
Pagi ini semua orang terpekur di pemakaman Aiden. Mama Aiden tampak memeluk erat seorang laki laki tegap yang mengenakan topi, masker dan kaca mata hitam.
Banyak yang bertanya tanya siapa laki laki yang hanya diam mematung sambil memeluk erat tubuh Mama Aiden.
Sebagian yang sudah tau hanya diam saja, enggan menjelaskan.
Aurora menatap kesal pada Rihana yang sedang dirangkul Alexander. Sedangkan dirinya hanya ditemani oleh mamanya saja.Tapi Aurora penasaran dengan laki laki tegap yang sedang menjadi pusat perhatian orang orang. Kata papanya, dia kakaknya Dewan yang mengurus perusahaan keluarga di Amerika. Sehingga membutuhkan banyak waktu untuk menuju ke sini.
Penampilan laki laki itu mengingatkannya akan penampilannya saat menghajar Aiden hingga kehilangan nyawanya.
Ups. Aurora tersentak mengingat dia belum membuang jaket yang terciprat darah Aiden. Jaket itu hanya dia letakkan di kursi belakang di dalam mobilnya yang masih terparkir di basemen kantor agensinya.
Dia melupakan barang bukti yang bisa kapan saja mencelakakannya. Setelah melepaskan jaket, masker, kaca mata, topi, dan wig, Aurora bergegas meninggalkan mobilnya, masuk ke dalam mobilnya yang lainnya. Meninggalkan begitu saja bukti bukti dari tkpnya.
Dia yang biasa teliti kini jadi ceroboh. Apalagi mendengar kata orang orang kalo polisi sudah memeriksa rekaman cctv di jalan sepanjang perusahaan Aiden. Jantungnya berdebar ngga menentu.
Sampailah saar orang orang berpamitan pada tuan rumah yang masih betah menatap tanah merah yang masih basah dan penuh taburan bunga.
"Tante, Aurora pamit," katanya saat sudah berada di dekat mama Aiden bersama papanya dan mamanya.
Mereka sengaja menunggu hingga sebagian besar pelayat pergi.
"Iya, sayang," balas Mama Aiden kemudain melepas rangkulan laki laki itu dan memeluk Aurora dalam isaknya
Laki laki itu menatap Aurora tajam dari balik kaca mata hitamnya.
"Xavi," panggil Dewan membuat laki laki itu menoleh padanya
"Om. Terima kasih," ucapnya sambil menerima uluran tangan Dewan. Dia sudah pernah beberapa kali bertemu Om Dewan.
Jantung Aurora berdetak keras mendengar suara laki laki ini. Dan ketika laki laki ini menurunkan maskernya, seketika kakinya lemas. Mamanya reflek menahan tubuhnya.
"Kamu kenapa?" bisik mamanya kaget melihat wajah pucat anaknya dan suhu tubuhnya yang sedingin es.
"A Aiden," bisiknya tergagap. Karena sosok ini menyerupai Aiden. Gimana Aurora ngga terkejut. Dia seakan melihat Aiden yang marah di depannya.
"Dia saudara kembar Aiden," jelas mamanya membuat mulut Aurora ternganga .
Suudara kembar? Tidak! Dia Aiden, bantahnya dalam hati. Apalagi netra laki laki itu menyorot tajam di balik kaca matanya. Aurora dapat merasakan tatapan penuh intimidasi itu.
"Mereka kembar identik," sambung Irena lagi membuat Aurora hanya bisa mematung.
"Putri, Om?" tanya Xavi pada Dewan.
"Benar. Aurora, sini sayang," panggil Dewan membuat Aurora memaksakan senyum di wajah pucatnya.
Mamanya mendorongnya pelan menghampiri suaminya
"Aurora, calon istri Aiden," kata Dewan mengenalkan.
Xavi tersenyum sambil mengulurkan tangan yang terpaksa dibalas Aurora.
Jantung Aurora tambah ngga menentu merasakan cengkeraram keras Xavi pada jari jari tangannya yang digenggam.
Xavi sendiri merasa aneh karena tangan gadis yang sangat cantik ini sedingin es. Dia kembali menatap tajam pada sosok yang nampak gugup, ngga berani memandangnya.
Akhirnya Xavi melepaskan juga genggamannya.
"Ini putri Om yang satu lagi. Dan ini calon suaminya," kata Dewan mengenalkan Rihana dan Alexander.
"Xavi," katanya sambil mengulurkan tangan yang disambut ramah Rihana.
"Rihana."
Sementara kening Alexander mengernyit sesaat
"Kamu mirip sekali dengan Aiden," kata Alexander setelah keduanya saling berjabat tangan.
"Ya, kami kembar identik," jelasnya ramah
"Turut berduka cita," balas Alexander.
"Terima kasih."
Saat ini Aurora ingin segera pergi karena merasa gerak geriknya sedang diawasi kembaran Aiden.
