
Emir yang terpaksa mengerem laju mobilnya kaget melihat ada ramai ramai ngga jauh di depannya.
Untung mobil di depan dan di belakangnya sama sepertinya, sigap, jadi ngga terjadi tabrakan beruntun.
Emir yang sebenarnya sedang terburu buru ingin ke mansion Omanya bergerak keluar, ingin melihat ke dalam kerumunan masa. Ingin tau apa yang sudah menyebabkan kemacetan ini.
Dia agak terkesima melihat seorang gadis muda yang sedang membalut luka di kening anak balita yang sedang menangis. Darahnya masih mengucur.
Kemudian gadis itu menggendongnya.
Seorang ibu pun tertatih dipapah bapak bapak di situ.
Tatap mata tajam gadis itu seakan mengitari orang orang yang sedang berdiri menonton kecelakaan ini.
TAP TAP TAP
Emir terpana melihat gadis itu mendekat ke arahnya
"Maaf, anda bawa mobil? Bisa tolong diantarkan ke rumah sakit terdekat?"
Emir seperti ditodong. Tatapan ibu yang di papah dan orang orang kini tertuju padanya.
"Aku hanya bawa motor. Kalo ngga bisa ngga apa apa," ucapnya maklum. Dia salah paham melihat laki laki itu hanya terdiam melihatnya.
"Ayo," ucap Emir tersadar dari keterpanaannya.
"Biar aku saja yang menggendongnya," lanjutnya lagi. Sesaat keduanya saling bertatapan.
Kemudian Emir mengambil balita laki laki itu dalam gendongan perempuan tadi dan berjalan menuju mobilnya.
Gadis itu berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya. Dia pun menatap salah satu ibu yang ikut membantunya.
"Bu, titip motor saya ya."
"Ya, nona dokter. Tenang saja. Motornya aman," senyum ibu itu membuat gadis yang dipanggil dokter itu tenang.
Dia pun bergegas menyusul laki laki yang dipilihnya secara acak untuk membawa ibu dan anak yang terlibat kecelakaan tunggal ke rumah sakit terdekat.
"Kamu duduk di depan saja. Aku bukan supir," perintah Emir ketika perempuan itu ingin duduk di belakang, di dekat orang yang di tolongnya
"Oke," ucapnya sambil membetulkan kaki pasiennya.
Balita laki laki itu dibaringkan di dekat ibunya.
"Terima kasih, nona, tuan," bergetar menahan tangis ibu itu berucap. Dia mengelus kepala anaknya yang masih meneteskan darah disela sela ikatan perban yang dilakukan gadis tadi.
Baik Emir maupun gadis itu hanya tersenyum.
Setelah gadis itu duduk di sampingnya, Emir menjalankan rubiconnya.
'Rumah sakit yang terdekat aja, Mas. Belok kanan pojok itu," ganti gadis itu memberikannya perintah.
"Oke." Emir juga kebetulan tau letak rumah sakitnya dan menjalankan mobilnya ke arah sana.
Emir melirik gadis itu yang sibuk dengan ponselnya.
"Lin, tolong siapin brankar sama kursi roda, ya. Aku sedang menuju ke sana."
".........."
"Ya, aku bawa korban kecelakaan tunggal."
Kemudian telpon pun diputus dan dia menyimpannya ke dalam tasnya.
Emir sedikit terkejut melihat ponsel flip gadis itu. Kontras sekali dengan penampilannya yang hanya mengenakan blouse katun ungu muda dan celana panjang kain berwarna hitam. Cukup sederhana.
Masa dia hanya dokter jaga? batin Emir bukan bermaksud merendahkan. Tapi dari penampilannya dan juga motor yang sempat dilihat Emir yang diyakininya adalah motor gadis itu, berbanding kontras dengan ponselnya yang harganya lebih dari dua puluh jutaan itu. Apalagi jika memorinya gede.
Ngga ada lagi suara di dalam mobil itu kecuali ringisan dari si balita dan ibunya yang mencoba menenangkannya.
Ngga lama kemudian, rubicon Emir pun tiba di depan rumah sakit.
Sebuah brankar dan kursi roda sudah menunggu.
Gadis itu segera turun bersama Emir setelah mesin mobil di matikan.
Emir pun segera menggendong balita dan beberapa perawat laki laki serta seorang perempuan berpakaian dokter menghampiri mereka. Membantu memapah sang ibu.
Sang dokter mengerling pada laki laki itu dengan batin penuh pujian
Tampannya.
"Kecelakaan dimana?" bisik dokter cantik itu pada gadis yang ngga kalah cantik dengannya.
"Di dekat sini juga."
"Itu siapa? Ganteng banget," bisiknya lagi dengan mata berbinar. Jarang melihat yang ganteng ganteng bening begini di rumah sakit ini. Seringnya malah korban yang sudah berdarah darah. Keluarga pasien juga jarang sekali yang sebening dan setampan ini.
