NOT Second Lead

NOT Second Lead
Celanya Bidadari



"Itu Herdin? Keren juga, ya," bisik Kirania sambil melirik laki laki yang ngga kalah tampannya dari Alexander.


"Iya," senyum Puspa dengan jantung berdebar keras saat matanya sempat bertautan sejenak dengan Herdin.


Sahabat Alexander itu memang tampan, batinnya mendadak ngga tenang.


Kenapa baru sekarang dia sadar? batinnya lagi.


Baru kali ini mereka berinteraksi secara langsung


Ansel hanya mendengus kesal.


Aku lebih tampan, batinnya pede.


"Apa dia sudah punya pacar?" tanya Kirania lagi, juga berupa bisikan. Kini langkah mereka sudah menjauh dari Herdin.


"Belum kayaknya."


"Hemm....." senyum Kirania penuh makna.


"Jangan macam macam, Kiran. Si Thoriq mau dikemanain," geram Ansel mengingatkan. Dia jadi kasian pada sahabatnya yang alim dan sangat jelas menyukai sepupu badungnya, Kirania.


Padahal Ansel sudah sering menasehati agar Thoriq mencari gadis yang satu visi dengannya saja. Tapi pemilik palu thor itu bersikeras menolak dan tetap memilih menyukai adiknya.


"Bukan buat aku," bantah Kirania ngga terima dengan tuduhan Ansel. Hatinya agak bergetar juga mendengar nama Thoriq. Takut Thoriq salah paham. Padahal dia sudah berusaha keras menjadi seperti yang Thoriq mau.


Cuma yang satu itu saja Kirania belum bisa. Menutup aurat. Dia merasa tampilannya akan seperti ibu ibu kepala empat nantinya jika melakukannya.


"Buat Puspa?" tebak Ansel yang baru paham jalan pikiran sepupunya.


Senyum miring tersungging di bibirnya.


Ternyata lo masih takut juga dengar nama Thoriq, tawa Ansel dalam hati.


"Ho-oh."


"Sembarangan. Gue ngga suka, ya, sama dia," sangkal Puspa dengan rona merah di wajahnya.


Gawat, tanpa sadar dia menampakkan isi hatinya, umpat Puspa membatin.


Kejadian ini sangat cepat. Selama ini tiap bertemu Herdin, dia ngga terlalu memperhatikan. Karena fokusnya hanya pada Rihana dan Alexander saja.


Herdin sama sekali ngga masuk dalam radarnya.


Apa bisa orang jatuh cinta secepat kilat begini? batinnya ragu dan menyangkal.


"Kalo ngga suka kenapa kelihatannya kamu malu malu?" ejek Kirania sambil ngikik.


Hatinya sangat senang bisa membuka dunia lain bagi sepupunya yang cukup lurus ini.


Tenang, kita akan bantu lo, janji Kirania membatin.


Akan sangat menyenangkan jika Puspa juga menjadi pasangan Herdin. Dia dan Rihana bisa jalan bareng. Dan mereka akan jadi couple favorit. Alexander dan Herdin adalah laki laki yang banyak diimpi impikan oleh para gadis. Termasuk sepupunya yang harus patah hati.


Ansel juga ikut mengetawakan Puspa. Mereka berdua memang selalu kompak. Seperti anak kembar. Mungkin karena jarak kelahiran keduanya yang cukup berdekatan. Kirania sering diledek sebagai anak sundulan oleh Ansel dan sepupu sepupunya.


"Siapa yang malu," kesal Puspa nge ngas.


Ngga berharap dia sama Herdin.


Keduanya makin ngakak sambil memasuki lift dna melihat sepupunya yang mulai emosi karena menahan malu.


"Marah tanda suka wooiiii," goda Ansel mqkin ngakak.


Huufftt, Puspa hanya bisa mendengus kesal. Lebih baik diam dari pada terus terusan menjadi korban candaan kedua sepupu l@cn@tnya.


*


*


*


Matanya ngga berkedip menatap pasangan yang sedang berjalan di depannya.


Mereka sama dengan dirinya mengenakan masker dan topi. Hanya saja Herdin agak risih melihat ke agresifan laki laki itu yang selalu menciumi pundak pasangannya yang mengenakan pakaian yang cukup terbuka.


