NOT Second Lead

NOT Second Lead
Jadi Fitting



"Maaf, ya, telat," ucap Alexander setelah tiba di ruangan Rihana.


"Ngga apa apa. Kamu udah makan? Tadi aku pesan sop iga. Aku panasin dulu, ya," ucap Rihana dengan senyum yang melegakan hatI Alexander


Alih alih cemberut, Rihana malah sudah menyiapkan makan siang buat mereka.


"Kamu belum makan?" tanya Alexander yang melihat calon istrinya memanaskan sop di panci listriknya.


"Nunggu kamu."


Sekelebat perasaan bersalah menyusup dalam dadanya. Sudah lewat hampir satu jam dari waktu makan siang yang dia janjikan. Alexander juga belum makan. Setelah peristiwa menyebalkan tadi di perusahaannya, dia pun segera melajukan mobilnya ke perusahaan Rihana.


"Maaf," ucapnya sambil memeluk Rihana dari belakang.


"Ngga pa pa. Ribet ya, meetingnya tadi?" tanya Rihana yang merasakan degupan keras di dadanya akibat pelukan rapat Alexandet. Bahkan kepala laki laki itu nenyandar di bahunya.


"Lumayan. Sampai harus membuat kamu menunggu," sahut Alexander pelan. Dia sengaja berbohong agar Rihana ngga khawatir. Peristiwa tadi pun masih diselidiki pengawalnya.


Sekarang Alexander tambah khawatir akan keselamatan Rihana karema sudah ada penyerangan yang terang terangan padanya. Ngga menutup kemungkinan Rihana juga bisa mengalami hal yang sama.


Terdengar tawa halus Rihana karena merasa geli akan gelitikan Alexander di pinggangnya. Alexander juga tertawa bahagia mendengarnya.


"Minggir dulu, ya. Nih, supnya udah panas," kata Rihana sambil mencabut kontak panci listriknya setelah menekan tombol offnya. Ngga sampai mendidih, yang penting panas. Bau sop iga yang harum menyerbak di ruangan kerja Rihana.


"Biar aku yang angkat," ucap Alexander mengambil alih panci itu dari tangan Rihana.


"Oke."


Mereka pun kini duduk dan mulai menikmati makan siang mereka. Sesekali Alexander menyuapkan Rihana. Begitu juga sebaliknya.


"Lex, lengan jas kamu agak kotor. Kenapa?" tanya Rihana saat tanpa sengaja menatap jas Alexander bagian siku ke atas.


"Masa, sih?" Alexander menatap lengan atasnya yang ternyata masih ada sedikit berdebu akibat jatuh setelah diselamatkan Herdin.


"Itu," tunjuk Rihana sambil sedikit menepuk jasnya pelan.


"Mungkin ngga sengaja kena.di tiang basemen," jawab Alexander asal. Saat ini dia sedang membantu Rihana memberreskan bekas makanan mereka.


"Oooh."


Alexander lega karena Rihana langsung percaya.


Ngga lama kemudian seorang pegawal ob perempuan datang dan membawa tempat makanan mereka keluar dari ruangan cucu bos besarnya.


"Kita pergi sekarang," ajak Alexander sambil melirik jam tangannya. Tadi dia sudab memberitau desainer mereka kalo mereka akan terlambat lebih dari satu jam.


"Oke," sahut Rihana sambil meraih tasnya


Alexander merangkul bahu kekasihnya sepanjang jalan meninggalkan ruangannya.


*


*


*


Puspa menatap datar pada ponsel yang terus saja berbunyi. Sudah dua kali dia abaikan. Ini panggilan ketiga dari laki laki gagal move on itu.


Setelah mendengar apa yang dikatakan Emra, semalaman Puspa ngga bisa tidur. Dia kecewa dan patah hati


Rasanya sia sia saja menaruh harapan tinggi pada laki laki tampan yang sudah mencuri hatinya itu.


Akhirnya deringnya pun berhenti. Puspa menatap lagi layar ponselnya, berharap Herdin menelponnya lagi. Tapi setelah sekian detik hingga berganti menit ditunggunya, tapi telpon itu ngga ada tanda kehidupan lagi, hatinya mentertawakan harapan bodohnya.


Mungkin dia sudah lelah, batin Puspa dengan senyum getirnya.


Keputusan bulatnya malam tadi sempat goyah karena secuil perhatian Herdin.


Dia mungkin merasa bersalah karena sudah berubah kaku tadi malam, batin Puspa berdecih.