Selain itu Aurora juga ingin cepat cepat membereskan barang buktinya yang berada di agensinya. Dia mulai dilanda ketakutan. Karena polisi katanya sudah mengetahui warna serta merk mobilnya.
Reaksi gelisah Aurora ditanggapi heran Xavi. Dia memutuskan akan menyelidiki hubungan adik kembarnya dengan Aurora. Sayangnya ponsel Aiden sudah hancur. Bahkan kartu memori nya pun ngga bisa diperbaiki.
Kekasih Aiden? tebaknya dalam hati. Bahkan Xavi merasa kesedihan gadis ini lebih nyata dari pada Aurora.
Begitu mata mereka bertatapan, gadis ini pun sangat terkejut melihatnya.
Xavi merasa perlu menyelidiki semua hal yang mencurigakannya.
*
*
*
Xavi memasuki kamar Aiden, setelah mamanya tertidur. Dia menatap foto yang mirip dengannya dan sedang tersenyum.
"Siapa yang melakukannya?" gumamnya sambil menggusar rambutnya. Padahal dia baru saja mendengar suara bahagia Aiden yang mengabarkan kalo dirinya akan menikah.
Xavi membuka laptop Aiden yang ada di atas mejanya. Untung saja ngga ada passwordnya.
Xavi langsung membuka folder folder yang tampak.aneh.
Bibirnya tersenyum miring melihat koleksi foto mesra Aiden dengan banyak perempuan cantik dan seksi. Matamya memicing. Dia yakin salah satu perempuan di foto ini adalah perempuan yang nampak shock di kuburan Aiden.
Xavi belum melihat foto Aiden bersama Aurora. Kembali dia membuka folder folder itu satu persatu.
Dan mulutnya ternganga ketika membuka satu folder yang disimpan dengan nama.yang asing.
Folder itu berisi foto foto seksi Aurora yang polos tanpa mengenakan apa pun. Kelihatannya gadis itu ngga sadar kalo Aiden sudah mengabadikan dirinya. Gadis itu terlihat sedang memejamkan mata dengan wajah yang kuyu dan lelah, namun membiat senjata Xavi tiba tiba menegang.
Mata Xavi terbelalak menatap beberapa video permainan cinta Aiden dan Aurora. Xavi yakin kalo Aiden merekam adegan ini secara diam diam.
Terlihat awalnya gadis itu menolak, tapi Aiden berhasil memaksanya dan lama.lama gadis itu terlihat melakukannya dengan suka rela.
Video video itu berdurasi cukup panjang dan Xavi yakin saat difoto, gadis itu ngga sadar karena sudah kelelahan.
Apa Aiden mengancamnya? batinnya menerka nerka. Dan gilanya Xavi merasa candu melihat video video dan foto foto Aurora.
Benar benar sempurna, pujinya membatin sambil tersenyum miring.
Xavi pun menyalin foto foto dan video video itu ke ponselnya.
Dia pun menutup.laptop itu saat mendengar pintu kamar Aiden terbuka.
Papanya sudah berdiri di sana.
Sambil tersenyum, papanya mendekatinya kemudian duduk di sampingnya.
"Pa, gimana Aiden bisa bertunangan dengan Aurora?" tanyanya sambil menatap papanya. Dia penasaran dengan kebenaran dugaannya kalo Aiden memaksa Aurora.
Papanya menghela nafas panjang.
"Awalnya Aurora akan ditunangkan dengan Alexander. Tapi Alexander menolak karena lebih memilih kakak Aurora. Rihana. Kamu sudah melihatnya juga, kan?"
Ooo, batinnya mulai mengerti.
"Iya."
"Aiden rupanya menyukai Aurora dan papa Aurora tidak keberatan. Mungkin agar Aurora cepat move on dari Alexander."
Xavi tambah mengerti. Xavi mulai merasa kalo Aiden sudah menjebak Aurora hingga gadis itu mau bertunangan denganya.
"Aurora menerima. Ini rahasia. Aurora pernah menyuruh Aiden melukai Rihana, dan Aiden melakukannya. Rihana sempat masuk ke rumah sakit."
Xavi terperangah. Ngga nyangka mendengar ucapan papanya.
"Mereka saudara, kan?" Tapi dalam benaknya, Xavi merasa Aurora cemburu pada saudara sendirinya. Dan Aiden mungkin mendapatkan imbalan menggiurkan jika menuruti permintaan Aurora.
"Sewaktu Aiden mencelakakan Rihana, belum ada yang tau kalo gadis itu anak Om Dewan. Hubungan keluarga mereka rumit. Susah buat papa ceritakan."
Xavi mulai mengerti dan mulai mengurai benang merah yang mulai terlihat jelas
"Apa Aiden punya pacar, Pa?"
"Pacarnya pasti dimana mana," kekeh papanya getir dan sedih.
Xavi mengerti. Gadis yang nampak sangat terguncang itu ternyata hanya maenan adiknya saja.