NOT Second Lead

NOT Second Lead
Isi hati Rihana



"Alex," panggil Rihana pelan dengan wajah merona.


Alexander tersenyum melihatnya. Kemudian mendekatinya dan menggenggam jemarinya lembut. Ada yang hangat mengalir dalam aliran darahnya karena sentuhan itu.


Pipi Rihana pun tambah merona.


"Masih sakit?" tanya Alexander agak khawatir. Tapi Rihana mnggelengkan kepalanya.


"Syukurlah. Kami semua mencemaskanmu," ucap Alexander lega. Dia merem@s lembut tangan Rihana yang digenggamnya.


"Aku mengkhawatirkanmu," katanya lirih.


"Cepatlah sehat. Setelah itu aku akan melamarmu. Kita akan segera menikah," sambungnya lagi kemudian tersenyum lembut.


Alexander akan menjaga Zira dengan sepenuh hatinya. Ngga akan dibiarkannya Zira terluka parah seperti ini lagi.


Jantung Rihana rasanya seperti berlarian mendengarnya. Rasa bahagia itu muncul begitu saja dalam hatinya.


"Menikah?" tanyanya tersipu dengan mata berbinar.


"Ya. Aku akan menjaga kamu. Ngga akan aku biarkan kamu terluka sampai separah ini lagi," janji Alexander sungguh sungguh


Keduanya kembali bertatapan. Mata Rihana memanas.


"Kamu sudah tau?" tanyanya mencoba menebak. Rasanya Alexander pasti sudah curiga melihat kehadiran opa, oma, om dan tante serta para sepupunya di dekatnya.


"Tau apa?" Alexander sengaja menggodanya.


Rihana kembali tersenyum dengan wajah meronanya.


"Mereka keluarga dari mamaku," katanya memberitau walau menurut Rihana sudah ngga perlu lagi. Tapi dia hanya ingin Alexander mendengar dari mulutnya.


"Aku bermaksud mengenalkanmu pada mereka malam ini," sambung lagi dengan suara pelan.


"Tapi ada lagi yang belum kamu tau, sayang," kata Alexander lembut.


"Apa?" Rihana menatap bingung.


"Sebentar, ya. Ada yang ingin bertemu," kata Alexander sambil melepas genggamannya.


Dia pun berjalan keluar dari ruangan Zira, diiringi tatap heran kekasihnya.


Ngga lama kemudian Opa Iskandardinata dan Oma Mora masuk ke dalam ruangannya bersama Alexander.


Mereka mendekat. Mata Oma Mora dan Opa Iskandardinata tampak merah karena habis menangis.


Jantung Rihana berdebar keras. Dia masih mengingat Oma Mora yang pernah dibantunya saat hampir jatuh. Dan pernah melihat Opanya saat di kantor papanya. Opa Iskandardinata.


Apa opanya sudah tau kalo dia cucunya?


"Sayang," panggil Oma.Mora sambil menggenggam tangan cucu yang sudah pernah dilihatnya dan dianggapnya sebagai orang lain.


Bahkan cucunya yang menolongnya saat dia tersandung dan hampir jatuh. Takdir sudah menemukan mereka.


Mata Rihana memanas, dia menatap ke arah Alexander yang tersenyum lembut.


"Kami oma dan opa mu juga, sayang," pelan Oma berucap. Dan telaga beningnya meneteskan air. Sepasang mata Rihana pun melakukan hal yang sama.


"Maafkan kami yang ngga mengenalmu," agak tersendat Opa Iskandardinata berucap.


Dia mengelus puncak kepala cucunya yang baru saja dia ketahui. Penuh kelembutan dna kasih sayang.


Alexander berjalan keluar, membiarkan suasana haru melingkupi ketiganya. Dia akan membiarkan ketiganya saling bicara dari hati ke hati.


Nanti setelah semua benang kusut terurai kembali, dia yang akan mendekati lagi kekasihnya.


"Terimakasih," kata Om Dewan saat membiarkan papa dan mamanya menemui cucu mereka.


"Setelah ini om, ya," kata Alexander mempersilakan


Om Dewan tersenyum getir. Dia pun sudah ngga sabar memohon maaf pada putrinya. Semoga dia bisa dimaafkan, walaupun kesalahannya sangat besar dan sudah melukai hati putrinya sangat dalam


Satu notifikasi pesan masuk dalam ponselnya. Dari Herdin. Isi pesannya membuat keningnya berkerut dan terkejut. Susah untuk dia percaya. Dia pun membacanya berulang ulang pesan dan foto yang berhasil Herdin dapatkan.


Benarkah?


Mata Alexander meneliti gadis yang sedang berciuman mesra itu. Herdin sangatbpintar mengambilnya tanpa keduanya menyadarinya.


Rasanya saat ini Alexander ingin pergi untuk membuktikan kebenaran kata kata Herdin. Tetap aja ada sedikit rasa ngga percaya dalam dirinya. Gadis difoto ini tampak liar. Beda dengan Aurora yang selalu terlihat sopan dan anggun.