Lorong ini cukup sepi, karena kamar kamar yang ada di sampingnya adalah pentahouse.


"Ada orang," pasangannya berkata lirih dengan sedikit menjauhkan tubuhnya dari laki laki itu. Agak risih karena ngga menyangka ada orang yang melewati lorong eksklusif ini.


"Biar saja," balas laki laki itu ngga peduli. Dia sudah sangat merindukan kulit halus yang suoer bening ini. Kekasihnya saja kalah total. Dia memang sangat beruntung.


Laki laki itu malah menarik pasangannya lebih dekat dan semakin panas mengecup pundak itu berkali kali seolah sengaja memamerkannya pada laki laki di depannya yang cukup intensif memperhatikan kegiatan intim mereka.


Pasangannya terdengar mendes@h berulang ulang karena sudah ngga dapat menahannya lagi, membuatnya tambah bersemangat. Apalagi dengan jelas Herdin melihat laki laki itu meremas bagian dada gadis itu dengan sangat kurang ajar saat gadis itu sedang membuka kunci pintu kamarnya. Des@han gadis itu semakin keras walau dia berusaha menahannya, tapi tetap lolos juga.


Herdin tau, laki laki ini sengaja melakukannya di depannya yang menatap tajam kearah mereka. Dia seakan seperti melihat part adegan film panas di depan matanya.


Dan des@han itu terdengar lagi karena laki laki itu tanpa henti hentinya mencu*mbu liar pasangannya, membuat Herdin merasa yakin kalo dia pernah mendengar suaranya setelah cukup lama memastikannya.


Laki laki itu malah sekarag dengan nekat melepas masker pasangannya dan menunjukkan sebagian wajah pasangannya, sambil mel*um@t ganas bibir pasangannya yang sudah ditempelkannya di dinding kamar sebelum kakinya digerakkan untuk menutup pintu kamar yang sudah terbuka.


Pasangannya sudah ngga sadar dengan apa yang diperbuat lelakinya karena matamya terpejam, sudah saat terbuai dan p@sr@h.


Bahkan sempat sempatnya laki laki itu memamerkan paha putih mulus pasangannya yang sengaja diangkatnya dalam cumbu@n panasnya.


Herdin terdiam mematung. Dia sangat yakin itu Aurora! Tentu saja dia sangat hapal dengan wajah kecintaannya dulu.


*Apa yang gadis itu lakukan?


Itu pacarnya*?


Mengapa dia berubah binal?


Bukannya dia sangat menyukai Alexander?


Berbagai pertanyaan berseliweran di kepalanya. Kepalanya terasa panas.


Sementara hatinya merasa sangat sakit. Dia merasa sudah dibodohi. Aurora yang seperti bidadari tanpa cela itu ternyata binal juga. Sama seperti ****** yang dipakenya jika dia suntuk dengan pekerjaannya.


Sayangnya area ini diprivat, ngga ada kamera cctvnya yang bisa dijadikan bukti. Mungkin karena itu laki laki itu merasa bebas mencumbu gadis itu yang sama sekali ngga menolak. Bahkan sangat menikmatinya.


Herdin masih tercenung. Kenyataan di depannya sangat mengguncang perasaannya.


Kesempurnaannya ternyata bull***** semata. Aslinya dia adalah ******.


Berbagai umpatan dia keluarkan dari mulutnya. Pelan tapi menyimpan kemarahan yang dalam.


*


*


*


"Hai," sapa Alexander setelah gilirannya tiba untuk menemui Zira. Opa, oma, om om dan tante tantenya serta sepupu sepupunya sudah lebih dulu menemuinya kala dia sadar.


Sebenarnya Alexander ingin memberi kesempatan lebih dulu pada Om Dewan dan orang tuanya. Biarlah dia belakangan. Tapi mereka memintanya masuk lebih dulu.


Mungkin mereka sedang mempersiapan lahir dan batin agar gadisnya ngga shock saat tau kenyataannya dan bisa memaafkan mereka.


Alexander merasa ngga tega mendengar apa yang sudah dialami oleh Zira dan almarhum mamanya. Dia akan menjadi sandaran yang kokoh bagi Zira, karena gadisnya pasti akan sangat membutuhkannya.