Karena ini rumah sakit pemeritah dengan rujukan jaminan kesehatan yang juga sebagian besar dari pemerintah.
"Ngga kenal."
Dokter di sampingnya malah mengerutkan keningnya mendengar jawabannya.
Tapi itu hanya meninggalkan tanya saja dalam hatinya karena kemudian dia pun setengah berlari menyusul temannya ke arah dalam rumah sakit.
Emir yang ditinggalkan begitu saja menipiskan bibirnya.
Baru kali ini kebaikannya ngga dianggap. Juga ketampanannya yang di sia siakan.
Dengan langkah gontai dia pun berjalan ke mobilnya.
Dia melirik kemejanya yang terdapat noda darah, pikirannya juga teringat pada pakaian si gadis tadi.
Kemudian menghela nafas mengingat mobilnya yang pasti juga terdapat noda darah.
Emir mungkin akan menyuruh pengawalnya membawa mobilnya ke salon mobil untuk dibersihkan noda darahnya setelah sampai ke rumah Omanya.
Oh ya, Oma. Emir pun mempercepat langkahnya ke arah mobilnya.
Ponselnya bergetar.
Emra.
"Woooiii.... kenapa belum datang juga ke rumah Oma," seru Emra begitu Emir menerima telponnya.
"Lagi otewe."
"Ya sudah. Tinggal kamu yang belum kelihatan batang hidungnya."
Kemudian telpon pun diputus kembarannya.
"Ehemm.... Terima kasih."
Emir menoleh. Ternyata benar sangkaannya. Baju gadis itu juga terdapat noda darah.
"Sama sama."
Kedua pasang mata saling beradu tatap. Emir dapat melihat mata bening itu bersinar tajam.
"Maaf, tadi memilih kamu. Balita tadi harus cepat ditolong," jelasnya agak canggung.
"Ngga apa."
"Oke, aku harus kembali. Sekali lagi terima kasih," senyumnya dengan niat membalikkan tubuhnya. Mengejar brankar tadi.
Tadi separuh jalan dia baru teringat sudah melupakan laki laki yang merelakan mobil mewahnya untuk membawa korban kecelakaan yang ngga sengaja dia minta pertolongannya.
Dia belum berterimakasih.
Karenanya dia segera mengejarnya dan untungnya laki laki baik itu belum pergi dengan mobilnya.
"Tunggu," tahan Emir.
"Ya?" gadis itu ngga jadi memutar balik tubuhnya. Kini dia menatap sosok laki laki di depannya.
"Kita belum kenalan." Seumur umur Emir belum pernah ngajak kenalan seorang perempuan. Baru kali ini. Karena biasanya kaum hawa lebih dulu yang melakukannya. Bahkan rata rata mereka sudah mengenal dirinya.
Tangan Emir yang terulur pun disambut cepat gadis itu. Karena berpikir setelah ini akan bisa pergi.
Sebenarnya bukan shiftnya. Dia tadinya berniat pulang sebelum melihat kecelakaan tunggal di depannya.
"Emir."
"Kamila."
Emir tanpa sadar menggenggam jemari gadis itu agak erat. Matanya masih menatap gadis di depannya yang tampaknya ngga terpesona sedikit pun padanya
"Em.... bisa lepas?" Gadis itu memberikan isyarat lewat matanya.
"Sorry." Senyum manis Emir tersungging begitu saja.
"Maaf mobilmu pasti kotor," ujarnya agak ngga enak hati. Kebiasaannya minta tolong tanpa pandang bulu. Harusnya cari mobil biasa saja, jadi perawatannya ngga semahal ini.
"Ya, cukup mahal perawatannya," jawab Emir membuat gadis itu kembali menatapnya ngga enak.
"Mobil pinjaman, ya," tanyanya maklum.
"Begitulah," jawab Emir menahan tawa. Tujuannya sudah jelas, dia ngga akan melepaskan gadis ini begitu saja.
"Kasih tau saja alamat bengkelnya. Aku nantinya yang akan membayarnya," ucap gadis itu sambil mengulurkan kartu namanya.
YEESSS! batin Emir bersorak senang atas keberhasilannya.
"Parohan saja. Nanti aku akan menghubungimu," ucap Emir sambil mengambil kartu namanya dari tangan lembut gadis itu.
Emir sengaja menyentuhnya dan dia merasakan kehangatan merubungi tubuhnya.
Kemudian tanpa mempedulikan gadis itu yang masih terpaku depannya, Emir membuka pintu mobilnya dan segera melajukan mobilnya meninggalkan sang gadis yang baru tersadar dan agak memundurkan kakinya begitu mobil itu lewat di sisinya.
Emir menahan ekspresinya sambil mengamati gadis yang bernama Kamila lewat kaca spionnya. Ternyata gadis itu masih terus menatapnya sampai dia keluar dari parkiran rumah sakit.
Senyum Emir akhirnya mengembang manis.