NOT Second Lead

NOT Second Lead
Kabar yang ditunggu



"Aku hamil," seru Rihana kegirangan saat melihat dua garis merah yang sudah cukup jelas di test packnya.


"Benarkah? Syukurlah," tawa bahagia Alexander menguar dari bibirnya.


Dia pun memeluk Rihana dan mencium kening, pipi dan bibir istrinya penuh syukur.


"Kita bisa pulang, kan? Puspa mau nikah akhir bulan ini," pinta Rihana setengah menuntut. Wajahnya tengadah menatap wajah tampan tapi ngeselin suaminya.


Suaminya sudah berjanji. Sekarang Rihana sedang mengingatknnya.


Sudah hampir dua bulan mereka berbulan madu. Selain Puspa akan menikah, Rihana juga sudah sangat merindukan keluarganya.


Herdin sampai memundurkan tanggal pernikan mereka di minggu terakhir bulan ini demi membuat Puspa setuju walau dengan hati berat. Puspa menginginkan kehadiran sepupunya yang masih dipenjara suaminya itu.


"Ya," senyum Alexander sambil balas mengelus lembut rambut Rihana.


"Terima kasih, sayang."


Alexander kembali mengecup kening istrinya, lama.


Rihana memejamjan matanya, dadanya menghangat. Kekesalannya pada suaminya menguap sudah. Teramat nyaman rasanya sekarang.


Aku mencintai, Alexander. Sangat, batinnya saat kepalanya disandarkan ke dada bidang itu.


Alexander masih mendekap erat istrinya. Rasanya waktu sengaja berhenti untuk mereka menikmati kebahagiaan ini.


"Kita harus memberitau keluarga kita," bisik Rihana mengingatkan.


"Tentu saja." Mama, papa dan kedua kakaknya pasti akan senang karena ngga sampai dua bulan, Rihana sudah hamil.


Ya, dia akan mengambil sisa honeymoonnya satu bulan lagi dengan selalu menemani Rihana. Senyum lebar mengembang di wajah tampannya.


Rihana pun ngga sabar mengabari papa, kedua oma dan opanya. Juga om om dan para tantenya. Ngga lupa para sepupunya.


Biar mereka cepat menyusulnya dan Puspa, harap Rihana dalam hati.


*


*


*


"Kita akan punya cucu," seru Mami Alexander sangat bahagia begitu mendengar kabar yang diberikan Alexander.


Kebetulan sekali dirinya sedang berada di ruangan suaminya.


Suaminya-Papi Alexander juga tertawa bahagia.


Kabar yang sangat membahagiakan buat keluarga mereka. Mereka mendapatkan cucu pertama dari putra bungsu mereka.


Sedangkan putra pertama dan keduanya yang kurang ajar itu, jangan kan calon istri, perempuan yang dekat dengannya pun belum kelihatan hilalnya.


"Aku udah ngga sabar bertemu mereka," seru Mami Alexander antusias. Akhirnya dia bisa juga mengimbangi obrolan teman teman sosialitanya tentang kehadiran cucu.


Terima kasih sayang, batinnya dengan penuh luapan rasa bahagia.


"Papi akan hadiahkan dua vila kita di Legian Bali itu untuk calon cucu kita."


"Setuju. Sangat setuju, papi," sahut Mami Alexander penuh semangat.


Papi pun merengkuh istrinya dalam pelukannya. Merea berdua larut dalam bahagia.


*


*


*


Dewan pun mengembangkan senyum bahagianya yang ngga bisa dia tutupi lagi.


"Dilara, kita akan punya cucu," gumamnya sambil memejamkan mata. Bibirnya masih tersenyum.


Seakan bisa melihat kekasihnya yang juga sedang tersenyum di sana. Juga ikut menikmati kebahagiaan tiada tara ini.


Dewan akan menjaganya dengan baik. Memfasilitasinya dengan segala yang dia punya.


Ngga akan dia biarkan cucunya hidup dalam kekurangan seperti putrinya dulu bersama kekasihnya.


"Om."


Dewan membuka matanya. Dengan bibir tetap tersenyum, Dewan menatap ponakannya.


"Ada apa, Daiva?" Hatinya sedikit sedoh melihat binar redup di sepasang mata bening keponakannya.


Dia sudah berusaha agar sahabatnya Hendy mau menerima Daiva sebagai istri Xavi. Tapi sahabatnya itu terus saja menolak. Sekarang keponakannya patah hati. Ngga tau sampai kapan bisa menghapus rasa kehilangan itu.


"Om terlihat gembira," senyum teduh Daiva menghiasi wajahnya.


"Rihana hamil. Om senang sekali."


"Wow, ini kabar membahagiakan," respon Daiva dengan mata yang redup itu kini mendadak penuh cahaya terang benderang.


