
Kamila Adelin
Bibir Emir berkedut saat menatap kartu nama itu.
Parohan katanya tadi? senyumnya melebar.
Kemudian menyimpan lagi kartu nama unik yang berwarna ungu muda itu di dalam dompetnya sebelum keluar dari dalam mobilnya.
Mansion mewah oma dan opanya sudah terlihat lebih indah dari biasanya. Emir memang datang dengan sangat terlambat.
"Dari mana saja, kok, baru datang?" sambut Emra yang ngga sengaja bertemu dengannya di pintu masuk. Ada Kiara di sampingnya.
"Ada urusan sebentar," senyumnya berahasia
"Heemmhh," dengus Emra kesal.
Sebentar apaan. Hampir dua jam kembarannya menghilang.
Tapi sudahlah, yang penting sudah datang, pikirnya begitu Emir melewatinya. Dia sempat kesal juga karena Emir ngga bisa mengangkat ponselnya.
Kembali Emir melihat pasangan pasangan yang lain begitu dia memasuki ruang keluarga Omanya. Kalandra dan Adriana, Ansel dengan Nayara, Puspa dengan Herdin serta Alexander dan Rihana.
Bibirnya berkedut lagi.
Mungkin dia juga sudah saatnya serius.
Dokter jaga tadi boleh juga, senyumnya dalam hati.
"Lama banget datangnya, kak," sapa Puspa sambil mendekati Emir dan mengajaknya bergabung.
"Ada urusan dikit," senyumnya tampak tenang, menyembunyikan hal penting yang nantinya akan menjadi kabar gembira buat mereka.
"Kan, segala urusan meeting udah diclose?" tanya Puspa lagi heran. Ngga abis pikir kakak laki lakinya bisa setelat ini.
"Selain meeting adikku sayang," senyum Emir tanpa mau mengatakan dengan serius.
"Kalian udah siap menyusul Nidya?" tanya Emir sambil melihat dua pasangan yang belum halal. Pasangan ketiga dan keempat yang belum halal masih belum bergabung.
"Kenapa kamu jadi kepo?" sindir Kalandra curiga, juga karena melihat Adriana yang ngga nyaman.
Emir tertawa lirih. Hatinya cukup senang hari ini.
"Kak, kamu agak aneh," cetus Puspa heran. Karena biasanya yang agak cerewet Emra, bukan Emir.
"Kamu merasakannya, Puspa? Mungkin ini efek ngga ada pasangan," kekeh Ansel mengejek.
"Sayang Daniel ngga ada di sini," kekeh Kalandra menyahuti. Menyindir yang sama sama jomblo.
"Nanti Bang Daniel datang bareng keluarga," kata Alexander memberitau.
Yang lainnya pun manggut manggut.
"Lebih baik sekarang kita mandi, siap siap nyambut rombongan Fathan," putus Kalandra sambil berdiri.
"Oke," sahut yang lainnya.
"Kalandra, aku ngga bawa gaun," bisik Adriana merasa ngga enak hati.
"Tadi Nayara sudah bawa semua dari butik. Tenang, aku hapal ukuranmu," bisik Kalandra menggoda.
Wajah Adriana merona.
"Ayo, Adriana," seru Puspa yang sudah bergabung dengan Rihana dan Nayara.
Adriana menatap ragu.
"Apa aku harus ikut biar kamu mau gabung dengan mereka?" goda Kalandra lagi.
Reflek Adriana menggelengkan kepalanya. Dan dengan sungkan menghampiri para nona mudanya.
"Ayo, jangan malu malu," ucap Kiara yang ternyata sudah ada di dekatmya. Dengan lembut Kiara menggandeng tangannya, mengajakmya bergabung.
Adriana menatap sekilas mantan jodoh bosnya.
Ada sedikit keraguan kenapa Kiara lebih suka Emra yang players, dari pada Kalandra yang lebih terkesan laki laki baik baik.
Cih, decihnya membatin. Mengingat kelakuan negatif Kalandra padanya, pantaskah Kalandra menyandang gelar laki laki baik yang alim?
Dia pun menurut saja saat di bawa ke salah satu ruangan salon yang ada di dalam mansion.
Adriana berkali kali harus memuji betapa mewahnya mansion keluarga bosnya. Dia merasa udik dan malu.
Ternyata Kirania sudah menunggu mereka di sana.
"Kamu sejak kapan di sini?" tanya Puspa heran. Karena Kirania terlihat memisahkan diri.
"Barusan aja."
Saat Puspa ingin bertanya lagi, Rihana memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya.
Dia melihat wajah Kirania terlihat suntuk dan ngga bersemangat.
Lagi pula gadis itu biasanya bawel. Sepertinya sekarang perasaannya sedang buruk.
Puspa pun menurut.
Mereka pun dilayani pegawai pegawai salon perempuan dalam menjalani paket treatment yang komplit.
Yang lainnya tertawa melihat Adriana meringis kesakitan saat betisnya di waxing. Padahal menurutnya bulu bulu kakinya cukup tipis dan ngga akan terlihat dan mengganggu.
