
"Xavi menikah dengan Zerina?" tanya Rihana ngga percaya. Dia hampir terbangun saking kagetnya tapi tertahan karena perih menusuk di bagian sensitifnya.
Ulah siapa lagi kalo bukan laki laki dingin yang ternyata ganas ini.
Beberapa hari ini mereka hanya melalui hari hari di dalam kamar saja. Sarapan, makan siang maupun malam dilakukan di dalam kamar. Tulang tulang Rihana rasanya sudah mau bertanggalan saja senuanya. Kedua kakinya pun sudah sangat lemas, sulit untuk digerakkan.
"Iya. Mereka juga sudah berangkat ke Sidney," jawab Alexander memberitau dengan wajah penuh senyum bahagia. Dia lega sudah menunaikan tugasnya dengan sangat baik beberapa hari ini.
"Kak Zerina gimana, ya? Pasti dia lagi sedih," ucap Rihana khawatir. Sayangnya dia kini berbeda benua dengan Kak Daiva.
Awalnya Rihana kaget kalo mantan bosnya ternyata kekasih Aiden. Dan sekarang sedang hamil. Sama sekali ngga dia sangka. Mungkin Xavi terpaksa bertanggungjawab atas perbuatan Aiden. Ada janin ngga berdosa di dalam rahim Kak Zerina. Sama seperti Aurora. Hanya saja keluarga Aiden sudah ngga peduli dengan janin yang dikandung oleh Aurora.
"Aku rasa Daiva sudah tau," jawab Alexander sambil menatap wajah polos yang sedikit kuyu itu. Tapi bagi Alexander, sangat seksi di matanya. Dia sangat suka melihatnya dan menyentuhnya.
Tangannya dengan nakal mengusap tubuh polos bagian atas Rihana di balik selimutnya. Sangat lembut dan sesekali menggelitiknya.
"Lagi ya," pintanya saat melihat Rihana memejamkan matanya, menikmati apa yang sedang diperbuatnya.
Ekspresi wajah gadis yang sudah sah jadi istrinya itu sangat menggoda sekali. Hasratnya kembali terpanggil.
"Lex.... Aku .... pengen.... tidur...." racau Rihana ngga jelas dan perlahan. Dia tau bakal kemana akhirnya tujuan tangan Alexander.
"Ya sudah, tidur aja. Aku jagain," snbyum miring Alexander tersunggjng di bibirnya dengan tangannya yang semakin aktif bergerak.
"Aku ... susah ... tidur... kalo.... gini.....," kembali racauan dan hembusan nafas tertahannya terdengar perlahan.
Alexander ngga menjawab, tapi malah semakin bertambah semangatnya melakukannya. Bahkan kini bibirnya tanpa sungkan dibenamkan pada bibir yang setengah terbuka itu. Menyesapnya dengan lembut dan mengeksplornya penuh h@sr@t.
Adik kecilnya pun sudah segar dan siap melanjutkan kerja lemburnya kembali.
Tanpa sadar Kedua tangan Rihana memeluk punggung Alexander dengan eratnya ketika dia sudah ngga bisa menahan lagi yang bergejolak dalam dirinya.
Alexander tanpa kendor terus saja memacunya tanpa jeda. Rihana sudah seperti hidangan paling nikmat untuknya. Ngga akan dia biarkan tersisa sedikitpun.
Yang terdengar kini suara suara aktivitas tubuh mereka dan suara rintih@n dan lenguh@n keduanya silih berganti.
Sesekali terdengar Alexander memujinya dengan suara dalamnya.
"Kamu cantik sekali, sayang."
"Kamu luar biasa."
"Harummu ngangenin."
Rihana hanya bisa mendengar tanpa bisa menyahut karena Alexander ngga memberinya kesempatan untuk itu.
Tapi puja puji Alexander membuatnya terbang sangat tinggi, melayang jauh. Dan entah mengapa, ada perasaan yang terpuaskan seakan akan diratukan oleh seorang Alexander.
"Aku minta maaf. Aku sulit menolak keinginan mama Aiden," kata Zerina pagi itu. Temannya itu menyempatkan dirinya pergi menemui Daiva sebelum pesawatnya terbang.
Mereka berada di sebuah kafe ngga jaih dari bandara.
"Ngga apa. Santailah," senyum Daiva menyembunyikan lukanya.
Zerina menghela nafas panjang.
"Aku tau kalo kamundan Xavi saling menyukai. Aku merasa jadi orang paling jahat udah nyakitin kalian," ucapnya lirih.
Zerina bukannya merasa beruntubg bakal dinikahi Xavi. Tapi dia malah merasa sangat sedih karena tau di hati Xavi sudah ada Daiva.
Seansainya di hati laki laki itu masih kosong dan belum tergurat nama siapa pun, dirinya pasti akan merasa sangat bahagia. Dan dia pasti akan berusaha membuat Xavi jatih cinta padanya.
Dulu dia salah mengartikan sikap Aiden padanya. Xavi berbeda, dia menghormati dirinya. Zerina akui, ada kekaguman hadir di dalam dirinya untuk Xavi.
Zerina yakin kalo Xavi bisa menjadi suani pengganti yang baik untuknya. Juga papa bayinya.
Tapi sayangnya laki laki itu sudah menyukai Daiva, rekannya di perusahaan dulu.
Daiva pantas mendapatkan Xavi, jika saja Aiden ngga tiada ditangan sepupunya. Pasti jalan mereka akan lancar. Sayangnya takdir sudah mengatur kalo pertemuan keeuanya setelah kepergian Aiden untuk selamanya.
"Kamu ngga marah?" tanya Zerina pelan. Dia seperti ngga tau diri, padahal Daiva sangat baik padanya.
