NOT Second Lead

NOT Second Lead
Akhirnya Nikah



"Kemungkinan Aurora akan dihukum lima tahun. Jika dia berkelakuan baik, masa tahanannya akan dikurangi," jelas Herdin pada Xavi yang menemuinya di rumahhnya.


"Apalagi dia sedang hamil," sambung Herdin lagi kala ngga mendapat jawaban dari Xavi.


Xavi sengaja menemui Herdin malam ini. Dia ngga tenang, ngga tau kenapa. Mungkin karena ngga sabar menunggu vonis Aurora atau mungkin juga karena baju couple dari Oma Mien.


Mama papanya sudah pasti ngga akan datang. Tapi dia sudah meminta ijin sebagai perwakilan keluarga.


Awalnya mamanya keberatan karena ngga ingin berhubungan dengan anggota keluarga Aurora lagi. Hati mamanya masih terluka sangat parah. Demikian juga dirinya dan papanya. Mereka merasa hancur.


Tapi Xavi mengatakan hanya datang sebentar saja tanpa berkata kalo akan couple an dengan Daiva.


Hatinya sedikit membelot. Xavi merasa aneh karena dia juga sangat ingin couple an dengan Daiva. Keinginan itu muncul sangat kuat.


Semoga mama dan papanya ngga menyadarinya, harapnya dalam hati.


"Besok kamu datang, kan?" tanya Herdin lagi. Dalam hati kesal juga karena dari tadi Xavi diam saja.


"Ya," jawab Xavi bersuara juga walaupun singkat.


Senyum miring terbit di wajah Herdin


"Kirain dari tadi bicara dengan patung," sindirnya.


Xavi hanya membalas dengan seringai tipisnya saja.


"Gimana keadaan Zerina?"


"Baik."


"Dia hamil anak Aiden, kan."


Xavi hanya mengangguk jengah.


Cepat sekali berita itu menyebar, batinnya.


"Apa kamu akan menikahi Zerina?" tanya Herdin tanpa mau melihat Xavi.


Dia hanya ingin tau. Karena nantinya akan ada dua bayi yang lahir tanpa papanya.


"Kenapa berpikir begitu?"


"Siapa tau, kan," ngeles Herdin.


Xavi menghela nafas kesal. Mama dan papanya berulang kali memintanya. Tapi dia belum memberikan jawabannya. Setuju atau engga.


"Menurutmu apa aku harus menikahi Zerina?"


"Terserah kamu."


Kembali Xavi menghela nafas kesal. Dia merasa dipaksa oleh keadaan.


*


*


*


Alexander terus saja menatap wajah pengantin di sampingnya. Perhatiannya hanya teralih sebentar jika ada yang ingin menjabat tangannya.


Setelahnya dia terus menatap Rihana yang sangat cantik mempesona di matanya.


"Zira.....," panggil Alexander perlahan


"Hemm....," agak rikuh Rihana menjawab. Dia sudah salah tingkah setengah mati akibat kelakuan Alexander yang tiada henti menatapnya.


"Aku udah ngga sabar."


"Hemm...?" Rihana menatap bingung. Walau jantungnya tambah berdetak kencang.


"Malam ini kamu jangan langsung tidur, ya?" senyum menggoda Alexander terukir jelas.


Rihana yakin make up nya ngga bisa menutupi wajahnya yang semakin merona.


"Besok aja, ya," ucapnya menawar. Melihat sorot mata Alexander, Rihana merasa ngeri walaupun ada perasaan aneh yang membuat perutnya mulas.


"Kenapa?" kali ini Alexander ngga dapat menyembunyikan raut kecewanya. Senyumnya pun memudar.


"Kamu ngga lelah?" tanya Rihana jadi ngga enak hati melihat reaksi muran yang terang terangan yang ditunjukkan Alexander.


"Nggak. Bersama kamu lelahku hilang."


Kembali Rihana merasa dadanya dihantam oleh deburan ombak tiada henti.


Hening.


"Masih banyak tamu," ledek Daniel-kakak laki laki Alex membuyar tatap mata kedua pengantin ini.


Laki laki itu sudah berada di hadapannya dengan senyum miringnya.


