
"Aurora, mau kemana?" tanya Irena saat melihat anak perempuannya sudah rapi. Mama Alexander yang sedang menata meja makan pun menoleh menatapnya.
"Ada telpon penting Ma, dari agensi. Aku harus segera pergi," katanya agak sungkan karena melihat meja makan yang sudah berisi penuh dengan banyak makanan.
Pasti mamanya dan mama Alexander sudah menyiapkannya sejak tadi.
"Gimana kalo mama bekalkan saja, ya. Kasian Tante Sofia sudah mempersiapkan semua ini buat kamu," senyum mamanya lembut seakan memahami kalo urusan Aurora cukup penting.
"Boleh, Ma. Maaf, ya, tante," ucapnya dengan mengulas senyum tipis pada Mama Alexander.
"Ngga apa apa, sayang," senyum Mama Alexander maklum sambil mengisi mangkok bekal yang diberikan Irena.
Ngga lama kemudian Aurora pun pamit dengan membawa paper bag yang berisi mangkok bekal itu.
Aurora sengaja berhenti di sebuah minimarket yang ngga jauh dari perusahaan Aiden. Dia membuka mangkok bekalnya, dan menikmatinya sambil menerima telpon dari seseorang.
"Jam dua, nona muda. Mama tuan muda Aiden ingin bertemu dengan anda berdua," suara sekertaris Aiden memberitaunya
"Tuan muda meminta anda berangkat lebih dulu."
"Oke," kata Aurora sambil menutup telponnya.
Tadi saat berada di rumah, Mama Aiden tiba tiba menelponnya dan mengatakan ingin bertemu dengannya dan Aiden.
Iseng Aurora bertanya keberadaan Aiden. Ternyata masih Aiden berada di perusahaannya. Dan akan langsung menemui mamanya setelah meetingnya selesai.
Aurora tersenyum sinis. Ternyata lebih cepat dari yang dia perkirakan.
Setelah menghabiskan separuh bekalnya, Aurora melajukan mobilnya ke basemen perusahaan Aiden. Suasana cukup rame karena jam makan siang yang sebentar lagi akan berakhir.
Aurora cukup hapal dengan mobil mewah Aiden. Dia memarkikan mobilnya di belakang mobil Aiden.
Sengaja Aurora menggunakan mobil yang baru saja dia beli kemaren sehingga belum ada nomer plat resminya.
Aurora sudah memikirkan rencananya matang matang. Dia pun sudah mengenakan wig pendek berwarna ungu, topi, kaca mata dan masker. Aurora juga mengenakan jaket tebal untuk menutupi tubuh langsingnya dan sepatu boot pun menggantikan high heelsnya.
Dia sudah mempersiapkannnya beberapa hari yang lalu. Bahkan dia sudah hunting ke beberapa situs gugel gimana melakukan penyamaran yang sempurna untuk aksinya nanti.
Aurora masih menunggu walau dia mulai ngga nyaman dan merasa kepanasan dengan penyamarannya.
Keadaan basemen akhirnya mulai sepi. Mata Aurora terus melihat ke arah pintu lift.
Detik dan menit mulai bergulir dengan lambat. Aurora mulai berkeringat. Tubuhnya mulai sangat gerah.
Aurora mengomel dalam hati karena Aiden yang belum juga muncul. Setelah tiga puluh menit berlalu, Aurora hampir membatalkan niat konyolnya.
Harusnya dia menyewa pembunuh bayaran saja, sesalnya dalam hati.
Saat Aurora akan membuka jaketnya, dia melihat pintu lift terbuka dan menampilkan sosok Aiden yang berada di sana.
Seringai sinis menyeruak di bibirnya, kemudian Aurora mengambil kunci inggris yang sudah dia persiapkan. Dengan sangat hati hati Aurora keluar dari mobil dan berjalan mendekati Aiden yang saat ini sedang memegang telpon.
Dia menoleh. Terlambat.
Aurora dengan sekuat tenaga memukulkan kunci inggris itu ke kepala Aiden.
****BUGH****
BUGH
BUGH
Aiden masih berusaha melawan walaupun darah mengucur deras dari kepalanya.
BUGH
Satu tendangan mampir dengan keras di pinggang Aurora. Hampir dia menjerit.
Aurora pun jatuh terjengkang bersama Aiden yang terkapar ngga jauh darinya.
Tapi Aiden masih sempat menelpon sekertarisnya sebelum matanya terpejam.
"Menyusahkan!" decih Aurora sambil merapikan jaket kebesaran yang dipakainya
Aurora menggunakan kakinya untuk memeriksa keadaan Aiden.
Senyum mengerikan terukir di balik maskernya karena yakin Aiden sudah ngga bergerak lagi.
Secepatnya dia menendang ponsel Aiden yang masih menyala, kemudian menghancurkannya sehancur hancurnya dengan kunci inggrisnya.
"Jangan main main denganku," decihnya lirih, kemudian dengan agak tergesa berjalan ke mobilnya. Dia harus segera menemui Mama Aiden di restoran yang sudah mereka reservasi.
Dengan tenang, Aurora meninggalkan mobilnya di basemen agensinya. Dan dengan mobil yang lain serta sudah merapikan dandanannya, dia pergi menemui Mama Aiden.
"Sayang," sahut Mama Aiden sangat excited menyambut kedatangannya.
Mama Aiden yang paling bahagia karena Aiden berhasil mendapatkan Aurora. Mantu daman teman teman sosialitanya.
"Tante," sahutnya ramah dan menerima pelukan Mama Aiden.
"Kamu cantik sekali," puji Mama Aiden penuh kagum.
Aurora tersenyum lembut.
Mereka pun saling mengobrol dan menikmati makanan yang sudah tersedia di atas meja tanpa menunggu kehadiran Aiden.
Bahkan mamanya seperti terlupa kalo dia pun janjian dengan putranya juga di sini bersama Aurora.
Mama Aiden begitu terbius dengan kecantikan dan sopan santun Aurora. Bahkan saat Aurora mempercepat pertemuan mereka karena ada panggilan penting dari kantor agencinya, Mama Aiden sama sekali ngga keberatan membiarkan Aurora pergi.
Tapi ngga lama kemudian suasana berubah panik dan senyum bahagia Mama Aiden menghilang, karena sekertaris Aiden memberitaunya kalo Aiden saat ini sudah berada di rumah sakit dalam keadaan luka parah di kepalanya.