"Jaga dia demi aku. Itu sudah cukup," jawab Daiva dengan tatapan dan senyum lembutnya.
Mata Zerina berkaca kaca.
Cinta Daiva begitu tulus. Zerina merasa Xavi juga begitu.
Daiva menggenggam jemari Zerina lembut.
"Berangkatlah. Jaga kesehatan kalian."
Zerina mengangguk. Supir dari mama Aiden masih setia menunggunya. Yang keduanya ngga tau, mobil Xavi berada ngga jauh dari situ.
Dia menggenggam erat stirnya saat melihat Daiva menghapus air matanya setelah Zerina pergi.
Terasa menyakitkan melihat wajah lembut itu bersedih. Ingin menghambur memeluknya tapi Xavi merasa kalo itu hanya akan sia sia saja.
Saat ini Xavi sudah merasa ngga bisa lagi memperjuangkan Daiva di depan maminya. Semua jalannya sudah buntu. Berakhir dengan pernikahan yang ngga dia inginkan.
"Apa ya, kira kira Alexander lakukan saat ini dengan Rihana kita," ceplos Emra dengan senyum miring di bibirnya.
Laki laki dingin dan datar itu sangat gercep pada Rihana. Pasti dia ngga akan membuang kesempatan emasnya, monolog Emra masih dengan cengiran di bibirnya.
"Mungkin sedang menunaikan kewajibannya," tawa Ansel berderai.
Satu pemikiran, kan, batin Emra geli.
"Sudah empat hari mereka tanpa kabar. Bahkan Oma tumben tumbennya melarang kita semua menelponnya. Katanya biar Rihana saja yang memberi kabar," komentar Emir sambil menggelengkan kepalanya. Takjub. Padahal selama ini Oma mereka sangat intens menanyakan kabar Rihana. Lebih banyak dari waktu makan obat.
'Kiran pernah iseng menelponnya tadi malam. Tapi ngga diangkat," adu Ansel nyengir.
"Kelelahan mungkin. Jadi sudah tidur," sambung Emra dalam tawa lepasnya.
Kalandra hanya melirik sebel pada para sepupunya yang seperti ngga ada kerjaan saja. Malah ngumpul dan bergosip di ruangannya.
"Eh, kemarin sore aku ngelihat Adriana dijemput laki laki. Tapi sikap keduanya kelihatan manja banget," cetus Emir mengalihkan topik.
Antena Kalandra langsung tegak.
Haaa!
Yang benarrr!
Kurang ajarrr!! maki Kalandra dalam hati.
Baru sebentar ngga diawasi udah keganjenan.
Awwaas aja! geramnya dalam hati.
"Pacarnya kali," celutuk Ansel sambil melirik Kalandra. Untuk melihat reaksinya.
Lo beneran ngga suka sama sekretaris lo? batin Ansel heran.
Si gila kerja ini padahal selalu didampingi si cantik bening, tapi sepertinya ngga ngaruh apa apa buatnya.
Mungkin tunggu dijodohkan seperti dirinya, tebaknya dalam hati.
"Masa?" tanya Emra ngga yakin.
"Serius Adriana udah punya pacar?" tanyanya lagi sambil menatap Kalandra yang tak bereaksi sedikitpun. Sibuk berkutat dengan laptopnya.
"Kalandra, lo beneran ngga naksir dia?" tanya Emir kepo. Seingatnya gadis itu telaten sekali mengobati laki laki egois ini.
Masa Kalandra ngga tersentuh? batin Emir masih mengingat dihari penyerangan Rihana oleh geng mafia.
Waktu pesta pernikahan Rihana pun, Adriana tampil sangat cantik.
Katanya Kalandra yang membelikan semua yang dikenakannya saat Puspa memujinya. Sebagai ucaoan terimakasih atas pertolongannya waktu itu.
Tapi Emir merasa itu terlalu berlebihan. Semua yang dikenakan Adriana, gaun pesta, tas dan sepatu berasal dari brand brand ternama.
Ngga tau underwearnya, kekehnya dalam hati.
Beneran ngga punya perasaan apa apa?
"Hemm.... Lebih baik kalian kembali kerja. Aku lagi sibuk," ketusnya tanpa melihat ke arah ketiga sepupunya yang sedang menatapnya penuh selidik.
"Iya, iya! Segitu aja sewot," kesal Emra sambil bangkit dari duduknya bersama Ansel.
"Lo beneran ngga takut kalo Adriana jatih ke tangan laki laki itu?" ejek Emir dengan senyum miringnya.
Kalandra mendelikkan matanya pada ketiga sepupunya yang sedang menyeringai mengejeknya.
"Biar saja. Mau sama tukang ojol pun gue ngga peduli," sentak Kalandra sebal. Dia merasa gerah dan ingin ketiga jomblo itu segera angkat kaki dari ruangannya.
"Ojol?" gelak Emra dan Emir bersamaan.
"Lagak lo seperti orang cemburu," cela Ansel dan tawa ketiganya pun semakin pecah.
Salahnya sendiri menyangkut pautkan ojol yang ngga tau apa apa.
Begitu ketiganya sudah pergi, Kalandra langsung mengecek rekaman cctv di tempat parkir. Sebagai wakil CEO, Kalandra punya akses untuk itu.
Setelah beberapa kali membuka video rekaman cctv, akhirnya ketemu juga yang membuat hatinya panas membara.
Seorang laki laki berambut cepak tampak menjemput sekretarisnya itu. Keduanya saling berpelukan seperti sudah lama ngga bertemu.
Senyum dan tawa Adriana semakin membuat darah Kalandra mendidih.
Ucapan Ansel terngiang lagi di kepalanya.
Dia sudah punya pacar?
Sialan!
Berarti dia salah sasaran.
Kalandra mengumpat tiada henti dalam hati saking kesalnya.