
Lampu operasi yang padam menyadarkan keheningan mereka.
Beberapa orang dokter keluar dengan wajah penuh senyum.
"Operasi berhasil."
Mereka pun menghembuskan nafas lega seraya berucap syukur.
Opa Airlangga sudah melepaskan pelukannya pada Dewan dan menatapnya lembut.
"Sayangi putrimu," katanya sebelum pergi
"Tentu, Om," jawab Dewan sungguh sungguh.
Kini matanya berlatih pada Alexander yang berada disampingnya. Menatap Alexander lama sambil menepuk pelan pundaknya.
"Om titip Rihana, ya. Jaga dia baik baik," walau ngga merasa berhak mengatur hidup putrinya yang sudah dia telantarkan, Dewan tetap akan mengawasi jalannya kebahagiaan putrinya itu. Setidaknya putrinya berhak hidup bahagia dengan orang yang paling dicintainya.
"Siap, Om," tegas Alexander menjawab. Kelegaannya berlipat ganda. Operasi Zira berhasil dan Om Dewan memberikannya kepercayaan menjaga Rihana.
"Jaga Rihana buat Om," katanya lagi sambil sekali lagi menepuk pundak anak sahabatnya.
Alexander tergetar mendengarnya. Dia tau, kata kata itu sangat tulus keluar dari lubuk hati terdalam seorang papa.
"Iya, Om."
Setelah mendengar jawaban Alexander, Dewan pun pergi mendekati mamanya yang juga mendekat sambil memeluknya.
Melepaskan beban beratnya yang disimpannya selama ini. Mamanya masih menangis. Sementara papanya menatapnya nanar.
*
*
*
Rihana masih belum sadar, tapi mereka masih setia menunggunya.
Gadis itu sudah dipindahkan ke ruang perawatan yang super VIP.
"Minumlah," kata Cakra sambil mengulurkan gelas karton yang berisi kopi panas.
"Terima kasih," balas Dewan sambil menerimanya. Dia agak menggeser duduknya karena Cakra mengambil tempat di sampingnya.
"Dari mana kamu tau kalo Rihana anakmu? Aku rasa kamu belum melakukan test DNA"
Dewan menyesap kembali kppinya.
"Aku ke kubikelnya. Melihat fotonya bersama Dilara. Aku sudah lama penasaran dengan pigura kecil di meja kerjanya. Seharusnya dari awal sudah kulihat," katanya penuh sesal.
"Kamu yakin sekali Rihana putrimu. Ngga ingin melakukan test dna?" decih Cakra mengejek betapa pe de nya laki laki ini.
Dia dan keluarganya biar pun yakin, tapi tetap saja membutuhkan kepastian dengan melakukan test dna pada Rihana.
Dewan menggelengkan kepalanya.
"Untuk apa. Dia memiliki golongan darah yang sama denganku. Sebenarnya papa sempat mengatakan gadis itu mirip denganku, tapi ngga kupedulikan. Dan foto itu sudah cukup menjelaskan semuanya," jelas Dewan panjang lebar.
Dan lagi hatinya pun seperti sudah tersangkut dengan Rihana sejak pertama kali melihatnya. Akan sulit menjelaskannya dengan kata kata pada Cakra.
Cakra ngga menyahut, dia kembali menyesap kopi panasnya. Hatinya sedikit tertampar mendengarnya.
Bukan mereka ngga percaya kalo Rihana putri adiknya. Tapi lebih untuk memastikan, karena terlalu banyak gadis muda yamg mengaku sebagai putri Dilara.
"Sebenarnya aku ingin memukulmu. Tapi sudahlah, papamu sudah mewakilkannya," kata Cakra dengan senyum miringnya.
"Aku ngga keberatan. Aku memang pantas menerima pukulan dari kalian," katanya sambil melihat kopinya. Saat ini perasaannya jauh dari rasa baik baik saja. Dia merasa sangat menderita di dalam hatinya. Apalagi mengetahui Dilara sudah tiada.
Apa yang menyebabkan gadis itu meninggal?
Sakit parah?
Tanpa sadar Dewan menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia termenung.
Dia merindukan gadis itu. Tatapan lembutnya yang malu malu melirik ke arahnya.
Dewan pun ngga pernah lupa senyum dan tangisnya. Juga hal hal romantis yang terjadi pada mereka pada malam itu.
Mereka sudah berusaha menolak, tapi obat itu terlalu kuat efeknya. Sampai sekarang teman teman Dewan ngga ada yang tau kalo mereka lah korban dari obat sialan itu.
"Maafkan. Aku akan melakukannya dengan perlahan," katanya waktu itu setelah efek obat itu mendekati puncaknya.
Dan momen terindah yang membuatnya selalu terkenang saat gadis itu membuka matanya lebar lebar karena sentakan kuatnya. Mata yang sangat indah. Dan suara desisan yang penuh madu.
Dia mengira akan bisa mengulangnya lagi. Tapi ternyata itu adalah kesempatan pertama dan terakhirnya.
