sudah mendownload foto Aiden.
Ternyata mereka kembar identik, batin Daiva. Yang membedakan hanyalah ekspresinya.
Wajah Aiden terlihat badboynya, sedangkan Xavi terlihat dingin. Tapi secara keseluruhan mereka sangat mirip.
Kenapa ya, Aurora tega membunuh Aiden? sesalnya dalam hati. Dia ngga tau berapa lama sepupunya itu akan mendekam di dalam penjara. Apalagi dia lagi hamil.
Tanpa sadar Daiva menghela nafas berat.
Xavi melirikmya tanpa berkata sepatah kata pun. Gadis ini ikut dengannya ke apartemen Zerina untuk.membantunya mengemasi koper Zerina ke kamarmya. Mobilnya pun terparkir di sana.
Setelah sampai di basemen, masih dalam diam Daiva mengikuti langkah Xavi.
Karena kartu kamar Zerina ada apa padanya, dia pun langsung menenpelkannya di pintu dan langsung masuk duluan begitu pinti terbuka. Gantian Xavi yang mengikuti di belakangnya.
Kamar itu sudah rapi. Enam koper sudah berjejer rapi. Pantas Zerina tadi sangat kelelahan.
Daiva membantu Xavi mendoromg kpper koper itu ke unitnya. Kamar ketiga dari kamar Zerina
Daiva mematung begitu laki laki ini membuka pintu kamarmya. Dia belum pernah masuk ke kamar laki laki, apalagi yang baru dikenalnya.
"Emm... maaf, aku langsung pulang," tolaknya halus.
"Kamu takut? Tadi aja kamu berani menarik tanganku," ejek Xavi sambil menatap lurus padanya.
Daiva menampilkan wajah kesalnya.
"Tadi aku sangat butuh bantuan. Makanya aku ngga peduli tangan siapa yang aku pegang," semprotnya sinis.
"Terserah kamu aja."
"Aku akan ke sini kalo bersama Zerina. Ohya, kamu ngga akan tinggal di sini, kan, berdua Zerina?" ucap Daiva sebelum membalikkan tubuhnya.
"Tentu saja tidak."
"Syukurlah," sahutnya sambil menatap Xavi ragu. Ada yang ingin dia katakan lagi.
"Katakan saja apa yang kamu pikirkan," ucap Xavi seolah tau gadis di depannya tampak ragu untuk berucap.
"Kamu akan menikahi Zerina?.Demi bayi itu?"
Xavi terdiam.
"Haruskah?" Xavi menatapnya bingung.
'Siapa tau," jawab Daiva sekenanya.
"Yang jelas aku dan orang tuaku akan menjaga mereka berdua," sahutnya tegas.
Rasanya ngga mungkin dia menikahi Zerina. Dia juga belum mau menikah.
"Syukurlah. Aku pulang dulu," sahut Daiva lega karena Zerina ngga akan sendiri selama kehamilannya.
"Aku antar," tukas Xavi sambil mendorong koper koper itu ke dalam.
"Ngga usah," tolak Daiva sambil melangkah pergi.
Xavi ngga menjawab. Dia melihat punggung gadis itu yang menjauh. Kemudian dengan acuh dia masuk ke kamarnya.
Setelah menyimpan semua koper Zerina, dia pun pergi ke rumah sakit.
Xavi bahkan masih sempat melihat gadis yang dipanggil Dai itu masuk ke dalam mobilnya. Tepatnya dia tadi agak berlari ke arah lift. Sedikit berharap kalo gadis itu belum jauh dan masih bisa dilihatnya. Xavi juga ingin tau gadis itu pake mobil apa.tadi ke apartemen Zerina
Xavi termangu melihat gadis itu mengendarai lambo keluaran terbaru berwarna kuning gading.
Dia bukan gadis biasa, batinnya.
*
*
*
"Ada gadis lain yang hamil anak Aiden?" tanya papanya kaget campur senang.
"Iya, Pa," jawab Xavi.
"Syukurlah. Sekarang ibunya di mana?"
"Sekarang masih dirawat di rumah sakit, Pa. Kata dokter kandungannya lemah."
Papa Aiden tersentak.
Anak Aiden ngga boleh pergi menyusul papanya, batimnya panik.
"Papa ngga udah khawatir. Sekarang gadis itu lagi bedrest untuk memulihkan keadaannya. Saat dia pulamg nanti, akan ada suster dan pembantu yang mengurusnya, di apartemenku," tukas Xavi menenangkan papanya.
"Ya, ya. Anak Aiden harus bisa dilahirkan dengan selamat," ujar papanya serak. Setidaknya dia punya cucu dari Aiden yang bersih dari tangan jahat.
"Apa dia kekasih Aiden atau teman kencannya saja?" tanya Hendy ingin tau.
"Katanya dulu mereka pacaran. Tapi Aiden meninggalkannya demi Aurora," jelas Xavi dengan suara berat penuh beban.
Hendy mengambil nafas berulang kali untuk mengurangi sesaknya yang muncul tiba tiba.
Gadis yang Aiden inginkan malah yang menjadi malaikat mautnya.
Seandainy ada mesin waktu, dia akan melarang keras Aiden berhubungan dengan Aurora.
Kemudian dia menatap wajah kuyu istrinya.
"Sayang, kita akan punya cucu. Aiden ternyata punya pacar selain pembunuh itu," bisik Hendy lembut sambil membelai lengan istrinya.
"Cepatlah bangun. Kita harus mengurus cucu kita bersama, kan," ucap Papa Aiden lagi. Suaranya terdengar penuh semangat.
"Iya, Ma. Cepatlah bangun. Aku dan papa sangat merindukanmu," ucap Xavi dengan suara bergetar.
Mata keduanya berkabut. Berharap mendung di keluarga mereka cepat berlalu.