Puspa menghela nafas panjang. Rasanya menyakitkan sudah mengabaikan perhatian dari orang yang dia sukai.


Sementara Herdin menatap lagi ponselnya dengan galau. Lagi lagi Puspa mengabaikannya.


Aku salah apa, ya?


Herdin mencoba mengingat kembali kebersamaan mereka. Rasanya dia ngga melakukan kesalahan apa pun.


Herdin membuang nafasnya kesal.


"Kamu kenapa, Puspa?" gumamnya pelan. Tubuhnya disandarkam ke sandaran kursinya sambil melipat kedua tangannya di belakang kepalanya. Matanya pun dipejamkan. Masih belum bisa menemukan jawaban kenapa Puspa mengabaikannya.


Padahal di depan Alexander tadi Herdin akan memberikan waktu buat dirinya menjauh dulu dari Puspa sebelum hatinya yakin. Tapi prakteknya dia sudah tiga kali menelpon Puspa. Dan gadis itu mengabaikannya.


*


*


*


"Cantik sekali," puji Alexander begitu melihat Rihana berbalut gaun pengantin berwarna ungu muda, kini sudah berada di depannya. Dia pun sudah mengenakan jas hitamnya. Keduanya saling menatap lekat.


Seperti biasa Zira akan menampilkan wajah malu malunya.


"Aku tampan, kan?" puji Alexamder narsis.


Rihana mengangguk pelan dengan wajah meronanya.


Para pegawai butik saling tatap dengan kagum akan pesona yang terpancar dari pasangan konglo ini.


Mereka juga mengikuti perkembangan gosip keduanya. Ketiga tepatnya dengan model cantik Aurora yang merupakan adik tiri calon mempelai perempuan.


Mereka membandingkan kecantikan Aurora dengan calon istri tuan muda Alexander.


Tapi mereka bisa melihat keduanya memang sama cantik dan anggunnya.


Tapi melihat sikap tuan muda Alexander yang terlihat humble, sangat berbeda dari biasanya, membuat mereka yakin kalo kakak tiri Aurora memang pemenang sejati hati tuan muda dingin dan kaku ini.


Mereka terpesona melihat betapa lembut dan hangatnya tuan muda Alexander memperlakukan calon istrinya. Calon istrinya pun ramah dan ngga sombong.


Keduanya memang pasangan serasi, monolog mereka dalam hati.


Ada empat lembar gaun dan jas dengan desain mewah yang dicoba keduanya.


Karenanya membuat Alexander makin ngga tahan ingin secepatnya menghalalkan Zira. Gadis itu yang biasanya tampil sederhana saja sudah sangat cantik, apalagi sekarang, berbalut dandanan mewah nan elegan.


"Kami akan mengantarkannya tuan muda," ucap Mariana, sang desainer setelah keduanya berganti pakaian.


"Oke, tante," sahut Alexander dengan sebelah tangannya menggenggam erat jemari Rihana.


Keduanya pun berjalan pergi meninggalkan butik.


"Kamu suka dengan semua pilihan mama?" tanya Alexander sambil membukakan pintu mobil untuk Rihana.


Rihana kembali menganggukkan kepalanya. Cuma ada satu gaun yang mengganjal di pikirannya. Punggungnya setengah terbuka dan menampilkan warna kulitnya yang kontras.


Dia agak bergidik ketika mata Alexander berubah seperti singa lapar yang langsung melahapnya.


"Untung gaun yang kurang bahan di punggung pakenya pas malam," komen Alexander seolah tau apa yang dia pikirkan. Ada senyum usil di wajahnya membuat Rihana reflek memukul lengannya, membuat laki laki itu tertawa lepas sambil menutup pintu mobilnya.


Dasar laki laki mesum, batin Rihana memaki kesal dan malu melihat raut bahagia Alexander. Menyesali kenapa pilihan Mama Alexander dan tante tantenya bisa cukup ekstrim.


Hanya gaun itu yang agak beda dengan gaun gaun indah yang lain.


Rihana menyukai pilihan mereka terlepas dari satu gaun itu. Semuanya cantik dan elegan. Walau sedikit berat dengan batu batu permata yang menghiasinya.


Padahal dulu dia suka mengomel melihat pengantin perempuan dengan baju penuh logam mulia itu.


Melepas satu permata itu saja bisa menghidupi adik adiknya di panti selama seminggu setelah menjualnya tentunya.


Kini malah dia yang akan mengenakan gaun pengantin yang suka diumpatinya itu di acara pernikahannya nanti.