
Dewan menatap penuh perasaan pada putrinya yang sedang digandeng Alexander
Dia bersyukur ada laki laki seperti Alexander yang selalu mencintai Rihana
Padahal Rihana bukan siapa siapa. Bahkan dia pun pernah menghina putrinya sendiri. Dan dia lah penyebab luka hati terbesarnya. Dia yang sudah membuat keduanya menderita. Bahkan dia pun belum sempat meminta maaf pada Dilara. Mengingat kembali kata kata jahatnya membuat jantungnya seperti diremas sangat kuat
Afif pun ikut menemani sahabatnya. Dia merangkul bahu Dewan untuk meredakan sesak sahabatnya. Juga sesaknya sendiri
Dia akan mendukung hubungan Alexander dengan Rihana. Seperti kata putranya, ngga ada bedanya. Keduanya sama sama putri sahabatnya, Dewan.
Tentang istrinya, Afif akan memberikannya sedikit waktu untuk bisa menerima Rihana. Semua butuh proses
Tapi Afif bisa melihat tatap penuh binar Alexander pada Rihana. Itu ngga pernah ada untuk Aurora. Hingga dia semakin yakin tentang siapa yang dicintai anaknya itu.
"Kamu sudah lebih baik?" tanya Dewan saat putrinya dan Alexander mendekatinya.
Rihana hanya mengangguk. Dia masih canggung.
"Kamu akan pulang ke rumah Opa Airlangga, ya?" tanya Dewan pahit.
"Iya, Pa."
Dewan menganggukkan kepalanya lemah. Dia ngga punya kuasa apa apa untuk mengambil putrinya dari orang tua Dilara
"Papa dan Om Afif akan ikut mengantar."
"Iya, kamu juga bisa panggil Om, Papa Alex," senyum Afif menyejukkan hati Rihana. Perasaan diterima membuatnya nyaman.
"Bentar lagi, dong, diresmikan," celutuk Ansel diikuti kekehan yang lain.
"Iya, kapan saja Zira siap," jawab Alexander diplomatis.
"Papa setuju," sahut Dewan cepat yang langsung diacungkan dua jempol oleh papanya, Iskandardinata dengan raut bahagia.
"Papa Alex juga," sambung Afif.
"Mama papamu udah tau?" sentil Oma Mora mulai bawel.
"Nanti sore mereka tiba tante. Kata mama sudah ngga sabar ketenu sahabat sahabatnya," kekeh Afif juga diikuti Opa Airlangga dan Opa Iskandardinata.
"Syukurlah," senyum Oma Mora mengembang manis Begitu juga Oma Mien. Akhirnya mereka bisa berkunpul dan membahas pernikahan cucu cucu mereka.
Untungnya opa dan oma Alexander ngga banyak pertanyaan saat papanya menceritakan semuanya yang sudah terjadi
Ngga masalah bagi mereka. Karena Oma Mora dan Oma Mien adalah sahabat mereka dari dulu. Mereka pun mendukung apa pun yang menjadi kebahagiaan cucu bungsu mereka.
Rihana kembali merasakan perasaan lega yang amat sangat. Kini dia sudah dikelilingi keluarganya yang sebenarnya.
Rihana sudah ngga sabar bertemu Bu Laras dan penghuni panti lainnya. Dia akan membagikan kebahagiaan ini pada mereka. Juga akan mengembalikan kehidupan nyaman yang dulu lagi. Rihana akan berbagi pada mereka, yang sudah bersamanya sejak dia kecil.
*
*
*
"Kamu kenapa?" tanya Irena saat melihat anaknya, Aurora yang pulang dalam keadaan lesu dan tiada semangat.
Binar matanya begitu redup saat beradu tatap dengan mamanya di ruang tamu.
"Mama tau papa kemana?" tanya Aurora pelan. Tapi kemudian dia menghela nafas kasar melihat gelengan pelan mamanya
Aurora tau kalo mamanya pasti ngga tau. Papanya selalu saja bersikap dingin dengan mamanya. Aurora tau mamanya bertahan hanya demi dirinya.
Itulah yang membuat Aurora ingin memiliki Alexander. Keluarga mereka sangat hangat. Mama Alexander sangat menyayangi dirinya. Papanya dan juga kedua kakak laki laki Alexander begitu perhatian padanya.
Mereka memperlakukannya dengan sangat baik dan penuh perhatian. Yang ngga pernah Aurora dapatkan saat berkumpul bersama mama dan papanya.
"Kamu tau papa dimana?" tanya Irena setelah cukup lama mereka terdiam.
Aurora tersadar dari lamunannya.
"Setelah jam makan siang, papa ngga ada di kantor, Ma. Papa menemani anak yang baru dia temukan," lirih suara Aurora mengadu.
