
"Papa," seru Aurora sambil berlari mendekati papanya.
Dewan memaksakan dirinya untuk bangkit dari duduknya. Dia merentangkan kedua tangannya dan memeluk Aurora yang menghambur dengan tangisnya.
Irena menatap tajam pada Alexander, Gara gara Alexanderlah putrinya sampai menjadi pembunuh.
Alexander dan Herdin ngga bergeming. Mereka berdua juga ngga menyapa Mama Aurora.
"Kita pulang," kata Dewan setelah beberapa saat lamanya.
Aurora mengangguk. Dia masih menangis dan Dewan terus merangkulnya sambil berjalan pergi.
Dewan ingin lebih lama bersama putrinya. Kalo memang terbukti benar praduga Alexander dan Herdin, dia akan menyerrahkan putrinya sendiri ke kantor polisi. Dan akan meminta maaf pada Hendy sahabatnya atas kematian putranya Aiden.
Alexander dan Herdin mengikuti mereka dan kembali Alexander bertindak sebagai supir Om Dewan dan keluarganya yang mengantarkan sampai di rumah Aurora. Mobil Herdin mengikuti dari belakang dalam jarak yang cukup dekat.
Sepanjang perjalanan Aurora pun ngga menegur Alexander yang tampak mengacuhkannya juga.
Hanya saja ketika sampai di rumah, Aurora dan Irena agak heran melihat Alexander turun dari mobil bersama Herdin dan ikut masuk ke dalam tumah mereka.
"Kalian beristirahatlah," titahnya pada Irena dan putrinya. Wajah keduanya pun tampak lelah.
"Iya, Pa," sahut Aurora sambil melirik Alexander sebelum pergi.
Setelah melihat keduanya masuk ke kamar masing masing, Dewan memberi isyarat pada Alexander dan Herdin untuk mengikutinya.
Mereka pun menuju ke ruangan sekuriti. Pak Mul yang berada di dalam sana terkejut melihat kedatangan tuan besarnya bersama dua orang tuan muda.
"Pak Mul, tolong cek rekaman cctvnya selama lima hari ini," perintah Dewan tegas.
"Siap Pak."
Pak Mul pun membuka file file yang dimaksud.
Jantung Dewan mau copot rasanya saat melihat pada layar monitor isi rekaman cctvnya. Dadanya sesak.
Mobil itu ternyata memang keluaran baru yang dibeli Aurora tanpa memberitaunya. Dan pada hari kejadian Aiden kehilangan nyawanya, putrinya Aurora beneran pergi.
Apalagi saat Herdin menunjukkan rekaman cctv yang dia peroleh untuk.adegan selanjutnya.
Mobil itu pergi ke arah basemen perusahaan Papanya Aiden. Dan ngga lama kemudian mobil itu keluar menuju kantor agency Aurora.
Mobil itu keluar lagi kemarin malam. Sayangnya mobil itu menuju luar kota dan jarang ada rekaman cctvnya.
Dan kembali Dewan tersentak ketika melihat rekaman cctv mansion dan kantor agensinya. Aurora meninggalkan mansion dengan mobil favoritnya, menuju kantor agencynya. Hanya sebentar dan pergi lagi ke arah luar kota, seperti jalur mobil putih yang baru dibelinya.
Dewan teringat saat Aurora pamitan padanya ketika mereka baru saja kembali dari pemakaman Aiden. Katanya hanya akan pergi sebentar, tapi nyatanya lama.
Apa yang Aurora sembunyikan? batinnya ngga tenang
Apa dia membuang mobil itu di suatu tempat?
Kemudian.dengan tangan gemetar, Dewan menyerahkan rekaman cctv itu yang sudah disimpan dalam flashdisk pada Alexander.
'Serahkan pada Xavi. Dia lebih berhak melaporkan kecurigaan ini," kata Dewan berusaha tabah
Dewan sempat melihat Xavi di kantor polisi. Hatinya ngga tenang. Dia pun teringat Aiden. Perasaannya menjadi sangat sedih. Rasanya dia akan benar benar masuk neraka. Kejahatannya terhadap Dilara dan Rihana saja belum termaafkan. Sekarang ditambah dengan kejahatan Aurora.
Sahabatnya pasti akan sangat membencinya.
Alexander dan Herdin saling pandang. Mereka pun berniat sama. Xavi lebih berhak tau karena Aiden adalah saudara kembarnya. Ternyata Om Dewan berpikir hal yang sama.