"Iya, ini sangat membahagiakan. Ngga lama setelah Aurora melahirkan, Rihana juga akan melahirkan."


"Iya, om," sahut Daiva antusias. Rumah mereka yang biasa sepi, nanti akan diramaikan dengan suara tangis bayi. Juga polah polahnya yang pastinya akan menggemaskan.


"Mereka akan tumbuh bersama, Daiva. Dipenuhi rasa cinta," ucap Dewan dengan mata berkaca kaca.


"Iya, Om. Tentu saja," sahut Daiva juga dengan mata mulai berkabut. Dia tau makna terdalam dari ucapan Omnya.


Dia pun ngga ingin kejadian buruk yang menimpa Aurora dan Rihana terjadi lagi. Itu periode terburuk dalam keluarga mereka.


Dewan berjanji, akan mengubur segala kesedihan dan kepahitan. Cucu cucunya akan mendapatkan semua kebahagiaan. Ngga akan dibiarkan ada sedikit pun lubang yang membuat mereka saling membenci dan menyakiti satu sama lain.


Mereka akan tumbuh menjadi pribadi pribadi yang saling menyayangi dan mendukung satu sama lain.


Dewan akan memastikan hal itu terjadi nanti.


*


*


*


"Dilara, anakmu memberikan mamamu cucu," tangis Oma Mien bahagia.


Suaminya pun merengkuh istrinya dalam pelukan erat. Air matanya menetes juga.


Terlalu bahagia dalam haru.


"Mama sama papa kenapa?" tanya Cakra khawatir saat masuk bersama putranya Kalandra.


"Oma, opa," ucap Kalandra sambil bersimpuh di depan keduanya. Dia pun sama cemasnya dengan papanya melihat oma dan opanya bertangisan.


"Rihana hamil," ucap Oma dalam isaknya.


"Sungguh, kah? Syukurlah," sahut Cakra pun gembira dalam haru. Matanya pun berubah menjadi telaga.


Dik, cucu mu akan kami jaga baik baik, janji Cakra dalam hati. Dia ngga mau kejadian tragis yang menimpa adik dan putrinya terulang lagi.


Dia ngga akan seteledor dulu lagi, janjinya dalam hati.


Dan senyumnya tampak melebar melihat Adriana yang baru keluar dari pantri dengan tangan memegang secangkir kopi.


Mungkin untuknya


Tanpa basa basi Kalandra mengecup lembut pipi kanan sekretarisnya itu.


Adriana hanya bisa terpaku dengan tangannya tetap memegang cangkir kopi agar ngga tumpah.


Setelah kejadian di jet pribadi bosnya itu, Kalandra tambah sering menciumnya.


Untung di pesawat jet itu Kalandra ngga sampai kebablasan. Salahnya juga karena pakaian seksinya yang saat itu pasti mengundang g@ir@h Kalandra yang terasa menggebu. Tali spagetinya bahkan sudah diturunkan hingga kedua bukitnya tersingkap.


Adriana ngga mau mengingat lagi kejadian memalukan itu.


Bosnya pun ngga mengatakan apa apa. Tapi dia mengantarkan dirinya pulang dan membuat heboh kedua orang tuanya. Bosnya pun sempat berbasa basi dengan mama papanya, dan bertemu dengan omnya yang pernah menjemputnya di basemen perusahaan.


"Taruh saja kopinya di mejaku," bisiknya mesra membuat Adriana terus mematung dengan jantung yang semakin ngga terkendali.


Setelah beberapa saat bergeming, barulah Adriana tersadar. Sosok tuan mudanya sudah cukup jauh berlalu.


Adriana mengusap pipi yang dikecup dengan sebelah tangannya. Bibirnya ngga bisa menahan senyum lebarnya.


Sementara Kalandra berjalan memasuki ruangan yang selalu saja jadi bestcamp para sepupunya berkumpul. Ruangan Emra.


Mereka tampak sangat bahagia.


Tumben formasi mereka lengkap, batinnya ketika menyadari ada Puspa, Kirania dan adiknya Nidya.


"Harus move on. Si Alex sudah jadi bapak bapak," celoteh Ansel membuat Kalandra ngga jadi memberitahukan kabar yang akan dia sampaikan


Ternyata sudah tau. Pantasan komplit, batn Kalandra tersenyum


"Aku udah move on. Udah lama," bantah Nidya galak.


"Yang benar," ledek Ansel senang membuat sepupunya kesal. Sementara yang lain sudah berderai derai tawanya. Sudah hapal dengan kelakuan Ansel.


"Aku lempar nih, kepalamu pake asbak," ancam Nidya tambah menaikkkan volume suaranya.


"Ampun, sepupuku sayang," kekeh Ansel membuat Nidya tambah jengkel melihatnya.


"Sudah Kak Ansel. Nanti ditimpuk beneran baru tau rasa," marah Kirania membela Nidya.


