NOT Second Lead

NOT Second Lead
Rencana tiga sepupu



Kalandra tersenyum miring melihat foto foto dan video.yang dikirimkan salah satu temannya.


"Ini pacar baru Emra?" tanya Zayd begitu melihat temannya online. Dia ngga sabar sampai harus menelpon sepupu dari Emra.


"Aku baru lihat," jawab Kalandra jujur. Dia ngga tau kalo Emra diam diam kecantol dengan Kiara. Dan sepertinya Kiara juga begitu.


Apa sebenarnya dia yang dimanfaatkan Kiara? Bukan sebaliknya? kekehnya dalam hati merasa tertipu.


Harusnya dia ngga mengatakan apa pun pada Kiara, toh, Kiara juga menggunakan kesempatan itu untuk membuat Emra kepanasan.


Tapi Kalandra akui kehebatan gadis itu mengatur ekspresinya. Bahkan saat di goda Emra di depannya. Dia tetap tenang


Hanya saja topengnya terbuka karena Emra menggoda secara fisik.


Kalandra dapat melihat rona merah walau tipis di wajah gadis yang hampir ditunangkan dengannya.


"Emir ada di sana. Katanya juga dia baru tau," cerocos Zayd lagi.


"Malah bagus, kan."


"Haaah? Apa?" tanya Zayd ngga ngerti.


"Penghuni neraka jadi berkurang," kekeh Kalandra yang dibalas Zayd setelah mengerti maksud ucapan temannya.


"Tapi sepertinya dia ditolak.gadis itu," setelah tawanya reda.


"Kelihatannya begitu." Kalandra dapat melihat Emra yang pergi meninggalkan Kiara begitu saja. Dan gadis itu saat ini sedang memandang sepupunya sebelum dihampiri dua temannya. Dan Video pun berakhir.


"Hebat juga bisa menolak Emra," tawa Zayd ngakak, kelihatan senang.


Kalandra ngga menjawab, tapi meneruskan tawanya tadi sebagai respon.


Tapi dalam otaknya lagi berkutat banyak dugaan


Emra tau aku naksir Adriana?


Karena beberapa hari ini Emra cukup dekat dengan Adriana dan membuat hatinya panas.


*


*


*


"Apa berita ini benar?" Nidya mengucek matanya beberapa kali.


Ansel menelponnya berkali kali tadi malam. Tapi karena jengkel dengan Emir, Nidya menoffkan volume dan getar pada ponselnya. Hingga dia tidur dengan nyenyak seperti pingsan. Saat bangun, sinar matahari pagi yang lembut masuk menembus jendela kamarnya, sudah menowel nowel pipinya.


Hal pertama yang dia lakukan adalah melihat ponselnya. Dan dia sangat terkejut karena banyaknya panggilan ngga terjawab dari Ansel. Ada beberapa pesannya, dan saat dibuka isinya malah hampir membuat nafasnya berhenti.


Banyaknya foto foto tentang Emra dan Kiara. Mereka berdua sedang berdansa dan tampak mesra. Foto foto itu sepertinya diambil dari berbagai sudut yang berbeda.


Matanya tanpa sadar menscroll bagian atas kotak pesannya. Ada pesan yang dikirimkan Emir tadi malam, tepatnya setelah dia memutuskan telpon sepihak dan mencueki ponselnya itu.


Dengan penasaran dia pun membukanya. Matanya terbelalak karenanya.


Are you kidding me?


Foto yang sama seperti yang Ansel kirimkan tapi dalam sudut yang berbeda. Emir langsung menjepretnya dalam keadaan live.


Kejadian ini saat pesta teman Emra dan Emir tadi malam.


Emra dan Kiara?


Benarkah?


Kakaknya bersandiwara demi mereka?


Nidya menggelengkan kepalanya.


Beneran ngga masuk akal.


Ngga mungkin kakaknya mau melakukan hal receh begitu saja tanpa dia mendapat keuntungan, batin Nidya lagi sangat yakin.


Sekarang kepalanya penuh dengan banyaknya prasangka.


Emra, kamu naksir Kiara? batinnya terus mengulang dengan sorot penuh makna. Bibirnya menyeringai mengejek.