"Baiklah, Om."
Kembali Dewan merasa sesak.
'Tuan," panik Pak Mul melihat keadaan Dewan. Saat ini dia agak curiga mengapa Pak Dewan meminta rekaman kamera cctv kejadian beberapa hari yang lalu.
Setelah melihat Om Dewan agak baikan, Alexander dan Herdin pun pamit
Begitu keduanya sudah meninggalkan mansion Om Dewan, Aurora muncul.di sana. Dia sudah berdandan cantik karena ingin bertemu Alexander. Ingin menjelaskan kejadian di kantor polisi agar Kak Alex ngga salah paham.
"Kak Alex kemana, Pa?" tanyanya heran saat hanya melihat papanya sendiri saja di teras rumahnya.
"Sudah pulang. Baru aja," sahut Papanya lembut. Dia tersenyum melihat Aurora yang tampak kecewa.
"Jangan terlalu mengharapkan Alexander, sayang. Dia akan menikah dengan Rihana bulan depan," tutur Dewan lembut.
"Bu bulan depan?" tanyanya kaget. Sepasang matanya menatap papanya ngga percaya. Tapi Aurora merasa lemah. Netra papanya ngga berdusta.
Salahkah kalo dia berharap bisa kembali pada Kak Alexandernya, batinnya sedih.
Padahal Aiden sudah tiada. Tetap saja Kak Alex mengacuhkannya.
"Papa kenapa lebih suka dia dari pada aku yang menikah dengan Kak Alex?" tanyanya sendu.
Dewan menarik nafas panjang. Dia pun sedih melihat ketakberdayaan Aurora. Tapi dia pun ngga bisa berbuat apa apa.
"Alexander yang memilihnya, sayang."
Aurora menggelengkan kepalanya berulang kali. Air matanya mulai menetes. Dia ngga terima. Sangat ngga terima. Andai anak h@ram papanya itu ngga muncul atau bahkan mati seperti Aiden, dialah yang akan menikah dengan Kak Alexandernya bulan depan.
Mungkin gadis sok kecantikan itu juga harus dia lenyapkan, geramnya dalam hati.
Papanya-Dewan menarik Aurora yang tersedu dalam pelukannya. Hatinya bahagia dan sakit secara bersamaan mengingat keadaan kedua putrinya.
*
*
*
"Ini," kata Alexander sambil menyerahkan flashdisk yang berisi rekaman cctv Aurora beberapa hari ini.
Xavi menerimanya dengan mantap. Awalnya dia akan mengupload foto foto unmoral Aurora di semua sosmed besok. Biar terjadi kegemparan. Kalo model yang sok suci ini sebenarnya J@l@ng berbahaya.
Xavi begitu geram dan emosi melihat Aurora bisa dengan mudah dibebaskan. Padahal sudah dapat dipastikan kalo dia tau, atau bahkan dia sendirilah yang sudah membunuh Aiden dengan kejam.
Bahkan Xavi sedang sangat serius membuat kumpulan foto Aurora erotis menjadi sebuah video ketika Alexander menelponnya saat itu.
Mereka janjian di kafe di depan apartemen Aiden, tapi sekarang dia tinggali karena merindukan ketengilan saudara kembarnya itu.
"Apa?" tanyanya sambil memutar mutar flashdisk itu dalam genggamab tangannya.
"Rekaman cctv mobil putih yang keluar dari mansion Aurora ke perusahaan Papamu dan kembali ke kantor agensinya."
Xavi menatap Alexander dengan sorot aneh.
"Kalian mencuri rekaman ini di mansion Aurora?" bentaknya marah.
Alexander saling tatap demgan Herdin, kemudian tersenyum pahit.
"Om Dewan yang mengijinkannya. Bahkan dia meminta secara langsung agar memberikannya padamu," jelas Alexander panjang lebar.
Xavi terperangah mendengarnya. Ngga disangkanya Om Dewan mau melakukannya. Padahal.dia sudah membenci laki laki sahabat papanya itu, karena mengira akan melindungi kejahatan putrinya.
"Lakukanlah dengan baik. Tapi kami belum bisa membantu lebih banyak lagi.Kami akan terus berusaha mencari bukti bukti yang lainnya lagi," ucap Herdin.
"Thank's."
Alexander dan Herdin hanya membalas dengan anggukan kepala dan mengulas senyum tipisnya.