"Bertahanlah. Nanti saat pesta pernikahan Kak Nidya, kita akan melakukannya lagi," kekeh Kirania yang moodnya sudah mulai membaik.
Adriana lebih suka kalo dia ditonjok lawannya saat berkelahi dari pada ngga melakukan apa apa tapi merasa sakit yang amat sangat seperti ini.
*
*
*
Nidya yang sudah didandani dengan kebaya brokat kuning gading yang indah, masih menatap pantulannya di cernin.
Sungguhkan dia akan melakukannya.
Dia bingung, antara melepaskan atau mempertahankan.
Fathan sedikit mengganggu hatinya. Tapi dengan kadar sedikit itu apa dia bisa bahagia?
Dalam terpaan kebingungan yang amat sangat laki laki itu malah menelponnya.
Fathan melakukan video call.
Agak ragu, tapi Nidya tetap menggeser tombol accept.
Seraut wajah tampan hadir di sana. Laki laki itu hanya memandangnya tanpa kata. Tapi tatapan itu membuat Nidya tersipu.
Kenapa dia jadi lemah begini? batin Nidya gemas dengan keadaan dirinya
"Kamu cantik banget," puji Fathan dengan binar di matanya.
Fathan yang sengaja membiarkan orang tuanya dan Daniel masuk duluan, memilih menyandar di badan mobil dan melakukan video call pada gadis galak yang dengan nekat akan dilamarnya malam ini.
Fathan terpana. Gadis itu sangat cantik mempesona. Seperti bukan dirinya. Mungkin dia akan menjadi pengantin tercantik. Tanpa sadar bibirnya tersenyum.
"Orang tuaku sudah menemui keluargamu."
Ngga ada sahutan. Gadis itu masih terpaku dengan wajah cantiknya.
"Kamu boleh menolakku. Tapi kupastikan, ngga akan ada yang melamarmu lagi. Karena kamu hanya milikku."
Mata gadis itu sedikit beriak mendengarnya. Seperti kesal.
Fathan tersenyum lagi dengan dada bergemuruh seperti ada gempa. Dia semakin ngga sabar untuk menjadikan gadis ini sebagai istrinya.
Kemudian dengan senyum miring yang masih bertahan di bibirnya, Fathan memutuskan telponnya.
Dia menghirup nafas banyak banyak sebelum menghembuskannya. Rasanya dia lebih gugup sekarang dari pada saat merebutkan tender ratusan milyar.
Sementara itu Nidya masih menatap ponselnya dengan sengit. Seakan akan ponsel itu adalah wajah datar Fathan...
"Seenaknya saja mengancam," kecamnya dalam hati.
Tapi hatinya jadi meleyot saat mengingat laki laki itu mengatakan kalo dirinya adalah miliknya. Debaran jantungnya pun masih terasa akibat efek dari perkataan itu.
Terdengar suara pintu dibuka. Tiga orang sepupunya mendekat dengan senyum sangat lebar. Puspa, Rihana dan Kirania. Mereka bertiga yang bertugas membawa kakak sepupunya menemui tunangannya.
"Bang Fathan udah datang," goda Kirania.
"Dia tampan banget," sambung Kirania lagi dengan tatapan jahilnya.
Nidya berdecak kecil untuk menyembunyikan debaran hebat di jantungnya.
Tadi saat video call, Fathan memang sangat tampan dengan jas hitamnya dan kemeja yang satu kancing atasnya terbuka.
Ngga pernah Fathan bergaya ala ala badboy seperti Daniel atau Emra sepengetahuan Nidya.
Laki laki ini selalu rapi, seperti Kalandra.
Saat ini pun dia ngga mengenakan dasi.
Padahal Nidya ngga tau saja, kalo penampilannya mendapat protes dari kedua orang tuanya sebelum tadi mereka berangkat.
Tapi karena mendengar alasan yang cukup menggelikan, makanya mami dan papi Fathan ngga memaksanya.
"Aku sulit bernafas."
Daniel malah mengetawakannya saat itu juga dengan sangat keras.
Ngga disangka kalo saudaranya yang selalu tenang dan sangat berwibawa itu bisa gugup juga.
"Ayo, Kak," ucap Rihana lembut sambil menggandeng lengannya.
Nidya balas memegang lengan sepupunya.
Mata mereka saling bertatapan.
"Terima kasih," ucapnya pelan.
Rihana hanya menganggukkan kepalanya dengan bibir terus tersenyum.
Ketiganya pun membimbing Nidya keluar menemui Fathan dan keluarganya.
Daniel hampir saja bersuit melihat si jutek ini berubah menjadi bidadari cantik.
Dia melirik Fathan yang tanpa kedip menatap gadis jutek yang akan dilamarnya.
Senyum samar terukir di bibir Daniel.
Melihat Fathan yang terpesona dan Nidya yang tampak malu malu, dia yang awalnya paling menentang, kini berubah pikiran. Restunya pun langsung turun.
Ternyata jodohmu ngga sampai lima langkah, batin Daniel dengan tawa yang dia tahan.