Irena tersentak. Dia sudah tau cerita ini dari Mama Alexander. Melihat kesakitan di mata Aurora, dia jadi marah.
Aurora selama ini selalu mendapat seluruh perhatian Dewan, oma dan opanya, juga Alexander. Tapi hari ini sepertinya mereka semuanya melupakannya. Mengabaikannya.
Aurora balas memeluk mamanya sangat lama. Dia merasa sangat sedih. Air matanya bergulir perlahan.
Tapi pelukan mamanya membuatnya nyaman. Dia butuh tempat bersandar di saat semua sandaran sudah berlabuh ke orang lain.
"Papa ngga pamit padaku. Alexander juga lebih memilih dia," tangis Aurora yang dia tahan akhirnya pecah juga.
Jantung Irena berdebar keras memukul dadanya hingga terasa sangat sakit. Dia sangat mengerti keterpurukan putri tunggalnya.
Mama Alexander sudah menceritakan semuanya. Alexander lebih dulu mengenal anak h@r@m itu dari pada putrinya.
Yang menyakitkan Alexander hanya menganggap putrinya sebagai adik saja karena sudah lebih dulu mencintai anak h@r@m suaminya itu.
Irena sangat penasaran, secantik apa gadis itu hingga Alexander bisa mengabaikan putrinya begitu saja. Karena Irena belum pernah melihatnya
"Ma, bisakah aku menolak Aiden?" tanya Aurora setelah tangisnya reda dengan suara seraknya.
Dia masih betah bersandar di dada mamanya.
"Kamu ngga menyukainya?"
Aurora ngga menjawab. Dia menggigit bibirnya. Teringat ancaman Aiden.
"Mak maksudku, ini terlalu cepat," sangkalnya agak gugup.
Jika Aiden nantinya membuka kedoknya, pasti semua orang tambah ngga respect dengannya.
Kak Alexnya saja sudah mulai dingin. Aurora ngga tau gimana tanggapan Kak Herdin
Aiden secara licik sudah menyimpan foto foto dan video video unmoralnya. Mungkin laki laki itu harus dia singkirkan agar ngga mengganggu hidupnya lagi.
Seulas senyum mengerikan terukir di bibirnya.
*
*
*
"Pernikahan akan berlangsung setelah kita pulang dari Jogja. Gimana?" usul Opa Iskandardinata.
"Aku setuju," jawab Opa Airlangga cepat.
Saat ini mereka sedang berkumpul di halaman belakang rumah Opa Airlangga yang teduh.
"Kita bisa memesan Wedding Organizer langganan kita," lanjut Oma Mien sambil memgerling pada Oma Mora yang langsung mengangguk setuju.
Sementara itu Alexander, Rihana dan beberapa sepupunya ikut mendengar tanpa protes. Herdin pun ada di sana.
"Mungkin kami akan ke Bandung dulu. Nyekar di kuburan Dilara," kata Oma Mien dengan raut sedih
Opa Airlangga menggenggam lembut jemari istrinya untuk menguatkannya. Suasana berubah hening.
Dewan merasa dadanya semakin sesak.
Maaf, batinnya berkali kali. Tetap saja ngga akan bisa mengurangi rasa berdosanya.
Oma Mora menghela nafas ngga kalah sedihnya. Dia cukup mengenal Dilara. Jika saja waktu bisa diputar ulang, semuanya pasti akan sangat indah dan membahagiakan.
"Aku meminta maaf atas nama Dewan. Dilara sudah kuanggap sebagai putriku. Tolong maafkan putraku yang brengsek ini," kata Opa Iskandardinata dengan suara serak dan bergetar. Memecah kesunyian.
"Mungkin sudah takdir Dilara, " sahut Opa Airlangga berusaha tabah dan berlapang dada.
"Sekarang yang harus kita pikirkan tentang hubungan putrinya dengan Alexander. Anakku Dilara pasti sedang melihat kita dan sangat bahagia di atas sana," sambung Opa Airlangga dengan suara juga bergetar menahan perasaannya.
Mereka sama mengangguk tanpa kata. Ada air mata yang menetes dan dengan cepat dihapus.
Bahkan tubuh Dewan bergetar menahan isaknya. Afif pun sama. Dia juga ikut andil dalam kemalangan yang dialami Dilara.
Alexander sampai memeluk Rihana hingga gadis itu membasahi kemejanya dengan air matanya dan tanpa mengeluarkan suara. Tangisan yang menyesakkan.
"Kami ikut ke Bandung," ucap Oma Mora dengan suara bergetar.
Opa Iskandardinata dan Dewan menganggukkan kepala tanpa suara. Bahkan Afif juga melakukan hal yang sama.