Dewan menghela nafas lagi. Dia menghabiskan kopinya yang sudah tinggal separuhnya. Hatinya kosong karena kehilangan yang nyata. Gadis itu sudah pergi buat selamanya.
Akbar dan Wingky yang berada ngga jauh dari keberadaan Cakra dan Dewan, memperhatikan wajah Dewan dengan seksama, juga sambil memegang gelas kopi mereka.
"Aku jadi ngga tega melihatnya," cetus Winky.
Akbar ngga menjawab. Dalam hati dia juga merasakan hal yang sama.
"Dia kelihatan sangat terguncang. Sama seperti kita," tambahnya lagi.
Akbar masih diam.
"Kabarnya istrinya suka pergi ke luar negeri, ngga peduli padanya dan putri mereka, Aurora," sambungnya lagi.
Akbar menyesap kopunya lagi tanpa merespon perkataan Wingknya. Adik bungsunya selalu update dengan berita berita viral yang sensitif.
Wingky kembali menyesap kopinya. Ngga masalah baginya Akbar ngga menanggapinya. Tapi dia tau kalo kakak keduanya mendengarkannya.
Sekilas melihatnya saja Akbar tau kalo saat ini Dewan sangat terpukul dengan kenyataan kalo adik bungsu mereka sudah tiada. Seperti mereka, yang ngga berdaya melawan takdir.
"Ma, aku pulang dulu, ya. Aku akan mengambil beberapa keperluan untuk di sini," pamit Puspa pada mamanya.
"Oh iya, sayang. Biar Ansel dan Kiran ikut bersama kamu," kata mamanya sambil memberi kode pada kedua keponakannya yang langsung mengerti.
Herdin menatap saat ketiga orang itu melewatinya. Perhatiannya lebih tertuju pada Puspa yang merupakan teman dekat Rihana. Ternyata mereka sepupu.
Dia tau betapa baiknya gadis itu yang selalu mengantar jemput Rihana hingga membuat Alexander merasa ngga berguna sebagai pacar.
"Dia boleh juga," usik Alexander yang menyadari tatapan sahabatnya.
Herdin tersenyum. Rasanya agak susah move on dari Aurora. Dia masih butuh waktu.
"Ngga pa pa kamu nemenin aku di sini?" tanya Alexander lagi.
Herdin melihat jam di pergelangan tangan kirinya.
"Setengah jam lagi aku harus pergi. Mama memintaku menemuinya di hotel. Biasa membahas merger," kata Herdin memberitau.
"Ooo," senyum Alexander paham. Keluarga Herdin memang bergerak di bisnis perhotelan. Hotelnya sudah tersebar di dalam mau pun di luar negeri.
"Kamu belum menghubungi papa dan mamamu?" tanya Herdin mengingatkan
"Oh iya." Dia sudah mengatakan akan bertemu dengan keluarga Rihana malam ini pada mama dan papanya. Mungkin mereka sedang menunggu kabar darinya.
"Sekarang orang tuamu nggak akan mungkin menolak lagi," senyum Herdin penuh makna.
"Ya," sahut Alexander dengan senyum simpul di bibirnya.
Apa ya, yang akan dikatakan mereka jika tau Rihana cucu dari Opa Airlangga dan putri dari Om Dewan.
Alexander berharap kedua orang tuanya ngga kena serangan jantung.
Sementara itu Opa Iskandardinata menatap canggung pada sahabatnya. Dia merasa sangat bersalah.
"Aku benar benar minta maaf," katanya lagi. Sudah berapa kali beliau ucapkan, tapi rasanya ngga akan pernah bisa melegakan hatinya.
Sementara.tangan Oma Mora masih digenggam erat Oma Mien. Mereka sama terlukanya dengan kenyataan yang baru saja terungkap.
"Sudahlah. Sekarang yang harus kita pikirkan kebahagiaan cucu kita," sahut Opa Airlangga tenang, berusaha meredam perasaan terlukanya.
"Aku akan berikan yang terbaik untuk Rihana."
"Rihana hanya mau Alexander. Begitu juga Alexander," cepat Opa Airlangga menjawab.
Opa Iskandardinata menghela nafas panjang. Kembali merasa bersalah karena sudah berlaku ngga adil demi cucunya yang lain, Aurora.
"Aku akan mendukung keduanya," janjinya penuh yakin.
Aurora akan dia carikan jodoh yang lain. Kebahagiaan Rihana kini nomer satu baginya. Beliau akan mencurahkan semua kasih sayangnya pada Rihana mulai saat ini. Cucunya yang ngga sengaja telah ditelantarkannya.
Opa Airlangga tersenyum puas mendengarnya. Beliau pun akan melakukan apa pun demi kebahagiaan cucunya. Putrinya Dilara.
Oma Mora dan Oma Mien saling menerbitkan senyum tipis mereka ketika mendengar obrolan suami suami mereka.