Kalo aja kamu tau Kakakku dan Kiara ngga ada hubungan apa apa.


Tapi pastinya Emir sudah mengatakan apa yang sudah dia sampaikan pada kembarannya itu.


Haaah..... Nidya menghembuskan nafas penih penyesalan.


Kalo tau begini dia ngga akan cepat cepat memberitau Emir. Biar saja benang kusut ini nanti nanti saja baru terurai. Ngga secepat ini.


Si playboy ini terlalu mudah mendapatkan keinginannya, rutuknya dalam hati dengan ber ton ton penyesalan.


Si playboy ini, apa dia serius?


*


*


*


Ansel mendatangi Emra di ruangannya. Tumben laki laki ini terlihat serius menekuni pekerjaannya.


Setelah menghela nafas panjang, dia pun mendekati Emra.


"Lo berniat buat skandal keluarga?" Ansel menatap penuh selidik sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


"Skandal apaan," sahut Emra ngga acuh.


Gadis itu lebih menilih Kalandra dari pada dirinya, bantahnya dalam hati.


"Lo sama Kalandra, lah. Gue terus terang bingung di pihak siapa. Mihak lo si tukang tikung atau Kalandra," jawab Ansel dengan senyum penuh ejekannya.


Emra ngga marah malah menyeringai


"Gadis itu lebih milih Kalandra. Gue bisa apa," sahutnya berusaha sesantai mungkin. Padahal dalan hatinya masih ngga bisa terima kenyataan ini.


Tapi apa boleh buat. Dia ngga mungkin, kan, maksa.


"Wajar dia milih Kalandra dari lo yang terkenal suka matahin hati banyak perempuan," sindir Ansel.


"Lo ngga ngaca?" dengus Emra balas menyindir.


Tapi Ansel hanya nyengir saja. Dalam hati dia sudah tertawa. Mentertawakan kemalamgan sepupunya.


"Nasibku lebih beruntung," sarkasnya sombong.


Emra mendengus kasar.


"Lo patah hati, ya," ejek Ansel penuh semangat, kemudian dilanjut dengan terbahak. Senang juga akhirnya ada yang bisa membuat sepupunya merana karena cinta.


"Nggak. Biasa aja. Mungkin ketertarikan sesaat. Gue hanya penasaran saja," kilahnya mencoba menyangkal.


Emra sewot juga melihat reaksi Ansel yang bahagia di atas penderitaannya.


Dalam hati dia menyumpahi sepupunya agar sempat menderita seperti dirinya.


Tapi dia teringat Nayara. Gadis itu terlalu polos dan selalu menerima begitu saja kenakalan Ansel tanpa.protes.


Tuhan, semoga nanti aku dapat gadis seperti itu juga. Amin, do'a Emra sungguh sungguh dalam hati.


Padahal Kirania dan Puspa sudah selalu mengompori gadis itu agar membuang Ansel Tapi tetap saja ngga berhasil. Nayara tetap saja bertahan dengan Ansel. Contoh bucin sejati.


"Jadi kamu sudah menyerah?" tanya Emir yang tiba tiba saja masuk ke dalam ruangan Emra. Kemudian menutup pintunya.


Ansel dan Emra mengalihkan tatapannya pada Emir yang tampak tenang menghampiri keduanya.


"Ngapain juga kamu kepo," tukas Emra sambil menatap laptopnya. Dia lebih baik meneruskan kerjaannya dari pada mendapat tekanan batin berupa ejekan tanpa henti dari keduanya.


"Apa maksud kamu, Mir. Sudah jelas, kan, kalo gadis itu lebih memilih Kalandra," sahut Ansel dengan sisa tawa di bibirnya.


"Ssstttt.... ini rahasia. Mereka berdua cuma bersandiwara."


"APPAAA!" seru Ansel dan Emra berbarengan.


Kuncup di hati Emra mulai bermekaran lagi.


Serius? batinnya sambil menatap kembarannya ngga sabar.


Kalandra bisa akting? batin Ansel mencemooh.


Ngga mungkin, langsung dibantahnya.


"Tadi malam Nidya telpon, marah marah karena sudah dibohongin keluarganya. Termasuk Kalandra," cerita Emir


Ansel teringat akan telpon dan pesannya yang ngga mendapat respon sepupunya itu.