"Ngapain ke sini," sarkas Alexander kesal. Moodnya yang lagi romantis berubah jadi horor melihat kedatangan kakaknya yang suka usil.


Ternyata bukan hanya ada Daniel. Fathan juga ada menatap dengan senyum geli di bibirnya.


"Selamat, ya, adikku. Kamu ngelangkahin kita berdua," ucap Fathan sambil memeluk adik bungsunya. Senyum geli masih tersungging di bibirnya.


Alexander hanya mengangguk. Dia agak terharu mendapat pelukan kakak laki laki pertamanya.


"Jangan lupa siapkan pelangkahnya," kekeh Daniel ganti memeluk adiknya.


"Hemm....," dengus Alexander tapi dalam hati juga merasa terharu pada momen ini.


"Zira, hati hati nanti malam," goda Daniel tergelak. Fathan hanya mengulum senyum.


Alexander melirik sebal pada kedua kakak laki lakinya. Bahkan Fathan yang minim ekspresi bisa bisanya ikut meledeknya.


"Kami ikut bahagia melihatmu, Lex," sahut Fatahan sambil menepuk lembut bahu adik bungsunya.


Kekesalan Alexander sedikit menguap.


"Terimakasih."


Fathan tersenyum, kemudian menyeret Daniel yang bermaksud meledek adik mereka lagi.


"Kakak nomer duaku itu memang menyebalkan," jelas Alexander sedikit kesal.


Rihana tersenyum melihatnya.


"Tapi dia sayang padamu," sahutnya kemudian.


Sudah banyak yang pergi dan hanya beberapa saja yang tinggal.


Saat ini mereka juga datang ikut menikmati hari bahagianya. Tadi malam mereka bertangisan bersama. Bu Saras memeluknya erat sambil meneteskan air mata.


"Mamamu pasti sedang bahagia di sana melihatmu, sayang."


Ya, harapan Rihana juga begitu. Pelukan Bu Saras seakan menggantikan rasa rindunya pada mamanya.


Setelah kepergian mamanya, Bu Saras lah yang berjuang untuknya. Wanita yang sudah lama ditinggal suami itu membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan kerja keras.


Untunglah saat ini Rihana bisa membalas sedikit jasa Bu Saras. Dia ingin Bu Saras dan adik adiknya merasakan kebahagiaan dan hidup yang berkecupan sepertinya.


Saat kebakaran meninpa konveksi, mereka mengalami kesulitan dan hidup kekurangan. Tapi semuanya sudah berlalu.


"Terima kasih bu. Terima kasih," ucap Rihana berkali kali dalam tangisnya saat memeluk wanita paruh baya itu.


"Malah melamun," tukas Alexander menyadarkan keterdiaman Rihana.


Rihana tersenyum tipis sambil mengarahkan tatapannya pada Bu Saras yang sedang berbaur dengan opa omanya bersama para tamunya.


Seakan mengerti Alexander mengikuti arah pandang Rihana dan bibirnya ikut mengembangkan senyum tipisnya.


Teringat dulu Tante Saras yang selalu maju saat Zira beberapa kali mendapat piala juara umum.


Awalnya Alexander heran karena wajah Zira ngga ada mirip miripnya dengan Tante Saras. Tapi setelah tau, hatinya terketuk. Gadis itu sudah yatim piatu. Setaunya begitu.


Selama mengenal Zira, gadis itu ngga pernah memperlihatkan kesedihannya. Dia periang. Karenanya Alexander sangat terkejut mengetahui kenyataan di balik senyum yabg selalu terukir manis. Kesedihannya ternyata di simpan rapi di hatinya. Dan ditumpahkannya sendiri di depan makam yang rutin selalu dikunjunginya.


Saat itulah Alexander tersentak, melihat gadis itu sibuk bercerita sambil mencabut rumput runput liar di atas makam yang sangat terawat itu. Sesekali Zira mengusap air matanya.


Sejak itulah Alexander merasa jatuh sejatuh jatuhnya dengan Zira. Dengan gadis yang menangis kalo sendiri, dan selalu tersenyum saat berkumpul bersama yang lainnya.


Gadis yang ngga mengumbarkan cerita sedihnya, tapi selalu prestasinya yang dia perlihatkan.