"Udah, timpuk aja. Otaknya kayaknya lagi geser," provokasi Puspa dalam tawanya.


Pasti sangat menyenangkan melihat kepala sepupu nyebelinnya benjol, harap Puspa dalam hati.


"Kalian sudah tau," ucap Kalandra membuat mereka semuanya menoleh. Membuat perdebatan itu terhenti.


"Telat lo baru tau. Nih, Puspa yang langsung dikabari Rihana," ejek Emra.


Kalandra tertawa, ngga marah. Ngga masalah infonya dari mana saja. Yang jelas berita ini membuat mereka semua bahagia. Keluarga besar mereka sangat ngga sabar menunggu kabar ini. Hasil dari bulan madu.


"Kalo ngga gitu, ngga bakalan tenang dia nikah," ejek Ansel yang langsung mendapat cubitan gemas dari Kirania.


Kakaknya ini, sangat sangat menyebalkan, batinnya Kirania mengomel.


Bukannya meringis, Ansel malah tambah semangat tertawanya.


"Tapi Ansel memang benar, Kiran. Aku bakal marahin Alexander kalo mereka tetap ngga pulang akhir bulan ini," jujur Puspa sambil menjebilkkan bibirnya.


Alexander terlalu memonopoli sepupunya, omelnya lagi membatin.


"Kamu juga pasti ntar begitu, adikku sayang. Herdin udah bucin banget sama kamu. Hati hati aja," goda Emir membuat wajah Puspa merona.


"Bukan bucin lagi. Tapi udah jadi bulol," tawa Nidya membuat pipi adik sepupunya tambah memerah saking malunya.


"Betul itu," pungkas Emra sambil mengacak rambut adiknya yang sebentar lagi akan menikah.


Yang lain pun ngga henti hentinya melepas derai tawa.


Puspa teringat betapa stresnya Herdin saat dia meminta penundaan resepsi pernikahan mereka. Hanya untuk menunggu kepulangan Rihana dari bulan madunya.


Kamu beruntung, Puspa. Herdin kini bisa utuh mencintai kamu, puji Nidya dalam hati.


*


*


*


Bu Saras mendekap pigura foro bertiganya dengan Rihana dan mamanya-Dilara.


Rihana baru saja menelponnya, memberitahukannya kabar bahagia ini.


Air mata Bu Saras pun menetes. Rihana yang sudah dianggap putrinya sejak dilahirkan oleh mamanya, sekarang sudah sangat bahagia.


Selain ada dirinya, Rihana juga sudah berkumpul dengan keluarga besarnya, papanya dan suaminya, yang semuanya sangat menyayanginya.


Sebentar lagi dia pun akan menjadi nenek. Kembali air mata bahagia mengalir di pipi tuanya.


*


*


*


"Rihana hamil. Lusa dia akan kembali bersama Alexander." Irena menatap putrinya gundah saat mengabarinya.


Padahal Rihana dan Alexander belum kembali, hanya kabar kehamilannya saja yang keluarga besar mereka baru tau. Tapi genderang kebahagiaan sudah memenuhi seluruh sudut sudut hati mereka.


Sedangkan kehamilan putrinya yang sudah cukup membesar, ngga mendapat respon seheboh itu.


Walau tetap Daiva, suaminya juga mertuanya kerap berkunjung menjenguk Aurora, tapi wajah mereka ngga seheboh dan sebahagia saat tau kehamilan Rihana.


Wajah mereka tetap dirundung duka biarpun mereka berusaha menutupinya.


Putrinya yang malang, batin Irena-Mama Aurora sedih.


Sedangkan Aurora seolah ngga terganggu dengan berita yang dia dengar. Ekspresinya tetap datar dan pandangannya terasa jauh, seakan menembus tembok yang menghubungkannya dengan dunia luar.


Dia ngga menanggapi walau hatinya sedikit terkoyak karena Rihana berhasil hamil anak Alexander.


Dia akan memberikan semua miliknya agar dapat bertukar peran dengan Rihana, si pegawai kontrak itu.


Aurora mati matian menyembunyikan perasaannya agar ngga disadari mamanya.


Mamanya sudah sangat menderita karena ulahnya. Jangan sampai mamanya jadi makin sedih melihat keinginan yang ada dalam hatinya.


Mama Aurora pun membelai rambut putrinya yang kilaunya sudah berkurang.


Baru beberapa bulan saja putrinya di penjara, keadaan fisiknya cukup jauh berubah.


Apalagi tuntutan mereka agar Aurora di penjara selama bertahun tahun.


Dasar kejam ngga berperasaan, makinya gusar dalam hati.


Sekarang Irena bersama pengacaranya dan pendukung Aurora sedang berusaha agar putrinya bisa secepatnya mendapat kebebasan.


Dia akan membawa Aurora pergi sejauh jauhnya dari semua yang membuatnya menderita.