Sial, batinnya mangkel.


Harusnya Nidya memberitaukan padanya juga.


"Mereka ngga dijodohkan?" tanya Emra setelah terdiam beberapa jenak. Otaknya sedang berpikir keras.


"Awalnya iya. Tapi kemudian keduanya sepakat menolak dan berpura pura untuk memanas manasi hati orang lain," jelas Emir penuh makna.


Ansel dan Emra saling pandang.


"Gue?"


"Maksudnya hati Emra?"


Emra dan Ansel bertanya berbarengan.


"Salah satunya."


"Masih ada lagi?" sambar Emra ngga sabar.


"Siapa lagi?" tanya Ansel menyerah. Dia capek kalo harus tebak tebakan.


"Cobalah kalian pikir. Ngga mungkin Kalandra ngga ambil keuntungan sama sekali dari situasi ini," senyum smirk Emir


"Maksud lo Adriana?" tebak Emra dengan cengiran khasnya.


Emra merasa kalo beberapa hari ini Kalandra terganggu dan agak sinis melihat kedekatan dirinya dengan Adriana.


"Benarkah?" seringai jahil pun muncul di bibir Ansel.


"Sekarang ganti lo yang ngerjain Kalandra," kekeh Ansel diikuti Emir dan Emra.


"Memang dia harus dapat pelajaran," pungkas Emra dengan hati yang sudah berubah senang kembali. Bahkan semangat tarungnya sudah kembali.


"Ngomomg ngomong, apa benar kamu dengan Kiara hanya ketertarikan sesaat?" ejek Ansel dalam kekehannya. Menyindir ucapan Emra tadi.


Emra ngga menjawab. Dia hanya meneruskan tawanya dengan sekumpulan rencana jahat di dalam kepalanya.


*


*


*


"Emm.... Xavi, makanlah dulu. Ini sudah larut," ucap Zerina saat memasuki ruang kerja Xavi yang ngga terkunci.


Lagi lagi dia memergoki laki laki itu sedang melamun.


"Tolong ketuk pintu dulu," kata Xavi datar untuk menyembunyikan kekagetannya.


"Maaf, tadi sudah ku ketuk, tapi kamu ngga dengar," sahut Zerina lembut.


"Oh, maaf, kalo gitu," jawabnya ngga acuh


Dia kembali menyibukkan dirinya di depan layar laptopnya dengan menutup jendela foto seseorang yang dia rindukan.


Ternyata berat juga menahan rindu.


Zerina menghela nafas panjang.


"Mama memintaku mengingatkanmu," ucap Zerina lagi, masih tetap lembut dan sabar.


"Katakan pada mama, sebentar lagi aku akan makan."


"Perlu aku bawakan ke sini?" tawarnya perhatian.


"Ngga perlu, Zerina. Sebaiknya kamu beristirahat. Kamu juga kurang sehat, kan," ucap Xavi ngga tega juga bersikap ngga acuh pada Zerina.


Gadis itu belum bisa menyesuaikan keadaannya dengan perubahan iklim setelah mereka pindah dan menikah.


Zerina masih diam. Ya, kesehatannya sedikit menurun membuat mertuamya cemas.


"Sebentar lagi aku makan. Tiga puluh menit lagi."


"Baiklah," kata Zerina menyerah sambil memaksakan senyumnya. Kemudian dia pun berbalik dengan menahan sakit di dalam hatinya.


Pernikahan apa yang dia lakoni ini? Xavi sangat dingin dan kaku terhadapnya.


Awalnya dia berpikir Xavi akan bisa mencintainya karena ada anak Aiden di dalam rahimnya. Tapi nyatanya sampai sekarang sama saja. Laki laki itu tetap mengacuhkannya.


Xavi menghela nafas saat pinru sudah tertutup.


Dia ngga tau sampai kapan bisa menjalani pernikahan ini.


Cukup sekali dia menentang keinginan maminya akan pernikahannya dengan Zerina. Dan maminya kembali terkena serangan jantung.


Xavi menggusar rambutnya frustasi.


Daiva, apa kita ngga bisa bersama?