Rasa cinta dan kasih sayang yang tumbuh di hatinya berkembang begitu saja. Dari dulu hingga sekarang.


Alexander akan melindungi Zira, dari dulu sudah dia ikrarkan dalam hatinya.


"Tante Saras sangat menyayangimu," ucap Alexander yang disambung anggukan dan senyum haru Rihana.


Ya, Bu Saras sangat menyayanginya. Begitu pun dengan dirinya.


*


*


*


"Kapan kita menyusul?" tanya Herdin sambil melirik Puspa yang berdiri di sampingnya. Mereka menggunakan pakaian dengan tema couple an.


Gadis di sampingnya sangat cantik. Sejak hari itu, Herdin sudah bisa merasakan debaran debaran halus saat bersama Puspa. Hari di saat Puspa mengacuhkannya.


"Emangnya udah bisa melupakan mantan?" agak sinis Puspa menyindir.


"Puspaaa, jangan ungkit lagi," rengek Herdin merasa bersalah


Puspa berdehem kecil untuk menyembunyikan senyumnya. Ternyata sulit bagi hatinya untuk menjauhkan dirinya dari Herdin.


Tapi perjuangan Herdin yang terus saja berusaha mendekatinya tanpa menyerah membuatnya luluh.


Mungkin karena cintanya yang terlalu besar buat Herdin jadi terlalu mudah memaafkan laki laki yang susah move on itu.


"Minggu depan?" tawar Herdin dengan netranya yang lembut.


"Ngawur," kilah Puspa salah tingkah.


"Besok juga ngga apa. Kita langsung ke KUA saja. Pestanya menyusul," sambung Herdin sungguh sungguh.


"Kamu ngaco, ah," sergah Puspa kesal campur malu.


Herdin tergelak melihat gadis itu salah tingkah. Gadis ini sangat cantik dan menggemaskan.


Kenapa ngga sejak dulu saja dia bertemu Puspa, sesalnya dalam hati.


"Aku serius," respon Herdin cepat.


"Ngomong sana ke mama dan papa," balas Puspa sambil mendelikkan mata. Pura pura marah hanya untuk menyembunyikan perasaannya yang berbunga bunga.


"Oke. Temenin ya," canda Herdin terkekeh.


"Huuuh... katanya berani. Malah minta ditemanin," ejek Puspa membuat Herdin tambah terkekeh.


*


*


*


Xavi berjalan ragu memasuki tempat berlangsungnya pesta. Tadi dia sempat ganti pakaiannya di dalam mobil saat di parkiran.


Dengan nekat Xavi mengenakan pakaian couple yang diberikan Oma Mien.


Matanya mencari sosok Daiva saat sudah berbaur dengan para tamu.


Bibirnya tersenyun saat melihat gadis itu yang berada ngga jauh di depannya.


Daiva sangat cantik dengan kebaya yang bahan tema couple an itu. Gadis itu terlihat feminim. Biasanya Daiva yang beberapa kali dilihatnya mengenakan setelan praktis namun sopan. Jarang yang ribet seperti ini.


Langkahnya pun dipercepat menuju tempat gadis yang sudah membuatnya pusing tiap malam.


"Hai," sapanya saat sudah berada di samping Daiva.


Dapat Xavi lihat riak kaget di mata gadis itu saat melihat kehadirannya. Juga pakaian yang digunakannya.


"Kamu?" tanya Daiva ngga percaya. Ngga percaya laki laki itu akan datang, apalagi memakan pakaian couple dengannya.


Mengingat pertemuan terakhir mereka yang penuh ganjalan.


Karenanya Daiva merasa surprise melihat kehadiran Xavi di sampingnya.


Ada yang mekar di hatinya yang berusaha dia sembunyikan. Daiva ngga mau Xavi sampai mengetahuinya. Dia pasti akan merasa malu sekali, apalagi Xavi ngga mungkin menyukainya.


Xavi membalasnya dengan senyum tanpa berucap sepatah kata pun.


Dia mengeluh dalam hati melihat gemintang di pancaran netra berbulu lentik itu.


Gemintang yang sama ada di hatinya. Ngga tau sampai kapan bisa disatukan. Waktu. Keluarganya sangat membutuhkannya untuk.menghapus luka.