Tapi dalam hatinya bersyukur. Dia ngga perlu lagi merasa bersalah pada Aurora karena gadis itu ternyata juga sudah punya kekasih.


Besok dia akan menghibur Herdin yang sedang patah hati dan memendam rasa kekecewaan yang berat terhadap Aurora. Dia pun sama. Ngga nyangka Aurora akan seliar itu.


Tapi Alexander tentu ngga mungkin tega melaporkan kelakuan Aurora pada Om Dewan. Sekarang saja Om Dewan sudah banyak menyimpan beban. Biarlah Airora yang akan mengakuinya sendiri.


Dia pun sudah mendapat restu keluarga Zira. Tinggal papa dan mamanya saja yang belum sempat dia ceritakan dengan detil kenyataan tentang Zira.


Jika semuanya sudah terbuka, ngga ada alasan lagi buat kedua orang tuanya menolak Zira.


Setelah kedua orang tuanya keluar, Dewan memantapkan hati menemui putranya. Cakra ikut membesarkan hatinya saat Dewan akan memasuki ruangan putrinya.


"Dia pasti akan memaafkanmu."


"Semoga." Dewan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Kemudian dia pun memasuki ruangan putrinya.


Oma Mora memeluk suaminya yang menatap Dewan dengan perasaan sedikit kecewa. Dia menyesali perbuatan anaknya yang merahasiakan semua ini dari Rihana.


Pernikahannya pun di ujung tanduk.


Kembali Opa Iskandardinata menarik nafas panjang.


Rihana mengangkat wajahnya saat mendengar kembali pintu ruangan terbuka.


Hatinya saat ini belum tertata dengan baik akibat pertemuan dengan oma opa dari papanya.


Tapi sekarang yang muncul adalah papanya. Tentunya papanya saat ini sudah tau siapa dirinya. Dapat Rihana lihat dari pancaran matanya yang sangat teduh.


Hati Rihana bergetar karena rindu dan sesak. Harusnya mamanya ada di sini, menikmati kebahagiaan yang akhirnya datang walaupun sangat terlambat.


Tanpa terasa air matanya menetes lagi.


"Jangan menangis," kata Dewan sambil duduk di dekatnya. Tangan kokohnya mengusap lembut air mata itu.


Hatinya pun sesak oleh rasa bersalah yang amat sangat.


"Papa ngga pantas meminta maaf darimu. Dosa papa sangat besar," ucalnya pahit


Rihana masih ngga menyahut. Batinnya masih berkecamuk hebat mendengar kata kata lemah dari laki laki yang notabene adalah papanya.


"Sikapmu mirip dengan mamamu. Lembut dan dia juga suka menangis."


Rihana dapat melihat sekelumit senyum dari bibir papanya.


"Benarkah?" tanyanya spontan dengan suara lirih.


"Iya, sayang. Mamamu hobi menangis." Kali ini Dewan mengatakannya dengan setetes air mata yang mengalir pelan membasahi pipinya.


Mengingat kembali wajah cantik yang tampak panik dengan air mata yang bercucuran.


"Kenapa kalian ngga pernah mencari papa? Padahal papa selalu mencari kalian," ucapnya dengan suara bergetar.


Rihana terhenyak mendengarnya. Ngga disangkamya papanya akan berkata begitu


"Waktu umurku lima tahun, kami ke jakarta," cerita Rihana terpatah setelah cukup lama terdiam.


Dewan menggenggam erat tangan putrinya. Menunggunya melanjutkan.


"Kami ke rumah oma dan opa, orang tua mama. Tapi rumahnya kosong."


Rihana memejamkan mata, bermaksud melanjutkan tapi rasanya berat Tapi dia bertekat akan menuntaskannya. Dia akan membuka betapa terlukanya mamanya dan dirinya.


Cerita itu Dewan juga tau. Betapa menyesalnya mereka karena ngga bertemu putri mereka.


Tapi Dewan merasa Rihana akan melanjutkan lagi ceritanya. Dia menunggu seakan dia menjadi terdakwa dalam sidang pengadilan.


"Kami pergi lagi ke sebuah rumah. Tapi setelah sampai di sana mama malah menangis."


Nafas Dewan memburu. Hatinya ngga menentu. Feelingnya mengatakan kalo cerita berikutnya tentang dirinya.


"Aku bingung kenapa mama menangis. Tapi saat itu aku melihat seorang laki laki yang sedang menggendong seorang gadis kecil."


Rihana membuang nafasnya yang terasa sesak.


Dewan pun mendadak merasakan hal yang sama dengan jantung yang berdebar keras.


"Sekarang aku baru sadar kenapa mama menangis waktu itu. Mama sudah dikhianati." Kini Rihana ngga dapat lagi membendung suara tangisnya. Terdengar sangat menyayat hati.


Oma Mora tambah erat memeluk suaminya. Beliau pun menangis.


Alexander dan Cakra yang berdiri di dekat situ mendengarnya dengan sangat jelas.


Cakra memejamkan matanya. Air matanya mengalir pelan. Dia mengerti apa yang sudah dirasakan adiknya saat itu. Sangat menyakitkan.